Mencintai Qiana

Mencintai Qiana
Part 30 - Keterkejutan Qiana


__ADS_3

Qiana begitu antusias saat Raka mengutarakan rencananya jika mereka akan melakukan perjalanan bulan madu kedua ke Labuan Bajo.


Walau pernikahan mereka belum memasuki tahun pertama, entah mengapa Raka ingin kembali menghabiskan waktu berdua saja bersama Qiana. Menikmati masa, di mana mereka banyak beraktivitas di atas ranjang. Jauh dari hiruk pikuk kota, jauh dari menumpuknya pekerjaan.


Rencananya, mereka akan menghabiskan waktu bulan madu itu dengan menginap di sebuah kapal pinisi mewah. Raka akan menyewa sebuah kapal mewah itu hanya untuk mereka berdua. Raka akan membawa Qiana berkeliling menggunakan kapal mewah di kawasan Labuan Bajo selama lima hari.


Saat mengatur perjalanan bersama, itu saja sudah membuat Qiana begitu antusias. Qiana bahkan sudah memilah barang apa saja yang akan dibawanya. Tanpa sepengetahuan Raka, gadis itu juga sudah memesan beberapa gaun malam transparan. Gaun yang pastinya akan memanjakan mata Raka. Qiana ingin memanjakan dan dimanjakan oleh pria yang bergelar sebagai suaminya itu.


Qiana ingin segera mengandung anak Raka. Mereka bahkan sudah memperhitungkan tanggal kesuburan Qiana. Mereka akan menikmati bulan madu saat Qiana tengah dalam masa subur.


Raka pun sudah berkonsultasi tentang liburan mereka pada agen perjalanan terbaik. Pria itu juga sudah memesan dan melunasi pembayaran paket perjalanan bulan madu mereka. Semua sudah diatur Raka dengan rapi.


Pekan depan, Qiana dan Raka akan bertolak ke Nusa Tenggara Timur. Dua buah koper yang berisikan barang-barang milik Raka dan Qiana, sudah berjajar rapi dan siap angkut.


“Qia tidak sabar, Mas. Rasanya Qia ingin mempercepat waktu agar kita bisa ke Labuan Bajo secepatnya,” ungkap Qiana, saat sepasang suami istri itu tengah menikmati santap makan malam mereka.


Raka membalasnya dengan tersenyum lembut dan mengusap-usap puncak kepala gadis itu. “Sabar ya. Tinggal beberapa hari lagi kok,” ucap Raka.


Qiana pun terus berceloteh bagaimana mereka akan menghabiskan waktu bulan madu di atas kapal selama lima hari. Kapal yang luas itu hanya akan diisi oleh mereka berdua selain nakhoda dan beberapa awak kapal.


“Mas bawa beberapa pengawal, Dek. Jadi kita tidak hanya berdua saja.”


Qiana terperangah. Gadis itu pikir, hanya mereka tamu yang akan berada di atas kapal mewah itu. Hingga dia bisa mencicipi tidur di kamar berbeda-beda setiap malamnya.


“Kenapa bawa pengawal sih, Mas. Kan kita jadi tidak bebas,” cebik Qiana.


“Justru dengan adanya mereka, kita akan bebas mau berbuat apa saja. Misal kita mau bermesraan di deck, mereka mengamankan, agar para pekerja di kapal itu tidak menggangu kita,” jelas Raka. Qiana hanya menganggukkan kepala dan mengucapkan huruf O.

__ADS_1


“Besok, kamu mau gak temani Mas ke rumah Mami?” tanya Raka pada Qiana.


“Mau berpamitan ya?” tanya Qiana.


Raka menggelengkan kepalanya. “Bukan. Mas hanya mau mengambil perlengkapan melukis milik Mas yang tertinggal di sana.”


“Peralatan melukis? Memangnya, Mas di sana mau melukis?!” tanya Qiana antusias. Sejak dulu, gadis itu memang selalu antusias jika menyaksikan Raka melukis. Gadis itu bahkan mengoleksi semua lukisan Raka.


“Iya, Mas mau melukis kamu, nanti. Bolehkan? Sudah lama Mas tidak melukis kamu. Melukis Qiana di tengah laut. Pasti sangat indah,” lirih pria itu.


“Tentu saja boleh, Mas!” pekik gadis itu. Qiana pun bertambah antusias.


Jadilah di akhir pekan— lima hari menjelang keberangkatan Qiana dan Raka ke Labuan Bajo— mereka mengunjungi rumah itu. Rumah di mana Raka dan Mika dibesarkan.


Mika yang sudah tau kedatangan Qiana dan Raka, sengaja membatalkan janji temunya dengan sang kekasih. Gadis itu ingin sekali bertemu dengan kakak lelakinya. Dia ingin menyerahkan selembar kertas pada Raka. Selembar kertas yang berisi dengan berbagai macam oleh-oleh yang harus dibawa Raka untuknya selepas kedua kakaknya itu pulang berbulan madu.


“Mas di sana mau berbulan madu. Mau bersenang-senang dengan istri Mas. Bukan untuk mencarikan kamu oleh-oleh!” ketus Raka.


Raka tak menanggapinya. Pria itu terus melangkahkan kakinya menuju kamar yang sejak kecil ditinggalinya. Tujuannya hanya satu. Mengambil peralatan melukisnya, lalu secepatnya pergi dari rumah itu. Ocehan sang adik kandung yang langsung menyambutnya begitu dia masuk ke rumah mewah itu, membuat Raka pusing setengah mati.


“Mas! Masa hanya begini saja Mas Raka tidak bisa sih! List oleh-oleh ini juga tidak terlalu banyak!” ucap Mika sembari berlari kecil demi menyejajarkan langkah dengan Raka. Tapi pria itu masih tak menanggapinya.


“Mas!” teriak Mika. “Kalau Mas tidak mau, Mika akan minta Mba Qia yang mencarinya,” ancam Mika. Raka menghela napas berat.


“Jangan pernah merepotkan istri Mas!”


“Istri Mas?! Mba Qia itu Mba-nya aku dan Sean. Bukan hanya istri Mas!” ucap Mika tak mau kalah.

__ADS_1


“Awas kamu kalau merepotkan Mba Qia!” ancam Raka.


“Mas harusnya tidak boleh melupakan jasa Mika dan Sean. Jika Mika dan Sean tidak membantu Mas Raka menjebak Mba Qiana di hotel—”


Raka langsung membekap mulut sang adik. Dia tak mau Mika terus berceloteh tentang masa lalu yang ingin dilupakan olehnya. Qiana belum mencintainya. Dan gadis itu ada di dekatnya saat ini. Jika Qiana sampai mendengar celotehan mika tentang peristiwa malam itu, Qiana pasti akan membencinya. Bahkan, gadis itu bisa sangat marah dan meninggalkannya.


“Apa sih Mas?!” pekik Mila setelah telapak tangan Raka berhasil disingkirkan dari mulutnya.


“Kamu tau kan Mba Qia ada di sini?! Bagaimana kalau dia dengar? Mba Qia bisa marah dan meninggalkan Mas!”


Mika menutup mulut dengan kedua tangannya. Gadis itu melongok ke arah pintu kamar karena dia kini sudah berada di kamar kakak kandungnya. Gadis itu menghembuskan napas panjang. Dia merasa lega karena Qiana tidak berada di dekat dirinya dan Raka.


“Mika pikir Mba Qia sudah tau semuanya,” lirih gadis itu. Raka menggelengkan kepalanya.


“Kenapa Mas tidak jujur saja? Mas sudah enam bulan loh menikah dengan Mba Qia. Mika dan Sean pikir, Mba Qia sudah tau soal penjebakan di hotel itu.”


“Ssttt ... Jangan berbicara kencang-kencang!” pekik Raka.


“Mika dan Sean pikir, honeymoon kedua ini untuk merayakan hal itu Mas. Merayakan kalau Mas sudah berani jujur dan memberitahukan perihal penjebakan di hotel, malam itu,” jelas Mika.


Raka menggelengkan kepalanya.


“Mas belum memberitahukannya. Mas tidak sanggup melakukannya. Mas tidak sanggup melihat wajah kecewa Qia. Dia pasti sangat kecewa dan marah, kalau tau jika Mas adalah orang yang sudah menjebaknya di hotel malam itu. Apa kalian tidak takut? Kalau Mba Qia tau, jika kamu dan Sean membantu Mas melakukan penjebakan itu?”


“Jadi begitu Mas? Kejadian di hotel malam itu, semua rencana Mas Raka?”


Wajah Raka seketika memucat. Jantung pria itu bahkan hampir berhenti berdetak. Raka tak bisa bernapas. Begitupun dengan Mika.

__ADS_1


Sepasang kakak beradik kandung itu, serentak menoleh ke arah pintu.


“Mba Qia...,” lirih Mika


__ADS_2