Mencintai Qiana

Mencintai Qiana
Part 60- kesepakatan


__ADS_3

Raka menarik ucapannya. Setelah mengirimkan permintaan maaf pada Safira dan Mark, pria itu menyatakan jika dirinya akan tetap ambil bagian dalam proyek kerjasama dengan kedua sahabatnya itu.


Safira tentu saja berbinar.


Semalaman dirinya tak bisa tidur karena Raka membatalkan kontrak kerjasama mereka. Dan pagi ini, Safira benar-benar merasa sangat lega.


Misi dia yang sesungguhnya belum terlaksana.


Dia tak mungkin bisa membiarkan Raka membatalkan kontrak kerjasama itu. Walau pria itu memberikan beberapa syarat, itu tak jadi persoalan bagi Safira.


Asal Raka masih terus menjalin kerjasama, itu sudah cukup bagi Safira.


Dia hanya perlu tetap dekat dengan pria itu. Walau kini Raka selalu didampingi oleh seorang pria yang berperan sebagai asisten pribadinya, Safira tak mempermasalahkan hal itu.


Baginya, cukuplah jika kerjasama itu terus terjalin. Maka, Safira yakin, jika kesempatan untuknya memiliki Raka akan terbuka.


Sesuai dengan syarat yang diberikan oleh Raka, mereka selalu melakukan pertemuan di ruang meeting yang berada di kantor Raka. Mereka juga tidak akan pertemuan setiap hari seperti biasanya. Qiana masih tak ingin jika sang suami bertemu tiap hari dengan wanita licik itu. Hingga jadwal pertemuan antara Raka dan Safira hanya dua atau tiga kali dalam satu minggu. Selebihnya mereka akan berdiskusi secara online.


Sejak saat itu, semuanya berjalan lancar.


Urusan proyek berjalan sangat lancar. Raka bahkan menambah jumlah investasinya, agar seluruh legalitas proyek cepat selesai dan mereka mulai bisa memasarkan hasil produksi.


Hubungan antara Raka dan Qiana pun membaik. Walau kerap merasa cemburu jika sang suami bertemu dengan Safira, tapi Qiana berusaha menahan diri. Ini semua adalah keputusannya. Dan Qiana melakukan semua itu demi menyelamatkan salah satu anak perusahaan mertuanya yang kini dikelola oleh Raka.


Qiana tak mau karena kecemburuannya, mengakibatkan perusahaan keluarga Raka mengalami kerugian. Gadis itu pun menekan segala amarah dan rasa cemburunya pada Safira. Dan karenanya, proyek kerjasama antara Raka dan sahabatnya itu berjalan lancar.


......................

__ADS_1


Bukan hanya urusan pekerjaan, proses kehamilan Qiana pun berjalan lancar. Bahkan, kini gadis itu tengah berjuang di sebuah ruangan bersalin ditemani oleh sang suami.


Menahan rasa mulas sejak tengah malam, akhirnya tepat pada pukul 09:00 WIB, Qiana berhasil melahirkan seorang bayi laki-laki yang tampan dan sehat. Anak laki-laki yang diberi nama Damar.


Air mata Raka tak berhenti tumpah kala menyaksikan adegan demi adegan, bagaimana Qiana bertaruh nyawa demi memberikan dirinya seorang penerus keluarga.


Rasa syukur tak henti-hentinya dia ucapkan. Satu lagi cita-citanya yang terwujud. Memiliki anak dari seorang gadis yang dia cintai sejak dulu— Qiana Larasati.


Bisa menikahi Qiana saja masih terasa sebuah mimpi bagi Raka. Namun kini, gadis itu memberikan suatu kenyataan indah lain untuk dirinya. Seorang anak. Anaknya bersama Qiana.


Kini, dua mahkluk itu adalah pusat dunianya. Dia berjanji akan selalu membahagiakan Qiana dan Damar. Mereka adalah prioritasnya.


“Terima kasih ya Dek. Terima kasih karena kamu sudah mau mengandung benih Mas selama sembilan bulan. Terima kasih juga karena kamu sudah bertarung nyawa demi menghadirkannya ke dunia. Terima kasih banyak,” lirih Raka sembari menghujani wajah Qiana dengan kecupan.


Pria itu masih setia berdiri di sisi sang istri hingga proses melahirkan itu selesai dan Qiana di bawa ke ruang rawat inap.


Seluruh anggota keluarga Bratajaya dan Pratama berkumpul di sana menemani Qiana yang baru saja melahirkan.


“Bukannya itu terlalu berlebihan ya? Hanya karena melahirkan sampai menyewa satu lantai rumah sakit. Benar-benar berlebihan dan menghambur-hamburkan uang!” pekik Sean.


“Itu kan untuk menyambut kelahiran kamu, Se!” balas Mika.


“Karena kamu satu-satunya penerus klan Bratajaya. Makanya seluruh keluarga menyambut kamu dengan antusias. Terutama kakek yang begitu mengharapkan seorang cucu dari Papa kamu,” jelas Ivona. Sean hanya menggedikkan kedua pundaknya. Dia tak mau ambil pusing dengan penjelasan dari tantenya itu. Bagi Sean, tetap saja apa yang diperbuat oleh kakeknya adalah tindakan yang berlebihan.


“Papa juga tadinya ingin begitu. Mama juga setuju. Tapi, Raka tidak mengizinkannya. Katanya, dia mau fokus merawat kamu dan Damar sendiri,” ucap Ivander.


Pria lanjut usia itu tak mau sang putri berpikir jika dia tak melakukan hal yang sama karena Qiana bukan putri kandungnya.

__ADS_1


“Iya Pa. Mumpung Raka bisa cuti dan bisa merawat Qia dan Damar. Lagian, sudah banyak perawat yang membantu di sini. Tidak perlu lah seluruh keluarga ikut menemani selama satu Minggu di sini. Apalagi dua bulan lagi kan Raka mau ke London urus pekerjaan. Dan mungkin agak lama di sana. Jadi, Raka ingin menikmati masa-masa kumpul bertiga bersama keluarga kecil Raka.”


“Tapi, kalian tetap pulang ke rumah Mama kan?” tanya Qeiza. Wanita paruh baya itu tak mau masa-masa bersama cucunya cepat berakhir. Dia ingin ikut serta merawat sang cucu pertama.


Raka dan Qiana saling pandang. Sepasang suami istri itu memang berencana akan kembali ke kediaman mereka. Rumah peninggalan kakek mereka.


“Bagaimana kalau Raka nanti pergi ke London?!” pekik Qeiza. “Siapa yang akan mengurusi Qia dan Damar?”


“Mama bisa datang dan menginap. Atau, Mama dan Papa bisa tinggal di sana. Bukannya itu rumah masa kecilnya Papa Ivan? Mungkin Papa bisa sekalian bernostalgia,” jawab Raka. “Lagian, Raka hanya sepuluh hari saja meninggalkan Qia dan Damar.”


Qeiza mengembuskan napas berat. Hampir sembilan bulan Qiana kembali tinggal bersamanya. Kini, anak perempuan kesayangannya itu harus kembali meninggalkan rumah. Tadinya dia sudah begitu senang karena sebentar lagi rumahnya akan kembali diisi dengan suara tawa dan tangis bayi. Tapi, ternyata sang anak memutuskan untuk tak lagi tinggal bersamanya.


Kenapa anaknya itu tidak bisa seperti dirinya? Sejak menikah pertama kali, hingga menjalin kehidupan rumah tangga bersama Ivander, Qeiza selalu membawa ibunya turut serta.


“Yasudah, kalau begitu, kita saja yang pindah sementara ke rumah besar. Bagaimana? Setidaknya sampai Qiana benar-benar pulih,” ujar Ivander.


Wajah Qeiza yang tadi tengah sendu, kini mendadak cerah. Wanita paruh baya itu menatap sang suami dengan mata berbinar.


“Mas serius?!” tanya Qeiza. Ivander pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


Dan sejak hari kelahiran Damar itu, Ivander dan Qeiza mulai mengemasi barang-barang pribadi mereka, lalu bertolak ke rumah besar keluarga Bratajaya. Rumah tempat di mana Ivander dan Ivona tumbuh besar.


Sementara Raka dan Qiana, sama-sama belajar mengurusi bayi mereka. Raka benar-benar menjadi seorang ayah siaga. Pria itu selalu terbangun kala Damar menangis karena haus ataupun buang air.


Satu Minggu di rumah sakit, tanpa ada sanak keluarga yang membantu, membuat Raka dan Qiana semakin kompak dalam mengurus bayi mereka.


Bahkan, setelah kembali ke rumah, Raka dan Qiana jarang sekali minta bantuan kepada Qeiza. Padahal wanita paruh baya itu sudah selalu siap sedia jika sang anak meminta pertolongan darinya.

__ADS_1


“Kenapa Qia jadi begitu mandiri, sih?!” keluh Qeiza pada sang suami, suatu malam.


“Aku jadi merasa tidak berguna di sini. Aku nenek yang tidak berguna!” keluhnya lagi.


__ADS_2