Mencintai Qiana

Mencintai Qiana
Part 15 - Terserah


__ADS_3

Berita Qiana yang kabur bersama kekasihnya, membuat hati Raka sangat sakit. Sebegitu tidak ingin gadis itu menikah dengannya, sampai harus merencanakan pergi bersama kekasihnya. Kenapa Qiana begitu tega mempermainkan dirinya?


Tadinya, Raka tak ingin menjemput Qiana. Perbuatan gadis itu sudah benar-benar membuatnya kecewa. Raka benar-benar merasa emosional. Pria itu bahkan meneteskan air mata. Tak pernah disangkanya jika Qiana akan berbuat sampai sejauh itu. Kabur dengan kekasihnya.


Tapi, ucapan sang ayah terus terngiang-ngiang di telinganya.


“Kamu tega membiarkan Qiana dimanfaatkan pria itu? Kamu tega melihat Qiana diperlakukan begitu? Kamu tega perusahaan yang dikembangkan oleh kakek kamu menjadi hancur karena Qiana buta akan cintanya?"


Tidak.


Raka tentu saja tak mau jika hal buruk menimpa Qiana. Rasa sakit yang pria itu rasakan masih bisa tertutupi oleh rasa cintanya pada Qiana.


Setelah hampir satu jam Raka merenung, pria itu akhirnya memilih untuk menyusul Qiana dan membujuk gadis yang sangat dicintainya itu, untuk kembali ke kediamannya.


Raka sudah merangkai kata demi kata yang akan diucapkannya pada Qiana, untuk membujuk gadis itu. Walau harus disertai dengan kebohongan, bagi Raka, yang terpenting adalah Qiana kembali ke keluarganya. Dia akan membeberkan semua bukti tentang sikap buruk Albert pada Qiana, saat gadis itu sudah berada di kediamannya. Bukti yang baru dia dapatkan satu minggu belakangan.


Rencananya, demi membujuk Qiana untuk pulang, Raka akan mengatakan jika Qeiza jatuh sakit karena perbuatan Qiana yang kabur dari rumah.


Raka mengikuti alat pelacak yang telah dia sematkan pada tas dan ponsel Qiana. Pria itu juga mengirimkan letak koordinat keberadaan Qiana pada sang ayahanda. Dan setelah hampir tiga jam berkendara, akhirnya Raka berada tepat di depan sebuah villa yang cukup megah.


Empat orang pria bertubuh kekar menyambut kehadiran Raka, kala itu.


“Mau cari siapa?” tanya salah satu pria berbadan kekar.


“Albert,” jawab Raka santai.


“Bapak bernama Raka?”


Raka cukup terkejut karena salah satu dari keempat pria berbadan kekar itu mengenalinya. Namun, Raka berusaha untuk memainkan situasi. Pria itu menganggukkan kepalanya.


Melihat anggukan kepala Raka, para penjaga keamanan yang berwajah sangar itu, memersilakan Raka untuk masuk ke area villa. Raka pun dengan santai mengendarai mobil mewahnya dan masuk ke halaman villa itu.


“Langsung masuk saja, Pak. Pak Al memang sudah menunggu Pak Raka.”


Walau masih dilanda kebingungan, Raka menganggukkan kepalanya dan melangkah masuk ke dalam bangunan villa itu.


Kenapa Albert bisa mengetahui jika dirinya akan hadir di sana? Apa pria itu sudah mengetahui jika dirinya memasang alat pelacak pada salah satu benda yang dibawa oleh Qiana?


Raka masih mengayun langkah, sembari bertanya pada dirinya sendiri. Apa mata-mata di Soho Group sudah sedemikian canggihnya hingga bisa memprediksi kehadirannya?


Langit sudah begitu gelap, saat Raka memasuki halaman villa itu. Udara pun sekitar pun terasa begitu dingin.

__ADS_1


Apa Qiana kedinginan? Apa gadis itu membawa jaketnya? Apa yang dilakukan Qiana bersama Raka di villa ini? Hingga harus dijaga oleh empat orang bodyguard.


Benak Raka dipenuhi oleh pertanyaan demi pertanyaan. Dan pria itu berhenti bertanya-tanya saat menatap Albert yang baru saja melintas tak jauh dari tempatnya berdiri.


“Di mana Qia?” tanya Raka.


Albert tak dapat menyembunyikan rasa keterkejutannya saat melihat kehadiran Raka.


“Mana Qia?!” teriak Raka. Albert masih bergeming di tempatnya.


Melihat hal itu, Raka pun berteriak-teriak memanggil nama Qiana.


“Kenapa anda mencari Qiana ke sini? Bukankah Anda itu adalah calon suaminya?” ejek Albert.


Raka berusaha untuk tak menggubris ucapan Albert. Pria itu terus berteriak memanggil nama Qiana.


Sementara itu, Albert menghubungi salah satu anak buahnya, memerintahkan mereka untuk melihat sekitar.


“Benar-benar tidak ada mobil pengintai di sekitar villa kan?” tanya Albert. Dan jawaban dari anak buahnya ternyata sangat memuaskan dirinya.


Itu artinya Raka hanya datang seorang diri ke villa ini. Bibir Albert pun terkembang karenanya.


“Anda ke sini, apa mau menyaksikan malam pengantin antara saya dan Qia? Rencananya, malam ini kami akan menggapai surga dunia bersama,” ucap Albert.


“Saya deg-degan nih, mau melihat kulit mulus Qia. Bagaimana menurut anda? Apakah tubuhnya semulus yang saya pikirkan? Anda kan sudah pernah melihatnya.”


Gegas Raka menghampiri Albert dan mencengkeram erat kerah baju pria itu.


“Jaga mulutmu, dasar br3ngsek!”


Tak lama terdengar derap langkah kaki yang semakin mendekat. Lalu, terdengarlah suara seorang wanita yang begitu dikenal Raka.


“Mas Raka!” teriak Qiana.


Raka dan Albert sama-sama mengalihkan pandangan mereka. Kedua pria itu kini menatap Qiana.


“Kok kamu keluar kamar, Baby. Sudah siap melayaniku? Kembalilah ke kamar, setelah mengusir lalat pengganggu ini, aku akan segera menyusul mu dan kita sama-sama menikmati surga dunia,” ucap Albert.


“Mas, Qia mau pulang,” rengek gadis itu.


Mendengar keinginan Qiana, Raka lantas menghempaskan tubuh Albert hingga pria itu tersungkur.

__ADS_1


Raka pun menghampiri Qiana yang masih berdiri di tangga. Namun, saat Raka baru melangkah, teriakan Albert menghentikan langkah pria itu.


“Sep! Jok!”


Dua orang pria berbadan kekar muncul dari balik pintu masuk. Perkelahian pun terjadi. Bahkan kini, Albert kembali memanggil dua orang anak buahnya, hingga kini Raka harus menghadapi gempuran dari empat orang sekaligus.


Qiana tentu saja berteriak histeris menyaksikan semuanya. Hingga akhirnya gadis itu memohon untuk keselamatan dirinya. Qiana berjanji pada Albert akan melakukan semua keinginan Albert, asal Raka selamat.


Namun, permintaan yang diucapkan oleh Albert, benar-benar menguji batas kesabaran Raka.


Albert menginginkan Raka untuk menjadi penonton pertunjukan ranjangnya bersama Qiana.


Raka mengamuk. Dengan kakinya, Raka menendang aset kebanggaan milik Albert. Pria itu pun mengaduh kesakitan.


Albert berlutut kesakitan. Dua orang pria berbadan kekar menolong Albert, sedangkan dua lainnya kembali mengeroyok Raka.


Hampir saja Raka kembali tertangkap oleh dua pria itu.


Jika sepuluh orang bodyguard Anggara tak masuk ke villa itu, sudah pasti Raka akan kembali babak belur.


Tak salah jika sebelum berangkat, Raka mengirimkan letak koordinat keberadaan Qiana pada sang ayah. Dan Anggara mengirimkan 10 orang bodyguard untuk membantunya.


Albert dan keempat anak buahnya diringkus begitu saja, tanpa perlawanan berarti. Albert dan keempat pria berbadan kekar itu bertekuk lutut.


Setelah Albert dan keempat anak buahnya diringkus, Raka pun mengajak Qiana pulang. Namun, gadis itu malah memeluknya erat.


Raka yang masih sakit hati atas perlakuan Qiana, sengaja bersikap dingin pada gadis itu. Pria itu bahkan berkata ketus. Namun, saat melihat Qiana dengan telaten mengobati luka di wajahnya, hati kesal pria itu pun mulai mencair.


Melihat wajah Qiana yang tengah serius mengobati luka di wajahnya, membuat jantung Raka berdetak kencang.


Pria itu pun kembali melunak pada Qiana. Bibir Raka bahkan terus tersenyum sembari menatap Qiana.


Namun, senyum Raka seketika luntur saat mendengar pertanyaan Qiana.


“Apa kita benar-benar harus menikah, Mas?”


Pertanyaan yang dilontarkan Qiana, membuat Raka kembali kesal pada gadis itu. Raka langsung mengambil obat yang dipegang olah Qiana dan meletakkannya kembali ke dalam kotak P3K. Pria itu lantas menginjak pedal gas, dan melajukan kendaraannya.


“Mas, Qia ingin menikah satu kali dalam seumur hidup. Pernikahan itu bukan permainan, Mas.”


Raka kembali menepikan kendaraannya.

__ADS_1


“Mas terserah kamu, Qi. Andai kamu tidak mau melanjutkan rencana pernikahan ini, tidak apa-apa.”


__ADS_2