
seorang jenius seperti Raka Pratama, mampu menghadapai segala macam rintangan yang ada di hadapannya. Tapi, pria itu merasa begitu lemah ketika harus berhadapan dengan amarah Qiana.
Nyalinya seketika ciut saat melihat tatapan penuh amarah pada netra gadis itu. Tubuhnya membeku. Wajahnya bahkan terlihat bertambah pucat.
Sean menawarkan pada Raka untuk menunggu Qiana di kamarnya saja. Tapi Raka menolaknya. Dia akan terus menunggu Qiana di depan kamar gadis itu sembari mengumpulkan keberanian untuk berbicara pada Qiana.
Raka juga meminta Sean untuk meninggalkan dirinya seorang diri. Dia tak ingin diganggu oleh siapapun. Dia ingin menyelesaikan masalah yang tengah dihadapinya itu, seorang diri.
Tak lama setelah itu, salah seorang asisten rumah tangga yang bekerja di sana, terlihat tengah membawakan makanan.
“Permisi Den Raka. Saya mau membawakan makanan untuk Neng Qia,” ucap asisten rumah tangga yang bernama Tari.
Raka baru teringat, jika istrinya itu belum sempat makan siang. Karena rencananya, sepulang dari mengambil alat lukis di kediaman orang tuanya, Raka akan mengajak Qiana makan siang di rumah makan yang selalu menjadi tempat makan favorit sang istri.
Hari susah semakin petang. Qiana pasti sudah merasa sangat lapar. Beberapa Minggu belakangan, gadis itu memang sering merasa lapar. Terlebih pagi tadi, Qiana hanya meminum segelas susu sebagai sarapan.
“Biar saya yang membawakan makanannya, Bi,” ucap Raka. Pria itu ingin memulai pembicaraan melalui makanan. Dia kan menyuapi Qiana seperti biasanya.
Bi Tari kelihatan salah tingkah. Wanita paruh baya itu bahkan masih tetap memegang nampan yang berisikan sepiring nasi goreng dan segelas air putih.
“Kenapa Bi?” tanya Raka. Raka merasa heran dengan asisten rumah tangga itu karena tak menuruti perintahnya.
“Anu Den. Itu ... Tadi Neng Qia pesan kalau harus saya sendiri yang mengantarkan makanan ini ke dalam kamarnya. Tidak ada yang boleh mengantarkan makanan ini selain saya.”
Raka terdiam sejenak. Pria itu menghela napas panjang.
“Bi Tari berikan nampan itu kepada saya. Lalu Bibi ketuk pintu kamar Qia. Nanti, kalau Qia menolak jika saya yang membawakan makanannya, saya berikan kembali kepada Bibi,” ujar Raka.
__ADS_1
Bi Tari pun menuruti keinginan Raka. Wanita paruh baya itu memberikan nampan berisikan makanan untuk Qiana, lalu mengetuk pintu kamar di hadapannya.
“Neng Qia ... Ini nasi gorengnya sudah Bibi masak,” ujar wanita paruh baya itu.
Tak lama terdengar suara handle pintu terbuka. Tapi Qiana tak muncul dari balik pintu itu. Raka hendak melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam kamar itu. Tapi, ucapan Qiana menahannya.
“Hanya Bi Tari yang boleh masuk!” ketusnya.
“Tuh kan Den,” lirih wanita paruh baya itu.
“Mas suapi ya, Dek,” tawar Raka. Pria itu bahkan mengatakannya dengan menahan bibirnya agar tak terlalu bergetar.
“Bi, ayo bawa makanannya masuk. Qia sudah lapar sekali!”
Dengan berat hati, Raka memberikan nampan berisi makanan itu pada Bi Tari dan membiarkan wanita paruh baya itu untuk masuk ke dalam kamar Qiana.
Raka menjawabnya dengan menganggukkan kepala. Qiana benar-benar tak ingin bertemu dengannya lagi.
“Biarkan amarah Neng Qia reda dulu. Neng Qia kalau marah memang begitu Den. Den Raka kan juga kenal dengan Neng Qia dari kecil. Harusnya paham kalau Neng Qia marah, dia tidak ingin bertemu dan berbicara dengan siapapun,” ucap Bi Tari setelah selesai mengantarkan makanan untuk Qiana.
“Tapi, Qia tidak pernah bersikap seperti ini kepada saya sejak dia kecil, Bi.”
“Itu karena Neng Qia tidak pernah marah pada Den Raka sebelumnya. Den Raka kan selalu Mas kesayangannya Neng Qia. Orang yang selalu menuruti semua keinginannya. Baru kali ini kan, Neng Qia marah pada Den Raka?”
Raka menganggukkan kepalanya.
“Walaupun Bibi tidak tau, apa masalah dalam rumah tangga kalian. Tapi, saran dari Bibi ya itu tadi. Jangan dekati Neng Qia dulu sebelum amarahnya reda. Kalau amarahnya sudah reda, pasti Neng Qia sendiri yang akan mengajak Den Raka berbicara.”
__ADS_1
Raka kembali menganggukkan kepalanya dengan perlahan. Dia baru tersadar. Ini adalah kali pertama Qiana benar-benar marah padanya.
Ini adalah kali pertama Qiana tak mau bertemu dan berbicara padanya. Menurut Bi Tari, dia harus membiarkan amarah Qiana hilang terlebih dulu.
Tapi ... Kapan amarah gadis itu akan reda?
Kesalahan yang dia buat sangat fatal. Gadis itu bahkan menginginkan perpisahan. Jika dia tak menunggu Qiana di sini, mungkin dia akan kembali bertemu dengan gadis itu di pengadilan agama.
Raka tau mau itu terjadi. Raka berharap, dengan cara dia menunggu Qiana di depan pintu kamarnya, gadis itu akan iba dan mau berbicara padanya, walau dengan ucapan yang kasar sekali pun.
Raka terus berharap gadis itu keluar dari kamarnya. Tapi, apa yang diharapkannya tak sesuai rencana. Qiana tak kunjung keluar dari kamarnya. Padahal Qeiza sudah membujuk anaknya itu untuk makan malam bersama. Tapi Qiana menolaknya. Gadis itu kembali meminta agar makanan santap malamnya di bawa ke kamar.
“Tapi kamu harus janji, untuk menyantap habis makan malam ini. Mama sendiri yang memasaknya,” ujar Qeiza. Wanita paruh baya itu bukan tanpa alasan mengatakan hal itu. Itu semua karena Qiana sama sekali tak menyentuh makan siangnya tadi. Padahal Qiana sendiri yang minta dimasakkan nasi goreng oleh Bi Tari.
Qiana hanya menganggukkan kepalanya. Dan Bi Tari pun kembali mengantarkan satu set hidangan makan malam untuk Qiana.
Tak hanya untuk Qiana, Bi Tari juga membawakan makanan untuk Raka. Karena pria itu juga tak mau beranjak dari depan pintu kamar Qiana.
Raka pun menyantap makan malamnya sembari duduk di lantai. Persis di depan kamar Qiana. Hal itu tidak luput dari pengamatan seluruh keluarga besar Bratajaya. Sena bahkan mengirimkan potret Raka tengah menyantap makan malamnya sembari duduk dengan santai di depan pintu kamar Qiana.
Gadis itu tentu saja tak mengindahkannya. Dia masih begitu marah pada Raka. Keinginan berpisah masih begitu kuat bersemayam dalam hatinya.
Qiana mengembuskan napas kasar. Dia merasa sangat lapar. Sejak pagi, hanya segelas susu yang mengisi lambungnya. Dan ini sudah hampir pukul sembilan malam. Tapi, walau merasa lapar, dirinya tak berselera untuk makan.
Entah mengapa gadis itu ingin sekali disuapi oleh Raka. Beberapa minggu belakangan, Qiana emang selalu disuapi oleh Raka. Mungkin itu yang menyebabkan dia merasa terbiasa disuapi hingga tak berselera jika harus makan seorang diri.
Tapi, walau begitu, Qiana merasa enggan untuk meminta pada Raka agar pria itu menyuapinya. Bahkan, untuk berbicara pada pria itu pun Qiana sudah tak mau.
__ADS_1
Terpaksa gadis itu menahan rasa laparnya. Agar tak dimarahi oleh sang ibunda, Qiana pun membuang makanannya.