
Setelah pertemuannya dengan Tommy, Raka langsung mendatangi Mika dan mencecar adik kandungnya itu dengan serentetan pertanyaan.
“Kamu benar akan menikah dengan Tommy?! Sejak kapan kalian menjalin hubungan?! Kamu tau kan Tommy itu siapa? Kamu tau kan apa yang diperbuat Tommy pada perusahaan Papi waktu itu?! Kenapa harus Tommy?!”
Mika yang tengah sibuk dengan pekerjaannya, menatap heran pada sang kakak lelaki yang tiba-tiba datang menghampiri, lalu langsung mencecarnya tanpa memberikan kesempatan padanya untuk menjawab setiap pertanyaan itu.
“Ayo jawab! Kenapa kamu diam saja?!”
Qiana memijat pelipisnya. Sementara Mika menghela napas panjang.
“Kenapa diam saja?! Jawab pertanyaan Mas!” tanya Raka sekali lagi.
“Bagaimana Mika mau menjawab, Mas Raka terus saja bicara tanpa memberikan kesempatan pada Mika untuk bicara. Iya kan, Mba?” tanya Mika pada Qiana.
Qiana hanya bisa menghela napas kasar mendengar pertanyaan Mika. Karena memang Raka yang tak membiarkan Mika untuk berbicara. Pria itu mendominasi sejak awal kedatangan mereka.
“Mika bahkan sampai lupa dengan pertanyaan-pertanyaan itu karena terlalu banyak. Mas Raka tadi bertanya apa saja?”
“Jangan bercanda dengan Mas, Mik. Sekarang bukan saatnya untuk bercanda. Mas serius!” tegas Raka. Mika dan Qiana saling tatap. Mereka tau, jika di hati Raka masih tersimpan sedikit rasa sakit hati untuk Tommy. Raka belum sepenuhnya memaafkan Tommy dengan apa yang diperbuatnya, beberapa tahun lalu.
“Satu tahun belakangan, Mika memang dekat dengan Tommy. Dan beberapa bulan terakhir, kita juga membicarakan tentang pernikahan,” jawab Mika.
Raka berbalik arah. Pria itu membelakangi sang adik. Raka bahkan terlihat meremas rambutnya. Banyak ketakutan tiba-tiba muncul dalam dirinya.
Dia takut jika Tommy hanya bersiasat. Dia takut Tommy masih menyimpan dendam, lalu membalasnya kepada Mika. Dia takut Tommy tak sungguh-sungguh mencintai adiknya.
Dia ingin Mika bahagia. Walau selalu bersikap cuek dan terlihat tak peduli pada Mika, Raka sangat menyayangi adik perempuannya itu. Dia ingin Mika menikah dengan pria yang benar-benar mencintai gadis itu.
__ADS_1
Dan ketakutan paling besar yang bersemayam dalam hati Raka adalah ... Dia takut jika Tommy masih mencintai Safira.
Bertahun-tahun Tommy mencintai Safira, bahkan hingga menaruh dendam pada dirinya karena cintanya pada gadis itu. Apakah rasa cinta Tommy terhadap Safira hilang semudah itu? Tuluskah perasaan pria itu terhadap adiknya?
Berkali-kali Raka menghela napas kasar. Ketegasan jawaban yang diberikan Mika, sangat terlihat bahwa gadis itu sudah mantap akan menikah dengan Tommy. Tapi, bagaimana jika orang tua mereka tau, kalau Mika menjalin hubungan dengan seorang pria yang menghancurkan perusahaan orang tuanya?
“Papi dan Mami juga sudah mengetahui hal ini,” ujar Mika.
Mata Raka membulat. Pria itu dengan cepat kembali berbalik arah dan menatap Mika.
“Mba Qia juga sudah lama tau.”
Mata Raka semakin membesar. Pria itu begitu terkejut. Bagaimana bisa istrinya sudah mengetahui hal itu lebih awal, namun tidak memberitahukan kepada dirinya? Raka kini menatap tajam ke arah Qiana.
“Mika melarang Qia untuk menyeritakan kepada Mas. Mereka itu saling mencintai, Mas.” ucap Qiana. Padahal Raka tak menanyakan apapun pada istrinya itu, tapi tatapan mata Raka seolah memberikannya banyak pertanyaan.
“Karena Mika tau, tanggapan Mas Raka pasti akan seperti ini,” ucap Mika membela diri.
Mika menghela napas. Gadis itu membalas tatapan mata sang kakak lelaki yang begitu tajam.
“Kalau begitu, bagaimana penilaian Mas Raka terhadap Tommy? Apa dia seorang pria playboy? Suka bergonta-ganti wanita? Apa dia seseorang yang kasar?”
“Ya ... Tommy memang bukan seorang pria yang kasar. Dia baik dan terlihat penyayang. Tommy juga tidak mata keranjang. Dia juga tak suka bergonta-ganti wanita. Bahkan, selama berkuliah dia tak pernah dekat, maupun tidur dengan gadis manapun,” jawab Raka.
“Berarti tidak ada yang salah kan dengan kepribadian Tommy. Dia baik dan setia,” ucap Mika.
“Dia memang buka pria brengsek gang suka mempermainkan para gadis. Dia belum pernah tidur dengan gadis manapun. Kecuali satu, gadis bernama Safira. Dan dia rela melakukan apa saja demi Safira. Apa kamu tidak sadar akan hal itu? Dia menghancurkan bisnis Papi karena cintanya pada Safira. Dia mencintai Safira sudah sejak lama. Dan sekarang, dengan tiba-tiba dia katakan kalau dia ingin menikahi kamu?
__ADS_1
“Bagaimana jika semua ini hanya siasat Tommy dan Safira untuk kembali menghancurkan perusahaan kita? Apa kamu tidak berpikir ke arah sana?! Bagaimana kalau menikahi kamu hanyalah bagian dari rencana balas dendamnya pada Mas? Bagaimana kalau semua ini sudah diatur oleh Safira, seperti waktu itu?”
“Mas ... IQ Mika memang tidak setinggi IQ Mas Raka. Mika masih bisa membedakan, mana yang tulus dan mana yang tidak. Papi juga diam-diam menyelidiki Tommy. Maka dari itu, Papi dan Mami sudah merestui hubungan kami.”
Lagi, Raka terkejut mendengar penuturan sang adik. Kedua orang tuanya bahkan sudah mengetahui dan merestui hubungan antara Tommy dan Mika. Kenapa hanya dia yang tidak diberi tau? Kenapa hanya dia yang tidak tau apa-apa?
Raka marah!
Tanpa sepatah kata, pria itu meninggalkan mika dan Qiana begitu saja. Kedua perempuan itu pun saling tatap melihat kepergian Raka yang tiba-tiba.
Mika dan Qiana mengejar pria itu. Tapi, Raka mengabaikannya. Inilah kali pertama Raka mengabaikan Qiana. Pria itu benar-benar marah.
“Bagaimana ini Mik? Sepertinya Mas Raka marah sekali,” ujar Qiana resah.
Mika pun menghubungi Tommy, sementara Qiana menghubungi sang ayah mertua. Menurut kedua gadis itu, Raka pasti akan datang ke salah satu diantara orang itu.
Dan benar saja apa yang dipikirkan oleh Mika dan Qiana. Raka kini sudah berhadapan dengan Tommy.
Pria itu bertindak sebagi kakak lelaki yang menyayangi adik perempuannya. Menanyakan keseriusan pria itu terhadap adiknya. Tommy dengan sangat yakin menyeritakan awal mula dia berkenalan secara pribadi dengan Mika. Tommy juga menyeritakan bagaimana akhirnya dia bisa jatuh cinta dengan karakter Mika yang berbeda dengan gadis lainnya. Mika yang selalu antusias. Mika yang selalu terlihat ceria. Serta mika yang suka sekali berdebat. Tommy menyukai semua yang ada di diri gadis itu.
“Kamu sangat kenal Safira kan? Sejak bertemu dengannya, aku pikir, gadis seperti Safira lah yang menjadi tipe idealku. Cantik, pintar dan bersahaja. Tapi, ternyata gadis seperti itu hanya bisa memanipulasi. Dan saat melihat Mika yang selalu bersikap apa adanya, aku merasa itu sangat imut,” ujar Tommy seraya tersipu. Raka bahkan terlihat heran dengan sikap Tommy yang tengah tersipu malu itu. Tak pernah dia melihat sahabat lamanya itu bersikap seperti itu.
“Apa kamu sudah melupakan Safira? Sudah tidak mencintainya?”
Pertanyaan yang diajukan oleh Raka membuat Tommy tersenyum pada pria itu.
“Mungkin, sudah sejak lama aku tak lagi mencintainya. Sepertinya aku hanya terobsesi untuk memilikinya. Saat dia menunjukkan sifat aslinya yang culas itu, aku bahkan jadi membencinya,” ujar Tommy.
__ADS_1
Raka hanya menatap pria itu dalam diam. Dia tak sepenuhnya percaya dengan apa yang diungkapkan oleh Tommy. Walau dia tau jika Tommy adalah pria yang baik. Tapi, kejadian masa lalu yang menimpanya membuat Raka masih menaruh curiga pada sahabat lamanya itu.
Raka pun pergi menemui sang ayahanda. Pria itu menanyakan perihal penyelidikan yang dilakukan sang ayah pada Tommy. Dan jawaban yang diterima oleh Raka membuat hatinya sedikit lega. Raka pun akhirnya berusaha untuk menerima hubungan adiknya dengan sahabatnya itu.