Mencintai Qiana

Mencintai Qiana
Part 63 - Kejutan -2


__ADS_3

“Bagaimana Ka? Sudah puas kangen-kangenan dengan anak dan istrinya kamu?” tanya Safira begitu bertemu dengan Raka.


Kali ini, Safira sengaja mengajak Raka bertemu di kantor milik ayahnya.


“Tentu saja tidak pernah ada kata puas, Fir. Aku selalu merindukan mereka setiap saat. Nanti, kalau kamu sudah memiliki seseorang yang kamu cintai, kamu pasti mengerti akan hal itu,” jawab Raka.


Safira tersenyum tipis. Pikirannya melayang ke saat-saat di mana dia bisa terus bersama Raka.


“Aku tau rasanya, Ka. Aku tau rasanya merindukan seseorang setiap hari. Rasanya waktu 24 jam pun tak cukup untuk menghabiskan rasa rindu ini. Aku tau perasaan itu,” lirih Safira. Raka hanya membalasnya dengan tersenyum tipis sembari menganggukkan kepalanya.


Safira pun mempersilakan Raka untuk duduk dan menjelaskan maksud dari permintaannya yang meminta Raka untuk datang ke kantornya.


“Jadi, ada masalah apa, Fir? Bukannya sewaktu di London semuanya berjalan dengan lancar? Produksi awal berhasil, begitupun penjualannya yang sukses besar di pasar. Sepertinya secara teknis tidak ada masalah proyek,” tanya Raka.


“Ya, semuanya berjalan lancar. Sangat lancar. Dan kamu tau kan, kalau seluruh legalitas proyek itu atas namaku dan perusahaan yang baru saja aku rintis bersama Tommy?”


Raka menganggukkan kepalanya. Tentu saja dia sangat jelas akan hal itu. Justru hal itulah yang membuatnya bingung ketika di London. Saat tak ada namanya maupun nama perusahaan ayahnya tertera di legalitas kerjasama itu. Semuanya menjadi tanggung jawab penuh seorang Safira Krzysztof.


“Aku bisa saja menghentikan kerjasama itu secara sepihak. Proyek itu bisa saja aku jual ke pihak ketiga. Dan di atas kertas, perusahaan yang aku rintis, akan mengalami sedikit kerugian non materiil. Tapi, apa yang terjadi dengan perusahaan kamu jika itu terjadi, Ka?”


“Apa maksud kamu berbicara seperti itu Fir? Kamu ada rencana mengalihkan proyek?” tanya Raka tak percaya.


Safira bangkit dari duduknya. Gadis itu kini melangkah mendekati Raka dan duduk di atas meja, tepat di hadapan Raka. Rok mini yang dikenakan Safira tentu saja tersingkap begitu saja hingga Raka mengalihkan pandangannya.


Dengan tangan bersidekap di atas dada, Safira memperhatikan Raka sembari tersenyum tipis, mulai dari ujung kepala hingga kaki.


“Aku hanya ingin kamu tau, Ka. Hidup dan mati perusahaan milik orang tuamu, kini ada di tanganku,” lirih Safira.


Raka menatap Safira dengan tajam sembari mengerutkan dahinya. Dia sama sekali tak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh gadis itu.


Apa motivasi Safira mengatakan hal itu? Apa yang diinginkannya?


“Kamu hanya perlu hidup bersamaku selama satu bulan penuh, Ka. Layani aku. Puaskan aku. Maka kamu tidak hanya terselamatkan dari kebangkrutan. Tapi, juga mendapatkan keuntungan 100%. Seluruh keuntungan proyek untuk kalian. Bagaimana?”

__ADS_1


Dahi Raka semakin berkerut. Pria itu semakin tak mengerti arah pembicaraan Safira. Hidup bersama selama satu bulan? Memuaskan Safira?


“Apa maksud kamu, Fir?! Jika ini semua hanya sebuah lelucon, ini sama sekali tidak lucu!” ketus Raka.


Pria itu menegakkan tubuhnya. Raka pikir tidak ada alasan penting yang membuatnya harus bertahan duduk di ruangan ini. Tapi, ucapan Safira menghentikannya tepat saat pria itu hampir menggapai handle pintu.


“Aku serius, Ka!”


Raka berbalik arah dan kembali menatap gadis itu dengan penuh kebingungan.


Safira pun menganyun langkahnya. Dengan panggul yang bergoyang ke kiri dan ke kanan, Safira kembali menjelaskan tawarannya pada Raka.


“Bagaimana Ka?” tanyanya sekali. Raka masih terdiam. Tapi, tangan pria itu terkepal erat.


“Kamu hanya perlu memuaskan aku selama satu bulan penuh,” bisiknya di telinga Raka. “Bahkan, mungkin kamu yang akan terpuaskan dengan permainanku. Bisa-bisa... kamu akan melupakan Qiana,” bisiknya lagi.


Safira meraba pundak Raka sembari berjalan mengelilingi tubuh pria itu.


“Aku sudah cukup mahir, Ka. Kamu jangan mengkhawatirkan hal itu. Aku pastikan kamu juga akan puas selama satu bulan penuh,” bisiknya lagi.


Saat Safira hendak meraba bibirnya, Raka langsung menepis jemari gadis itu.


“Tolong untuk berbicara yang jelas, Fir!”


Safira terlihat menghela napas. Gadis itu pun tersenyum lebar.


“Jadi milikku selama satu bulan penuh, jika kamu tidak mau perusahaan kalian bangkrut. Bagaimana ... Kamu mengerti kan?”


Raka terlihat menggelengkan kepalanya. Menatap Safira dengan pandangan tak percaya. Ternyata benarlah apa yang ditakutkan oleh istrinya selama ini. Ternyata Safira memang memendam rasa padanya. Dan kini, Safira menggunakan kartunya.


“Kamu dengar ya Fir. Sekalipun kamu akan mengambil seluruh hartaku, bahkan nyawaku. Aku tidak akan pernah mengkhianati cinta Qiana!” tegas Raka. Raka hendak berbalik arah, namun ucapan Safira lagi-lagi menahannya.


“Bagaimana jika Qiana juga menginginkannya?”

__ADS_1


Dahi Raka berkerut mendengarnya.


“Bagaimana jika Qiana tidak mau hidup susah dan memintamu menyerahkan diri padaku?”


Raka hanya membalasnya dengan tersenyum tipis. Pria itu lantas mengayun langkah, keluar dari ruangan itu. Diiringi oleh teriakan Safira.


“Aku beri kami waktu tiga hari, Ka!” teriaknya.


Raka tak memedulikannya. Pria itu terus berjalan tanpa menoleh ke arah Safira sedikit pun. Keputusannya sudah bulat. Dia tidak tidak mungkin menyerahkan dirinya pada Safira. Bahkan, jika itu adalah permintaan Qiana, dia tetap tidak akan melakukannya.


Tapi, benarkah Qiana tega meminta hal seperti itu darinya? Tegakah Qiana menyuruh dirinya melayani gadis lain hanya demi harta? Hanya karena tak mau hidup susah?


Pagi itu, sepulang dari perusahaan milik orang tua Safira, Raka langsung menemui ayah kandungnya. Raka menyeritakan apa yang diucapkan oleh Safira.


“Ternyata benar dugaan Papi. Ada rahasia di balik alasan nama kamu tak tercantum dalam legalitas proyek itu. Ternyata hal itu digunakan Safira sebagai alat untuk mengancam kamu. Cinta memang benar-benar gila!” umpat Anggara.


“Kenapa kalian harus melakukan penjebakan hanya demi cinta? Kamu dulu menjebak Qiana. Apa menurutmu ini bukan karma?”


“Pi ... Sudahlah. Kisah Raka dan Qia kan berakhir bahagia. Sekarang, kita harus memikirkan cara agar Safira tak nekat dan melakukan hal tidak masuk akal itu!” seru Raka.


“Safira sudah merencanakan semua ini, Ka. Dia ingin membalas dendam akan cintanya yang tak tersampaikan. Tujuan dia selama ini hanya kamu. Ingin memiliki kamu,” jelas Anggara.


Raka menyugar rambutnya ke belakang. Pria itu berdecih kesal.


“Selama ini Papi terus memikirkan apa rencana Safira yang sebenarnya. Sampai saat kamu di London dan mengatakan jika tidak ada nama kamu tercantum di sana. Sejak itu Papi yakin kalau dia akan menggunakan ketidakberdayaan kamu.”


Raka mengusap kasar wajahnya. Dia adalah pria yang selalu dielu-elukan banyak orang sebagai pria jenius. Tapi, siapa yang menyangka jika dirinya bisa dijebak semudah ini? Dan yang lebih menyakitkan adalah, dia dijebak oleh seorang yang dia anggap sebagai sahabat baik.


“Terus ... Kita harus bagaimana Pi? Perusahaan kita akan gulung tikar jika Safira melancarkan rencananya,” lirih Raka.


“Kita hanya bisa bersiap, Ka. Yang jelas, kita harus membayar pesangon untuk ratusan karyawan. Kita harus siapkan itu.”


Raka berlutut di hadapan sang ayah. Karena kecerobohannya, mereka kehilangan perusahaan. Anggara pun mengangkat tubuh sang anak agar kembali duduk.

__ADS_1


“Papi yakin, suatu saat, kamu bisa membangun perusahan yang lebih hebat dari ini, Ka. Sekarang, kamu pulanglah. Ceritakan hal ini kepada istrimu. Dia berhak tau kalau suaminya sudah jadi pria melarat. Bicarakan masa depan rumah tangga kalian.”


__ADS_2