
“Kenapa kamu tidak datang ke pernikahanku dengan Qia?! Kamu selalu mengatakan kepada semua orang jika kita adalah sahabat. Dan kamu sudah sangat mengenal Qia. Sahabat apa yang tidak datang di pesta pernikahan sahabatnya sendiri?!”
Raka yang selalu dingin dan kaku pada setiap wanita, kini bertanya panjang lebar pada Safira. Qiana dapat melihat bagaimana gembiranya wajah Raka saat bertemu dengan Safira setelah mereka tak bertemu satu tahun lamanya.
Hati Qiana semakin sakit melihatnya. Terlebih saat melihat penampilan Safira yang begitu sempurna. Berbeda sekali dengan dirinya yang kini bertubuh sintal karena tengah mengandung.
“Maaf karena aku tidak bisa hadir di pernikahan kalian. Ada urusan yang sangat penting. Makanya aku tidak bisa hadir, bahkan tidak bisa bertemu kamu selama satu tahun. Aku sangat merindukanmu. Apa kamu tidak merindukanku, Raka?”
Raka hanya membalas pertanyaan Safira dengan tertawa kecil. Apa maksud dari tawa renyah yang diberikan Raka pada sahabat wanitanya itu? Tidak taukah dia ada istri yang merasa terluka di sampingnya?
Qiana menundukkan wajahnya. Gadis itu merasa, dia tak seharusnya hadir di tengah-tengah sepasang manusia jenius nan rupawan ini. Mata Qiana tertuju pada betis indah milik Safira. Berbeda sekali dengan betis miliknya yang membengkak. Tidak hanya karena dia tengah mengandung, Qiana memang kerap di ejek karena betisnya yang seperti pemain sepak bola.
Tambah tak percaya dirilah Qiana. Dirinya hampir menangis. jika Raka tak merangkulnya, mungkin saja air mata gadis itu akan merembes keluar karena menahan rasa sakit di hatinya.
“Sayang, kenapa? Kamu lelah?” tanya Raka. Qiana menengadah, menatap sang suami yang merangkulnya dengan mesra.
“Kenapa?” tanya Raka sekali lagi. Pria itu bertutur sangat lembut padanya. Raka bahkan merangkulnya dengan mesra di hadapan Safira. Rasa sakit di hati Qiana seketika memudar karena perlakuan sang suami.
Qiana tersenyum dan menggelengkan kepalanya. “Tidak apa-apa Mas,” jawabnya.
“Nanti kita lanjut lagi, ya,” bisik Raka. Senyum Qiana semakin sumringah. Dengan antusias gadis itu menganggukkan kepalanya.
“Eh, Qia. Usia kandungan kamu berapa bulan?” tanya Safira. Ucapan Safira membuyarkan sepasang suami istri yang saling tatap itu.
Qiana pun menoleh, menatap wajah gadis yang pernah mencintai suaminya itu. Bahkan, Qiana masih bisa menangkap pancaran rasa cinta itu dari manik mata Safira.
“Iya Mba. Sudah tujuh bulan,” jawab Qiana kikuk.
Sebenarnya ada perasaan yang tak enak di hati Qiana. Gadis itu dulu sering memanggil Safira dengan sebutan calon kakak ipar setiap mereka bertemu. Tapi, takdir berkata lain.
__ADS_1
“Wah, sebentar lagi kamu jadi seorang ayah, Ka,” ucap Safira. Gadis itu bahkan mengelus perut Qiana dengan lembut. Qiana semakin bertambah tak enak hati karena Safira begitu baik padanya.
“Oh iya Ka. Aku datang ke sini bukan hanya mau memberikan hadiah. Aku ke sini mau menawarkan kerjasama. Kamu masih ingat perusahaan tempat kita magang dulu?”
“Techno?”
“Iya. Kamu ingatkan bagaimana susahnya menjalin kerjasama dengan mereka?”
Raka menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Safira. Menjalin kerjasama dengan Techno adalah salah satu impian Raka sejak dulu. Namun, proses yang sulit, membuat Raka menelan kekecewaan beberapa kali dan belum sempat menjalin kerjasama dengan perusahaan kelas dunia itu.
Dan karena pembicaraan mulai serius, Raka mempersilakan Safira untuk duduk.
“Kami butuh bantuan dari kamu, Ka. Di antara kita, kamu yang paling jago dalam hal ini,” ucap Safira.
Raut wajah Raka terlihat sangat serius. Terus terang, pria itu tergiur dengan tawaran yang diucapkan Safira. Gadis itu memberikan kesempatan padanya untuk mewujudkan impian.
Wajah Raka bertambah cerah. Pria itu sudah membaca sekilas beberapa berkas yang dibawa oleh Safira.
“Tommy akan mengirimkan berkas lengkapnya ke email kamu. Kamu bisa mempelajarinya lebih dulu kalau masih ragu,” ucap Safira.
“Aku ikut!” pekik Raka.
Qiana menoleh seketika. Tak pernah dilihatnya Raka yang seperti ini. Raka selalu berhati-hati dalam setiap keputusannya. Pria itu selalu membaca dengan detail setiap berkas yang dia dapatkan.
Tapi, kali ini berbeda. Raka terlihat gegabah. Pria itu bahkan belum membaca berkas lengkap dari kerjasama itu. Tapi, Raka sudah mengambil keputusan untuk ikut dalam proyek yang ditawarkan oleh Safira.
Apa itu karena Safira? Apa pria itu percaya sepenuhnya pada Safira?
“Kamu tidak mau periksa berkas-berkasnya lebih dulu, Ka? Barangkali ada satu atau dua hal yang kamu tidak cocok.”
__ADS_1
“Aku percaya sepenuhnya dengan kamu, Fir!” tegas Raka.
Deg!
Hati Qiana bagai tercabik mendengar ucapan pria itu. Bagaimana mungkin suaminya itu memberikan kepercayaan penuh pada gadis lain? Walau gadis itu adalah sahabatnya, tapi bisnis adalah bisnis? Kenapa pria jenius seperti Raka mengabaikan logikanya dalam berbisnis hanya karena berhadapan dengan sahabatnya?
Apa sebenarnya Raka juga ada hati dengan gadis anggun itu?
Banyak sekali pertanyaan di benak Qiana. Yang jelas, gadis itu ingin mengamuk saat ini.
“Aku, kamu dan Tommy, kita selalu bekerjasama sejak awal magang. Kita sudah saling tau apa yang kita suka dan tidak suka dalam berbisnis. Aku percaya kalian. Kalian menawariku proyek ini, pasti karena percaya kalau aku akan join kan? Dan aku percaya kalau seluruh berkas kerjasama itu pasti sesuai dengan ekspektasi ku,” jelas Raka.
Safira tersenyum sumringah sembari mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Minggu depan Tommy akan ke Indonesia bersama dengan perwakilan group Techno. Kita akan langsung menandatangani kontrak perjanjian kerjasama itu.”
“Aku tunggu kabar baiknya, Fir. Kabari aku. Nomorku masih sama. Kamu masih simpan kan?”
“Tentu saja Ka. Walau aku tidak pernah memberikan kabar atau menanyakan kabar kamu. Tapi nama kamu selalu tersimpan di sini,” ucap Safira sembari menunjukkan ponselnya. Qiana seketika memandang tajam pada Safira. Sementara Raka hanya tersenyum menanggapi ucapan sahabatnya itu dengan tersenyum.
Dan sejak hari itu, Raka dan Qiana setiap hari harus bertemu dengan Safira. Mereka membicarakan banyak hal tentang proyek baru itu.
Qiana sebenarnya merasa tidak nyaman berada di antara Raka dan Safira. Kepercayaan diri gadis itu seketika menurun ketika melihat Safira. Terlebih saat melihat interaksi antara Raka dan Safira.
Sepasang manusia yang menyatakan hubungan mereka dengan kata sahabat itu, terlihat begitu serasi. Obrolan mereka terlihat serius. Raka dan Safira pun terlihat sangat menikmati pembicaraan itu.
Hanya Qiana yang terus duduk diam di sana. Menyaksikan kedekatan sang suami dengan gadis lain. Hati Qiana sebenarnya sangat sakit karena harus menyaksikan pemandangan itu setiap hari. Tapi, gadis itu juga tak bisa membiarkan sang suami hanya berdua saja dengan sahabat wanitanya itu.
Walau bagaimanapun, Safira pernah memendam rasa pada suaminya. Walau Raka mengaku tak pernah ada hubungan yang lebih dari sekadar sahabat dengan gadis itu, tapi Qiana tidak mau mengambil risiko. Dia tidak mau Raka bertambah dekat dengan Safira seperti dulu. Terlebih, tatapan penuh cinta masih terpancar pada mata Safira untuk Raka.
__ADS_1