Mencintai Qiana

Mencintai Qiana
Part 51 - Safira-6


__ADS_3

Safira merasa sedikit frustasi saat Raka tak lagi menatap matanya. Sudah satu Minggu berlalu dan Raka hanya sibuk memperhatikan berkas dan juga Qiana.


Safira bertambah frustasi saat Raka selalu mengelus perut Qiana, membelai pipi gadis itu, Raka bahkan tak segan-segan mencium Qiana di hadapan Safira.


Sementara pria itu tak mau bahkan hanya sekadar menatap ke arahnya. Seolah Raka menegaskan bahwa Qiana adalah yang terpenting di dalam hidupnya. Bahkan dibandingkan kerjasama dengan Techno.


Safira membanting semua barang yang ada di meja kerjanya. Dia merasa kesal setengah mati. Usahanya selama satu bulan ini seolah tak mendapatkan hasil. Dia harus menyingkirkan Qiana. Dia hanya ingin bekerja berdua saja bersama Raka. Mungkin itu akan membuat Raka kembali menatapnya tanpa perlu mengkhawatirkan Qiana.


Menurut Safira, Qiana lah yang telah menyabotase Raka. Mengancam pria itu hingga Raka tak berani menatapnya.


Safira menghubungi Tommy.


Dan tiga hari setelahnya, terjadilah pertemuan antara Raka dengan perwakilan perusahaan Techno. Raka tentu saja menyambut dengan antusias. Pekerjaan mereka akan semakin lebih cepat dan mudah dengan bantuan perwakilan perusahaan itu.


Jabatan tangan terjadi antara Raka dan pria perwakilan perusahaan Techno yang bernama Mark. Selama satu bulan ke depan, mereka akan bekerja bersama-sama. Raka, Safira dan Mark.


...----------------...


Ponsel Raka berdering ketika pria itu hendak berangkat ke kantor bersama Qiana. Nama Safira tertera di sana. Raka melirik ke arah Qiana terlebih dahulu sebelum menjawab panggilan telepon itu.


“Safira,” lirih Raka. Qiana menanggapi ucapan sang suami dengan tersenyum tipis.


“Mas abaikan saja ya. Toh, sebentar lagi juga akan bertemu dia,” ucap Raka.


“Jawab saja, Mas. Siapa tau ada hal penting. Dia kan tidak pernah menghubungi sepagi ini,” jawab Qiana. Raka pun menuruti ucapan sang istri.


Tapi, Raka merasa dilema setelah menerima panggilan telepon dari Safira. Pria itu terlihat mengembuskan napas berat. Dia tidak tau harus berbicara bagaimana kepada sang istri.


Mark hanya ingin meeting bersama kita berdua. Bahkan tanpa asisten pribadi kita masing-masing. Terlebih Qiana. Dia tidak nyaman dengan keberadaan istrimu itu di antara kita.


“Kenapa Mas? Ada masalah?” tanya Qiana saat melihat Raka yang terlihat sedikit gelisah.

__ADS_1


“Mark, perwakilan dari Techno.”


“Loh, bukannya tadi Mba Fira yang menelpon?” tanya Qiana heran.


“Iya ... tadi memang Fira yang menelpon. Tapi, dia menyampaikan pesan dari Mark,” ucap Raka ragu.


Qiana memicingkan matanya. Melihat kegelisahan Raka, gadis itu merasakan firasat yang tak baik. Raka pun dengan bersusah payah menelan ludahnya.


“Apa pesannya?”


“Mark hanya ingin, setiap meeting hanya ada kami bertiga di sana. Bahkan tanpa asisten pribadi,” ucap Raka.


Qiana terlihat mematung sejenak. Begitu juga dengan Raka. Pria itu tau, bagaimana Qiana menyemburui Safira. Raka juga tau jika semenjak hamil, Qiana selalu ingin berada di dekatnya. Begitupun dengan dirinya. Dia juga selalu ingin bersama dengan Qiana sebelum gadis itu melahirkan dan fokus mengurusi bayi mereka.


“Mas yakin itu bukan akal-akalan Mba Fira?!”


“Akal-akalan Fira?” tanya Raka heran.


“Tidak mungkin lah, Dek,” jawab Raka. Pria memang merasa jika seorang Safira Krzysztof melakukan hal rendah seperti itu.


“Apanya yang tidak mungkin, Mas?! Masih jelas sekali terlihat kalau Mba Fira itu masih mencintai Mas Raka. Dia sering menatap Mas Raka sambil tersenyum tidak jelas!” ketus Qiana.


“Dek ... Mas mengerti sekali jika kamu masih menyemburui Fira. Mas pun jika berada di posisi kamu, Mas pasti juga merasa cemburu. Tapi, menurut Mas, Fira tidak mungkin masih menyimpan rasa itu kepada Mas. Mas sudah menikah dan dia tau itu. Bahkan Mas sudah pernah mengatakan padanya jika Mas sangat mencintai kamu. Jadi, dia pasti sudah melupakan Mas,” jelas Raka. Qiana seketika menatap tajam sang suami. Ucapan Raka membuat wanita yang telah hamil besar itu tambah meradang. Melihat ekspresi sang istri, Raka hanya bisa menghela napas berat.


“Dek ... Jika Fira masih menyimpan rasa itu pada Mas. Dia tidak mungkin memberikan proyek ini. Dia pasti tidak akan mau lagi bertemu dengan kita. Dengan Mas terutama.”


Qiana menghentakkan kakinya. Gadis itu berbalik arah dan meninggalkan Raka begitu saja. Raka pun mengejar istrinya itu.


“Dek, kamu tetap ikut kok. Nanti siang kan Mas meeting di restoran. Jadi, kamu bisa duduk terpisah. Mungkin kami akan memakai ruangan private di restoran itu. Kamu bisa menunggu Mas sambil makan di meja yang lain. Bagaimana?” tawar Raka.


Qiana pun mengangguk setuju. Dia tidak mau membiarkan Raka berlama-lama dengan Safira. Ketika urusan pekerjaan antara Raka dan Safira selesai, Qiana akan kembali menempel pada sang suami. Qiana benar-benar meras curiga akan gelagat Safira. Entah mengapa firasatnya tidak baik semenjak bertemu Safira.

__ADS_1


Safira pun terkejut saat Raka masih membawa Qiana. Begitu juga dengan Mark. Pria berkebangsaan Inggris itu juga terlihat terkejut.


“I think we've reached an agreement,” ucap Mark pada Safira. Gadis itu terlihat tersenyum kecil.


“Wait a minute,” balas Safira.


Seketika Safira menarik lengan Raka. Namun, tentu saja dihalangi oleh Qiana.


“Berbicara di sini saja Mba. Pakai bahasa Indonesia. Pria bule itu tidak mengerti kan?” tantang Qiana. Safira menatap Qiana dengan tatapan penuh kebencian. Gadis itu lebih memilih mengantarkan Mark ke ruangan VIP yang ada di restoran Jepang itu, lalu kembali menemui Raka dan Qiana.


“Mark tidak ingin ada siapapun di meeting ini selain saya dan Raka,” ucap Safira pada Qiana. Gadis itu kini beralih menatap Raka.


“Bukankah sudah aku katakan, Ka? Mark itu hanya mau berdiskusi dengan kita berdua. Dia tidak mau ada siapapun termasuk asisten pribadi. Apalagi istri kamu yang tidak ada urusannya dengan pekerjaan ini!” ketus Safira.


Raka terperangah. Baru kali ini dia mendengar Safira berbicara dengan nada kasar seperti itu. Berbeda dengan Qiana yang selalu berbicara apa adanya dan blak-blakan, Safira adalah gadis yang selalu bertutur kata lembut. Tak pernah sekali pun dia melihat Safira mengumpat ataupun berbicara dengan nada keras.


“Ka, ini proyek penting! Aku sih tidak tau, apa kamu menganggap proyek ini penting atau tidak. Tapi yang jelas, proyek ini berarti buat aku dan Tommy. Kami merasa, jika dengan bantuan kamu, kita bisa mengerjakan proyek ini dengan baik. Sekali lagi aku ingatkan, Ka. Ini proyek penting. Aku harap kamu paham hal itu,” tegas Safira.


Raka meminta maaf pada gadis itu. Dia benar-benar merasa tak enak hati pada Safira. Pantas saja jika gadis itu berbicara ketus. Safira pasti teramat marah padanya. Raka tau, sama seperti dirinya, Safira dan Tommy pasti begitu mengharapkan proyek mereka berhasil.


Raka menyesalinya. Menurut Raka, kecurigaan Qiana tak terbukti. Safira benar-benar hanya ingin bekerjasama. Gadis itu sudah pasti tidak ada maksud lain.


“Maaf Fir, tapi Qia akan menunggu di luar kok. Dia tidak ikut kita meeting,” ucap Raka lembut.


Melihat Raka yang kembali berucap lembut pada Safira, Qiana merasa kesal. Dengan penuh amarah, Qiana berbalik arah dan hendak meninggalkan Raka. Namun, Raka menahannya.


“Dek, tolong Mas. Jangan buat Mas merasa serba salah. Kamu sudah tau kan, akibatnya jika proyek ini dibatalkan?”


“Iya, Qia tau Mas. Qia tau siapa yang menjadi prioritas buat Mas. Makanya lebih baik Qia pulang. Qia tidak punya urusan di sini,” lirih gadis itu.


Sebuah senyuman tersungging di bibir Safira saat menyaksikan Qiana tertunduk lesu. Gadis itu pun lebih memilih pergi meninggalkan Qiana dan Raka yang masih saling beradu argumentasi.

__ADS_1


__ADS_2