
...Safira POV...
Qiana Larasati. Gadis itu sudah menyakitiku sampai ke sum-sum tulang. Aku tidak akan bisa memaafkan dirinya. Aku akan balas rasa sakit ini padanya!
Aku ada di sana saat Raka dan Qiana mengucapkan janji suci pernikahan. Aku ada di sana hanya untuk mengingat wajah gadis itu. Wajah yang membuatku merasakan sakit tak berujung ini.
Satu tahun aku menghilang dari hidup Raka. Rasa sakit ini membuatku bahkan tak lagi sanggup untuk melihat dunia. Tapi, dendamku pada Qiana membuatku mampu bertahan. Awalnya, ayahku akan mencabut semua proyek kerjasama dengan perusahaan milik orang tua Raka. Tapi, aku melarangnya. Karena itu hanya akan membuat rugi perusahaan ayahku. Toh, kerjasama itu akan segera berakhir masa kontraknya.
Rasa dendam pada Qiana membawaku kembali ke Inggris. Negara sejuta kenangan. Negara ini membawaku Mengenang masa-masa itu. Mengenang masa-masa di mana aku menjadi sangat dekat pada Raka. Masa-masa di mana aku berusaha mendekati keluarga Raka. Juga masa di mana aku mengenal Qiana.
Aku peluk erat-erat rasa sakit itu. Aku terima semuanya hingga membuatku rela melakukan apa saja untuk membalaskan dendam pada Qiana. Rasa sakit ini, nantinya akan aku kembalikan pada gadis itu. Gadis yang berpura-pura lugu. Gadis yang berpura-pura menjadi pengirim cintaku pada Raka. Nyatanya, dialah yang mengambil Raka dari sisiku.
Aku pastikan gadis itu akan memohon di bawah kakiku!
Tommy Cullen. Dia lah orang yang akan membantuku melemparkan rasa sakit ini pada Qiana. Dia adalah pria yang tanpa kenal lelah menyakinkan diriku, jika dia jauh lebih baik dari Raka.
Dia terus berada di sisi Raka. Menjelma menjadi seorang sahabat. Hanya untuk membuat pria yang kucintai itu tampak lebih buruk darinya. Tapi, tentu saja itu tak mungkin. Raka jauh lebih baik darinya di segala sisi. Kecuali satu hal.
Tommy memiliki harta kekayaan yang jauh lebih banyak dibandingkan Raka. Tentu saja itu tak membuatku jadi bertekuk lutut padanya. Apalah hari harta melimpah jika aku tak mencintainya. Berulang kali aku tolak pernyataan cintanya. Berulang kali aku mengabaikan ucapannya.
Tapi, itu dulu.
Dulu, saat aku merasa jika bisa menggapai Raka. Saat aku merasa jika Raka mempunyai perasaan yang sama denganku.
Kini, keadaan itu tak lagi sama.
Aku tentu tak bisa lagi mengabaikan Tommy. Karena hanya pria itu yang bisa membantuku menghancurkan mereka. Hanya pria itu yang punya kuasa untuk menghancurkan Qiana.
__ADS_1
“Jadi milikku, maka apapun akan aku berikan.”
Aku pun menukar diriku demi kehancuran Qiana dan Raka. Aku dan Tommy pun mengatur semuanya dengan matang. Selama satu tahun, aku menjadi tawanan cintanya. Ku berikan semuanya pada pria itu. Termasuk kegadisanku. Satu hal yang tadinya ingin ku persembahkan pada Raka di malam pengantin kami.
Aku hidup bersama Tommy selama satu tahun penuh. Selama itu, tak pernah sekalipun Tommy memperlakukan aku dengan buruk. Dia selalu bersikap lembut. Bahkan dia memperlakukan aku bak seorang ratu. Tapi, hal itu masih belum bisa membuka hatiku padanya. Raka masih menempati sebagian hati ini. Aku masih menginginkan pria itu.
Satu tahun aku rancang semuanya. Sebelum akhirnya kembali ke Indonesia dan membawa malapetaka untuk sepasang manusia yang menyakitiku itu.
Sengaja aku datang sehari setelah perayaan hari ulang tahun pernikahan Raka dan Qiana. Membawakan mereka sebuah hadiah. Hadiah pernikahan yang terlambat satu tahun.
Aku pikir, setelah satu tahun kepergianku, Raka akan merindukanku hingga membuatnya berlari dan memeluk tubuhku.
Tapi, itu hanyalah hayalanku saja. Lebih tepatnya, itu hanyalah impian diriku seorang.
Nyatanya, aku malah langsung dihadapkan oleh pemandangan yang membuat hatiku yang belum sembuh, kembali terluka.
Tanpa mengetuk pintu ruang kerjanya, aku menerobos masuk. Tubuhku seketika gemetar. Amarah hampir menguasai diri ini saat menyaksikan betapa Qiana dengan buasnya melahap bibir Raka.
“Kamu ke mana saja, Fir?”
Ucapan pria itu menyadarkanku akan amarah yang sempat menguasai diri ini. Langsung saja aku berjalan ke arah sepasang suami istri yang begitu aku benci. Gadis itu pun turun dari pangkuan Raka. Dari tatapannya, sepertinya dia tak menyangka jika kini aku hadir kembali di hidup mereka.
Apa dia merasa tak enak hati padaku? Bagaimana pun, gadis itu adalah orang yang paling tau kalau aku begitu mencintai Raka.
“Aku belum memberikan selamat untuk pernikahan kalian,” jawabku dengan lembut. Bahkan aku tersenyum seakan Aku adalah gadis paling bahagia atas pernikahan mereka. Pria itu bahkan membalas senyumanku. Senyum yang masih sama menawannya seperti dulu. Dia masih tetap sama dan tak berubah.
“Kenapa kamu tidak datang ke pernikahanku dengan Qia?! Kamu selalu mengatakan kepada semua orang jika kita adalah sahabat. Dan kamu sudah sangat kenal dengan Qia. Sahabat apa yang tidak datang di pesta pernikahan sahabatnya sendiri?!”
__ADS_1
Pria itu terlihat begitu sumringah memandangku. Dapat aku lihat ekspresi sedih gadis itu.
Raka, apakah kamu akhirnya sadar jika kamu merindukan kehadiranku?
“Maaf karena aku tidak bisa hadir di pernikahan kalian. Ada urusan yang sangat penting. Makanya aku tidak bisa hadir, bahkan tidak bisa bertemu kamu selama satu tahun. Aku sangat merindukanmu. Apa kamu tidak merindukanku, Raka?”
Raka hanya membalas pertanyaanku itu dengan tertawa kecil. Dan aku bisa melihat Qiana menundukkan wajahnya.
Bolehkah arti tertawa pria itu aku anggap sebagai tanda, bahwa dia juga merindukan aku?
Dan aku langsung memberitahukan padanya, perihal tawaran kerjasama dengan perusahaan tempat kami magang sewaktu di Inggris. Perusahaan yang selalu diimpikan oleh Raka untuk menjalin kerjasama. Dan aku membawakan tawaran kerjasama itu padanya.
Tentu saja Raka terlihat sangat antusias. Pria itu bahkan langsung menyetujui tawaran kerjasama itu tanpa memeriksanya dengan seksama. Seperti yang sudah aku dan Tommy duga.
“Aku percaya sepenuhnya dengan kamu, Fir!” tegas Raka.
Dan saat Raka mengungkapkan rasa percayanya padaku, dapat ku lihat jika mata gadis itu mengembun.
Dan sejak hari itu, setiap hari kami bertemu dan membicarakan banyak hal tentang proyek baru itu. Tapi yang membuatku tidak percaya adalah kehadiran Qiana. Gadis itu selalu ikut ke manapun Raka pergi. Seolah dia takut kehilangan Raka.
Ya, begitulah nasib pencuri. Dia akan selalu merasa ketakutan jika miliknya dicuri!
Tapi, tentu saja aku tak memedulikan kehadiran gadis itu. Justru dengan hadirnya dia di antara Raka, aku bisa menunjukkan padanya, bagaimana kedekatan aku dengan Raka. Bagaimana kami bisa berdiskusi dengan seru.
Hari demi hari pun berlalu. Walau aku merasa semakin dekat dengan Raka. Kami bahkan selalu berkomunikasi sedari pagi hingga malam hari. Tapi, aku masih belum bisa menjauhkan Qiana darinya. Gadis itu masih selalu mengekori Raka ke mana pun.
Bahkan, hari ini Raka terlihat berbeda. Pria itu terlihat dingin dan cuek. Dia hanya membahas soal pekerjaan. Pria itu juga tak lagi menatap ke arahku.
__ADS_1
Apa ini perintah Qiana? Apa gadis itu sudah merasa tak tahan akan kehadiranku di sisi Raka?
Kamu lihat saja Qia, aku akan membuat Raka mengorbankan pernikahan kalian!