
Waktu sudah menunjukkan pukul 21:00 WIB. Raka masih belum tiba di kediamannya. Qiana bertambah berang dengan ulah sang suami. Seolah pria itu dengan sengaja menunjukkan jika bersama Safira lebih penting dibandingkan dengan secepatnya menemui sang istri.
Sudah sejak satu jam yang lalu gadis itu mengemasi pakaian Raka. Dan saat ini, Qiana menggeret keluar dua koper milik sang suami. Qiana pun meletakkan koper-koper itu di depan kamar tidurnya.
Dia tak ingin bertemu Raka. Dia tak mau melihat wajah pria yang berulang kali ingkar janji itu. Raka harus bisa memastikan dirinya sendiri, siapa yang dia pilih. Siapa yang menjadi prioritas baginya. Qiana atau Safira.
Gadis itu mengunci pintu kamar. Dirinya sudah lelah menangis. Matanya sudah perih karena terus menangis sejak siang tadi. Qiana hanya berusaha menenangkan dirinya. Perutnya sedari tadi sudaha merasa keram. Dia tak mau rasa sakit hatinya membawa dampak buruk pada bayi yang dikandungnya.
Dan tepat 30 menit setelah Qiana meletakkan koper-koper milik Raka di depan pintu kamar, pria itu pun tiba di kediaman mereka.
“Dari mana sih, Mas?!” ketus Sean saat melihat Raka tiba.
“Meeting Se. Qia ngambek ya?” tanya Raka. Pria itu tau jika Sean akan menginterogasi dirinya. Apalagi ini di luar kebiasaannya. Tak pernah Raka pulang selarut ini semenjak menikah. Terlebih Qiana terlihat lebih manja semenjak mengandung.
“Sepertinya ini lebih dari sekadar ngambek, Mas,” jawab Sean. Raka terlihat mengangguk kecil.
“Mba Qia mengeluarkan dua buah koper dari kamarnya. Mungkin itu barang-barang milik Mas Raka.”
Mata Raka membulat sempurna. Qiana mengusirnya. Dia pikir gadis itu tak mungkin lagi membahas soal perpisahan karena Qiana kini telah mengandung.
Perkiraannya salah.
Raka gegas melangkahkan kakinya. Pria itu berlari menuju kamar tidur yang telah ditempatinya bersama Qiana beberapa bulan belakangan.
Benarkah yang dikatakan oleh Sean? Benarkah Qiana mengusirnya? Benarkah gadis itu kembali menginginkan perpisahan?
Bukankah Qiana sudah mencintainya? Mengapa Qiana masih bersikap seperti itu? Apakah Qiana tak memikirkan nasib anak mereka jika kelak terjadi perpisahan?
Banyak sekali pertanyaan di benak Raka. Yang jelas, Raka tak pernah menginginkan perpisahan. Bahkan, jika itu berarti dia harus membatalkan kerja sama dengan Safira dan kehilangan banyak aset perusahaan.
Tubuh Raka membeku sejenak. Pria itu menghela napas berat. Dua koper miliknya telah ada di luar kamar. Qiana benar-benar mengusirnya.
Bagaimana caranya membujuk gadis itu? Apa Qiana sudah tertidur?
Raka pun dengan menghampiri pintu kamar itu dan mengetuknya. Raka juga memanggil nama Qiana dengan lembut.
__ADS_1
Hampir sepuluh menit Raka berdiri di sana, memanggil nama sang istri dan berharap gadis itu akan membukakan pintu kamar untuknya.
Tapi, apa yang diharapkannya tidak terjadi. Qiana tak kunjung membukakan pintu untuknya.
Raka berlari menghampiri kamar mertuanya. Dengan terburu dia mengetuk pintu kamar itu, hingga Ivander membuka pintu itu sembari menghela napas kasar.
“Kenapa Ka?” tanya Ivander. Pria lanjut usia itu terlihat panik saat menatap wajah resah Raka.
“Qia mau melahirkan?!” tanyanya lagi. Raka menggelengkan kepalanya dengan cepat.
“Raka boleh meminta kunci duplikat kamar Qia, Pa?”
“Kunci duplikat? untuk apa?”
“Qia mengunci pintu dari dalam. Dia marah karena Raka pulang terlambat.”
Sengaja Raka tak menjelaskan kejadian yang sebenarnya pada sang mertua. Dia tak mau permasalahannya bersama Qiana sampai terdengar oleh anggota keluarga Bratajaya yang lainnya. Terlebih oleh sang ibu mertua. Dia tak mau jika Qeiza kembali membencinya sana membantu Qiana untuk memproses perpisahan mereka.
Ivander menuju lemari besi yang ada di kamarnya. Pria itu mengambil deretan kunci duplikat rumah mewah itu. Lalu memberikan duplikat kunci kamar Qiana kepada Raka.
“Harusnya, kamu tetap ajak Qia bekerja, Ka. Perempuan yang sedang mengandung itu, suasana hatinya suka berubah-ubah. Saat ini dia bisa saja bilang tidak mau, padahal sebenarnya dia menginginkannya. Makanya, saran papa, kamu terus ajak Qiana kemanapun kamu pergi. Jadi dia tidak sering ngambek,” jelas Ivander.
Tak seperti dugaan Raka. Dia pikir Qiana masih menangis sesenggukan di sudut ranjang.
Raka melihat Qiana yang tengah tertidur lelap. Tentu saja dia tak mau mengganggu istrinya itu. Istirahat memang sangat dibutuhkan untuk Qiana.
Raka pun menyeret kembali dua koper miliknya, masuk ke dalam kamar. Saat mendengar suara derit koper, Qiana pun terbangun.
“Mau apa lagi Mas di sini?!” ketus Qiana.
Raka yang terkejut, langsung menghampiri sang istri dan memeluk istrinya itu.
“Lepas Mas!” perintah Qiana. Tapi tentu saja Raka mengabaikannya. Pria itu tak akan melepaskan pelukannya sebelum Qiana memberi maaf padanya.
“Lepas, Mas! Qia tidak bisa bernapas!” ketusnya lagi. Raka pun akhirnya melepaskan pelukan itu.
__ADS_1
“Sudah selesai Mas bersenang-senang dengan perempuan itu?”
“Ya ampun, Dek. Bersenang-senang apa? Dengan siapa? Mas tadi meeting sampai pukul sembilan, Dek,” ucap Raka.
“Qia tidak mau melihat wajah, Mas. Silakan Mas bawa barang-barang itu dan kembali ke rumah Mas. Atau Mas bisa kembali ke rumah Papi dan Mami. Atau bahkan ke apartemen perempuan itu. Bukannya Mas sudah hapal arah jalan ke sana!”
“Qia ... Sayang ... Mas tidak punya hubungan apapun dengan Fira, selain teman dan rekan bisnis. Tidak pernah ada hubungan yang lebih dari itu. Mas harap kamu percayai itu, Dek,” jelas Raka.
“Tidak lebih dari sekadar teman? Mas yakin itu? Mas saja lebih memikirkan kenyamanan dia daripada istri Mas sendiri!” ketus Qiana.
“Mas minta maaf, Dek. Tapi niat Mas tidak seperti itu. Mas merasa bersalah karena kita sudah menuduh Safira yang tidak-tidak. Dia itu teman baik Mas. Dan dia sudah menganggap kamu seperti adiknya.”
“Pergi Mas! Qia tidak membutuhkan suami yang terus-menerus membela perempuan lain!”
Raka menatap Qiana dengan mata sayu. Dia sadar betul karena telah menyinggung perasaan Qiana. Dia tidak jujur, dia bahkan lupa mengabari sang istri jika pulang terlambat.
“Mas berani bersumpah demi kamu, Dek. Mas tadi hanya meeting. Mark besok lusa akan kembali ke Inggris. Dan hari ini adalah hari terakhir dia membantu proyek kita,” jelas Raka.
“Proyek kita? Sejak kapan itu menjadi proyek kita. Itu proyek kalian, Mas. Proyek yang kalian berdua impikan sejak menjadi mahasiswa. Tidak pernah ada Qia di sana. Bahkan mungkin di hati Mas. Dan mulai besok, Mas bisa berduaan terus dengan perempuan itu tanpa ada gangguan dari siapapun.”
Raka berlutut di samping ranjang. Pria itu mengiba. Raka bahkan berjanji akan membatalkan proyek itu dan tak lagi bertemu dengan Safira.
Qiana tertawa sinis mendengarnya.
“Mas pikir, Qia percaya? Maaf Mas. Qia tidak percaya ucapan pendusta seperti Mas Raka!” ketus Qiana.
“Mas akan membuktikannya, Dek,” ucap Raka.
Pria itu pun terlihat merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel miliknya. Saat itu juga, tepat di hadapan Qiana, Raka berbicara dengan Safira dan juga Mark. Pria itu membatalkan proyek kerjasamanya.
“Kamu akan kehilangan banyak aset, Ka. Apa kamu sudah pikirkan hal itu matang-matang? Satu jam yang lalu, padahal kamu baik-baik saja. Kamu setuju dengan semua pembahasan kita, tadi. Kamu akan kehilangan banyak, Ka,” ucap Safira.
Sementara Mark, pria itu hanya menganggukkan kepalanya. Bagi pria itu, tak penting ad seakan ataupun tidak. Karena ketua proyek itu, yang bertanggung jawab penuh atas jalannya proyek itu adalah Safira.
“Silakan kamu lanjutkan proyek itu berdua dengan Tommy, Fir. Karena bagiku, ada yang lebih prioritas dari itu,” ucap Raka. Setelah meminta maaf kepada Safira dan Mark, Raka pun memutuskan untuk mengakhiri panggilan telepon itu.
__ADS_1
Safira pun geram. Gadis itu membanting apa saja yang ada di hadapannya.
“Ini pasti ulah Qiana. Dasar perempuan ular! Bisa-bisanya kamu mengatur semuanya tentang Raka!”