
Tanpa Raka duga, kebangkrutannya membawa hal positif bagi rumah tangganya bersama Qiana. Dengan tabungan yang dimiliki oleh Qiana, mereka membuat usaha skala kecil.
Raka dengan gengsinya yang setinggi langit, tidak mau menerima bantuan dari sang ayah mertua. Bersama sang istri, Raka membangun sebuah usaha yang bergerak di bidang jasa konsultan bisnis. Dengan kemampuannya, Raka sangat yakin jika usaha yang dijalaninya akan sukses. Dia cerdas dan punya banyak pengalaman sejak remaja.
Bersama istri dan adik kandungnya, Raka memulai bisnis itu. Mereka menyewa sebuah ruko dan mulai mengurus perizinan usaha.
Sementara Safira yang mengetahui hal itu, tentu saja merasa sangat kesal. Gadis itu pikir, dengan membuat perusahaan milik keluarga Raka bangkrut, pria itu bisa jatuh dalam pelukannya.
Padahal Safira sudah menyewa rumah mewah untuk dia tempati bersama Raka nantinya. Tapi sayang, nasib baik tak berpihak padanya. Raka sama sekali tak menoleh padanya.
Raka lebih memilih tak mengkhianati Qiana dibandingkan kehilangan seluruh asetnya. Safira setiap hari mengamuk dan membanting barang-barang yang ada di apartemennya karena kecewa dengan hasil yang didapatnya.
Dan saat mengetahui Raka memulai sebuah usaha baru, Safira tentu saja tak tinggal diam. Gadis itu sudah berencana akan menghancurkan perusahaan kecil itu.
Safira bahkan sudah menemukan seseorang yang akan diajaknya bekerjasama untuk menghancurkan perusahaan baru milik Raka. Perusahaan yang bahkan belum selesai pengurusan legalitasnya.
......................
Sore itu, Safira kembali ke apartemen miliknya dengan senyum penuh kemenangan. Sudah dapat dia bayangkan betapa banyak kerugian yang akan diterima Raka. Perusahaan itu bahkan belum menemukan interior yang cocok untuk ruko yang baru saja disewa Raka. Tapi Safira sudah merencanakan kehancuran perusahaan kecil itu.
Semuanya sudah disusun dengan sangat sempurna oleh Safira. Raka pasti akan sangat senang karena langsung mendapatkan klien pertama yang begitu menjanjikan. Tanpa pria itu tau, jika klien pertama itulah yang akan menghancurkan perusahaan yang baru saja didirikannya.
Safira sungguh merasa sangat bahagia saat ini. Semua rencananya sudah tersusun dengan rapi. Dalam waktu satu atau dua bulan lagi, Raka akan jatuh ke pelukannya. Dia yakin sekali akan hal itu.
Sambil bersenandung kecil Safira menuju kamar apartemen miliknya. Cepat atau lambat, Raka pasti akan memohon padanya. Pria itu akan meminta bantuan padanya. Dan dia akan kembali meminta pria itu untuk tinggal dengannya selama satu bulan penuh.
__ADS_1
Safira menekan tombol yang berada di pintu kamar apartemennya. Pintu itu pun terbuka. Safira masih melangkahkan kakinya sembari bersenandung karena hatinya benar-benar merasa bahagia.
Namun, sepertinya kebahagiaan tak mau singgah terlalu lama dalam diri gadis itu. Safira yang tadi sibuk bersenandung, tiba-tiba terdiam saat menyaksikan seorang pria tengah duduk di atas sofa mahal miliknya. Pria yang sangat dia kenali. Pria itu tersenyum tipis saat melihatnya.
“Hai Honey. Dari mana saja kamu? Aku menunggumu sejak pagi di sini. Sepertinya kamu sibuk sekali, ya?”
Mata Safira membulat sempurna. Gadis itu bahkan kesusahan untuk mengembuskan napasnya. Kenapa pria itu ada di sini? Bukankah mereka sudah membuat kesepakatan jika dirinya akan tinggal di Indonesia selama satu tahun? Harusnya masih banyak waktu yang tersisa sebelum dia kembali pada pria itu.
Terlebih, kenapa pria itu bisa masuk ke dalam kamar apartemennya dengan begitu mudah?
Apartemen yang ditinggali oleh Safira adalah salah satu apartemen mewah di Ibukota. Penjagaan apartemen ini sangat ketat. Tapi ... Kenapa pria itu bisa berada di dalam kediamannya?
“Kenapa kamu diam saja di sana? Apa kamu tidak merindukan aku?”
“Tommy,” lirih Safira.
Rasa senang yang tadi dirasa Safira menguap begitu saja. Kehadiran Tommy bisa membuat semua rencananya gagal. Safira pun berharap agar pria yang kini ada di hadapannya itu, hanya berlibur sebentar di Indonesia. Hingga dia bisa kembali menjalankan rencananya untuk memiliki Raka selama satu bulan.
“Ka-kamu kenapa bisa ada di dalam apartemenku?”
Itulah kalimat pertama yang diucapkan oleh Safira saat Tommy sudah berdiri persis di hadapannya. Bahkan Pria itu sudah memeluk erat pinggangnya.
“Kamu sudah tau siapa aku sebenarnya kan? Mudah saja bagiku untuk berada di mana saja, kapan saja,” bisik Tommy. Pria itu bahkan mengakhiri penjelasannya dengan menggigit kecil daun telinga Safira.
Tubuh gadis itu pun bergetar. Entah mengapa Safira merasa sedikit takut mendengar kata-kata yang diucapkan oleh Tommy.
__ADS_1
Pria itu bahkan mulai melahap bibir merah merona milik Safira. Tak membiarkan gadis itu berbicara terlalu banyak. Tommy ingin menunjukkan pada Safira, bahwa dialah yang berhak atas diri gadis itu.
Tommy bahkan menggiring Safira hingga ke dalam kamar dan menghempaskan tubuh gadis itu ke atas ranjang. Tanpa meminta izin terlebih dulu pada Safira, Tommy melucuti seluruh pakaiannya yang dikenakan oleh gadis itu.
Safira tak berkutik saat Tommy mulai menjelajah di atas tubuhnya. Bahkan rintihan demi rintihan penuh kenikmatan terus meluncur keluar dari bibir merah merona milik gadis itu.
Tommy berhasil menunjukkan pada Safira, siapa yang menjadi pemilik gadis itu. Bahkan, tubuh gadis itu pun seolah takluk pada pria yang kini tengah menindihnya.
Sementara Tommy, pria itu tak memberi ampunan pada Safira. Dia terus memuaskan dirinya akan tubuh Safira semalam suntuk. Dia tak membiarkan Safira untuk beristirahat.
Safira terkulai lemah.
Gadis itu pikir, saat fajar menyingsing, saat Tommy sudah melepaskan hasratnya yang menggebu, dirinya akan terbebas dari pria itu.
Nyatanya, Tommy menahannya selama berhari-hari. Pria itu seolah menjadikan Safira sebagai budak untuk melampiaskan seluruh hasratnya.
Safira tak berani menolak ataupun mengeluh atas apa yang dilakukan Tommy padanya. Mereka sudah membuat kesepakatan. Bahkan kesepakatan itu dibuat secara tertulis. Tommy membantunya untuk membalas dendam pada Raka, dengan membuat perusahaan perusahaan Raka gulung tikar. Dan sebagai balasannya, Safira menukar kebebasannya. Gadis itu sudah bersedia untuk menjadi tawanan Tommy selamanya.
Sudah satu Minggu lebih Tommy menawan Safira. Gadis itu mulai resah. Menurut perkiraannya, Raka pasti sudah mulai menjalankan usahanya. Harusnya, dia sudah mulai melancarkan aksinya. Harusnya, orang bayarannya mulai mendekati Raka dengan menjadi klien pertama perusahaan kecil itu.
Tapi, kedatangan Tommy ke Indonesia membuat semua rencana yang sudah disusunnya berantakan. Namun, Safira tak mau rencananya itu benar-benar gagal. Suatu hari, Safira memberanikan diri untuk bertanya pada Tommy.
“Kamu sampai kapan di Indonesia?”
Tommy menjawabnya dengan tersenyum sinis, “kenapa? Apa kamu tidak suka dengan kehadiranku di sini?”
__ADS_1
“Bukan begitu. Aku bukannya tidak senang. Hanya saja aku mempunyai beberapa pekerjaan penting. Bukankah kamu sudah memberi aku waktu bebas terbatas hingga satu tahun? Ini baru delapan bulan dari waktu yang kita tentukan. Harusnya aku masih punya waktu empat tahun lagi kan?” cecar Safira. Gadis itu sudah benar-benar tidak tahan lagi. Dia tak mau rencananya memiliki Raka selama satu bulan berakhir dengan kegagalan.
“Aku memberikan waktu sampai perusahaan Raka mengalami kebangkrutan. Dan aku sudah mempercepat hal itu. Seluruh aset milik perusahaan orang tua Raka, sudah jatuh ke tanganku. Dan kini, saatnya kamu yang jatuh ke tanganku.”