
“Maaf kalau Qia tidak bisa membalas cinta Mas Raka. Padahal selama ini— sejak Qia kecil hingga sekarang— hanya Mas Raka lah yang selalu ada buat Qia. Hanya Mas Raka lah pria yang menjaga Qia. Tapi ... Entah kenapa hati ini masih belum bisa terbuka untuk Mas. Maaf Mas.”
Raka tercekat. Jantung yang tadinya hampir melompat keluar, kini hampir berhenti berdetak. Qiana meminta maaf. Gadis itu pasti akan membatalkan pernikahan mereka yang hanya tinggal beberapa jam lagi.
“Nanti Mas yang akan membicarakan hal itu dengan kedua orang tua kita. Mas tau, kamu pasti takut untuk menyampaikannya kan? Mas yang akan membatalkan pernikahan ini. Kamu jangan takut,” ucap Raka tercekat.
Bibir Qiana melengkung membentuk sebuah senyuman. Seluruh kebaikan yang dilakukan Raka, memang tak pernah menyentuh hatinya. Tapi, pria itu adalah pria yang selalu menjadi garda terdepan untuk membelanya. Raka juga merupakan salah satu pria di dunia ini yang menjadi garda terdepan untuk membuatnya bahagia. Tidak ada pria yang lebih baik dari kakak sepupunya itu untuk dijadikan pendamping hidup.
“Qia mau, Mas. Qia bersedia menjadi istri Mas Raka.”
Dahi Raka berkerut. Pria yang tak pernah menjalin kerjasama asmara dengan gadis mana pun itu, merasa bingung dengan kalimat demi kalimat yang dilontarkan oleh Qiana. Raka melepaskan tangan Qiana yang masih melingkar di perutnya. Raka pun berbalik badan dan menatap lekat pada netra kecoklatan milik gadis yang menjadi cinta pertamanya itu.
“Qia ... Sebenarnya mau kamu apa sih? Tadi kamu minta maaf karena kamu tidak bisa membuka pintu hati untuk Mas. Sekarang, kamu katakan jika kamu bersedia menjadi istri Mas. Mas bingung, Dek,” lirih Raka.
Pria itu tak lagi mau salah paham atas ucapan Qiana.
Sementara itu, Qiana menatap Raka dengan tertawa kecil. “Selama ini, Qia pikir Mas Raka itu jenius. Tapi ternyata, Mas Raka tidak sejenius itu,” ejek Qiana.
Raka mengembuskan napas kasar mendengar ucapan Qiana. Padahal dia bertanya dengan sangat serius pada Qiana, tapi gadis itu malah membalasnya dengan gurauan.
“Mas serius, Qi,” tegas Raka. Qiana yang tadi ingin bersenda gurau dengan calon suaminya itu, mendadak membungkam mulutnya.
“Mas tanya sekali lagi, dan ini serius. Kamu mau melanjutkan pernikahan ini atau tidak?”
“Mau Mas,” jawab Qiana tanpa basa-basi. Raka sedikit terperangah mendengar jawaban Qiana. Gadis itu mengatakannya tanpa ragu sedikitpun.
“Kamu yakin kan? Kamu tidak akan berubah pikiran dan kabur di detik-detik terakhir kan?”
Qiana menggelengkan kepalanya, “tidak Mas,” tegas Qiana.
“Justru, harusnya Qia yang bertanya. Apa Mas yakin, Mas ingin menikahi Qia?”
Raka menatap malas pada gadis yang berdiri tepat di hadapannya itu.
“Bukannya tadi Mas sudah katakan. Tidak ada gadis lain yang Mas inginkan sebagai pendamping hidup Mas, selain kamu? Kamu tidak percaya itu?”
Qiana tersenyum kecil.
“Apa Mas yakin, akan menikahi seorang gadis yang hanya menganggap Mas tak lebih dari seorang kakak?” tanya Qiana.
“Qia ... Apa kamu membenci Mas?”
“Tidak mungkin Qia membenci Mas. Sejak kecil, Mas Raka yang selalu ada buat Qia. Mas Raka selalu membantu Qia,” jawab Qiana.
__ADS_1
“Qia menyayangi Mas?”
Qiana menghela napas kasar. “Tentu saja Qia menyayangi Mas. Tapi—”
“Itu sudah cukup buat Mas, Dek. Qia selalu ada di sisi Mas. Menemani hari-hari Mas. Dan Qia menyayangi Mas. Sebagai apapun Qia menyayangi Mas, Mas Raka tidak peduli. Asal rasa sayang itu ada, itu sudah cukup,” jawab Raka.
“Jadi ... Lusa, kita akan menikah kan?”
Qiana menganggukkan kepalanya. “Iya Mas,” jawab gadis itu.
Padahal saat ini sudah lewat dari tengah malam. Fajar juga belum keluar. Tapi langit seakan begitu cerah. Mungkin karena senyum Raka begitu sumringah saat ini.
Raka menghambur ke arah Qiana. Pria itu mendekap erat tubuh mungil Qiana.
“Terima kasih, Dek. Terima kasih sudah mau menerima Mas,” ucapnya.
“Mas janji, Mas tidak akan membuat Qia bersedih. Mas akan membahagiakan Qia.”
Qiana pun membalas pelukan sang calon suami sembari tersenyum kecil.
“Iya Mas. Qia percaya kok. Qia percaya kalau Mas akan membuat Qia bahagia. Selama ini juga seperti itu kan?”
Raka semakin mempererat pelukannya. “Terima kasih,” ucapnya kemudian.
Rasanya pria itu ingin waktu berputar lebih cepat agar dia segera mengucapkan janji suci pernikahan.
“Kami mengerti kalian akan segera menikah....”
Mendengar suara Anggara, Raka dan Qiana melepaskan diri satu sama lain.
“Tapi, bukan berarti kalian boleh terus berpelukan. Ini sudah sangat larut. Bahkan sebentar lagi ayam berkokok. Kalian tidak ingin istirahat? Lusa kalian pasti akan sangat lelah menyapa para tamu undangan.”
“Yasudah, Dek. Kamu istirahat sana. Kamu pasti lelah dan ngantuk kan?” ucap Raka.
Qiana menganggukkan kepalanya. Tanpa basa-basi, gadis itu hendak melangkahkan kakinya menjauh dari Raka dan Anggara. Kamar tidur adalah tujuan Qiana saat ini.
Tapi, saat baru saja Qiana melangkah, Anggara menghentikan langkah itu.
“Tunggu dulu, Qi!” seru Anggara.
Dengan wajah bingung Qiana menghentikan langkahnya.
“Kenapa Paman?” tanya Qiana.
__ADS_1
Anggara menghampiri Qiana. “Mulai sekarang, Qia jangan panggil Paman. Panggil saja Papi. Oke?”
Qiana melirik pada Raka. Pria itu pun ternyata juga melirik padanya.
“Qia usahakan Paman eh Papi. Qia sudah terbiasa memanggil Paman. Jadi, mungkin masih agak canggung memanggil dengan sebutan Papi,” lirihnya.
“Tidak apa-apa. Nanti juga terbiasa. Asal, harus dibiasakan,” ucap Anggara. Qiana menganggukkan kepalanya. Sementara Raka tersenyum kecil karenanya.
“Yasudah, kamu tidur sana, Dek,” ucap Raka.
“Tunggu dulu. Papi belum selesai.”
“Pi ... Qia sudah mengantuk. Kalau ada yang mau Papi bicarakan, bisa Papi bicarakan saja pada Raka. Besok Raka sampaikan pada Qia. Atau Papi sampaikan pada Qia, besok.”
Anggara tak menanggapi ucapan sang anak kandung.
“Pamitan dulu dengan Mas mu itu,” ucap Anggara.
Dengan dahi berkerut Qiana bertanya. “Pamitan?” tanyanya.
“Iya. Pamitan kalau kamu mau tidur lebih dulu.”
Qiana menurut. Gadis itu menatap Raka. “Mas, Qia tidur duluan ya,” ucapnya.
“Iya,” jawab Raka.
Qiana menganggukkan kepala. Gadis pun hendak berbalik badan dan beranjak dari sana. Tapi, Anggara kembali menahannya.
“Apa lagi sih, Pi? Kasihan Qia,” ucap Raka kesal.
“Sini kamu, kecup dahi Qia,” ucap Anggara.
Qiana dan Raka sama-sama melebarkan mata. Mereka terkejut dengan perintah Anggara.
“Ayo cepat, Ka. Kasihan Qia sudah mengantuk,” ucap Anggara.
Raka yang merasa canggung, meminta Qiana untuk segera beranjak dari sana. Tapi, Anggara terus menahan gadis itu.
“Harus dibiasakan. Seberapa hebat pun kalian bertengkar nantinya, sebelum tidur, kamu wajib mengecup dahi Qia. Ayo cepat!”
Melihat Raka tak beranjak, Qiana lantas menghampiri pria itu, hingga kini dia berdiri tepat di hadapan Raka.
“Ayo Mas. Qia sudah ngantuk,” lirih gadis itu.
__ADS_1
Bagai sebuah robot. Raka mengangguk kaku. Sembari menutup matanya, Raka mengecup dahi Qiana. Begitupun dengan Qiana. Gadis itu menutup mata saat Raka mengecup mesra dahinya.
Qiana sejak kecil memang sering bergelayut manja pada Raka. Tapi, baru kali ini Raka mengecup dahinya. Terlebih beberapa jam lagi mereka akan menikah. Saat bibir Raka mendarat di dahinya, wajah Qiana bersemu.