
“Maaf Fir, tapi Qia akan menunggu di luar kok. Dia tidak ikut kita meeting,” ucap Raka lembut.
Melihat Raka yang kembali berucap lembut pada Safira, Qiana merasa kesal. Dengan penuh amarah, Qiana berbalik arah dan hendak meninggalkan Raka. Namun, Raka menahannya.
“Dek, tolong Mas. Jangan buat Mas merasa serba salah. Kamu sudah tau kan akibatnya jika proyek ini dibatalkan?”
“Iya, Qia tau Mas. Qia tau siapa yang menjadi prioritas buat Mas. Makanya lebih baik Qia pulang. Qia tidak punya urusan di sini,” lirih gadis itu.
Sebuah senyuman tersungging di bibir Safira saat menyaksikan Qiana tertunduk lesu. Gadis itu pun lebih memilih pergi meninggalkan Qiana dan Raka yang masih saling beradu argumentasi.
“Dek ... Kamu tunggu Mas di sini ya. Kamu bisa pesan makanan apa saja yang kamu inginkan. Bukannya kamu sudah lapar? Anak kita yang gembul ini juga pasti sudah lapar,” ucap Raka seraya mengelus perut Qiana. Pria itu tidak mau jika istrinya yang sedang mengandung itu pergi dari sana tanpa dirinya. Dia tidak bisa membiarkan Qiana pergi dengan rasa kesalnya. Sebenarnya dia ingin terus berada di sisi sang istri. Dia ingin menenangkan Qiana lebih dulu. Tapi Raka kehabisan waktu. Dia harus segera melakukan rapat dengan koleganya. Hanya pengertian Qiana lah yang dia harapkan saat ini.
“Kamu mau kan, Dek. Please,” lirih Raka. “Tolong tunggu Mas. Jangan pergi. Mas akan usaha agar meeting ini tidak terlalu lama. Mau ya?”
Raka benar-benar berharap sang istri mau mendengarkan dirinya kali ini.
Sebenarnya Qiana ingin pergi dari sana. Tapi, senyum tipis Safira yang sempat tertangkap oleh ekor matanya tadi, membuat Qiana memilih untuk bertahan. Dia tak mau Safira merasa menang dengan berhasil mengusirnya dari restoran ini. Tidak untuk kali ini. Dia akan bertahan. Dia akan menunggu Raka.
“Yasudah, Qia menunggu di sini. Tapi, Mas juga harus ingat jika ada anak dan istri yang menunggu di luar. Mas harus konsentrasi dan melakukan pekerjaan itu secepatnya mungkin. Jangan genit-genit dengan perempuan lain!” ketus Qiana.
Raka mengembuskan napas lega. Pria itu menyunggingkan sebuah senyuman lembut. Dia benar-benar bersyukur Qiana mau mengerti akan kondisinya. Dipegangnya kedua pundak gadis itu.
“Sejak kapan Mas genit dengan perempuan lain? Mas tidak pernah seperti itu,” ucap Raka.
“Jangan berbicara terlalu lembut dengan Mba Fira. Qia tidak suka itu! Bukannya Qia sudah pernah mengatakannya?!”
Raka tersenyum dan menganggukkan kepala lalu dikecupnya dahi sang istri.
__ADS_1
“Iya Sayang. Mas berjanji,” ucap Raka. Raka pun menuntun sang istri untuk menempati salah satu meja yang ada di restoran mewah itu, serta memanggilkan pramusaji untuk mengantarkan menu buat sang istri.
“Mas ke ruangan yang itu ya Sayang. Kamu tunggu Mas di sini,” ucap Raka. Qiana pun menganggukkan kepalanya. Mata gadis itu terus menyorot ke mana pun langkah kaki sang suami. Hingga Raka akhirnya melambaikan tangan dan menghilang ke balik pintu ruang VIP.
Qiana mengembuskan napas kasar. Gadis itu pasti akan merasa bosan karena harus duduk seorang diri. Tapi dia tetap harus menunggu sang suami di sana. Qiana menghubungi siapa saja yang bisa dia hubungi untuk menghilangkan kebosanan. Dan setelah hampir dua jam, Raka pun menyelesaikan pekerjaannya.
Wajah Raka langsung sumringah saat menyaksikan Qiana masih setia menunggunya di kursi yang sama. Namun, berbeda dengan Raka, Safira terlihat kesal saat mengetahui jika Qiana masih berada di restoran itu. Dia pikir Qiana sudah pergi dan meninggalkan Raka.
Padahal Safira sudah mengatur siasat agar Raka mengantarkan dirinya pulang. Mengajak pria itu untuk minum bersama dan menghabiskan senja berdua di apartemen itu. Tapi, tampaknya hal itu tak mungkin terjadi. Karen Raka pasti menolaknya.
Kehadiran Qiana di antara dirinya dan Raka, benar-benar bagai benalu. Qiana merusak semua yang direncanakannya.
“Kamu harus sabar Fira. Masih ada waktu dua bulan lagi untuk menghancurkan rumah tangga mereka. Sebentar lagi Qiana akan melahirkan, dan itu akan menjadi kesempatan terbesarmu untuk merebut Raka.”
Safira terlihat mengatur napasnya secara perlahan. Gadis itu tidak mau kembali menunjukkan wajah yang penuh emosi pada Raka. Gadis itu pun kini memasang sebuah senyuman untuk menutupi amarahnya.
“Aku pikir Qia sudah pulang,” ucapnya pada Raka.
Safira berusaha menahan tawanya.
“Kita lihat saja, dia bisa mendampingi mu sampai kapan?”
Begitulah yang ada di benak Safira. Bersama Raka, gadis itu mengantarkan Mark menuju lobby restoran karena ada supir yang telah menunggu pria berkebangsaan Inggris itu di sana.
Raka dan Safira pun berjalan beriringan menghampiri Qiana, setelahnya.
Qiana tentu saja menatap tajam ke arah sepasang laki-laki dan perempuan yang berjalan ke arahnya. Tak bisa dipungkiri, Raka dan Safira benar-benar terlihat serasa jika berjalan beriringan seperti itu.
__ADS_1
Qiana hanya bisa menarik napas dalam-dalam untuk menghilangkan amarah yang bergejolak dalam hatinya. Berulangkali dirinya mengingat apa yang Raka ucapkan padanya. Jika hanya dirinyalah yang dicintai oleh Raka sejak dulu. Dia akan memercayai ucapan sang suami.
“Qia pikir, Mba Fira langsung pulang bersama Mr. Mark,” ketus Qiana begitu sang suami tiba di hadapannya bersama Safira. Raka menatap Qiana dengan penuh rasa keterkejutan. Untuk pertama kalinya Qiana berbicara ketus secara langsung pada Safira. Karena biasanya, Qiana hanya akan melampiaskan amarah kepada dirinya.
Tak hanya Raka, Safira pun menatap Qiana dengan penuh keterkejutan. Dia juga tak menyangka jika Qiana sudah memiliki keberanian seperti itu. Walau kesal, Safira tetap berusaha menjaga image nya. Gadis itu tetap terlihat tersenyum lembut.
“Rencana saya sih seperti itu. Begitu selesai meeting, saya akan langsung kembali ke apartemen. Tapi karena kamu masih menunggu di sini sejak tadi, makanya saya ke sini dulu,” ucap Safira.
“Kamu itu sudah saya anggap seperti adik saya sendiri, Qi. Tidak mungkin kan kalau saya pulang begitu saja tanpa berpamitan dengan kamu,” lanjut gadis itu.
Mendengar ucapan Safira, Raka pun tersenyum tipis menatap sahabatnya itu. Pria itu benar-benar merasa lega. Karena Safira tetap bisa bersikap dewasa dan bijak dalam menghadapi Qiana. Padahal istrinya itu sudah berbicara ketus padanya. Tapi Safira masih bertutur kata lembut kepada Qiana. Sebuah senyuman bahkan tak pernah luntur dari wajahnya.
Itu artinya, Qiana tak perlu lagi merasa cemas karena Safira terlihat begitu tulus. Gadis itu benar-benar berdiri sebagai seorang rekan kerja dan sahabat.
Tak seperti Raka yang senang mendengar ucapan Safira. Qiana malah tambah kesal mendengar alasan yang dilontarkan oleh Safira. Gadis itu pasti hanya ingin menghabiskan waktu lebih lama bersama suaminya.
Dan Qiana pun bertambah kesal saat melihat Raka memandang Safira sembari tersenyum.
“Kalian masih mau memesan makan dan berlama-lama di sini? Kalau memang begitu, mungkin kita bisa makan bersama dan berbincang-bincang sebentar,” tanya Safira pada Raka yang masih tersenyum padanya. Raka tak menjawab pertanyaan itu. Dia malah menatap sang istri dan memberikan pertanyaan yang sama pada Qiana.
“Kamu masih mau pesan makanan lagi, Sayang?” tanya Raka.
Qiana masih menatap Raka dengan tajam. Dengan susah payah gadis itu menegakkan badannya.
“Kalau Mas masih ingin berbincang-bincang dengan dia, silakan saja. Qia capek!” ketus gadis itu. Qiana lantas melangkahkan kakinya hendak meninggalkan Raka dan Safira. Tentu saja Safira menjadi sumringah melihatnya. Profokasi yang dia lancarkan ternyata berhasil.
“Dek ... Mas kan hanya bertanya. Kalau kamu lelah, ya kita pulang saja,” lirih Raka yang masih menahan lengan Qiana.
__ADS_1
Qiana pun menghempaskan lengannya yang dipegang erat oleh Raka.
“Harusnya, Mas tidak perlu menanyakan hal itu!”