Mencintai Qiana

Mencintai Qiana
Part 44 - Kehamilan -2


__ADS_3

Sudah lima hari Raka dan Qiana berada di Nusa Tenggara Timur. Kini sepasang suami istri itu sudah siap untuk bertolak kembali ke Ibukota. Dan seperti janjinya pada sang istri. Raka memperbolehkan Qiana untuk ikut bersama dengannya ke kantor setelah usia kandungan gadis itu memasuki trimester kedua, dan setelah mereka pulang dari perjalanan baby moon itu.


Dan satu minggu setelah mereka kembali ke Ibukota, Qiana pun selalu ikut bersama Raka ke manapun pria itu pergi. Bagai dua orang yang tengah dimabuk cinta, baik Raka maupun Qiana tak rela untuk berpisah walau hanya beberapa menit.


Padahal Qiana tak lagi mengidam ingin berada di dekat Raka. Tapi tetap saja gadis itu ingin selalu berada di sekeliling sang suami.


Kehadiran sang buah hati di rahim gadis itu, benar-benar menjadi perekat bagi hubungan antara Raka dan Qiana.


Sejak janin itu tumbuh di rahimnya, Qiana seolah tak bisa berpisah dari Raka. Jika pria itu tak ada di sampingnya, Qiana merasa mual. Perutnya seperti terasa diaduk-aduk.


Hal itu terus berlangsung selama tujuh minggu sejak Qiana dinyatakan hamil. Raka pun memutuskan untuk selalu berada di sisi Qiana di trimester awal kehamilan gadis itu.


Dan karena hal itu, karena Raka selalu berada di sampingnya selama 7/24, Qiana lambat laun mulai menyadari perasaannya pada Raka. Gadis itu mengakui jika dia telah jatuh hati pada kakak sepupunya.


Hari-hari pernikahan Raka dan Qiana semakin penuh cinta. Setiap pagi dan malam hari, Sean harus bisa menahan rasa kesalnya. Karena setiap mereka makan bersama, pria yang kini berusia 19 tahun itu harus menyaksikan dua pasang suami istri yang saling suap-menyuap.


Ya, kini tak hanya Raka yang menyuapi Qiana. Gadis itu pun sesekali ikut menyuapi Raka. Mereka bahkan selalu makan dari piring yang sama. Seumur hidup Sean, dirinya selalu menyaksikan bagaimana ayah dan ibu kandungnya yang selalu bersikap mesra. Dan kini dia harus menyaksikan sepasang suami istri lainnya yang tak kalah mesra.


“Ma, Pa, sepertinya Sean sudah bisa hidup sendiri. Sean akan membeli satu kamar apartemen di kawasan dekat kantor,” ucap Sean saat acara makan malam keluarga itu masih berlangsung.


“Buat apa kamu tinggal di apartemen? Rumah kita cukup besar. Tidak perlu lah kamu buang-buang uang untuk tinggal di apartemen.”


“Sean ingin mandiri, Ma. Laginya, Sean muak tinggal di sini. Setiap hari harus menyaksikan drama bucin dua keluarga ini, benar-benar membuat Sean mau muntah!”


Ivander, Qeiza, Qiana dan Raka, serentak menatap Sean Bratajaya.

__ADS_1


“Iri ya?” ejek Qiana sembari menaikkan salah satu alisnya.


“Ha-ha-ha,” Sean berpura-pura kecil mendengar ucapan sang kakak. “ Seorang Sean Bratajaya yang jenius ini merasa iri dengan Mba Qia yang IQ-nya di bawah standard ini? Ya tidak mungkin lah! Lagian, buat apa iri dengan manusia bucin?! Sean malah kasihan melihat Mas Raka yang sekarang. Jadi suami kok tidak ada wibawanya sama sekali. Mau-mau saja disuruh ini dan ini sama istrinya yang tak tau diri,” sindir Sean sembari tetap menyantap hidangan makan malam miliknya.


“Enak saja kamu bilang Mba tidak tau diri!” pekik Qiana.


Ivander dan Qeiza saling tatap. “Anak-anak ini mulai lagi deh,” bisik Ivander.


“Biarkan saja mereka Mas. Setelah makan kita langsung ke ruang keluarga saja. Tambah tua mereka malah tambah berisik!” ketus Qeiza. Ivander pun menganggukkan kepalanya.


“Mba, Mas Raka itu sudah bersabar menghadapi Mba Qia. Jangan disuruh ini itu lagi. Disuruh masak lah, suapin makan Mba Qia. Sekarang malah diintil terus ke mana-mana. Kasihan Mas Raka jadi tidak bisa bebas. Semua diatur Mba Qia. Apa lagi namanya itu kalau bukan tidak tau diri,” jelas Sean.


Dengan wajah berkerut, Qiana menatap sang suami. Gadis itu seolah menanyakan apakah yang dikatakan oleh adiknya itu benar? Apa Raka merasa tidak punya kebebasan sejak menikah dengannya? Apa pria itu sebenarnya tak suka memasak sarapan untuknya? Apa Raka hanya terpaksa menyuapinya?


“Se ... Kelak, ketika kamu sudah menemukan wanita yang tepat. Kamu pasti akan rela melakukan apa saja demi kebahagiannya. Kamu pasti akan memujanya. Apa tadi kamu katakan? Bucin?”


“Maaf Mas. Sean akan hidup dengan menggunakan logika. Sean tidak akan menyia-nyiakan IQ yang diberikan Tuhan. Untuk apa kita punya IQ superior tapi logika tidak dipakai hanya karena wanita?!” ketus Sean.


“Kasihan sekali gadis yang akan jadi istrimu nanti. Pasti tidak akan bahagia dia,” cebik Ivander yang diam-diam ikut mendengarkan pertikaian ketiga anaknya.


“Makhluk yang bernama perempuan, diberikan kartu kredit tanpa limit sudah pasti bahagia,” ucap Sean angkuh. Pria berusia 19 tahun itu lantas langsung meninggalkan meja makan karena baru saja menyelesaikan santap makan malamnya.


“Huuu ... Dasar sombong! Lihat aja, Mba sumpahin kamu jadi lebih bucin dari Mas Raka!”


Ocehan Qiana mengiringi langkah kaki Sean. Tapi pria itu tetap tak memedulikan ucapan sang kakak.

__ADS_1


“Sudahlah Dek. Sean kan memang begitu dari dulu. Dia mana pernah mau kalah kalau berdebat sama kamu. Biarkan saja dia,” ucap Raka.


“Iya Sayang. Sean bertingkah seperti itu karena belum menemukan cinta sejatinya. Kalau sudah bertemu cinta sejati ucapannya pasti tidak akan seperti itu,” ujar Ivander.


“Iya Qi. Lagian, kamu jangan terlalu sering bertengkar dengan Sean. Nanti anak kamu jadi mirip sama adikmu itu loh. Mau kamu?” ucap Qeiza.


Mata Qiana seketika membulat mendengar ucapan sang ibunda. Gadis itu langsung mengusap-usap perutnya yang sudah membuncit.


“Amit-amit deh!” ucap Qiana sambil terus mengelus perutnya. “Qia tidak mau anak Qia jadi mirip Sean!” ucapnya lagi.


Ivander, Qeiza dan Raka terkekeh mendengar celotehan Qiana.


“Lagian Sean dan Raka wajahnya mirip, Qi,” ujar Ivander.


“Mirip apanya?! Sama sekali tidak mirip. Mas Raka itu cool dan keren. Seksi juga,” ujar Qiana. Gadis yang kini tengah mengandung itu, kini sudah bergelayut manja di lengan sang suami. Raka hanya bisa tersipu mendengar pujian sang istri.


“Anaknya Mama juga cool, keren dan seksi,” ujar Qeiza membela anak bungsunya.


“Seksi apanya? Seksi konsumsi!” pekik Qiana tak terima.


“Anak Mama yang satu itu menyebalkan! Mama dulu ngidam apa sih waktu hamil Sean. Kok bisa punya anak yang tidak ada hati begitu?!”


Ivander, Qeiza dan Raka kembali terkekeh mendengar ocehan Qiana.


“Kamu dan Sean itu sama saja! Sudah, kamu jangan ngomel terus menerus. Kasihan bayi kamu pasti tergganggu mendengar suara berisik kamu!” cebik Qeiza.

__ADS_1


__ADS_2