Mencintai Qiana

Mencintai Qiana
Part 28 - Cinta?


__ADS_3

Sudah tiga bulan berlalu sejak pernikahan terlarang itu diselenggarakan. Qiana sudah kembali bekerja di perusahaan milik keluarga Bratajaya. Walau banyak karyawan dan rekan kerja yang mencemooh dirinya, gadis itu tak pernah memedulikannya.


Raka pun demikian. Pria itu kembali menjadi direktur utama di perusahaan milik sang ayah. Mengantar Qiana ke kantor adalah rutinitasnya setiap pagi.


Hubungan sepasang pengantin baru itu juga berjalan cukup harmonis. Seperti pasangan pengantin baru pada umumnya, ranjang mereka selalu terasa panas. Setiap malam, Raka selalu memasuki Qiana dengan menggebu-gebu. Qiana pun menyambut dengan tak kalah menggebu.


Qiana yang sejak kecil terbiasa bermanja-manja pada Raka, membuat sepasang pengantin baru itu tak memerlukan waktu untuk saling menyesuaikan diri.


Raka sangat mengenal karakter Qiana yang manja. Gadis itu tidak akan membangkang jika semua keinginannya terpenuhi. Dan itulah yang dilakukan oleh Raka. Sejak kecil, Raka memang selalu menuruti permintaan Qiana. Pria itu tak pernah berkata tidak pada Qiana. Hal itu lah yang membuat Qiana tak lagi mempersoalkan masalah cinta.


Qiana bisa menerima, jika dia menikah bukan dengan orang yang dicintainya. Raka yang selalu menuruti semua inginnya, membuat Qiana sangat bahagia di usia pernikahan mereka yang masih seumur jagung. Limpahan cinta dan kasih sayang dari Raka, membuatnya sangat bahagia satu bulan belakangan. Terlebih, Raka sangat pintar membuatnya melayang setiap malamnya.


Walau tak mencintai pria itu, tapi Qiana sangat membutuhkannya. Qiana tak ingin berpisah dari Raka. Gadis itu bahkan mengungkapkannya pada Raka.


“Mas, Qia ingin rumah tangga kita bertahan selamanya,” ungkap gadis itu di suatu malam. Bibir Raka langsung terkembang lebar mendengarnya.


“Mas juga menginginkan hal yang sama, Dek. Mas ingin selalu bersama dengan Qia hingga maut memisahkan.”


Qiana yang tadi tengah duduk bersandar di pundak Raka, tiba-tiba menegakkan badannya lalu berpindah posisi hingga kini berhadapan dengan sang suami.


“Tapi, Mas janji ya, akan selalu romantis kapan pun dan di mana pun,” ucap gadis itu dengan mata berbinar. Raka semakin sumringah. Dengan antusias, pria itu menganggukkan kepalanya.


“Qia ingin segera punya anak, Mas!”


Raka yang sedari tadi tersenyum sumringah, mendadak terperangah. Pria itu menatap tak percaya pada gadis yang sangat dicintainya itu.


Punya anak?


Qiana ingin segera memiliki anak dengannya?


Bukankah di awal pernikahan, gadis itu sendiri yang mengatakan jika dia belum siap memiliki anak dari pria yang tak dicintainya?


Apa itu artinya Qiana sudah mulai mencintai dirinya?


Selama tiga bulan ini Raka rela mengesampingkan gengsinya hanya demi Qiana. Dia rela mengabaikan rasa malunya dan bermesraan di manapun mereka berada.

__ADS_1


Usahaku selama ini, berarti tak sia-sia.


“Mas!” pekik Qiana. “Kok malah bengong, sih?!”


“Mas tidak ingin ya, jika Qiana mengandung anak Mas Raka?!” ketus Qiana. Raka yang sedari tadi sibuk dengan pikirannya sendiri, menjawab Qiana dengan tergagap.


“Ti-tidak kok,” ucap pria itu gugup.


“Tidak?! Jadi, Mas tidak ingin mempunyai anak dari Qia?!”


“Hah?!” Raka terperangah dengan ucapan gadis itu.


“Tentu saja Mas ingin, Dek. Mas sangat ingin memiliki anak bersama kamu. Ka-kalau bisa, Mas malah ingin, kita mempunyai banyak anak,” ujar Raka malu-malu.


“Banyak anak?” tanya Qiana sekali lagi. Sembari tersenyum malu, Raka menganggukkan kepalanya. Qiana pun tersenyum sumringah.


Gadis itu malah naik ke pangkuan Raka dan menggoyangkan pinggulnya di atas kejantanan pria itu.


“Kalau begitu, buang dulu semua pengaman yang Mas simpan di laci,” lirih gadis itu.


Qiana sudah tak memiliki sehelai benangpun di atas tubuhnya. Gadis itu malah sudah merentangkan kakinya. Dia sudah sangat siap menyambut Raka.


Dengan susah payah Raka menelan ludahnya. Walau sudah tiga bulan menikah, tapi ini adalah pertama kalinya Qiana yang mengajaknya lebih dulu. Bahkan gadis itu sudah berpose di atas ranjang.


Kejantanan Raka seketika bangkit. Netranya langsung tertuju pada lembah Qiana yang sangat lembut di bawah sana. Dengan perlahan Raka mengayun kakinya menaiki ranjang. Dibelainya kaki Qiana yang sudah terbuka lebar. Pria itu lantas membenamkan wajahnya di bawah sana.


Lenguhan demi lenguhan langsung meluncur dari bibir Qiana. Bahkan, tak butuh waktu lama untuk membuat gadis itu mengerang.


Raka memang benar-benar pandai membuatnya melayang. Qiana bahan tak bisa untuk tak berteriak saat Raka menyeruputnya di bawah sana.


Tubuh Qiana melenting saat dia merasakan bagian bawahnya bersiap meledak.


Dan Raka langsung memasuk gadis itu setelahnya. Gerakan-gerakan indah Raka, mampu membuat Qiana yang baru mencapai puncak, kembali melenguh.


Lenguhan demi lenguhan yang terus terlontar dari bibir Qiana, membuat Raka terus menghujam gadis itu dengan brutal. Semakin brutal pria itu, lenguhan Qiana pun semakin keras. Hingga badan gadis itu kembali menegang.

__ADS_1


Setelah Qiana mencapai puncaknya. Raka pun mengejar kenikmatannya sendiri. Pria itu semakin bergerak liar di bawah sana. Tubuh Qiana terus menghentak-hentak. Bunyi tubuh mereka yang beradu pun semakin terdengar nyaring.


Dan untuk pertama kalinya, Qiana merasakan kehangatan di dalam tubuhnya. Tak ada lagi pelindung, membuat Qiana merasakan secara langsung semburan itu.


“Hangat Mas,” lirih Qiana. Raka hanya tersenyum lembut dan mengecup dahi gadis itu.


“I love you so much, Qiana.”


Qiana tentu saja tak membalasnya. Gadis itu hanya menatap Raka dengan mata sayu dan tersenyum tipis.


Selama tiga bulan pernikahan. Tak pernah sekalipun Qiana mengungkapkan perasaannya pada Raka. Sudah ratusan kali pria itu mengatakan i love you. Tapi, tak pernah sekalipun Qiana membalasnya.


Jika biasanya Raka tak masalah dengan hal itu, malam ini Raka merasa bingung. Gadis itu sudah mengajaknya untuk memiliki anak. Tapi, mengapa Qiana masih belum membalas pernyataan cintanya?


Apa Qiana merasa malu?


Tapi, bukankah Qiana tak pernah merasa malu ataupun sungkan mengatakan apapun padanya?


Lalu, kenapa gadis itu masih diam dan tak membalas ungkapan cinta darinya?


Apa Qiana masih ragu akan perasaannya?


Atau ... Apa mungkin gadis itu masih belum mencintainya?


Lalu, kenapa Qiana menginginkan seorang anak darinya?


“Dek ... Apa Mas boleh menanyakan sesuatu pada Qia?” tanya pria itu, saat mereka masih berpelukan sesaat setelah melakukannya.


“Boleh Mas. Mas silakan tanya apapun. Qia pasti akan menjawabnya dengan jujur. Kata Mama dan Papa, salah satu kunci dari langgengnya pernikahan adalah saling jujur.”


Raka sempat terdiam saat mendengar ucapan sang istri. Saling jujur adalah hal yang masih belum bisa dia lakukan. Dia belum berani mengatakan kejujuran itu pada Qiana.


“Mas mau nanya apa?” tanya Qiana kemudian.


“Apa Qiana sudah mulai mencintai Mas?”

__ADS_1


__ADS_2