
“Asal kamu tau ya, Raka. Putri saya— Qiana Larasati, akan segera mengajukan permohonan perceraian! ”
Ucapan sang mertua benar-benar membuat nyawa Raka seolah hendak dicabut. Seluruh tungkai kakinya lemas. Seluruh anggota tubuhnya mendadak merasa kedinginan. Dadanya terasa sesak. Seolah oksigen tak lagi mengalir dalam darahnya.
Wanita yang sangat dia cintai akan segera mengajukan gugatan perceraian. Qiana ingin berpisah darinya. Status mereka akan kembali menjadi saudara sepupu.
Raka luruh. Tubuhnya tersungkur. Kaki pria itu tak lagi bisa menopang berat tubuhnya.
Mereka telah melalui hari-hari pernikahan yang penuh kasih dan canda tawa selama enam bulan. Segitu kecewanya kah gadis itu, hingga enam bulan kebersamaan mereka tidak ada artinya bagi Qiana?
Kenapa dengan begitu mudahnya Qiana bisa mengucapkan kata perpisahan?
Raka tidak siap. Pria itu sama sekali tak siap jika harus kembali menjadi kakak sepupu Qiana. Seluruh hatinya sudah habis hanya untuk Qiana. Jika gadis itu meninggalkannya, bagaimana dia bisa melanjutkan hidup?
Ivander dan Sean menatap Raka dengan perasaan iba. Ayah dan anak itu tidak tega melihat Raka bersimpuh dengan tatapan kosong. Walau Raka tak terisak. Walau pria itu tak meneteskan air mata. Ivander dan Sean bisa merasakan kesedihan yang teramat di diri Raka.
“Kamu sedang apa di situ, Ka?” tanya Ivona yang baru saja tiba di sana bersama Mika dan Anggara.
Mendengar suara sang ibunda, Raka seketika mengadu.
“Qia mau menggugat cerai Raka, Mi,” lirihnya dengan suara bergetar.
Ivona, Anggara dan Mika tentu saja terkejut mendengar hal itu. Mereka menatap tak percaya pada Raka. Ivona pun menghampiri anak sulungnya kebanggaannya. Wanita paruh baya itu duduk bersimpuh di samping Raka.
Raka pun langsung memeluk sang ibunda. Pria itu lantas menangis sesenggukan. Mencurahkan rasa sakit di hatinya. Ivona bahkan ikut menangis karenanya. Putra sulungnya itu jarang sekali menangis. Bahkan Raka tak pernah menampakkan emosinya di hadapan keluarganya.
Pertama kali Raka menangis di pelukannya, itu terjadi belasan tahun silam, ketika sang kakek meninggalkan dunia untuk selamanya. Dan setelah peristiwa itu, kini Raka kembali menangis dalam pelukannya. Bagaimana mungkin Ivona tak ikut menangis?
Dan ternyata bukan hanya Ivona, Mika pun ikut menangis bersama sang kakak. Gadis itu menyalahkan dirinya atas apa yang menimpa Raka. Jika dia tidak menyinggung kejadian tujuh bulan silam, tentu hal ini tak akan terjadi. Qiana tidak akan mengetahui kebenaran itu, dan tidak akan terjadi perpisahan antara kedua kakak kesayangannya itu.
“Maafkan Mika, Mas,” lirih gadis itu. Walau tidak ada yang mendengar permintaan maafnya, tapi mika meminta maaf dengan setulus hati. Dia benar-benar menyesalinya.
__ADS_1
“Apa Qiana mengatakan langsung, kalau dia kan menggugat kamu?” tanya Anggara. Raka tentu saja menggelengkan kepalanya.
“Qei yang menyampaikannya. Dan memang itu yang diucapkan Qia, karena aku dan Sean juga mendengar hal itu dari bibir Qia,” ucap Ivander.
Raka tambah menangis sesenggukan. “Raka tidak ingin berpisah, Mi. Raka sangat mencintai Qia.”
“Mami juga tidak mau kalau kalian sampai berpisah. Mami menyayangi kalian berdua,” ucap Ivona.
“Sekarang, kamu temui Qia. Ungkapkan segala isi hati kamu padanya. Mami rasa, Qia pasti akan memaafkan kamu.”
Raka menggelengkan kepalanya.
“Kenapa? Kamu harus berbicara langsung dengan Qia DNA menyelesaikan permasalah ini,” ucap Ivona.
“Qia tidak ingin bertemu Raka, Von.”
“Kalau wanita sedang marah, terkadang memang suka seperti itu. Tapi, dia pasti akan luluh kalau kamu sudah berbicara langsung dengannya,” balas Ivona.
Ivona menatap pada Anggara dan Mika bergantian. Hal itu memang sudah diprediksikan oleh Anggara. Qeiza pasti marah besar karena hal ini. Peristiwa tujuh bulan yang lalu sudah membuat keretakan hubungan antara Qeiza dan Qiana.
Jika ada orang yang paling tersakiti dari kejadian tujuh bulan lalu, dia adalah Qeiza.
Wanita paruh baya itu sudah melayangkan telapak tangannya pada anak yang selama ini selalu dimanjakannya. Qeiza bahan terus berpikiran negatif pada anaknya itu.
Kemarahan Qeiza, Anggara sudah memperkirakannya.
“Mama akan berusaha membujuk Tante Qei agar dia memperbolehkan kamu menemui Qia,” ucap Ivona.
Dengan air mata yang masih menetes, Raka menganggukkan kepalanya.
Sean dan Mika kemudian menuntun Raka, agar pria itu duduk di sofa dan menenangkan diri.
__ADS_1
Sementara itu, Ivona melangkahkan kaki menuju kamar tidur Qeiza Hikaru. Dia akan memohon pada sahabatnya itu. Dia tidak sanggup melihat anaknya menderita seperti tadi.
Cukup lama Ivona mengetuk pintu kamar itu, hingga Qeiza akhirnya membuka pintu itu.
Qeiza menatap sinis pada Ivona yang berada di balik pintu. Dia sudah tau apa yang akan diperbuat sahabatnya itu.
“Qei ... Aku mohon. Biarkan Raka menemui Qia,” lirih Ivona saat kedua wanita paruh baya itu sudah duduk berdampingan di sofa yang terdapat di kamar tidur yang mewah itu.
“Bukan aku yang melarangnya. Qia memang tidak mau untuk bertemu lagi dengan Raka. Qia bahkan akan secepatnya mengajukan gugatan perceraian,” ketus Qeiza.
“Raka sangat mencintai Qia, Qei. Tolong biarkan mereka menyelesaikan masalah di pernikahan mereka. Perceraian itu dibenci Tuhan, Qei.”
“Lantas, apa perbuatan Raka itu tidak dibenci Tuhan ?!”
“Raka melakukan hal itu, karena dia sangat mencintai Qia,” bela Ivona.
Qeiza tertawa sinis. “Cinta seperti apa, Von? Cinta seperti apa yang dimiliki Raka?! Cintanya Raka sudah merenggangkan hubungan ibu dan anak!”
Ivona menghela napas panjang. Wanita paruh baya itu memang menyesali perbuatan sang anak tujuh bulan lalu. Tapi, dia juga tidak ingin melihat kedua anak yang disayanginya itu hidup menderita. Karena menurut pengamatan Ivona, Raka dan Qiana adalah sepasang suami istri yang saling mencintai.
“Jika Raka tak melakukan hal itu, Qiana akan jatuh pada pria yang salah. Kekasih Qia itu, punya niat jahat. Dia tidak pernah mencintai Qia. Dia bahkan kerap bermain wanita di belakang Qia. Sean berulangkali menasehati, tapi Qia tidak mau mendengarkan. Mata Qia tertutup oleh cintanya,” jelas Ivona.
“Raka sudaha berusaha mengubur rasa cintanya pada Qia sejak lama, Qei. Dia sekolah ke luar negeri, itu semua demi menghindar dari Qia. Tapi, saat mendapati jika kekasih Qiana bukan pria baik, Raka lantas kembali memperjuangkan cintanya.”
“Tetap saja apa yang diperbuat oleh Raka itu tidak baik. Jika saja Raka mengatakan hal itu padaku, aku sendiri yang akan memaksa Qia untuk menikahi Raka. Tidak perlu sampai merekayasa kejadian di hotel seperti waktu itu!” ketus Qeiza.
“Nasi sudah menjadi bubur, Qei. Semua sudah terjadi. Tapi, satu hal yang harus kamu tau, Raka sangat mencintai Qia. Jadi, tolong biarkan Raka menemui Qia. Setidaknya, kalaupun Qia tidak mau bertemu Raka, izinkan anakku berbincang dengan istrinya dari balik pintu kamar.”
Qeiza masih bergeming. Wanita paruh baya masih menimbang apa yang harus dia perbuat.
Dia sudah berjanji pada Qia untuk tak membiarkan Raka menemuinya. Tapi, apa yang disampaikan oleh Ivona, masuk akal. Qiana yang saat itu dibutakan oleh cinta, sudah pasti tidak akan mendengar nasihat dari siapapun. Jika Raka tak menikahi Qiana, gadis itu pasti akan jatuh dalam pelukan pria yang salah.
__ADS_1
“Tolong lah Qei. Jika kamu masih begitu kecewa pada Raka, tolong lakukan ini demi persahabatan kita.”