
“Apa kita perlu mengadakan acara pertunangan lebih dulu?” tanya Ivona yang sedari tadi diam.
“Tidak perlu lah Von. Itu akan menyebabkan orang-orang lebih cepat tau dengan hubungan terlarang ini!”
Semua mata kini memandang Qeiza. Mereka semua terperangah saat Qeiza menyematkan kata 'terlarang' pada hubungan yang akan dijalin Raka dan Qiana.
Hanya Qiana yang tersenyum sinis saat mendengar ucapan sang ibunda.
“Ini bukan hubungan terlarang, Tan. Raka dan Qiana tidak punya hubungan darah,” lirih Raka.
Qeiza hanya tersenyum tipis dan mengangguk kecil mendengar ucapan Raka. Walau apa yang dikatakan oleh keponakannya itu benar adanya, tapi Qeiza yakin, jika pernikahan Qiana dan Raka tetap akan menjadi bahan gunjingan masyarakat.
Dan, benar saja apa yang dipikirkan oleh Qeiza. Saat undangan pernikahan Qiana dan Raka sudah disebar, gunjingan demi gunjingan tentang pernikahan itu, sampai ke telinga Qeiza.
“Kok bisa sih anak Jeung Qei menikah dengan Raka? Mereka kan saudara sepupu. Masa menikah dengan saudara sendiri?”
Qeiza berusaha menahan rasa kesalnya dengan berpura-pura tersenyum lembut. Sejak bergabung dengan para sosialita di lingkungan perumahan elite itu, Qeiza sudah terbiasa memasang wajah kepura-puraannya.
“Mereka kan bukan saudara sedarah. Qia itu anak bawaan saya, sewaktu menikah dengan Mas Ivan,” jawab Qeiza.
Saat ini wanita paruh baya itu tengah menghadiri acara arisan rutin para wanita sosialita. Qeiza sekaligus memberikan undangan pernikahan Qiana dan Raka pada rekan-rekan sosialitanya yang berkumpul di sana. Undangan pernikahan yang membuat para sosialita itu saling tatap satu sama lain.
“Tetap saja hal seperti itu tidak lazim, Jeung! Masa iya menikahi sepupu sendiri. Walaupun mereka tidak ada hubungan darah, setelah Jeung Qei menikah dengan Pak Ivan, Raka sudah menjadi sepupunya Qiana.”
Qeiza hanya menanggapinya dengan tersenyum kecil. Wanita paruh baya itu memutuskan untuk menjauh dari kumpulan sosialita paruh baya itu.
“Saya ke toilet dulu ya ibu-ibu,” ucap Qeiza.
Gunjingan itu tak lantas berhenti walau Qeiza tak lagi berada di sana. Gunjingan terhadap pernikahan yang akan terjadi antara Raka dan Qiana, malah semakin menjadi sejak Qeiza meninggalkan kerumunan sosialita itu.
“Keluarga Bratajaya mungkin takut hartanya berpindah ke orang lain, makanya, walaupun saudara, tetap saja dinikahkan!”
“Pantas saja sewaktu saya ingin mengenalkan anak saya dengan si Qiana, langsung ditolak Jeung Qei.”
“Oh ya? Langsung ditolak begitu saja? Sombong sekali sih Jeung Qei itu!”
__ADS_1
“Alasannya menolak anak saya, karena katanya, dia tidak mau menjodoh-jodohkan anak. Biar anaknya mencari jodohnya sendiri. Kurangnya anak saya apa coba? Anak saya tidak kalah tampan jika dibandingkan dengan Raka. Keluarga kami juga tidak kalah kaya dibandingkan keluarga Bratajaya!”
“Tapi, si Qiana itu bukannya sudah punya kekasih ya? Beberapa minggu lalu, saya melihat dia bermesraan dengan pria lain. Saya bisa pastikan kalau itu bukan Raka. Eh ... sekarang malah menikah dengan sepupunya sendiri!”
“Kata anak saya yang satu sekolah dengan Qiana, dia itu memang genit. Sering bergonta-ganti pasangan sejak SMA. Playgirl!”
“Gak heran sih. Ibunya kan pelakor. Sudah jadi rahasia umumkan kalau Jeung Qei itu menikahi suami orang!”
“Iya ... Dengar-dengar Jeung Qei itu dulu asisten pribadinya Pak Ivan. Dia menggoda Pak Ivan yang beristri.”
“Wah ... Jangan-jangan Jeung Qei yang mengajarkan Qiana untuk menggoda Raka. Biar semua harta kekayaan keluarga Bratajaya, dia yang kuasai!”
“Buah memang jatuh tak jauh dari pohonnya. Ibunya genit, ya anaknya pasti genit!”
Gunjingan-gunjingan itu terus mengalir. Bahkan hingga mengungkit masa lalu Qeiza.
Qeiza yang sudah bisa memprediksikan hal itu, memilih untuk berdiam di toilet lebih lama. Lalu, dengan alasan perutnya yang sedang sakit, Qeiza berpamitan dengan para rekan sosialitanya.
...----------------...
“Kelakuan kamu benar-benar bikin Mama malu!”
“Kenapa Mama jadi menyalahkan Qia? Harusnya Mama tegur teman-teman sosialita Mama itu agar tidak menggunjing orang seenaknya!” balas Qiana.
“Mereka tidak akan bergunjing kalau kamu tidak membuat skandal, hingga harus menikahi sepupumu sendiri!”
“Yasudah batalkan saja pernikahan itu, biar Mama tidak lagi digunjing oleh teman-teman unfaedah Mama itu!” tantang Qiana.
“Batalkan? Enak sekali kamu bilang batalkan. Undangan pernikahan kalian sudah tersebar. Lagian, jika bukan Raka, siapa lagi pria baik yang mau menikahi gadis yang sudah ternoda seperti kamu!”
Mata Qiana membulat. Bibir gadis itu bahkan bergetar karena menahan rasa sakit di hatinya. Qiana berusaha sekuat tenaga menahan air matanya agar tak tumpah di hadapan Qeiza.
“Kenapa Mama yakin sekali jika Qia sudah ternoda? Memangnya—”
Belum selesai Qiana menumpahkan rasa kesalnya, Ivander memotong pembicaraan gadis itu.
__ADS_1
“Kalian berdua ini apa tidak bisa menghargai Papa? Kita ini sedang makan malam. Tidak bisakah pertengkaran kalian dilakukan setelah kita semua selesai makan malam? Tidak baik bertengkar di depan makanan!” tegas Ivander.
Qeiza dan Qiana langsung mengunci rapat mulut mereka. Sepasang ibu dan anak itu terdiam.
“Ayo lanjutkan makan kalian,” ucap Ivander.
Namun, Qiana tak menuruti perintah sang ayahanda. Gadis itu seketika pergi meninggalkan meja makan.
“Maaf Pa. Qia tidak selera makan!”
Ivander menghela napas berat, sembari menatap punggung anak sulungnya yang perlahan menjauh dari ruang makan.
“Kenapa anak itu berubah jadi pembangkang seperti itu sih?!”
Ivander menatap sang istri yang masih dipenuhi dengan emosi.
“Qei ... Cara kamu memperlakukan Qia juga sudah berubah, Sayang. Jadi, wajar kalau Qia jadi seperti itu,” lirih Ivander.
“Oh ... Jadi Mas menyalahkan aku? Iya?!”
“Mas bukan menyalahkan kamu, Sayang. Tapi, sebagai orang tua, harusnya kita juga bisa introspeksi diri,” jelas Ivander.
“Yang berbuat skandal itu Qia, Mas. Harusnya dia yang introspeksi diri! Bukannya malah jadi bersikap kurang ajar dengan kedua orang tuanya!”
“Apa kamu tidak berpikir, kenapa Qia bisa berbuat seperti itu. Kenapa skandal itu bisa terjadi antara Qia dan Raka? Bisa jadi, kita turut andil dalam hal itu. Bisa jadi, pola pengasuhan kita selama ini yang salah, hingga Qia bisa berbuat seperti itu,” jelas Ivander.
Qeiza tentu saja tidak terima dengan ucapan sang suami. Wanita paruh baya itu merasa sudah membesarkan dan mendidik kedua anaknya dengan baik.
“Mas tidak perlu terlalu membela Qia dan menyalahkan aku. Lagian, Mas itu bukan ayah kandung Qiana. Ja—”
“Qeiza! Sudah berapa kali aku katakan. Jangan pernah mengatakan hal itu! Qiana itu putriku!”
Qeiza yang merasa sedih karena bentakan sang suami, memilih untuk meninggalkan meja makan. Ivander pun menyesali perbuatannya. Tak seharusnya dia membentak Qeiza. Pria paruh baya itu terlihat mengusap kasar wajahnya.
Sementara Sean yang sedari tadi diam, hanya bisa tertunduk.
__ADS_1
Jika ada orang yang paling menyesal, itu adalah Sean Bratajaya. Pria berumur 18 tahun itu benar-benar menyesal telah membantu Raka menciptakan skandal itu. Skandal yang membuat keluarganya yang dulu harmonis, kini terlihat menjadi kacau.