
“Kita mau ke Turki?!”
Melihat wajah cerah Qiana, senyum Raka pun merekah. Pria itu merasa sangat bahagia melihat wajah antusias gadis itu. Setelah resepsi pernikahan mereka, wajah Qiana terlihat lesu. Bahkan wajah gadis itu bertambah lesu saat mereka tiba di hotel.
Tapi kini, wajah Qiana begitu bersinar, tentu saja Raka merasa senang. Sejak dulu, kebahagian Qiana memang menjadi prioritasnya.
“Kamu ingat kan, waktu kita masih kecil, Mas pernah berjanji akan mengajak Qia ke Turkiye. Maaf ya ... Baru kali ini Mas bisa mewujudkannya.”
Dahi Qiana berkerut. “Bukankah kita sudah pernah ke Turkiye bersama-sama Mas?”
Qiana menatap Raka dengan wajah bingung. Dulu, saat kedua orang tuanya melakukan perjalanan ke Turkiye, Raka memang pernah berjanji akan mengajaknya berlibur ke sana. Namun, dua tahun setelahnya, mereka sudah melakukan perjalanan bersama keluarga besar Bratajaya ke negara dua benua itu.
“Waktu itu kan Paman Ivan yang mengajak kita semua liburan ke Turkiye. Jadi, bagi Mas, janji itu belum terpenuhi. Mengajak Qia berlibur berdua ke Turkiye dan menaiki balon udara.”
Mulut Qiana menganga mendengar pernyataan Raka. Gadis itu tak menyangka jika Raka begitu memegang teguh janji masa kecil mereka. Qiana pun kembali teringat saat dirinya merasa kesal karena kedua orang tuanya berlibur tanpa mengajak dirinya. Saat itu Raka berjanji akan mengajaknya berlibur ke sana.
“Mas janji, suatu saat nanti, Mas akan mengajak Qia berlibur ke sana. Tidak hanya melihat balon udara. Tapi, kita juga akan menaikinya. Bagaimana?”
Dan hari ini, Raka benar-benar mengajaknya terbang ke negara dua benua itu. Tapi, kali ini status mereka telah berubah.
Jika dulu Raka berjanji sebagai seorang kakak lelakinya Qiana. Kini, pria itu mewujudkannya sebagai seorang suami. Gadis kecil yang dulu tengah merajuk karena ingin pergi menaiki balon udara di Cappadocia itu, kini sudah menjadi istrinya.
Raka begitu bahagia hari itu. Dua mimpinya jadi nyata hari itu. Menjadikan Qiana istrinya, serta membawa Qiana berbulan madu di tempat yang sudah dia janjikan belasan tahun lalu pada gadis itu. Sepanjang perjalanan menuju bandara, Raka terus sumringah. Senyum pria itu tak pernah luntur sedetikpun.
Begitupun dengan Qiana. Walaupun ini bukan kali pertamanya mengunjungi negara dua benua itu, tapi Qiana tetap merasa antusias karena dia sudah mencintai negara itu sejak pertama kali berkunjung ke sana.
Dan setelah menempuh perjalanan udara selama 12 jam, Raka dan Qiana akhirnya tiba di Turkiye. Sebuah negara yang melintas di dua benua.
Cappadocia adalah tempat yang dituju sepasang pengantin baru itu. Menikmati keindahan alam Cappadocia dari balon udara adalah tujuan utama mereka.
__ADS_1
Selama satu Minggu penuh, Raka membawa Qiana berkeliling negara itu. Qiana begitu bahagia. Bahkan mereka mendatangi tempat-tempat yang tidak pernah Qiana kunjungi sebelumnya.
“Kamu bahagia, Dek?” tanya Raka, setelah mereka menikmati keindahan Turkiye selama tujuh hari.
Qiana tentu saja menganggukkan kepalanya dengan antusias. “Qia bahagia sekali. Terima kasih banyak ya Mas!” ungkap gadis itu.
Raka membalasnya dengan tersenyum lembut sembari mengusap-usap puncak kepala Qiana.
“Berarti, besok kita sudah tidak pergi kemanapun ya?” tanya Qiana.
Gadis itu memang sudah tau jika Raka hanya akan membawanya berkeliling Turkiye selama tujuh hari. Dan, Qiana pikir, besok adalah hari terakhir mereka berada di negara dua benua tersebut. Raka juga sudah mengatakan, jika besok adalah waktu istirahat setelah tujuh hari berkeliling negara itu.
“Mas sudah pesan paket massage dan spa. Besok kita hanya akan beristirahat di hotel. Tujuh hari traveling, Mas lelah sekali. Tidak masalah kan?”
“Iya Mas. Badan Qia juga sudah mau rontok ini. Untung Mas Raka inisiatif ke spa. Jadi, besok kita bisa pijat-pijat cantik deh,” ungkap gadis itu.
Raka hanya bisa menyunggingkan sebuah senyuman. Biarlah gadis itu tak mengetahui rencana yang sebenarnya. Sepasang suami istri itu pun terlelap begitu saja.
...----------------...
Keesokan paginya, setelah menyantap hidangan makan pagi, Raka dan Qiana menikmati pijatan di pelayanan spa yang ada di hotel tempat mereka menginap.
“Cie ... Mas Raka mau dipijat cewek-cewek cantik,” ujar Qiana saat mereka baru saja tiba di tempat perawatan. Mendengar ucapan Qiana, Raka menatap tajam gadis itu.
“Mas itu suami kamu, Qi. Masa kamu cie-in begitu.”
Qiana terperangah mendengar penuturan Raka. Dirinya sesaat terlupa jika dia dan Raka sudah menikah. Tujuh hari berlibur bersama dan tak terjadi apapun di antara mereka, membuat Qiana merasa tak ada yang berubah dengan hubungan mereka.
“Maaf Mas, Qia lupa,” lirih gadis itu.
__ADS_1
“Lagian, Mas pijatnya khusus pria kok. Jadi yang lihat juga pria. Ruangannya juga beda,” ucap Raka. Qiana hanya menganggukkan kepalanya sembari mengucapkan huruf O dengan canggung.
Dan selama empat jam, Raka dan Qiana memanjakan diri di pusat perawatan itu. Sepasang suami istri itu baru kembali ke kamar mereka, setelah menikmati santap makan siang mereka yang terlambat.
Dan saat hari makin larut, saat Qiana baru saja selesai menyikat giginya dan bersiap tidur, Raka meminta Qiana untuk duduk di sebelahnya. gadis itu pun menurut. Kini mereka duduk bersebelahan sembari bersandar kepala ranjang yang empuk itu.
“Kenapa Mas? Ada yang mau Mas bicarakan?” tanya Qiana sembari menoleh pada Raka. Pria itu pun berdehem sebelum balas menatap Qiana.
“Dek,” panggil Raka pada gadis yang kini duduk di sisinya.
“Iya Mas," jawab Qiana.
“Mas ... Mas ingin kita melakukannya malam ini.”
Melakukannya?
Tubuh Qiana mendadak kaku mendengar permintaan Raka. Sementara Raka, pria itu semakin mendekatkan wajahnya pada Qiana dan mengecup singkat bibir gadis itu.
“Qia mau kan?” tanya Raka.
Qiana pun menjawab dengan mengangguk perlahan. Mendapat lampu hijau dari Qiana, Raka pun kembali mendekatkan wajahnya pada Qiana. inilah saatnya pria itu mempraktekkan apa yang sudah dia pelajari selama ini.
Raka menatap bibir merah muda gadis itu. Sebenarnya Raka ingin langsung melahapnya, tapi pria itu berusaha menahan diri.
Raka mulai menjulurkan lidahnya dan membelai bibir Qiana, persis seperti seorang anak kecil tengah menikmati es krim.
Mendapat perlakuan yang tak biasa pada bibirnya, Qiana yang tadinya menutup mata, kini mengintip apa yang diperbuat oleh suaminya. Mata Qiana mengerjap-ngerjap setiap lidah Raka membelai bibirnya.
Tak lama pria itu melakukannya, karena beberapa detik kemudian, Raka langsung melahap dengan lembut bibir kemerahan gadis itu. Sama seperti ciuman pertamanya, Raka pun begitu menikmatinya kali ini. Terlebih lambat laun Qiana mulai membalas kecupannya.
__ADS_1
Saat jiwanya menuntut lebih, tanpa melepaskan pagutannya, Raka pun berpindah posisi, hingga kini duduk berhadapan dengan gadis itu. Dibukanya lebar kaki Qiana agar tubuhnya bisa melekat pada gadis itu.