Mencintai Qiana

Mencintai Qiana
Part 31 - kepergian Qiana


__ADS_3

“Kenapa Mas tidak jujur saja? Mas sudah enam bulan loh menikah dengan Mba Qia. Mika dan Sean pikir, Mba Qia sudah tau soal penjebakan di hotel itu.”


“Ssttt ... Jangan berbicara kencang-kencang!” pekik Raka.


“Mika dan Sean pikir, honeymoon kedua ini untuk merayakan hal itu Mas. Merayakan kalau Mas sudah berani jujur dan memberitahukan perihal penjebakan di hotel, malam itu,” jelas Mika.


Raka menggelengkan kepalanya.


“Mas belum memberitahukannya. Mas tidak sanggup melakukannya. Mas tidak sanggup melihat wajah kecewa Qia. Dia pasti sangat kecewa dan marah, kalau tau jika Mas adalah orang yang sudah menjebaknya di hotel malam itu. Apa kalian tidak takut? Kalau Mba Qia tau, jika kamu dan Sean membantu Mas melakukan penjebakan itu?”


“Jadi begitu Mas? Kejadian di hotel malam itu, semua rencana Mas Raka?”


Wajah Raka seketika memucat. Jantung pria itu bahkan hampir berhenti berdetak. Raka tak bisa bernapas saat mendengar suara itu.Begitupun dengan Mika.


Apa yang sekarang dirasakan oleh pemilik suara itu?


Sepasang kakak beradik kandung itu, serentak menoleh ke arah pintu.


“Mba Qia...,” lirih Mika.


Qiana mengayun langkah menghampiri Raka dan Mika. Qiana bahkan berdiri persis di hadapan Raka. Menatap tajam pria itu.


“Kejadian di hotel malam itu, apa benar semua rencana Mas Raka?” tanya Qiana sekali lagi.


“JAWAB MAS!” teriak Qiana.


“Mba ... Mba Qia mungkin salah de—”


Mika berusaha untuk menyelamatkan sang kakak lelaki dari amukan Qiana. Dia pun tak mau jika Qiana ikut marah padanya.


“Diam kamu. Mba tidak bertanya sama kamu!” ketus Qiana. Mika langsung menutup rapat mulutnya. Raka bahkan seketika menunduk. Pria itu tak mampu walau hanya menatap helaian rambut Qiana.


“Tolong jawab Mas,” lirih Qiana.


“Maaf Dek.”


Hanya itu yang mampu Raka ucapkan. Pria itu bahkan masih menundukkan wajahnya.


“Qia bukan ingin mendengar permintaan maaf, Mas. Qia maunya, Mas jelaskan dengan jujur, apa yang terjadi di kamar hotel malam itu?”

__ADS_1


Raka kembali terdiam. Bibirnya tak mampu untuk menjelaskan hal itu. Belum dijelaskan saja, Qiana sudah terlihat begitu marah. Bagaimana sikap gadis itu jika dia membeberkan semua?


“Mas,” panggil Qiana.


“Mas ... Mungkin ini saatnya,” ucap Mika dengan sedikit berbisik. Raka masih tetap memilih untuk membungkam mulutnya. Dia tak tau harus menjelaskan kisah itu dari mana. Bahkan, dia juga tak tau kapan pikiran untuk menjebak Qiana itu muncul di benaknya.


“Mas!” bentak Qiana. “Lihat aku Mas. Tanpa mataku!”


“Ada apa ini?” tanya Ivona yang baru saja mendengar teriakan menantunya.


Qiana pun menatap sang mertua yang kini berdiri di sisinya.


“Kenapa Sayang?” tanya Ivona pada Qiana


“Apa Mami tau, mengenai penjebakan di hotel?” tanya Qiana.


“Penjebakan di hotel? Penjebakan apa? Siapa yang menjebak siapa?” tanya Ivona sembari menatap ketiga anaknya satu per satu. Tanpa dia tau, jika Anggara—sang suami— sedang mendengarkan pembicaraan itu di balik tembok kamar.


Pria paruh baya yang sudah mengetahui siasat Raka, memilih untuk dia dan berpura-pura tidak mengetahui apa-apa. Sudah sepantasnya jika Raka lah yang langsung menjelaskannya pada Qiana.


“Mami benar-benar tidak tau, atau mau menutupi kejahatan mereka?” ujar Qiana sembari menatap Raka dan Mika satu per satu.


“Kejahatan apa, Sayang?” tanya Ivona yang masih tak mengetahui maksud Qiana..Karena wanita paruh baya itu memang tak tau menahu perihal rencana yang Raka buat untuk Qiana, tujuh bulan silam


“Sean?!” pekik Qiana. Bertambah sakit hati gadis itu saat mendengar jika sang adik kandung juga turut serta dalam malam penjebakan itu.


“Ini ada apa sih?!” tanya Ivona.


“Raka, ayo jelaskan!”


Raka yang masih menunduk, masih memilih untuk bungkam. Begitupun dengan Mika.


“Ada apa Qia?”


Setelah mengembuskan napas kasar, Qiana pun menjelaskan apa yang baru saja dia dengar. Ivona menutup mulut dengan kedua tangannya saat mendengar penjelasan Qiana.


“Benar itu Raka?! Apa yang dikatakan oleh Qiana itu benar?!” tanya Ivona histeris.


“Jawab pertanyaan Mami, Raka!” tegas wanita paruh baya itu.

__ADS_1


Kali ini Raka memberikan kepastian jika memang dialah yang menjadi dalang di balik penyergapan di kamar hotel. Pria itu memang tak menyatakannya secara lisan. Tapi, Raka menganggukkan kepalanya beberapa kali. Sebagai jawaban atas pertanyaan yang dilontarkan oleh ibu kandungnya itu.


“Ya ampun Raka! Apa sih yang ada di pikiran kamu hingga bisa berbuat serendah itu pada Qiana?!


“Raka sangat mencintai Qia, Mi,” lirih pria itu. Ivona hanya bisa meremas kedua sisi rambutnya. Wanita paruh baya itu merasakan jika kepalanya berdenyut.


“Jadi, benar ya Mas? Mas Raka adalah dalangnya saat itu?” jelas Qiana. Gadis itu bahkan terus meneteskan sudah berurai air mata, kini.


“Maaf Dek.”


“Permintaan maaf Mas sudah terlambat!”


Qiana langsung beranjak dan meninggalkan kediaman mewah milik Anggara Pratama. Dengan mengendarai mobil milik Raka, gadis itu melajukan kendaraannya. Qiana kembali ke kediamannya. Kediaman yang sudah enam bulan ini ditempati olehnya dan juga Raka.


Gadis itu mengemasi seluruh pakaiannya. Qiana begitu kecewa. Bahkan dia tidak tau, apakah bisa memaafkan Raka atau tidak?


Keinginan berpisah pun terbersit di benaknya.


Sementara itu, saat Qiana meninggalkan rumah orang tuanya, Raka masih terus terpaku di sana. Pria itu bahkan masih terus menundukkan kepalanya..


“Kenapa kamu berbuat seperti itu sih, Ka?” sesal Ivona.


“Raka mencinta Qia, Mi. Raka ingin memiliki Qiana. Namun, keinginan itu sebenarnya, sudah sejak lama Qia kubur. Tapi, saat melihat Qiana begitu mencintai pria itu. Ada rasa tak rela di hati kecil Raka.”


“Tapi bukan berarti kamu bisa melakukan segala macam cara agar Qiana bisa kamu miliki. Perbuatan kamu itu benar-benar salah, Ka. Kamu tidak harus menjebak Qia seperti itu.”


“Iya Mi, Raka menyesal.”


“Simpan dan sampaikan permintaan maaf kamu itu pada Qiana. Mami harap dia mau memaafkan kamu.”


“Raka juga berharap begitu Mi.”


“Kalau begitu, kamu susul Qia.”


Perintah sang ibunda langsung dia amalkan..Pria itu mengeluarkan ponsel dan melihat keberadaan mobil miliknya yang tadi dibawa oleh Qiana.


“Qia pulang, Mi!” pekik Raka. Setelah meminjam mobil milik orang tuanya, Raka melajukan kendaraan.


Raka langsung berlari begitu tiba di halaman rumah super mewah peninggalan kakeknya itu. Pria itu pun mencari keberadaan Qiana.

__ADS_1


Namun, seberapa banyak Raka meneriakkan Qiana, gadis itu tak menyahut. Dan wajah Raka seketika menjadi pucat, saat menyaksikan pakaian Qiana sudah banyak berkurang.


Pria itu pun kembali mengendarai kendaraannya. Rumah sang mertua adalah tujuannya.


__ADS_2