
Raka masih tetap berada di posisinya saat Qiana sudah mulai menikmati santap makan siangnya. Pria itu masih memikirkan apa yang diucapkan oleh Qiana padanya tadi.
Gadis itu mengatakan jika dirinya tak romantis. Dirinya tak asik.
“Kasihan sekali anak papi, masih pengantin baru sudah diketusin sama istri,” ucap Anggara sembari menepuk-nepuk pundak Raka. Pria paruh baya itu menjadi saksi bagaimana Qiana mengungkapkan rasa kesalnya pada sang anak.
“Padahal, sewaktu di Turkiye dia baik-baik saja. Dia bahkan terlihat menikmatinya,” ucap Raka. Pria itu sebenarnya sedang tidak berbincang dengan sang ayahanda. Raka hanya berkata dengan pikirannya sendiri.
“Makanya, kamu harusnya cari pengalaman dulu dengan beberapa wanita sebelum menikah. Jadi mengerti apa yang diinginkan istri kamu,” ucap Anggara sembari terkekeh melihat wajah lesu sang anak lelaki.
Raka tak menanggapinya. Pria itu malah melangkah kakinya menjauhi Anggara. Menemui Qiana adalah tujuannya. Dia harus menanyakan pada gadis itu, bentuk keromantisan seperti apa yang diinginkan oleh Qiana.
Sementara Anggara menatap kepergian sang anak sembari menggelengkan kepalanya.
“Pantas saja kalau Qiana kesal sama kamu, Ka ... Ka ...,” lirih Anggara sembari menghela napas kasar. Pria paruh baya itu pun mengikuti langkah kaki sang anak.
“Pengantin baru lemas sekali,” ucap Ivander saat melihat Raka menghampiri mereka. Ivander bahkan merangkul pundak Raka dan membawa pria itu ke meja makan.
Tapi Raka malah asik menatap ke arah Qiana yang tengah sibuk menikmati gado-gado buatan sang ibunda.
“Ayo Raka, makan,” ucap Qeiza.
“Raka belum lapar,” lirihnya.
Qiana reflek menoleh dan menatap tajam sang suami.
“Mama sudah susah payah memasak makanan kesukaan Qia. Ayo makan, Mas!” ucap gadis itu.
“Qia ... Sekarang Mas Raka itu suami kamu. Kamu tidak boleh berbicara ketus begitu. Kamu harus menghormati Mas Raka, lebih dari sebelumnya,” ucap Qeiza.
“Itu semua karena Mas Raka itu tidak romantis, Tan. Makanya mba Qia kesal,” cebik Mika. Qiana menganggukkan kepalanya tanda dia menyetujuinya ucapan Mika. Sementara Anggara yang sudah mengetahui persoalan itu, kembali terkekeh.
“Kamu tidak menyesal Se, membantu Mas Raka? Aku sih menyesal membantu Mas Raka, kemarin,” cebik Mika.
Semua mata kini menatap Mika. “Membantu Mas Raka?” tanya Qiana.
__ADS_1
Mata Raka membulat sempurna. Sementara Anggara menghela napas panjang mendengar ucapan sang anak bungsu. Mika bahkan terlihat membeku setelah menyadari ucapannya.
“Membantu apa?” tanya Qiana sekali lagi.
“Membantu Mas Raka mempersiapkan pernikahan kalian,” ucap Sean. Ekspresi penuh kelegaan terlihat di wajah Mika dan Raka. Beruntung Sean segera menjawab pertanyaan itu dengan lancar, hingga tak menimbulkan kecurigaan. Qiana pun terlihat mengucapkan huruf O saat mendengar jawaban Sean.
“Wanita itu menang manusia yang ribet. Keromantisan saja menjadi masalah. Romantis itu tidak menjamin kebahagiaan,” sindir Sean. Semua mata kini tertuju kepada anggota termuda di keluarga Bratajaya itu. Terutama Qiana dan Mika. Kedua gadis di keluarga Bratajaya itu, menatap tajam pada Sean.
“Sok tau kamu!” cebik Qiana pada sang adik kandung.
“Benar tuh, Mba. Masih bocah tapi sok tau!” timpal Mika.
“Mba, harusnya Mba Qia yang paling tau hal itu. Mantan kekasih Mba yang kemarin itu, bukannya selalu Mba gadang-gadang jika dia adalah pria romantis? Tapi nyatanya apa? Nyatanya dia hanyalah seorang pria brengs3k!”
Qiana menatap Sean semakin tajam. Gadis itu bahkan menghempaskan telapak tangannya ke meja hingga beberapa alat makan ikut bergetar.
“Jangan bawa-bawa mantan!” pekik Qiana.
Qeiza menghela napas kasar saat mendengar kedua anak kandungnya berdebat.
“Yang Sean bicarakan itu memang benar, Ma. Mas Raka pasti sudah memperlakukan Mba Qia dengan sangat baik. Kita se tau itu. Hanya karena tidak romantis saja, Mba Qia jadi kesal begitu.”
“Kenapa jadi kami yang sewot sih?!” ketus Qiana.
“Karena mereka itu sejenis Mba! Sama-sama manusia pisang! Punya jantung tapi tidak punya hati,” ucap Mika. Qiana pun menganggukkan kepalanya sebagai tanda bahwa dia setuju dengan apa yang diucapkan oleh Mika.
“Mending tidak punya hati, daripada tidak punya akal,” balas Sean sembari menyantap hidangan di hadapannya.
Sementara itu, Ivander hanya bisa memijat pelipisnya melihat pertikaian anak-anaknya. Adu argumen itu memang kerap terjadi antara Sean dengan Mika dan Qiana, sejak mereka masih kanak-kanak. Dan biasanya, Raka lah yang menjadi penengah.
“Sudahlah Se, jangan diperpanjang,” lirih Raka.
Dan seperti biasa, Qiana pasti mengangkat wajahnya dan bersikap angkuh pada Sean, karena lagi-lagi Raka membelanya.
“Tuh, harusnya Mba senang mendapat suami yang selalu membela Mba seperti Mas Raka!” umpat Sean.
__ADS_1
Qiana tentu saja tak menanggapi ucapan sang adik kandung. Gadis itu hanya sibuk menyantap makanan miliknya dan bersikap cuek pada Sean. Qeiza dan Ivander hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala mereka melihat tingkah kedua anaknya.
Dan hari itu, selepas santap siang, Raka dan Qiana langsung masuk ke kamar utama. Kamar yang sudah disiapkan oleh Sean sebelum dia menikahi Qiana.
Mata Qiana membulat saat melihat ruangan itu. Sepanjang matanya memandang, hanya tampak warna lavender— warna kesukaannya.
Tata ruang di kamar tidur itu juga terlihat begitu rapih dan tertata dengan baik. Hampir semua perabotan pun berwarna lavender ataupun lilac. Bahkan, boneka kesayangan Qiana pun turut hadir di ruang tidur itu.
“Maaf, kalau tidak ada kelopak mawar juga di sini. Mas tidak tau jika Qia menyukainya,” lirih pria itu.
Qiana tersenyum tipis. Tak pernah dibayangkannya jika Raka menghias kamar tidur mereka dengan semua hal yang disukainya. Qiana pasti betah berlama-lama di ruangan itu.
“Yasudah, untuk masalah kelopak bunga sudah Qia maafkan!” ucap gadis itu.
Raka pun melangkah mendekati Qiana. Dipeluknya gadis itu dari belakang. “Qia sudah tidak kesal lagi kan?” tanyanya.
“Masih!” ketus gadis itu.
Qiana melepaskan diri dari dekapan sang suami. “Qia maunya Mas Raka bersikap romantis di depan semua orang.”
“Bersikap romantis di depan semua orang?”
Qiana menganggukkan kepalanya. “Iya! Qia ingin Mas selalu menunjukkan kemesraan di hadapan semua orang. Tadi, Mas lihat mama dan papa kan? Papa sering sekali menyuapi mama. Papa bahkan sering selalu memeluk dan mencium mama di manapun mereka berada. Qia ingin Mas seperti itu!”
Raka menelan salivanya. Baru membayangkannya saja sudah membuat pria itu bergidik. Melihat Raka yang hanya terdiam, membuat Qiana mendengus. Senyum tipis yang tadi terpancar di wajah gadis itu pun langsung menghilang. Qiana menghentakkan kakinya dan ingin berlalu dari hadapan Raka.
“Yasudah, kalau Mas Raka tidak mau juga tidak apa-apa kok. Qia tidak memaksa!” ucapnya kesal. Saat gadis itu hendak berlalu, Raka menangkap tangan Qiana.
“Iya Dek. Mas janji akan bersikap romantis pada Qiana di hadapan siapa saja.”
“Benar?” tanya Qiana.
“Iya benar. Asal, Qia jangan ngambek lagi ya.”
Qiana pun menganggukkan kepalanya dengan antusias. Gadis itu sudah tak sabar menunggu malam tiba. Dia ingin melihat Raka menepati janjinya.
__ADS_1
“Mika duluan deh. Rasanya hati ini sakit melihat duo Bucin ini!”