
“Mas senang lari-lari begitu hah?!” ketus Qiana.
“Mas lari-lari supaya Mas bisa cepat mengompres perut kamu, Dek. Perut kamu keram kan?”
“Memangnya Qia minta Mas Raka untuk mengambilkan alat kompres?!”
Raka menelan ludahnya dengan susah payah. Qiana memang tak meminta alat kompres itu. Itu semua adalah inisiatifnya sendiri agar sang istri tak merasa keram lebih lama.
“Qia itu maunya Mas Raka di sini menemani Qia dan mengelus-elus perut Qia yang keram! Bukannya berlarian hanya memakai kolor saja!”
“Hah!” Raka melongo. Pria itu kini menatap bagian tubuhnya. Benar apa yang diucapkan oleh sang istri. Dia hanya memakai celana yang begitu pendek saat ini.
Itu artinya pria itu berlari sembari bertelanjang dada dan hanya menggunakan celana super pendek. Pantas saja Qiana menatapnya dengan penuh amarah.
“Mas mau pamer perut six pack itu ke orang-orang?! Sudah pamer ke siapa saja? hah?!”
“I-itu Dek. Mas, Mas tidak sadar kalau tidak memakai apapun.”
Qiana mengembuskan napas kasar. Tatapan tajam masih ditujukannya pada sang suami. Gadis itu benar-benar merasa kesal karena sang suami mengumbar tubuhnya ke seluruh penghuni rumah.
“Bertemu siapa saja tadi di bawah?!”
“Mas tidak ingat, Dek,” lirihnya.
Kembali Qiana mengembuskan napas kasar.
“Mas minta maaf ya. Mas tidak bermaksud mengumbar tubuh Mas. Mas hanya sangat khawatir karena perut kamu keram. Mas takut, Dek. Mas takut terjadi sesuatu dengan anak kita di dalam sana,” lirihnya.
“Alasan!” ketus Qiana.
Raka pun mendekat pada Qiana dengan wajah penuh penyesalan.
“Mas benar-benar panik tadi, Dek. Mas tidak ada maksud lain,” jelas Raka.
__ADS_1
“Jangan marah ya. Mas janji tidak akan teledor lagi seperti tadi. Tubuh Mas hanya untuk Qiana.”
Wajah Qiana seketika bersemu merah. Rasa kesalnya pada pria itu luntur sudah. Raka memang semakin pintar merangkai kata untuk membuat gadisnya tersipu.
Qiana benar-benar tak mengira, pria yang dulu begitu kaku, kini menjelma menjadi pria romantis yang selalu membuatnya tersipu. Bahkan Raka kini menjelma menjadi sesosok pria yang sangat seksi bagi Qiana.
Setiap sentuhan pria itu, ucapan yang terlontar dari bibir pria itu, selalu bisa membuat wajah Qiana bersemu merah. Raka bahkan bisa membuat Qiana yang 'bar-bar' tertunduk malu-malu.
Qiana mengakuinya sekarang. Dia sudah jatuh cinta pada pria yang selalu menjaganya sedari kecil itu. Qiana jatuh cinta pada apa yang ada di diri pria itu.
Rasa cinta di hati Qiana semakin membuncah kala hasratnya menggebu. Menatap Raka yang hanya menggunakan celana pendek membuat bagian bawah tubuhnya berkedut-kedut.
Ya, Qiana menginginkannya pria itu sekali lagi.
Gegas Qiana naik ke pangkuan Raka dan langsung ******* habis bibir kemerahan pria itu.
Raka tentu saja tersentak kaget. Pria itu bahkan membulatkan matanya. Qiana menyerangnya dengan brutal. Padahal, gadis itu tadi begitu marah padanya.
Apa ini pengaruh hormon kehamilan? pikir Raka.
Satu hal yang baru disadari oleh Raka. Qiana masih belum berbusana.
Dan sore itu, sekali lagi Raka dan Qiana menumpahkan hasrat yang begitu penuh gelora di atas ranjang. Walau Qiana kerap merasa keram setiap kali gadis itu mencapai puncak, namun tak menyurutkan hasrat Qiana sedikit pun. Bahkan, dari hari ke hari, minggu ke minggu, hasrat gadis itu semakin menggebu-gebu.
Dan perjalanan baby moon mereka pun berlangsung penuh gairah. Raka dan Qiana seolah tak peduli jika para awak kapal mendengar suara erangan mereka yang saling sahut menyahut.
Perjalanan menginap di sebuah kapal mewah selama tiga malam, benar-benar memberikan kenangan indah bagi sepasang suami istri itu. Bagaimana tidak, ini adalah perjalanan pertama mereka dengan perasaan penuh cinta yang saling bersambut.
Qiana bahkan sudah belasan kali menyatakan perasaan cintanya pada Raka. Raka sampai meneteskan air mata saat pertama kali mendengar Qiana menyampaikan perasaannya.
Saat itu mereka baru saja menaiki kapal mewah yang akan mereka tinggali selama empat hari tiga malam. Raka dan Qiana baru saja memasuki kamar yang akan mereka tinggali selama tiga malam itu.
“Kamarnya bagus, Mas,” ucap gadis itu sembari menyusuri kamar yang berada di dalam kapal mewah itu.
__ADS_1
Raka hanya membalasnya dengan memberikan senyuman lembut pada sang istri. Pria itu pun melanjutkan aktivitasnya. Menyusun semua barang bawaan mereka.
Tiba-tiba Raka dikejutkan oleh jari jemari yang bertaut di pinggangnya. Qiana memeluknya dari belakang. Bibir Raka kembali merekah. Pria itu tersenyum sumringah. Rasanya tak sia-sia dia membawa sang istri melewati menyusuri lautan di atas kapal super mewah.
Baru tiba di atas kapal saja, Qiana sudah memeluknya erat.
Dan, ucapan yang keluar dari bibir Qiana selanjutnya, berhasil membuat pria itu membeku.
“Mas ... Qia sepertinya... Qia sudah jatuh cinta dengan Mas Raka,” lirih gadis itu seraya menyembunyikan wajahnya di punggung Raka.
“Qia sangat mencintai Mas Raka, sekarang. Makanya, Mas Raka harus bertanggung jawab! Mas Raka tidak boleh meninggalkan Qia. Mas Raka harus selalu mendampingi Qia. Menemani Qia membesarkan anak-anak kita. Menemani Qia hingga anak kita tumbuh dewasa dan menikah. Mendampingi Qia bermain dengan cucu-cucu kita.”
Air mata Raka seketika menetes. Kalimat demi kalimat yang dirangkai Qiana, membuat rasa bahagia di hati Raka begitu membuncah.
“Mas! Kok Mas Raka diam saja sih?!” ketus Qiana. Gadis itu bahkan melepaskan pelukannya dan melangkahkan kaki hingga berdiri persis di hadapan Raka.
“Mas Raka nangis?”
Tangis Raka semakin pecah. Pria itu langsung memeluk erat sang istri dan berulang kali mengucapkan terima kasih karena gadis itu sudah mencintai dirinya.
“Mas sudah lama sekali menunggu hal ini, Dek. Mas sudah lama menantikan Qia membalas rasa cinta ini,” ucap pria itu sembari menangis dalam dekapan sang istri.
“Mas teramat sangat mencintai Qia. Mas tidak mungkin meninggalkan kamu, Sayang. Terima kasih karena Qia sudah mau mencintai Mas.”
Qiana melepaskan diri dari dekapan sang suami. Diusapnya air mata yang mengalir di pipi pria itu.
^^^“I love you, Mas Raka.”^^^
“I love you more, Qiana,” balas Raka.
Sepasang suami istri itu kini saling tatap dan saling melemparkan senyuman. Perlahan tapi pasti, kedua bibir mereka saling bertautan.
Dan apa yang terjadi selanjutnya tentu kalian semua bisa menebaknya. Raka dan Qiana terlarut dalam perasaan cinta yang saling bersambut itu. Keduanya membuat suasana kapal mewah itu menjadi panas. Penuh gairah.
__ADS_1
Selama tiga malam menginap di kapal mewah itu, entah berapa kali sepasang suami istri itu saling menumpahkan hasrat mereka. Mereka bahkan tak peduli tengah berada di mana. Mereka juga tak peduli jika para awak kapal dan pengawal mereka, begitu tersiksa saat mendengar erangan demi erangan yang saling bersambut.