
“Qia pikir, Mas Raka adalah orang yang paling mengerti Qia. Qia selalu bercerita apa saja pada Mas Raka. Termasuk tentang Albert. Mas tau kan kalau Qia sangat mencintai Albert? Mas juga tau kan soal rencana Albert yang akan melamar Qia tepat di hari ulang tahun Qia, di depan seluruh anggota keluarga Bratajaya? Dan sekarang Mas katakan, kalau kita akan menikah di tanggal itu. Tanggal yang seharusnya menjadi hari bahagia bagi Qia dan Albert!” ucap Qiana dengan bibir bergetar.
“Maafkan Mas, Qi ... Tapi, kita memang harus menikah.”
Qiana melangkah mendekati Raka dan menggenggam kedua tangan pria itu.
“Mas ... Mas Raka tidak harus menuruti semua keinginan Papa. Kita tidak melakukan apa-apa di hotel itu kan Mas? Kita hanya tinggal sepakat mengatakan hal itu pada Papa dan Mama agar semua masalah ini selesai,” bujuk Qiana.
“Kalaupun Mas tidak peduli dengan perasaan Qia dan Albert, setidaknya Mas memikirkan perasaan Mas sendiri. Juga perasaan Mba Safira. Bayangkan, bagaimana hancurnya perasaan Mba Fira kalau tau Mas Raka akan menikah dengan Qia?”
Dahi Raka berkerut.
“Safira? Apa hubungannya dengan Safira? Mas tidak punya hubungan apapun dengan Fira, Dek. Fira memang teman wanita Mas satu-satunya. Akhir-akhir ini kami memang dekat, tapi itu semua karena hubungan bisnis, tidak lebih dari itu. Mas tidak pernah menjalin hubungan spesial dengan wanita manapun, Dek.”
Qiana terpaku. Gadis itu tidak tau lagi bagaimana caranya membujuk Raka. Raka memang seorang anak yang selalu patuh pada orang tuanya. Tak terkecuali pada Ivander dan Qeiza.
“Menikahlah dengan Mas, Dek. Mas janji akan membuat Qia bahagia,” lirih Raka.
Sejak remaja Raka memang sudah jatuh hati pada sepupunya itu. Tapi, baru kali ini pria itu berani mengungkapkan apa yang dia inginkan pada sepupunya itu. Dia begitu mencintai Qiana. Sejak Raka mengenal cinta, tak pernah ada nama gadis lain di hatinya selain Qiana. Menikahi Qiana adalah impian terbesar seorang Raka Pratama.
“Qia mau kan menikah dengan Mas?”
Qiana tidak menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Raka. Gadis itu sangat marah. Seorang pria yang selalu menjadi tempatnya mengadu, seorang pria yang sudah dia anggap sebagai kakak kandungnya sendiri, tiba-tiba melamar dirinya. Bagaimana mungkin Qiana tak marah akan situasi ini?
Qiana mengumpat dalam hati. Gadis itu benar-benar mengutuk orang yang telah menjebak dirinya dan Raka. Tanpa Qiana tau, jika Raka lah yang berada di balik semua skandal itu.
Qiana menghempaskan tangan Raka dengan kasar. Gadis itu pun berlalu dari sana. Selera makannya telah hilang saat mendengar Raka melamar dirinya. Perutnya mendadak kenyang.
Sementara Raka, pria itu hanya bisa menatap kepergian Qiana dengan nanar.
Dengan pandangan yang terus tertunduk, Raka menyantap makanan yang baru saja selesai dipanggangnya. Tak pernah dibayangkannya jika Qiana menolaknya tanpa berpikir lebih jauh.
__ADS_1
Raka ditolak mentah-mentah!
Padahal selama ini hubungan mereka sangat dekat. Sejak kecil mereka selalu bersama. Raka selalu ada untuk Qiana jika gadis itu membutuhkannya.
Raka bahkan rela terbang dari Amerika ke Indonesia hanya demi menghibur Qiana yang baru saja patah hati dengan cinta pertamanya. Padahal, sejak dulu, dia selalu menuruti ingin Qiana.
Tapi, mengapa gadis itu tak mau menurutinya satu kali ini saja?
Secinta itukah Qiana pada Albert?
Apa dirinya benar-benar tidak ada tempat di hati gadis itu?
Tidak adakah rasa sayang sedikitpun untuknya, setelah bertahun-tahun mereka selalu berbagi suka duka bersama?
Hati berbunga-bunga yang tadi dirasakannya, kini lenyap tak bersisa. Tadi, dia dan Qiana memanggang berdua dengan penuh suka cita. Kini, Qiana pergi begitu saja meninggalkan dirinya.
Gadis itu memilih untuk masuk ke salah satu kamar yang ada di villa itu. Setelah membanting pintu kamar, Qiana langsung menghempaskan tubuhnya ke ranjang dan menangis seorang diri.
Qiana menelungkupkan wajahnya di atas bantal dan menangis tersedu-sedu di sana. Puas Qiana menangis. Gadis itu akhirnya terpikirkan satu hal.
Disambarnya ponsel yang sedari tadi ada di dalam tasnya.
Gadis itu menyalakan ponsel yang sejak siang tadi dinonaktifkannya. Dia mengadukan masalahnya pada sang kekasih.
“Kamu tenang saja. Kamu ikuti saja dulu permainan keluarga kamu. Nanti aku akan pikirkan jalan keluarnya ya, Baby.”
“Tapi, kamu benar-benar akan memikirkan jalan keluarnya kan? Kata Mas Raka, kami akan menikah di hari ulang tahunku. Itu artinya satu bulan lagi kami akan menikah,” ujar Qiana sembari menangis sesenggukan.
Albert pun berjanji pada Qiana, hingga gadis itu menjadi sedikit lebih tenang.
Dan sesaat kemudian, tepat pukul sebelas malam, Seluruh anggota keluarga Bratajaya tiba di villa itu.
__ADS_1
Raka masih duduk terpekur di halaman belakang villa. Sementara Qiana masih sibuk berceloteh dengan Albert melalui panggilan video.
Suara pintu pagar yang bergeser terdengar sangat jelas dari kamar tidur yang sekarang ditempati oleh Qiana, karena kamar itu berada tepat di depan villa. Hingga Qiana dapat melihat dari dalam kamar, siapa yang baru saja tiba di sana.
“Papa dan Mama ke sini,” ucap Qiana panik.
“Baby .... Kamu tenang saja. Kan sudah aku katakan, kamu ikuti dulu permainan mereka,” ucap Albert.
Qiana menganggukkan kepalanya. Albert dan Qiana pun memutuskan untuk mengakhiri panggilan video itu, agar Qiana bisa berfokus pada apa yang akan keluarga Bratajaya rencanakan.
“Raka!”
Suara teriakan Anggara menggelegar begitu pria itu masuk ke dalam villa. Ayah kandung Raka itu sudah begitu kesal pada sang putra sejak masih dalam perjalanan menuju Lembang. Sejak pria itu mendapatkan fakta, jika Raka adalah dalang di balik skandal yang terjadi di antara kedua sepupu itu.
Raka yang mendengar jika ada suara teriakan memanggil dirinya, gegas melangkahkan kaki menghampiri asal suara.
“Mana Qia?!” tanya Anggara begitu melihat sosok Raka menghampirinya.
“Ada di kamar. Mungkin sudah tidur,” lirih Raka.
“Papi ingin bicara empat mata dengan kamu!” tegas Anggara.
Raka menganggukkan kepalanya. Kedua pria itu kembali melangkahkan kaki menuju taman belakang. Sementara keluarga Bratajaya lainnya mencoba menggedor pintu kamar yang ditempati Qiana. Namun, tampaknya gadis itu masih betah berdiam diri di kamarnya.
“Sudahlah Qei, ini sudah larut malam. Mungkin Qia sudah tidur. Dan sepertinya, tidak terjadi suatu hal yang kita khawatirkan,” ucap Ivander.
Namun, Saat Qeiza dan Ivander menjauh dari kamar itu. Qiana membuka pintu kamarnya. Semua mata kini tertuju pada gadis itu. Ada rasa kesal, amarah dan khawatir yang terlihat pada tatapan Qeiza. Wanita paruh baya itu menatap tajam pada sang anak sulung.
“Qia akan menikah dengan Mas Raka di hari ulang tahun Qia.”
Kini seluruh Keluarga Bratajaya terperangah mendengar penuturan Qiana. Tak terkecuali Raka yang baru saja tiba di sana.
__ADS_1