Mencintai Qiana

Mencintai Qiana
Part 38 - Fakta baru


__ADS_3

“Hasil pemeriksaan sementara, penyebab Bu Qiana tak sadarkan diri adalah karena kekurangan nutrisi dan cairan tubuh.”


Mata Raka membulat mendengar pernyataan dokter. Bagaimana mungkin istrinya bisa kekurangan nutrisi dan cairan? Selama ini dia selalu memastikan jika Qiana makan dengan baik.


Raka menoleh pada gadis yang masih duduk bersandar di ranjang rumah sakit. Pria itu masih terus bertanya-tanya bagaimana Qiana bisa terdiagnosis kekurangan nutrisi?


“Kemungkinan, Bu Qiana belum mengonsumsi makanan dan minuman lebih dari 24 jam,” lanjut dokter itu.


Mata Raka semakin membulat. Bukannya malam tadi Qiana sudah menghabiskan makanan yang disajikan Bi Tari?


Asisten rumah tangga itu bahkan membawa peralatan makan yang sudah kosong. Bukankah itu artinya Qiana menghabiskan semua sajian santap malamnya?


Raka kembali menoleh pada gadis itu. Berharap Qiana mau membuka mulutnya untuk menjelaskan kebingungan yang dia rasakan saat ini.


Tapi gadis itu masih tetap diam. Qiana tak berusaha menjelaskan apapun padanya. Raka pun menerka-nerka.


Saat dokter dan perawat itu berlalu dari hadapan mereka, Raka langsung duduk di hadapan gadis itu sembari menggenggam jemari tangan Qiana.


Pria itu menatap wajah Qiana yang masih terus berpaling dan tak mau menatap dirinya.


“Mas tau kalau kesalahan Mas sangat fatal. Kamu boleh marah, mengumpat atau melempar semua benda yang ada di dalam jangkauanmu. Tapi, tolong jangan siksa diri kamu karena hal ini, Dek. Kamu harus tetap mengonsumsi makanan dan minuman walau kamu sedang marah dan kecewa. Mas tidak mau kamu jatuh sakit seperti ini,” ucap pria itu.


Qiana tentu saja tak memedulikan ucapan pria itu. Qiana masih memalingkan wajahnya.


“Qia janji ya. Janji kalau hal ini tidak akan terulang lagi. Jangan mogok makan hanya karena kamu merasa marah dengan Mas.”


“Siapa yang mogok makan? Qia juga sebenarnya mau makan. Qia sangat lapar. Bahkan sepanjang malam Qia merasa lapar hingga tidak bisa tidur!” ketus gadis itu.


“Kenapa kamu tidak katakan kalau kamu lapar, Dek. Sepanjang malam Mas ada di depan pintu kamar kamu. Kamu hanya tinggal memanggil Mas dan minta dibelikan makanan apa saja. Mas pasti menuruti,” jawab Raka.


“Percuma!” ketus Qiana, lagi.


“Percuma? Percuma kenapa?” tanya Raka bingung.


“Iya per-cu-ma!” ucap Qiana sembari menekan pelafalan jurus setiap suku kata.


“Walau seluruh makanan terenak di dunia ada di hadapan Qia. Tapi tetap saja tidak selera makan!”

__ADS_1


“Walaupun tidak selera, setidaknya kamu harus paksakan makan walaupun sedikit.”


Qiana tak lagi menanggapi ucapan pria itu. Qiana ingin sekali mengatakan pada pria yang ada di hadapannya itu, bahwa dirinya hanya berselera makan jika disuapin oleh Raka.


“Selama menginap di rumah sakit ini, kamu harus makan dengan benar ya. Pokoknya Mas ingin Qia menghabiskan seluruh makanan yang tersaji. Nanti Mas akan selalu menyuapi kamu.”


Hampir saja bibir Qiana tersenyum sumringah saat mendengar ucapan Raka. Pria itu akan dengan suka rela menyuapi dirinya. Itu artinya dia tidak perlu lagi menahan lapar sepanjang malam.


Dan, saat waktu makan siang dan makan malam tiba, Qiana melahap habis semua santapannya. Itu semua karena Raka selalu berada di sisinya dan menyuapi dirinya.


Sebenarnya Qiana bisa saja kembali ke kediaman mereka hari itu juga. Tapi, mengingat kondisi Qiana yang belum pulih total, serta hasil pemeriksaan darah lengkap belum mereka terima. Raka memilih agar Qiana menginap selama satu atau dua malam di rumah sakit.


Ketika malam tiba dan Qiana sudah mulai mengantuk, gadis itu terlihat uring-uringan. Qiana kembali tak bisa terlelap. Melihat Raka yang sudah tertidur di sofa, membuat Qiana bertambah kesal pada pria itu.


Raka baru terbangun saat seorang perawat kembali memeriksa kondisi Qiana.


“Kenapa belum istirahat, Bu?” tanya perawat itu.


“Saya tidak bisa tidur, Sus,” ucap Qiana sembari melirik ke arah Raka yang ternyata tengah memerhatikan dirinya diperiksa.


...****************...


Pria itu duduk di atas kursi yang berada persis di samping ranjang. Kembali Raka menggenggam jemari Qiana. Pria itu bahkan mengecupnya.


“Ayo tidur, Dek. Mas temani di sini.”


Raka terus diam saat melihat Qiana yang masih tak menanggapinya.


Tapi nampaknya, walau Raka sudah menggenggam jemari-jemarinya, gadis itu masih belum bisa terlelap. Qiana ingin tidur dalam pelukan Raka. Tapi gadis itu tak mau mengakuinya.


Qiana terus merasa gelisah. Tentu saja itu tak luput dari perhatian Raka. Tapi pria itu tak bereaksi. Raka hanya terus menggenggam jemari Qiana sembari menatap sang istri yang masih uring-uringan.


Bukan Raka tak peka. Pria itu hanya takut salah. Sebenarnya Raka ingin mendekap Qiana. seperti biasanya. Tapi, Raka takut Qiana akan marah karena perbuatannya itu.


Bukankah istrinya itu merasa sangat kecewa padanya hingga menginginkan perpisahan? Jika dia memeluk Qiana, istrinya itu pasti akan bertambah marah padanya. Begitulah pikir Raka.


Qiana merasa kesal karena sang suami hanya duduk diam tanpa berbuat apapun.

__ADS_1


“Kalau melihat istri tidak bisa tidur, inisiatif dong!” ketus gadis itu.


Raka terperanjat saat tiba-tiba Qiana meluapkan amarahnya.


“Kalau Mas tidak bisa membuat Qia nyaman, keluar dari sini!”


“Mas ... Mas sebenarnya ingin. Tapi Mas takut Qia akan marah,” lirih pria itu.


“Alasan!” ketus Qiana.


“Qia janji tidak akan marah?”


Qiana hanya menjawab dengan melirik tajam pada Raka. Pria itu pun memberanikan diri. Dia tak ingin terusir dari ruang rawat inap VVIP itu. Dia ingin terus menemani sang istri yang tengah terbaring lemah.


Raka menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya perlahan. Pria itu lantas naik ke atas ranjang rumah sakit lalu merebahkan diri di samping sang istri. Meletakkan lengannya melingkar di bawah leher gadis itu. Memposisikan tubuh Qiana agar menghadap padanya dan mendekap gadis itu. Raka juga memastikan lengan Qiana yang tertancap jarum infus agar tetap aman.


Dan baru beberapa saat Raka membelai rambut gadis itu, Qiana sudah terlelap. Raka pun tersenyum menyaksikannya.


Ternyata Qiana hanya ingin dipeluk olehnya. Hanya saja gadis itu gengsi mengatakannya. Berapa bahagianya Raka saat mengetahui hal itu. Senyum pria itu pun terkembang.


Ketika fajar menyingsing, wajah Qiana sudah lebih cerah. Gadis itu tidur begitu pulas malam tadi. Pelukan Raka begitu hangat dan nyaman.


“Permisi Bu Qiana. Kita bersihkan tubuhnya dulu ya,” ucap salah seorang perawat. Namun, Raka meminta perawat agar membiarkannya menyelesaikan pekerjaan itu.


Raka pun mulai menyeka tubuh sang istri. Membersihkan seluruh bagian tubuh Qiana.


Qiana memalingkan wajahnya saat Raka membersihkan daerah sensitifnya. Padahal pria itu hanya menyekanya saja. Tapi entah mengapa tubuh Qiana mendadak panas. Wajah gadis itu pun berubah kemerahan.


Qiana mengumpat dalam hati. Bisa-bisanya dia menginginkan jemari pria itu tak hanya sekadar menyeka daerah sensitifnya. Padahal dia masih begitu kecewa akan perbuatan pria itu tujuh bulan lalu.


Setelah menyeka tubuh Qiana, Raka pun kini menyuapi gadis itu. Tentu saja Qiana makan dengan sangat lahap. Walau rasa masakan di rumah sakit itu tak terlalu menggugah selera, tapi karena Raka menyuapinya, lidahnya seolah mati rasa. Karena bagi Qiana, menu sarapan yang dia santap saat ini begitu lezat.


“Selamat pagi Bu Qiana. Selamat pagi, Pak.”


Seorang dokter dan dua orang perawat tiba di ruangan itu saat Qiana baru saja menyelesaikan santap paginya.


“Saya membawakan hasil tes darah lengkap Bu Qiana,” ucap dokter itu seraya memberikan hasil laboratorium pada Raka.

__ADS_1


“Selamat ya Pak, Bu. Bu Qiana saat ini tengah mengandung. Mungkin Bu Qiana mengalami kekurangan nutrisi karena belakangan tak berselera makan. Kemungkinan itu faktor kehamilan.”


__ADS_2