
Ivander dan Qeiza yang tengah menikmati akhir pekan mereka dengan duduk bersantai di taman bunga yang ada di halaman depan rumahnya, terkejut dengan kedatangan Qiana. Pasalnya gadis itu meminta beberapa asisten rumah tangga untuk membantunya membawakan dua buah koper berukuran besar.
“Kamu bawa apa, Sayang?” tanya Ivander. Qiana berusaha untuk menyembunyikan matanya yang sembab dari sang ayah sambung. Gadis itu tak mengindahkan pertanyaan Ivander hanya untuk menghindari sang ayah.
“Qia ... kamu ditanya Papa kok malah pergi sih?!” ketus Qeiza. Gadis itu pun menghentikan langkahnya. Namun, wajahnya terus menunduk. Perlahan-lahan pundak Qiana terlihat naik turun. Isak tangis pun terdengar.
“Kamu kenapa Sayang?” tanya Qeiza. “Kamu bertengkar dengan Raka?”
Qeiza berusaha menebak-nebak hal apa yang membuat putri kesayangannya itu menangis. Terlebih Qiana datang dengan dua buah koper besar. Mungkinkah anaknya itu bertengkar dengan Raka?
Bukankah selama ini Raka tidak pernah marah kepada Qiana?
Apa yang diperbuat Qiana hingga Raka bisa memarahi Qiana?
“Kamu berbuat apa hingga Raka marah?”
Pertanyaan Qeiza membuat hati Qiana semakin sakit. Kenapa ibu kandungnya itu selalu menyalahkan dirinya? Kenapa harus selalu dia yang disalahkan jika itu menyangkut nama Raka? Sebaik itukan Raka Pratama hingga pria itu seolah tak pernah berbuat salah?
Qiana menatap sang ibunda dengan mata sembab dan linangan air mata.
“Apa Qia itu anak yang buruk, Ma? Apa selama ini Qia pernah melalukan perbuatan yang membuat Mama malu?”
Ivander berdiri di sisi anak tirinya dan mengusap-usap punggung Qiana. “Mama tidak bermaksud begitu Sayang. Mama hanya ingin tau kondisi kamu. Kamu kenapa datang dengan wajah sembab seperti ini?” ucap Ivander.
“Sejak peristiwa di hotel malam itu, Mama seolah selalu membela Mas Raka dan menyalahkan Qia. Mama menuduh Qia menggoda Mas Raka. Mama menganggap Qia bagai gadis murahan!”
Qeiza tak membalas ucapan sang anak. Wanita paruh baya itu membiarkan Qiana melampiaskan amarahnya.
“Dan sekarang, saat Qia datang dengan membawa koper besar, Mama juga menyalahkan Qia? Menanyakan apa yang Qia perbuat hingga Mas Raka marah? Seolah Qia adalah orang yang selalu membuat onar!”
Qiana tambah terisak. Hatinya sudah sangat sakit saat mengetahui jika Raka lah yang menjebaknya di hotel malam itu. Dan saat dia tiba di kediaman orang tuanya, Qiana malah mendapatkan pertanyaan yang membuat hatinya bertambah sakit.
__ADS_1
“Apa Mama tau, siapa dalang di malam terkutuk itu? Apa Mama tau, siapa yang menjebak Qia hingga berakhir tanpa busana di sebuah kamar hotel?”
“Itu semua perbuatan Mas Raka, Ma. Mas Raka yang menjebak Qia. Bukan Qia yang menggodanya,” lirih gadis itu. Ivander dan Qeiza terperangah mendengar penuturan Qiana. Sepasang suami istri paruh baya itu seolah tak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Qiana.
Bagaimana mungkin Raka berbuat seperti itu?
Menjebak Qiana? Bagaimana mungkin Raka melakukannya?
Sejak kecil, Raka adalah anak yang baik. Dia anak yang cerdas dan selalu bersikap baik pada siapa pun. Walau Raka adalah pria yang selaku terlihat dingin, tapi dia anak yang baik.
Terlebih terhadap Qiana.
Raka yang terkenal dingin, selalu bersikap hangat kepada putri mereka. Bagaimana mungkin Raka tega melakukan semua itu?
Tidak mungkin rasanya jika Raka menjebak Qiana di sebuah kamar hotel. Raka bahkan rela seluruh tubuhnya babak belur hanya demi menyelamatkan Qiana dari mantan kekasihnya dulu.
“Kenapa? Mama dan Papa tidak percaya? Mama dan Papa selalu menganggap Mas Raka bagai dewa. Sementara Qia adalah manusia hina!” pekik gadis itu.
“Sean...! Sean...!”
Qiana berteriak-teriak memanggil nama adik kandungnya itu. Qiana bahkan menghampiri kamar adiknya yang masih masih berusia 18 tahun itu.
Ivander dan Qeiza pun mengikuti langkah kaki sang anak hingga berada di depan kamar Sean Bratajaya.
Qiana lalu menggedor-gedor pintu kamar Sean sembari berteriak-teriak memanggil namanya. Hingga akhirnya Sean keluar dari sana.
“Apa sih, Mba? Seperti manusia tak beretika!” ketus Sean begitu melihat wajah Qiana lah yang ada di balik pintu kamarnya.
“Silakan Mama dan Papa tanyakan pada anak kebanggaan kalian ini!” ketus Qiana.
“Tanya apa?” ucap Sean bingung.
__ADS_1
Qiana menatap tajam adiknya. Saat itu Sean tau, jika sang kakak tengah dikuasai amarah. Sean bergidik. Tak pernah dia melihat ekspresi Qiana yang seperti ini.
“Kalau Mama dan Papa tidak mau bertanya. Biar Qia yang menanyakan pada anak jenius kalian ini.”
Dengan susah payah Dena berhasil menelan ludahnya. Pertanyaan yang akan dilontarkan oleh sang kakak, sepertinya adalah pertanyaan yang sangat serius.
“Jelaskan kepada Mama dan Papa, bagaimana rencana Mas Raka tujuh bulan lalu.”
Mata Sena membulat sempurna. Tubuh pria itu hampir membeku.
Jadi, sang kakak baru mengetahuinya?
Dan amarah yang terlihat di mata kakaknya itu karena dia baru saja mengetahui semua fakta yang selama ini mereka sembunyikan.
Sama seperti apa yang Mika ungkapkan. Sean pikir, saat kedua kakaknya memutuskan untuk melakukan perjalanan bulan madu yang kedua, serta merta karena Raka sudah berani jujur dan mengungkapkan kesalahannya pada Qiana. Dan Qiana menerima perbuatan buruk Raka di masa lalu karena gadis itu sudah jatuh cinta pada suaminya.
Nyatanya apa yang dipikirkan oleh Sean dan Mika, salah besar.
“Mba tidak menyangka, Se. Ternyata kamu sebenci itu dengan Mba. Apa karena kita berbeda ayah, makanya kamu tega melakukan hal ini terhadap Mba? Atau, karena Mba ini bodoh, tidak jenius seperti kamu, makanya kamu merasa bisa berbuat sesuka hatimu?”
“Bukan begitu Mba. Sean sayang dengan Mba Qia. Justru Sean melakukannya karena Sean sangat menyayangi Mba Qia,” lirih pria itu.
Qiana yang masih berlinang air mata, tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan sang adik.
“Sayang kamu bilang? Di mana letak sayangnya, Se? Di mana?!”
Sean tak sanggup memandang wajah Qiana yang penuh amarah.
“Karena perbuatan kalian, setiap hari selama satu bulan penuh, Mama terus menghina Mba. Memfitnah jika Mba lah yang telah menggoda Mas Raka. Ibu kandung kita menganggap Mba sebagai wanita murahan dan kamu diam saja! Apa itu yang dinamakan sayang? Hah?! Itu yang kamu maksud dengan sayang?!”
Sena semakin menunduk. Pria jenius itu bahkan meneteskan air mata. Pikirannya kembali melayang ke masa itu. Masa di mana ibu kandung mereka selalu menganggap Qiana sebagai gadis nakal. Bahkan sang ibu terlihat begitu benci pada Qiana.
__ADS_1
“Kamu tidak tau betapa hancurnya hati Mba saat itu. Ibu yang selalu Mba idolakan, ibu yang selalu Mba banggakan, menampar wajah Mba. Bahkan kepercayaan itu hilang di matanya saat menatap Mba. Sakit hati Mba, Se. Sakit.”