
Sudah satu Minggu Raka tinggal di kediaman sang mertua. Setiap pagi, Raka selalu bangun lebih awal demi menyiapkan sarapan untuk sang istri. Hal ini memang setiap hari dilakukan Raka sejak awal mereka menikah.
Tapi, bagi Qeiza, Ivander dan Sean, pemandangan itu adalah hal yang tak biasa. Seorang suami setiap pagi menyiapkan sarapan buat istri.
Bukankah itu berbanding terbalik dengan kebiasaan yang ada di masyarakat?
Qeiza yang tadinya masih dipenuhi oleh amarah terhadap Raka, kini rasa kecewa dan amarah itu lenyap begitu saja. Melihat Raka setiap hari melayani Qiana, membuat Qeiza yakin jika Raka memang lelaki yang tepat untuk anaknya.
Tiga kali dalam sehari, Qeiza dapat menyaksikan bagaimana telatennya Raka menyuapi Qiana. Dan setiap pagi Qeiza selalu menyaksikan bagaimana Raka menyiapkan sarapan sehat untuk Qiana. Bahkan, Raka baru akan makan setelah selesai menyuapi Qiana.
Pria itu pun sudah satu Minggu juga tidak bekerja karena harus mengurus istrinya. Begitu pula dengan Qiana. Gadis itu juga sudah satu Minggu tak berangkat ke kantor.
Namun, atas kesepakatan bersama, Qiana tidak akan kembali bekerja di kantor. Seperti ibunya, gadis itu memilih untuk menjadi ibu rumah tangga. Dia akan merawat anaknya sendiri.
“Besok Mas kembali ke kantor boleh kan? Sepertinya banyak pekerjaan yang harus Mas selesaikan,” ucap Raka.
Qiana menghela napas berat. Entah karena kondisinya yang tengah mengandung. Gadis itu sepertinya tak ingin jauh dari Raka.
“Saat makan siang, Mas usahakan untuk pulang dan kita makan siang bersama,” janji pria itu.
Terpaksa Qiana menganggukkan kepalanya. Walau berat, tapi Qiana mengerti akan kewajiban Raka sebagai direktur utama. Pekerjaan pria itu pastinya sudah menumpuk. Bahkan Raka harus menyelesaikan banyak pekerjaan sebelum mereka melakukan perjalanan bulan madu kedua mereka yang tertunda.
Harusnya, kemarin mereka sudah berangkat menuju Nusa Tenggara Timur. Namun, kondisi Qiana yang tidak memungkinkan, membuat mereka harus menunda perjalanan itu hingga kehamilan Qiana memasuki trimester kedua.
“Pokoknya Qia tidak akan makan kalau Mas Raka belum datang!” cebik gadis itu.
Dengan tersenyum Raka menganggukkan kepalanya. Besok pagi dirinya harus bangun lebih awal. Dia harus menyiapkan sarapan untuk sang kekasih hati dan menyuapinya. Raka juga harus pergi lebih awal, agar bisa menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda dan kembali pada Qiana saat jam makan siang. Dia tak mau istrinya menahan lapar karena dirinya tak kembali ke rumah tepat waktu.
Raka sudah mengatur semuanya jadwalnya. Qiana Larasati, selamanya akan menjadi prioritas bagi Raka Pratama. Walau mereka kelak sudah mempunyai anak bahkan cucu, hal itu tidak akan pernah berubah. Qiana adalah prioritasnya. Ucapan gadis itu adalah titah baginya.
__ADS_1
Namun, apa yang direncanakan oleh Raka hancur begitu saja, saat mertuanya menghubungi dirinya.
“Qia mual-mual dan muntah, Ka. Mama tanya dia butuh apa? Tapi Qia hanya mau bertemu kamu,” ucap Qeiza.
Raka mengembuskan napas kasar. Dengan gegas Raka meminta para sekretarisnya menyiapkan seluruh berkas yang harus diperiksanya.
“Pastikan seluruh dokumen dikirimkan ke email saya. Saya akan memeriksanya di rumah.”
“Tapi, kita harus bertemu klien besok lusa, Pak. Dan seperti yang Bapak tau, klien kita yang satu ini tidak suka sistem komputerisasi. Dia hanya mau berkas yang di print out,” ucap sang sekretaris.
“Saya akan memeriksa dan menandatangani berkas-berkas ini melalui tablet saya. Saya pastikan setelah kalian selesai istirahat makan siang nanti, dokumen itu sudah selesai dan bisa dicetak!” tegas Raka.
Setelah itu, Raka bergegas kembali untuk menemui Qiana. Secepat mungkin Raka melajukan kendaraannya. Beruntung jalanan ibu kota sudah tidak terlalu ramai hingga pria itu bisa tiba di kediaman sang mertua dalam waktu dua puluh menit.
Pria itu berlari menaiki tangga begitu tiba di kediaman sang mertua. “Dek,” ujarnya saat mendapati Qiana yang baru saja berbaring di ranjangnya.
“Raka mengarahkan tim sekretaris dulu, Ma. Ada satu proyek yang sedang Raka tangani. Jadi, harus diselesaikan hari ini,” jawab pria itu sembari menghampiri sang istri di ranjang.
Mendapati sang suami yang kini duduk di sisinya, Qiana langsung memeluk Raka.
“Coba kamu lihat, istri kamu sampai lemas seperti itu karena terus menerus mual dan muntah!” ketus Qeiza.
“Maaf Ma,” lirih Raka seraya membalas pelukan sang istri.
“Mama akan buatkan bubur dan air jahe untuk Qia. Nanti, tolong kamu suapi dia. Semua makanan yang dia makan pagi tadi, sudah habis dimuntahkan,” ucap Qeiza. Raka pun menganggukkan kepalanya. Pria itu juga meminta maaf pada sang istri.
“Maafkan Mas ya, Dek. Harusnya Mas terus berada di sisi Qia,” ucap pria itu. Qiana hanya diam. Gadis itu sibuk menghirup aroma tubuh sang suami. Entah mengapa, rasa mual yang tadi begitu hebat melandanya, hilang seketika ketika Raka memeluknya.
Dan tak lama Raka kembali disibukkan dengan pekerjaannya. Pria itu sudah berjanji untuk menyelesaikan pekerjaannya siang ini. Sembari tangan kirinya memeluk sang istri, jemari di tangan kanan pria itu sibuk memeriksa dokumen yang baru saja dikirimkan oleh sekretarisnya.
__ADS_1
“Nah, mending kamu kerja dari rumah saja, Ka. Qia sepertinya tidak bisa jauh dari kamu,” ucap Qeiza sembari membawakan semangkuk bubur dan segelas air jahe untuk putri kesayangannya yang tengah mengandung.
“Iya Ma. Sepertinya akan begitu,” jawab Raka. Qeiza tentu saja tersenyum senang mendengarnya. Raka memang selalu menomorsatukan Qiana. Ibu mana yang tidak senang jika putrinya dijadikan prioritas oleh suaminya?
Raka pun meletakkan perangkat elektroniknya dan langsung menyuapi Qiana. Pria itu baru kembali bekerja setelah Qiana menyantap habis semua makanan yang disuapi oleh Raka.
Qiana terus bergelayut manja di salah satu lengan sang suami walau pria itu terus sibuk dengan pekerjaannya.
Dan, saat langit telah gelap. Qiana pun sepertinya sudah terlelap. Raka menghubungi sang ayah. Pria itu meminta sang ayah untuk menggantikannya menemui seorang klien.
“Raka, ini kan klien kamu. Secara teknis dia tidak pernah bertemu dengan Papi. Harusnya kamu yang bertemu dan menandatangani MoU bersama klien itu,” ucap Anggara.
“Raka tidak bisa meninggalkan Qia, Pa. Qia butuh Raka untuk selalu ada di sampingnya. Raka tidak mau Qia muntah-muntah terus seperti pagi tadi. Raka tidak mau Qia kekurangan nutrisi seperti Minggu lalu hingga harus dirawat di rumah sakit.”
Raka terus melakukan negosiasi dengan sang ayah. Hingga akhirnya mereka menemukan sebuah solusi. Mengajak Qiana turut serta dalam penanganan kerjasama itu. Dan Raka baru mengatakan kepada sang istri keesokan harinya.
“Yasudah, Qia mau kok ikut Mas Raka bertemu klien.”
“Kamu yakin kalau kamu sanggup?”
Qiana menganggukkan kepalanya. “Asal Mas Raka terus berada di samping Qia,” lirihnya.
Entah mengapa ucapan Qiana membuat hati Raka begitu berbunga. Walaupun sikap gadis itu karena pengaruh hormon kehamilan, tapi Raka sudah begitu senang saat mendengar Qiana mengatakan jika gadis itu ingin selalu berada di sampingnya.
Dan benar saja, Qiana merasa tubuhnya begitu bugar saat berada di samping Raka. Menemani sang suami selama hampir empat jam tak membuat gadis itu lelah sedikit pun. Terlebih Raka memperlakukannya bak seorang ratu.
Pria itu tanpa gengsi menyuapi Qiana seperti biasanya, walau itu di hadapan kliennya.
Qiana pun begitu bahagia dengan perlakuan sang suami. Gadis itu bahkan merasakan jika jantungnya berdetak lebih cepat saat Raka memperlakukannya dengan begitu lembut di hadapan semua orang.
__ADS_1