
“Bagaimana mungkin kamu bisa mengambil keputusan tanpa membicarakannya pada Papi? Papi ini masih CEO di perusahaan. Harusnya, segala hal yang berhubungan dengan perusahaan, kamu harus mendapatkan izin dari Papi!” ketus Anggara saat Raka baru saja menjelaskan kepadanya tentang proyek baru di perusahaan mereka.
“Pi, Raka sudah mempelajari proyek ini selama satu Minggu penuh. Proyek ini pasti berhasil. Terlebih proyek ini adalah hasil kerja sama Raka dengan Safira dan Tommy. Raka sudah sering bekerja sama dengan mereka sejak masih di Oxford. Raka yakin, 99% pasti berhasil Pi. Dan jika itu terjadi, perusahaan kita bahkan bisa mengalahkan perusahaan kakek!”
“Apa itu obsesimu? Mengalahkan perusahaan kakek dimana 20% sahamnya adalah milik kamu? Bahkan saham kamu di sana, lebih banyak dari saham mami kalian,” ujar Anggara.
“Bukan itu intinya Pi. Bukan pembuktian diri yang Raka inginkan. Raka tidak ingin terlihat lebih baik dari almarhum kakek. Hanya saja, bisa bekerja sama dengan perusahan ini adalah impian Raka sejak dulu. Sejak Raka masih mengejar gelar sarjana di Oxford. Dan Raka yakin, dengan tim yang Raka punya. Kami sudah sering bekerja sama sejak dulu.”
“Apa Qia tidak keberatan?”
Dahi Raka berkerut mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh sang ayah. Keberatan? Mengapa istrinya itu bisa merasa keberatan?
“Qia pasti tidak keberatan, Pi,” ucap Raka yakin.
Anggara menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar ucapan sang anak sulung. Pria paruh baya itu mengembuskan napas kasar.
“Kamu sudah bertanya pada istrimu?”
“Qia itu selalu mendukung karir Raka. Lagian, ini kan bukan ranahnya Qia untuk merasa keberatan. Ini urusan pekerjaan. Ini urusan kantor yang Qiana tidak ada andil di dalamnya.”
“Di dalam karir yang kamu bangun, sukses atau tidaknya proyek yang kamu kerjakan, itu semua karena do'a istri kamu, Ka. Kesuksesan apa pun yang kamu raih, ada do'a ibu dan istri kamu. Jadi, jangan pernah katakan jika istri kamu tidak ada andil dalam urusan pekerjaan!” tegas Anggara.
“Apa kamu pernah bertanya padanya? Minimal kamu pernah berdialog dengan Qia mengenai proyek ini. Apa pernah?”
Dengan berat Raka menggelengkan kepalanya. Tanda bahwa dia sama sekali tak pernah membicarakan perihal proyek itu pada Qiana. Raka merasa tidak membutuhkan pendapat sang istri saat memutuskan menjalin kerjasama dengan Safira dan Tommy.
__ADS_1
“Tapi Qiana ada di sana kok, Pi. Qiana ada di sana saat Safira menjelaskan mengenai proyek itu. Qiana juga selalu ada di samping Raka setiap kami berdiskusi mengenai proyek itu,” jelas Raka.
“Tapi kamu sama sekali tidak meminta pendapatnya kan?”
“Pi, come on! Papi tidak perlu berputar-putar. Papi cukup beri Raka kepercayaan untuk menjalankan proyek ini. Toh, Raka sudah terlanjur memberikan stempel persetujuan untuk proyek itu. Raka hanya perlu Papi percaya agar Raka lancar menjalankan proyek ini.”
“Seperti yang kamu katakan. Kamu sudah menandatangani kontrak itu. Maka, jalankan sebaik-baiknya. Tunjukkan kalau apa yang kamu katakan itu benar. Buktikan kalau proyek ini 99% pasti berhasil,” ucap Anggara kemudian.
“Tapi, satu pesan Papi. Coba kamu tanyakan pendapat Qia. Walau ini sudah terlambat, karena setuju atau tidaknya Qia tak lagi berpengaruh. Toh, proyek ini sudah mulai berjalan. Setidaknya Papi ingin kamu lihat perubahan raut wajah Qia saat kamu mendengarkan pendapatnya.”
Dahi Raka kembali berkerut. Pria itu sama sekali tak mengerti arah pembicaraan sang ayah kandung.
“Pi, selama satu Minggu penuh Raka mengerjakan tahap awal proyek ini, Qiana selalu menemani. Sedikit banyak dia pasti sudah tau mengenai proyek apa ini? Seberapa menguntungkannya proyek ini? Qia pasti sudah paham itu, Pi. Raka yakin itu.”
“Qia mungkin sudah paham dengan proyek itu. Seperti yang kamu katakan, Qia selalu berada di sana saat kalian meeting. Tapi, apa Qia benar-benar setuju kalau kamu bekerja sama dengan mantan kekasih kamu?”
“Pi, Papi adalah orang yang tau dengan pasti. Siapa gadis yang Raka cintai sejak dulu? Papi tau jelas secinta apa Raka terhadap Qiana! Raka sampai rela melakukan hal konyol demi memiliki Qia, Pi. Safira itu sahabat Raka. Papi juga sangat tau itu,”. jelas Raka.
Anggara terlihat mengangguk kecil.
“Kalau Papi sih tau. Tapi apa Qiana tau?”
“Qia tau, Pi. Raka sudah mengatakan berulang kali padanya. Kalau dia adalah satu-satunya gadis yang Raka cintai. Sejak dulu hingga sekarang. Qia juga tau, kalau Fira itu sahabat Raka. Mereka juga saling kenal kan?”
Berkali-kali Anggara terlihat mengembuskan napas panjang mendengar ucapan Raka. Anak sulungnya ini memang orang yang tidak peka. Walau Anggara sudah tau akan hal itu, tapi dia tak mengira jika ketidakpekaan Raka benar-benar sudah kronis.
__ADS_1
“Apa kamu tau, sejak dulu Qia selalu memanggil Fira sebagai calon kakak ipar? Sejak dulu Qia menganggap kamu dan Fira berkencan, Ka. Itu faktanya!”
“Astaga Pi ... Itukan sebelum Qia tau perasaan Raka yang sebenarnya kepada dia. Sekarang, Qia sudah tau semuanya. Jadi, tidak mungkin dia masih berpikiran seperti itu,” ucap Raka dengan keteguhannya.
“Sudahlah Pi. Bicara dengan pohon pisang yang tidak punya hati memang susah! Kalau kejadian dulu terulang lagi, paling Mas Raka hanya bisa menyesal dan menangis-nangis minta agar Mba Qia memaafkannya!” ketus Mika.
“Sejak kapan kamu berdiri di sana?!” ketus Raka yang kesal karena adiknya mencuri dengar perbincangan antara dirinya dengan sang ayah.
“Kenapa? Apa Mika tidak boleh tau? Jika itu menyangkut perusahaan, Mika juga punya hak untuk tau! Mika punya 15% saham di sini. Mika juga salah satu direktur di perusahaan ini, kalau Mas Raka lupa!” balas gadis itu.
“Pi, Raka ke sini mau membahas soal proyek. Bukan membahas soal Qia. Raka hanya butuh kepercayaan dari Papi, itu saja.”
Raka pun keluar dari ruang kerja sang ayah. Pria itu melangkahkan kaki, meninggalkan taman tempat dia dan sang ayah berbincang. Pria itu pun menghampiri Qiana yang tengah menonton film bersama kedua ibunya. Qeiza dan Ivona.
“Dek, ke kamar yuk,” ajak Raka.
“Kamu tidak bisa tahan sampai malam? Masa Qia lagi sibuk quality time dengan mama dan maminya masih kamu ganggu juga?!” ketus Ivona yang tak suka waktu kebersamaannya dengan sang menantu di monopoli oleh anak kandungnya.
“Apa sih Mi?!” ketus Raka. Qiana menatap sang suami. Gadis itu tau, sepertinya suasana hati sang suami sedang tak baik. Qiana pun menegakkan tubuhnya dan menghampiri sang suami.
“Sudahlah Qi. Biarkan saja Mas kamu itu. Setiap hari Jan kalian selalu bersama. Lagian, tengah hari bolong seperti ini, Raka masih pengen saja. Nanti malam sajalah. Ini waktunya kamu menghabiskan waktu bersama Mami,” ucap Ivona.
“Ayo Dek,” ajak Raka tanpa memedulikan ucapan sang ibunda. Raka pun menggenggam jemari Qiana dan menuntun gadis itu melangkah.
Kandungan Qiana sudah berusia tujuh bulan. Akibat berat badannya naik drastis, Qiana agak kesulitan untuk berjalan dengan cepat. Maka dari itu, digandeng dan dituntun oleh Raka saat berjalan adalah hal menyenangkan baginya.
__ADS_1
Raka tak memedulikan ocehan sang ibunda mengiringi langkah kaki dirinya dan Qiana. Ucapan sang ayah dan sang adik tadi, sedikit banyak mengganggu pikirannya. Raka akan menanyakan pada Qiana sesuai apa yang diucapkan oleh sang ayah.
Bukan karena dia khawatir Qiana merasa cemburu dan marah padanya. Pria itu hanya mau menunjukkan jika apa yang ditakutkan oleh ayah dan adiknya tidaklah benar. Qiana mempercayainya. Dan dia yakin akan hal itu.