
“Cobalah beri Qeiza kepercayaan. Kamu sudah mengurung dia selama satu bulan di rumah ini? Kasihan Qia. Lagian, apa kamu tidak merasa sedih? Qia sebentar lagi akan memiliki seorang suami. Walau calon suaminya adalah keponakan kita sendiri, namun, tetap saja kita tidak akan punya hak lagi dalam kehidupan Qia nanti,” ucap Ivander.
Qeiza mengembuskan napas panjang. Wanita paruh baya itu bukannya tak merasa tersentuh karena sang anak sebentar lagi akan segera melepas masa lajangnya.
Qeiza hanya mengkhawatirkan putri sulungnya. Qeiza tak ingin terjadi sesuatu pada Qiana menjelang hari pernikahan putrinya itu.
“Aku punya firasat buruk, Mas. Aku tidak bisa membiarkan Qia meninggalkan rumah sebelum pernikahan itu terlaksana.”
“Ma ... Mama bisa minta tolong kepada Pak Narto untuk mengantar Mba Qia hingga ke depan klinik kecantikan itu. Bahkan Mama bisa meminta tolong kepada Pak Narto untuk menunggui Mba Qia hingga selesai. Mba Qia akan semakin membangkang kalau Mama terus mengekang Mba Qia seperti ini,” ucap Sean.
Qeiza kembali mengembuskan napas kasar. Entah mengapa firasat buruk itu terus menghantui Qeiza. Bahkan, firasat buruk itu semakin membesar dari hari ke hari.
“Benar apa yang dikatakan Sean, Qei. Biarkan Qia menikmati masa-masa lajangnya yang tinggal dua hari lagi,” pinta Ivander.
Sebenarnya pria paruh baya itu begitu mengasihani Qiana. Anak sambungnya itu benar-benar terlihat sangat berbeda semenjak Qeiza tak membiarkannya keluar dari kediaman mereka.
Gadis yang selalu ceria itu mendadak menjadi pendiam. Jika pun dia berbicara, pastilah itu berisi kalimat-kalimat tajam untuk mendebat Qeiza, karena ibu dan anak itu selalu bertengkar di setiap harinya.
Qiana yang ceria itu, kini menjadi sangat pembangkang dan keras kepala.
“Panggilkan Pak Narto,” titah Qeiza. Sean pun menuruti perintah sang ibu. Hingga Pak Narto kini berdiri di antara Qeiza, Ivander dan Sean.
“Terus kawal Qia ya Pak. Jangan alihkan pandangan Pak Narto satu senti pun dari Qia,” ucap Qeiza.
“Baik Bu. Saya akan terus mengawal Neng Qia hingga kembali ke rumah,” jawab Pak Narto.
Walau Pak Narto tak pernah lalai dalam tugasnya selama ini, tapi, entah mengapa perasaan Qeiza masih belum tenang.
Sesaat setelah Pak Narto menyiapkan mobil, Qiana pun menghampiri kedua orang tuanya untuk berpamitan.
“Jadi, siapa yang akan mengantar Qia?” tanya gadis itu sembari menatap Qeiza dengan sinis.
“Pak Narto. Ingat ya, kamu jangan jauh-jauh dari Pak Narto. Mama Meminta Pak Narto untuk terus mengawal kamu hingga tiba di rumah. Jadi—”
__ADS_1
Belum selesai Qeiza memberikan petuah pada sang anak. Qiana sudah berbalik arah dan gegas melangkahkan kakinya menjauh dari Qeiza.
”Qiana! Mama belum selesai bicara!”
Qiana tentu saja mengabaikan ucapan sang ibu kandung. Dia sudah benar-benar tak tahan lagi tinggal di rumah itu. Hari ini, Qiana akan pergi bersama Albert. Pria yang sudah menjadi kekasihnya selama 6 bulan itu, sudah mengatur semuanya. Qiana tak sabar ingin segera bebas dari sangkar emas yang sudah membelenggunya selama satu bulan itu.
“Ayo, cepat jalan Pak,” ucap Qiana.
“Siap Neng,” jawab Pak Narto. Pria paruh baya itu pun melajukan kendaraannya. Dengan hati-hati Pak Narto berkendara, hingga 30 menit kemudian, mereka tiba di sebuah pusat perbelanjaan termewah di Ibu Kota.
Pak Narto terus mengikuti ke manapun kaki Qiana melangkah.
“Pak Narto duduk di sini saja. Saya akan melakukan treatment di dalam ruangan itu. Mungkin agak lama. Bisa sampai dua atau tiga jam,” jelas Qeiza.
“Saya bisa periksa ruangannya lebih dulu, Non?”
Qiana mengembuskan napas kasar. Gadis itu tentu saja merasa kesal. Tapi, jika dia melampiaskan kekesalannya pada Pak Narto itu sungguh tak adil. Karena Qiana tau kalau Pak Narto hanya tengah menjalankan tugas yang diberikan oleh Qeiza—ibunya.
Qiana membawa Pak Narto hingga ke ruang perawatan. Pria itu juga mengecek sekeliling ruangan itu. Memastikan bahwa tidak ada pintu di balik tembok-tembok itu, hingga Qiana berkesempatan kabur dari sana.
“Bapak tunggu di luar, sana. Kalau perlu berjaga di pintu biar Qia tidak kabur!” ketus gadis itu. Pak Narto pun menurutinya. Namun pria paruh baya itu tak berdiri di depan pintu seperti perintah Qiana. Pak Narto duduk di sebuah sofa yang tak jauh dari ruangan itu, hingga dia bisa terus memantau Qiana jika keluar dari ruang perawatan itu.
Walau merasa lelah karena sudah menunggu lebih dari dua jam, tapi Pak Narto tetap tak sekalipun lengah. Dia terus menatap ke arah pintu.
Dan tak lama, Qiana keluar dari pintu itu.
“Ayo Pak, Qia mau membayar biaya treatment ini,” ajak Qiana. Pak Narto pun menegakkan tubuh dan melangkah mengikuti Qiana. Tak lupa pria itu berjalan sembari memberikan kabar kepada Qeiza tentang aktivitas Qiana.
“Sudah selesai, Pak. Ayo kita pulang.”
Lagi, Pak Narto mengikuti langkah kaki Qiana. Namun, langkah gadis itu mendadak terhenti. Qiana mengajak pria lanjut usia itu untuk mengisi perutnya yang kosong.
“Ibu menyuruh saya untuk langsung membawa Neng Qia pulang, begitu selesai perawatan.”
__ADS_1
“Yasudah, Bapak telepon Mama saja. Minta izin lagi. Qia lapar. Tadi pagi sarapannya sedikit!”
Pak Narto pun mengikuti ingin Qiana. Dia menghubungi Qeiza dan memberitahukan jika Qiana ingin makan siang lebih dahulu sebelum kembali ke rumah. Dengan berat hati, Qeiza pun menurutinya.
“Tapi, Pak Narto kawal terus Qia ya. Bapak juga makan bersama Qia. Duduk di meja yang sama dengan Qia.”
“Iya, Bu,” jawab Pak Narto. Pak Narto pun menghampiri Qiana yang sudah lebih dulu duduk di salah satu meja yang terdapat di restoran itu.
“Saya juga disuruh ikut makan, Neng.”
“Iya Pak. Sudah saya pesan makanan untuk Bapak. Sop iga, Bapak doyan kan?”
“Iya Neng. Saya bisa makan apa saja kok,” jawab Pak Narto.
Qeiza dan Pak Narto pun mulai menyantap makan siang mereka, begitu makanan itu sudah berada di hadapan mereka.
Namun, beberapa saat setelah menyelesaikan makannya. Perut Pak Narto mendadak jadi melilit. Pria paruh baya itu terus memegang perutnya sembari meringis.
“Kenapa Pak?" tanya Qiana.
“Perut saya mules, Neng,” jawabnya.
“Mules?” tanya Qiana. Pak Narto pun menganggukkan kepalanya dengan cepat.
“Neng Qia makannya masih lama tidak?”
“Masih lah. Bapak lihat saja makanan saya masih banyak. Bapak ke toilet saja dulu. Saya tunggu di sini. Saya masih ingin menghabiskan semuanya,” ujar Qeiza.
“Neng di sini saja ya. Jangan pergi ke manapun,” lirih Pak Narto.
“Iya Pak. Sudah sana buruan!” seru Qeiza.
Dengan setengah berlari, Pak Narto mencari keberadaan toilet umum yang ada di pusar perbelanjaan mewah itu.
__ADS_1
Pak Narto mengira, perutnya yang melilit akan tuntas begitu saja setelah dia membuang semua isi perutnya. Tapi, tampaknya semua itu tak sesuai rencana Pak Narto. Perut pria paruh baya itu terus melilit, meski dirinya sudah tiga kali keluar masuk toilet.
Pak Narto merasa sangat lemas, setelah tujuh kali keluar masuk toilet. Dan, tubuh Pak Narto semakin lemas, saat menyaksikan Qiana sudah tak ada lagi di sana.