
Kedatangan Tommy ke perusahaan kecil miliknya, membuat Raka tak bisa berkonsentrasi. Pria itu terus memikirkan setiap ucapan Tommy padanya. Bahkan, setiap pujian yang dilayangkan Tommy untuk Qiana.
Apa maksud pria itu terus memuji istrinya? Apa pria itu berencana untuk merebut Qiana dari dirinya? Jika itu Tommy, pasti Qiana akan mudah untuk jatuh cinta. Pria itu tampan, kaya raya dan selalu berbicara lembut kepada setiap wanita yang disukainya. Raka teringat bagaimana perlakuan Tommy pada Safira saat mereka masih menjadi mahasiswa. Tommy begitu lembut pada Safira.
Jika Tommy mendekati Qiana, akankah istrinya itu terpikat?
Raka menatap Qiana yang tengah menidurkan Damar— anak mereka.
Dia sanggup kehilangan seluruh harta dan aset miliknya. Tapi, jika harus kehilangan Qiana, dirinya pasti tak akan sanggup. Bahkan, dengan membayangkannya saja membuat hatinya begitu sakit.
Qiana tersenyum lembut saat pandangannya beradu dengan sang suami. Tapi, tak begitu dengan Raka. Pria itu menatap Qiana dengan sendu.
Dahi Qiana pun berkerut. Gadis itu bingung dengan tingkah suaminya. Sejak Tommy meninggalkan ruko tempat usaha mereka, Raka jadi sering melamun dan menatapnya dengan sendu.
Qiana menegakkan tubuhnya, gadis itu menghampiri sang suami setelah Damar terlelap dan diletakkan ke dalam box bayi.
“Mas kenapa?” tanya Qiana sembari bergelayut manja pada dada bidang sang suami yang tengah duduk di sofa.
Raka pun menyeritakan kegundahan hatinya, rasa takut kehilangannya. Bahkan Raka juga menyeritakan segala kelebihan Tommy pada Qiana.
“Iya sih. Tommy itu tampan sekali. Ternyata dia kaya raya ya, Mas?”
“Ya begitulah,” jawab Raka sembari menahan rasa sakit di hatinya. Entah mengapa dia jadi begitu cemburu dengan Tommy— pria yang pernah sangat dekat dan menjadi sahabatnya itu. Mungkin karena dirinya sudah tak memiliki apapun. Raka menjadi begitu rendah diri di hadapan Tommy.
Raka bahkan terpikirkan, jika Qiana berhak mendapatkan pria yang lebih baik dari dirinya. Pria yang bisa membahagiakan Qiana.
Gadis itu bahkan merelakan tabungannya untuk membantunya mendirikan sebuah usaha. Jika Qiana bersama Tommy, gadis itu tentu tak perlu berkorban seperti itu.
“Kata pria bule itu, Qia cantik, Mas,” lirih Qiana.
“Iya. Qia memang cantik. Sangat cantik dan bertambah cantik,” ucap Raka tercekat.
__ADS_1
Qiana kemudian terkekeh-kekeh mendengar jawaban Raka. Gadis itu menegakkan tubuhnya, lalu naik ke pangkuan Raka. Ditatapnya sang suami sembari tersenyum lembut.
Qiana mengalungkan lengannya ke leher sang suami.
“Mungkin pria bule itu lebih gagah dan lebih kaya dibandingkan Mas Raka. Tapi, mau bagaimana lagi, Qia cinta matinya dengan Mas Raka,” ucap gadis itu.
“Kamu berhak mendapatkan yang lebih baik dari Mas, Dek. Mas bahkan jadi ragu. Perusahaan kecil yang kita bangun itu, apa bisa mencukupi kebutuhan rumah tangga kita. Kita masih hidup menumpang di rumah Mama. Bahkan, segala kebutuhan kita ditopang oleh Papa. Mas tidak bisa menjadi suami dan ayah yang baik untuk kalian,” ucap Raka pesimis.
Qiana mengembuskan napas kasar. Padahal, saat awal mendirikan perusahaan itu, Raka begitu bersemangat. Kenapa suaminya menjadi pesimis sekarang?
“Apa Mas mengatakan hal ini agar Qia meninggalkan Mas dan Mas hidup bersama perempuan itu?!” ketus Qiana.
“Tidak Dek. Seandainya Qia meninggalkan Mas, Mas tidak akan pernah menggantikan Qia dengan gadis manapun. Terlebih Safira. Kalau Mas memang mau bersama dengan Fira, tidak mungkin Mas menerima kebangkrutan ini dengan ikhlas. Itu semua karena Mas sangat mencintai kamu. Tidak ada satu gadis yang bisa menggantikan kamu,” jelas Raka.
Pria itu tak mau Qiana menjadi salah paham. Dia hanya ingin Qiana bahagia dan mendapatkan pria yang lebih baik dari dirinya.
“Qia pun begitu Mas. Qia mencintai Mas. Hanya Mas Raka yang ada di hati dan pikiran Qia. Kenapa Mas meragukan cinta Qia? Apa karena Mas yang lebih dulu jatuh cinta dengan Qia, sampai merasa jika cinta Mas Raka lebih besar dari cintanya Qia? Sama seperti Mas Raka. Qia juga sangat mencintai Mas Raka.”
“Kenapa Mas Raka tega mengikhlaskan Qia untuk pria lain? Apa cinta Mas sudah tidak sebesar dulu lagi?”
“Bukan seperti itu, Dek. Mas sangat mencintai kamu. Dari dulu sampai sekarang tidak berubah. Bahkan cinta Mas semakin hari semakin bertambah. Mas hanya takut kamu tidak bahagia hidup dengan Mas yang tidak punya apa-apa ini. Mas bahkan memberatkan Papa dan Mama.”
“Mulai besok, kita cari kontrakan ya, Mas. Atau, kita bisa tinggal di ruko. Biar, Mas percaya kalau Qia akan selalu menemani Mas dalam kondisi apapun. Dan Mas jadi tidak merasa rendah diri karena hidup kita bertiga ditanggung Mama dan Papa,” ucap Qiana.
“Apa kamu dan Damar tidak apa-apa jika kita tinggal di ruko? Pasti sangat tidak nyaman, Dek,” lirih Raka.
“Qia tidak apa-apa Mas. Lagian, kalau siang hari, Damar sudah terbiasa bermain di ruko, kan?”
“Tapi perusahaan kita belum menghasilkan apapun, Dek. Kita bahkan baru mempunyai satu klien. Dan penghasilannya baru cukup untuk tabungan sewa ruko dan biaya operasional kantor,” jelas Raka.
“Tabungan Qia kan masih ada, Mas. Kita bisa berdagang setelah kantor tutup!” ujar Qiana antusias.
__ADS_1
“Berdagang?” tanya Raka heran. Qiana pun menjelaskan keinginan terpendamnya untuk membuat kafe.
“Di sana dekat dengan universitas, perkantoran, mall, bahkan banyak tempat kos di area belakang kantor kita. Kalau kita berjualan makanan cepat saji, pasti laris!” pekik Qiana. Dahi Raka berkerut. Pasti repot sekali jika mereka membuat kafe di sana. Menyusun meja dan bangku untuk para pembeli, bahkan menyiapkan tempat untuk mengolah makanan. Dari mana istrinya mendapatkan ide seperti itu.
“Kita hanya butuh sebuah gerobak kecil untuk membuat burger, Mas. Setelah itu siapkan satu meja bundar dengan tiga atau empat bangku. Selesai deh,” ucap Qiana.
“Ayolah, Mas. Membuat burger itu kan mudah. Atau Mas mau kita menjual seblak?!”
Gadis itu benar-benar antusias. Bahkan, Qiana jauh lebih antusias membicarakan bisnis makanan ringan itu dibandingkan membicarakan perusahaan yang baru saja mereka dirikan, kemarin.
“Ayolah Mas. Sebelum usaha kita berjalan lancar. Sebelum kita punya banyak kesibukan mengurus perusahaan yang akan semakin berkembang. Qia ingin kita hidup mandiri. Kita berjuang bersama-sama dari nol. Itu impian Qia, Mas. Rumah tangga seperti itulah yang Qia impikan sejak dulu!”
Raka tersenyum lembut. Mendengar semangat sang istri, pria itu pun mengabulkannya. Selama hampir dua Minggu Raka dan Qiana mempersiapkan usaha kuliner mereka.
Jika pagi hingga menjelang sore, Raka sibuk mengurusi perusahaan baru mereka. Sore hingga malam, ditemani oleh Qiana, Raka mengurusi usaha kulinernya.
Mereka bahkan sudah satu bulan menjalani kehidupan sederhana itu. Qeiza yang tak tega melihat sang anak hidup sederhana, mengirimkan seorang asisten rumah tangga untuk membantu Qiana mengasuh Damar.
Dan saat Safira hendak menjalankan rencananya yang tertunda, gadis itu terlihat begitu terkejut saat menyaksikan begitu banyak orang mengantri di depan ruko, tempat di mana perusahaan Raka beroperasi.
Dan Safira lebih terkejut lagi saat melihat Raka memakai celemek dan memasak.
“Raka jadi penjual burger?!”
Safira benar-benar tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Kenapa seorang jenius seperti Raka berakhir menjadi penjual makanan di pinggir jalan? Apakah perusahaan Raka sudah bangkrut sebelum dirinya ambil bagian? Bukankah perusahaan itu baru berjalan selama hampir dua bulan? Kenapa bisa gulung tikar semudah itu? Tapi, kenapa nama perusahaan itu masih terpampang jelas di depan ruko kecil itu?
Banyak sekali pertanyaan di benak Safira. Gadis itu bingung. Dan yang lebih membuatnya bingung, bagaimana caranya dia bisa mengancam Raka jika perusahaan pria itu saja sudah guling tikar?
Namun, kenapa Raka terlihat begitu bahagia walau hanya berjualan makanan di pinggir jalan? Safira menyaksikan bagaimana Raka dan Qiana terlihat begitu mesra. Sesekali terlihat Raka mencium mesra dahi Qiana saat gadis itu hendak mengantarkan makanan ke meja pembeli.
Safira bertambah kesal melihatnya!
__ADS_1