
“Dek ... Apa Mas boleh menanyakan sesuatu pada Qia?” tanya pria itu, saat mereka masih berpelukan sesaat setelah melakukannya.
“Boleh Mas. Mas silakan tanya apapun. Qia pasti akan menjawabnya dengan jujur. Kata Mama dan Papa, salah satu kunci dari langgengnya pernikahan adalah saling jujur.”
Raka sempat terdiam saat mendengar ucapan sang istri. Saling jujur adalah hal yang masih belum bisa dia lakukan. Dia belum berani mengatakan kejujuran itu pada Qiana.
“Mas mau nanya apa?” tanya Qiana kemudian.
“Apa Qiana sudah mulai mencintai Mas?”
Qiana yang masih berada dalam dekapan pria itu, kini semakin menenggelamkan wajahnya pada dada bidang sang suami. Qiana pun semakin mengeratkan pelukannya.
“Maaf Mas, Qia ... Qia masih belum bisa menganggap Mas Raka, lebih dari seorang kakak. Rasa cinta itu belum hadir Mas.”
Tubuh Raka mendadak lemas mendengar ucapan gadis itu. Dia pikir Qiana sudah mulai jatuh cinta padanya. Tapi, harapan pria itu hanya tinggal harapan. Sedikit pun Qiana tak menaruh hati padanya. Perasaan gadis itu masih sama. Qiana masih menganggap Raka hanya sebatas kakak. Tapi, gadis itu tak melupakan kodratnya sebagai istri. Qiana melayaninya dengan baik. Gadis itu bahkan kini mau mengandung anaknya.
“Maaf Mas,” lirih Qiana.
“Iya, tidak apa-apa Dek,” jawab Raka dengan bibir bergetar. Walaupun hatinya terasa sakit, tapi Raka berusaha untuk mengerti. Pria itu harus bisa menanggung konsekuensi itu. Dia yang memilih Qiana. Dia bahkan memanipulasi keadaan agar bisa menikahi gadis yang tak mencintainya itu.
“Tapi, mulai hari ini, Qia akan belajar mencintai Mas Raka. Kata orang, anak itu adalah pengikat, Mas. Makanya, Qia ingin kita mempunyai anak. Qia ingin hubungan kita bertambah erat, Mas. Walaupun Qia belum mencintai Mas Raka, tapi Qia merasa sangat bahagia menjadi istri Mas Raka. Qia ingin bersama bahagia bersama Mas Raka selamanya.”
Ucapan Qiana bagai oase di padang pasir. Raka merasakan hatinya menjadi hangat mendengar pernyataan Qiana. Dikecupnya beberapa kali puncak kepala gadis itu.
“Mas sangat mencintai Qia. Teramat sangat. Kebahagiaan Qia adalah prioritas Mas sejak dulu. Terima kasih karena Qia sudah mau berusaha untuk mencintai Mas. Terima kasih karena Qia mau menerima benih Mas di dalam tubuh Qia.”
Entah mengapa ungkapan rasa terima kasih yang dilontarkan oleh Raka membuat tubuh Qiana meremang. Gadis itu melepaskan diri dari dekapan sang suami. Qiana pun merangkak menaiki tubuh Raka.
__ADS_1
Tubuh Raka mendadak kaku. Terlebih saat Qiana mulai menatapnya dengan mata sayu sembari membelai seluruh organ di wajah tampannya. Qiana bahkan cukup lama mengusap-usap bibir pria itu, sebelum akhirnya mengulum bibir sang suami.
Raka sampai tak berani membalas kecupan yang diberikan oleh Qiana. Sikap gadis itu sangat tak biasa malam ini. Setelah tadi mengajaknya lebih dulu, kini Qiana bahkan mulai menjelajahi tubuh kekar pria itu.
Tubuh Raka semakin kaku dan jantung pria itu semakin bergemuruh, saat bibir Qiana sudah mencapai perutnya. Dan kini, gadis itu sudah mencapai ke bagian tubuhnya yang sudah menjulang. Raka melenguh saat Qiana mengecupnya tepat di sana.
Qiana terus memberikan kecupan-kecupan di sana. Jantung Raka semakin berdetak tak karuan. Pria itu menutup matanya, menikmati sentuhan lidah Qiana di bawah sana, sebelum akhirnya gadis itu menaikinya.
Raka seketika membuka matanya, dan menyaksikan bagaimana Qiana begitu menikmati momen di mana perlahan-lahan bagian tubuh Raka tenggelam ke dalam tubuhnya.
Qiana mulai menggerakkan pinggulnya seraya terus mendesis. Bahkan, beberapa saat kemudian, gadis itu sudah bergerak liar di atas tubuh kekar Raka.
Tak hanya Qiana, Raka pun begitu menikmatinya. Menikmati bagaimana Qiana memijatnya di dalam sana. Raka juga menikmati gerakan liar Qiana di atas tubuhnya. Pria itu bahkan menikmati ekspresi wajah Qiana.
Pria itu menjulurkan tangannya, menggapai dua bukit yang sedari tadi mengayun indah di depan matanya.
Qiana tentu saja tak menghiraukannya. Gadis itu bahkan tak lagi mendengar apapun yang terlontar dari bibir Raka. Qiana hanya berfokus pada rasa nikmat tiada tara yang menghujam tubuhnya.
Qiana semakin bergerak liar. Gadis itu semakin mengerang. Hingga akhirnya Qiana terkulai di atas tubuh Raka.
Saat Raka hendak membalik posisi mereka, Qiana menahannya. Gadis itu merengek pada Raka.
“Qia mau satu kali lagi Mas. Qia mau satu kali lagi seperti tadi,” rengeknya.
Raka cukup terperangah mendengar penuturan sang istri. Mata pria itu bahkan membulat sempurna.
“Yasudah, ayo cepat lakukan lagi,” lirih pria itu.
__ADS_1
“Qia masih lemas, Mas,” rengeknya lagi.
“Kalau begitu, Qia bisa mencoba besok. Mas takut tidak bisa menahan lebih lama lagi, Dek.”
Qiana benar-benar tergila-gila dengan posisi itu. Selama tiga bulan pernikahan, dia selalu berada dalam kungkungan Raka. Kali ini tidak lagi. Qiana yang kini menahan pria itu agar berada di bawahnya.
Walau lututnya masih terasa lemas, Qiana tak mau menundanya. Dia harus bisa merasakan kenikmatan tiada tara itu, sekali lagi. Qiana memaksa tubuhnya untuk bangkit.
Gadis itu menegakkan tubuhnya. Milik Raka yang masih menjulang di dalam tubuhnya, membuat mulut Qiana terbuka. Gadis itu melenguh seketika.
Rasa lemas yang dirasanya pun hilang begitu saja. Qiana langsung bergerak liar. Dan dengan cepat mencapai puncaknya yang kedua.
Bahkan, Raka pun tak bisa lagi menahan gerakan Qiana. Pria itu menyemburkan cairan cintanya sesaat sebelum Qiana terkapar di atas tubuhnya untuk yang kedua kalinya.
Raka terus membelai rambut gadis yang kini tengah berada di atas tubuhnya. Rasa cintanya kepada gadis itu semakin bertambah dari hari ke hari.
Dan, sejak malam itu, kehidupan ranjang Qiana dan Raka semakin panas dari hari ke hari. Mereka bahkan mulai bereksplorasi. Mencoba berbagai gaya bahkan mencoba di beberapa tempat.
Qiana pun merasa menjadi sangat membutuhkan sosok Raka. Qiana bahkan tak bisa tidur saat Raka melakukan perjalanan dinas keluar kota selama dua malam. Gadis itu langsung menyusul sang suami.
Qiana sudah mulai merasakan debaran-debaran tak biasa saat Raka bersamanya. Tapi, gadis itu masih belum menyadarinya. Yang dia tau hanyalah dia sangat membutuhkan Raka. Dia ingin sekali dekat dengan sang suami.
Kehidupan rumah tangga Qiana dan Raka semakin harmonis. Mereka bahkan sudah merencanakan bulan madu yang kedua. Semuanya sudah dipersiapkan dengan matang. Nusa Tenggara Timur adalah tempat yang akan mereka kunjungi.
Rencananya, mereka akan menghabiskan waktu bulan madu dengan menginap di kapal pinisi mewah. Berkeliling menggunakan kapal mewah di kawasan Labuan Bajo selama lima hari.
Saat mengatur perjalanan itu bersama saja, sudah membuat Qiana begitu antusias. Namun, saat Raka hendak memesan perjalanan mereka ke salah satu agen wisata, Qiana mendengar pembicaraan antara Raka dan Mika.
__ADS_1
“Mas harusnya tidak boleh melupakan jasa Mika dan Sean. Jika Mika dan Sean tidak membantu Mas Raka menjebak Mba Qiana di hotel—”