Mencintai Qiana

Mencintai Qiana
Part 33 - Keputusan Qiana


__ADS_3

“Karena perbuatan kalian, setiap hari selama satu bulan penuh, Mama terus menghina Mba. Memfitnah jika Mba lah yang telah menggoda Mas Raka. Ibu kandung kita menganggap Mba sebagai wanita murahan dan kamu diam saja! Apa itu yang dinamakan sayang? Hah?! Itu yang kamu maksud dengan sayang?!”


Sena semakin menunduk. Pria jenius itu bahkan meneteskan air mata. Pikirannya kembali melayang ke masa itu. Masa di mana ibu kandung mereka selalu menganggap Qiana sebagai gadis nakal. Bahkan sang ibu terlihat begitu benci pada Qiana.


“Kamu tidak tau betapa hancurnya hati Mba saat itu. Ibu yang selalu Mba idolakan, ibu yang selalu Mba banggakan, menampar wajah Mba. Bahkan kepercayaan itu hilang di matanya saat menatap Mba. Sakit hati Mba, Se. Sakit.”


“Maafin Sean, Mba...”


Hanya itu kalimat yang mampu Sean ucapkan. Dia tak tau lagi harus berbuat apa. Nasi sudah menjadi bubur. Membantu Raka adalah pilihannya saat itu. Sean siap kalau Qiana harus membencinya karena hal itu, asal kakaknya itu memberikan kata maaf untuknya.


Sementara itu, Ivander dan Qeiza yang sedari tadi terus diam, merasa sangat terkejut dengan permintaan maaf Sean. Itu artinya, apa yang diucapkan oleh Qiana adalah kebenaran. Jika Raka lah yang menjebak Qiana di kamar hotel itu.


“Jadi, apa yang dikatakan oleh Mba kamu itu benar, Se? Kejadian di hotel itu adalah rekayasa Raka?” tanya Qeiza dengan bibir bergetar.


Bagaimana wanita paruh baya itu tak gemetar, dirinya kembali teringat akan kejadian tujuh bulan lalu. Di mana untuk pertama kalinya dia melakukan kekerasan fisik pada anaknya. Dia menampar Qiana. Anak yang mendampingi dirinya di masa-masa sulit harus menerima ganjaran atas perbuatan yang tak dilakukannya.


Padahal selama ini Qiana tumbuh menjadi anak yang patuh. Qiana juga merupakan anak yang jujur. Tapi, kenapa saat itu matanya seolah tertutup?


Apa karena dia begitu terpesona akan sosok Raka yang jenius dan selalu bersikap baik?


Padahal Qiana adalah putri kandungnya. Dia yang membesarkannya di tengah banyak cobaan. Dia yang mendidik Qiana. Tapi mengapa tak bisa memercayai gadis itu di saat dia butuh sandaran dan tempat mengadu?


Qeiza menyesali diri.


Terlebih saat Sean membeberkan semua rencana Raka tujuh bulan lalu. Qeiza tak dapat menghentikan deras air mata yang keluar.

__ADS_1


Wanita paruh baya itu memeluk putri kandung dan berulang kali mengucapkan kata maaf pada Qiana.


Qiana pun menangis sesenggukan dalam pelukan sang ibunda.


“Qia mau bercerai, Ma. Qia tidak mau hidup dengan pria yang sudah menjebak Qia. Qia mau bercerai dari Mas Raka,” rengek Qiana.


“Mas Raka sangat mencintai Mba Qia, Mba. Tolong pertimbangkan itu. Tidak ada pria di dunia ini yang lebih mencintai Mba Qia dibandingkan dengan Mas Raka. Dia sudah mencintai Mba selama belasan tahun,” lirih Sean.


“Diam kamu, Sean! Kamu dan Mas mu itu sama saja! Kalian menyakiti Putri Mama, lalu berkedok melakukannya karena cinta!” ketus Qeiza.


“Mama mendukung keputusan Qia. Kalau kamu mau bercerai, bercerai saja, tidak apa-apa Nak.”


Ivander menutup matanya. Pria itu juga sama marahnya dengan Qeiza. Dia marah pada Raka, Sean dan Mika yang telah mengatur penjebakan kepada putrinya. Ketiga anaknya itu benar-benar membuatnya kecewa dan marah.


Tapi, dia tak mau jika Qiana harus berpisah dari Raka. Dia mencintai kedua anaknya itu. Ivander juga bisa melihat kasih sayang yang terjalin antara Qiana dan Raka. Rasanya tak tega jika sepasang suami istri yang saling menyayangi itu harus berpisah hanya karena emosi sesaat.


Qeiza mengantar putrinya ke kamar. Kamar yang sejak kecil sudah ditempati oleh Qiana. Beberapa asisten rumah tangga juga sudah membersihkan kamar itu.


“Kalau Mas Raka ke sini, katakan kalau Qia tidak mau bertemu, Ma,” ucap Qiana setelah dia duduk di atas ranjang miliknya.


Qeiza pun menghampiri sang anak dan duduk di sisinya lalu membelai rambut putri sulungnya itu.


“Iya Sayang. Mama tidak akan membiarkan Raka untuk menemui kamu. Kamu istirahat saja. Jangan banyak pikiran. oke?”


Qiana menganggukkan kepalanya. Sepasang ibu dan anak itupun berpelukan. Dengan setulus hati, Qeiza kembali meminta maaf pada sang putri. Wanita paruh baya itu benar-benar merasa menyesal.

__ADS_1


“Yasudah ... Kamu istirahat ya,” ucap Qeiza mengakhiri pelukan itu. Qeiza pun berlalu dari kamar Qiana. Wanita paruh baya itu mengayun langkah. Hatinya yang teramat sakit karena perasaan menyesal itu, membuat Qeiza ingin segera berada dalam pelukan sang suami. Dia ingin ditenangkan. Rasa bersalah itu membuatnya tak nyaman.


Namun, saat Qeiza baru saja masuk dalam pelukan sang suami, Raka tiba di rumah mewah itu. Qeiza langsung menatap tajam pada pria yang telah menjadi menantunya selama tujuh bulan itu. Pria itu terlihat panik dan sedang terburu-buru. Raka bahkan hampir saja melewati Qeiza dan Ivander tanpa menyapa kedua mertuanya. Tujuannya hanya satu. Kamar Qiana.


“Mau ke mana kamu?!” tanya Qeiza dengan suara menggelegar. Raka yang tadi terlihat tergopoh-gopoh, menghentikan langkahnya. Sejak awal, Raka sudah menduganya. Qiana pasti sudah menyeritakan semuanya.


“Raka, ingin bertemu Qia, Ma,” lirih pria itu.


“Qia tidak mau bertemu kamu. Saya juga tidak izinkan kamu untuk bertemu dengan Qiana!” ketus Qeiza.


“Ma ... Tolong beri Raka izin untuk bertemu Qia,” ucap pria itu mengiba. Namun, tentu saja Qeiza tak memberikan izin. Dia sudah berjanji pada Qiana untuk tak membiarkan Raka menemui anak perempuannya itu.


“Kamu pikir, kalau saya membiarkan kamu menemui Qia, Qia bersedia bertemu kamu. Kamu tidak mendengar apa yang tadi saya katakan, Qia tidak mau bertemu kamu!”


“Setidaknya biarkan Raka menunggu Qia di depan kamarnya, Ma.”


Qeiza tersenyum sinis. Tatapan tajamnya terus dia arahkan pada Raka.


“Asal kamu tau ya, Raka. Putri saya— Qiana Larasati, akan segera mengajukan permohonan perceraian!”


Lutut Raka seketika terasa lemas. Ucapan Qeiza membuatnya nyawanya seolah tercabut. Tubuh pria itu mendadak dingin. Dadanya terasa sesak. Seolah oksigen dalam darahnya terhenti.


Qiana akan segera mengajukan gugatan perceraian. Segitu kecewa kah gadis itu? Tidak kah dia mengingat enam bulan kebersamaan mereka? Bukankah selama enam bulan ini, Qiana merasa bahagia menjadi istrinya?


“Kamu dengar kan Raka? Qiana akan segera mendaftarkan gugatan perceraian. Jadi, saya rasa, kamu tidak perlu lagi menjelaskan apapun pada anak saya. Kalian akan segera berpisah. Status kalian akan segera kembali seperti semula.”

__ADS_1


Raka luruh. Tubuhnya tersungkur.


Tanpa melihat reaksi Raka, Qeiza meninggalkan pria itu begitu saja. Hanya ada Ivander dan Sean yang menatap Raka dengan perasaan iba.


__ADS_2