Mencintai Qiana

Mencintai Qiana
Part 7 - Pasrah


__ADS_3

“Raka!”


Suara teriakan Anggara menggelegar begitu pria itu masuk ke dalam villa. Ayah kandung Raka itu sudah begitu kesal pada sang putra sejak masih dalam perjalanan menuju Lembang. Sejak pria itu mendapatkan fakta, jika Raka adalah dalang di balik skandal yang terjadi di antara kedua sepupu itu.


Raka yang mendengar jika ada suara teriakan memanggil dirinya, gegas melangkahkan kaki menghampiri asal suara.


“Mana Qia?!” tanya Anggara begitu melihat sosok Raka menghampirinya.


“Ada di kamar. Mungkin sudah tidur,” lirih Raka.


“Papi ingin bicara empat mata dengan kamu!” tegas Anggara.


Raka menganggukkan kepalanya. Kedua pria itu kembali melangkahkan kaki menuju taman belakang, meninggalkan anggota keluarga Bratajaya lainnya yang memutuskan untuk berkumpul di ruang tamu.


“Semua ini skenario kamu?”


Raka hanya menghela napas berat. Dia tau, jika sang ayah lambat laun pasti mengetahui perbuatannya itu. Tapi, Raka tak menyangka jika ayah kandungnya itu mengetahuinya secepat ini.


“Jawab?!” bentak Anggara


“Raka harus menjawab apa, Pi? Bukannya Papi ingin berbicara empat mata dengan Raka, karena Papi sudah mengetahui hal itu?”


Anggara mengusap kasar wajahnya.


“Kok kamu tega berbuat seperti itu pada Qia?”


“Berbuat apa Pi? Raka tidak berbuat apapun. Tidak mungkin Raka melakukan hal tak bermoral itu pada gadis yang Raka cinta. Terlebih gadis itu adalah Qiana yang sudah Raka kenal, bahkan Raka jaga sejak dia masih anak-anak,” jawab Raka.


“Lagian, Raka berani melakukan hal ini karena dukungan Papi.”


Anggara terkejut. Pria itu tak merasa pernah memberikan dukungan pada tindakan amoral anak sulungnya itu.


“Kapan Papi memberikan dukungan atas tindakan konyolmu itu?!”

__ADS_1


“Bukannya Papi yang memberikan semangat pada Raka untuk mendapatkan Qiana?”


“Astagaa Rakaa...! Papi memang memberikan dukungan penuh untuk kamu mendapatkan Qia. Tapi tidak dengan cara seperti ini. Bagaimana kalau Qia tau? Paman Ivan tau? lebih-lebih Tante Qei,” ucap Anggara resah. Pria itu berulangkali menyugar rambutnya sembari berjalan mondar-mandir di depan Raka.


“Tante Qei menyalahkan Qia atas skandal kalian. Kasihan Qia. Dia jadi korban keegoisan kamu! Tindakan kamu ini tidak mencerminkan kalau kamu mencintai dia!”


Raka menunduk kecewa. “Raka sangat mencintai Qi, Pi. Saat mendengar dia akan dilamar oleh pria lain, Raka hampir gila. Apalagi pria itu bukan pria yang baik. Dia tak pantas mendapatkan Qiana!”


“Kamu juga tidak pantas, Raka. Tindakan kamu ini, juga mencerminkan kalau kamu bukan pria yang baik! Terlebih untuk gadis sebaik Qiana!”


Raka menatap lirih pada sang ayahanda.


“Iya Pi. Raka memang bukan pria yang baik untuk Qia. Qia pun sudah menolak Raka,” ucap pria itu lemah.


“Kalau begitu, selesaikan apa yang kamu mulai. Katakan pada Paman dan Tante kamu. Katakan kalau tidak terjadi apapun di kamar hotel, saat itu!” tegas Anggara.


Raka mengangguk lemah. Setelah Qiana secara terang-terangan menolak dirinya, kini sang ayahanda pun menentang rencananya. Tak ada lagi yang tersisa selain kepasrahan. Pasrah akan nasib percintaannya yang bertepuk sebelah tangan. Pasrah karena ternyata dirinya tak berjodoh dengan gadis yang sejak dulu dipujanya.


Bersama Anggara, dengan lemas Raka melangkahkan kaki menuju ruang tamu villa itu. Pria itu sudah bersiap untuk melepaskan Qiana. Walau kakinya terasa lemas dan hatinya tercabik-cabik, Raka berusaha menguatkan dirinya. Mungkin ini yang terbaik untuk Qiana. Mungkin dengan melepaskan Qiana, gadis itu bisa lebih bahagia.


“Qia akan menikah dengan Mas Raka di hari ulang tahun Qia.”


Seketika air mata Raka tumpah ruah. Pria itu tak dapat menahan rasa bahagia mendengar Qiana bersedia menikah dengannya. Padahal, dua jam lalu gadis itu menolaknya mentah-mentah.


Apa yang membuat Qiana tiba-tiba berubah pikiran?


Tapi, Raka tak mau ambil pusing tentang apa yang melatarbelakangi gadis itu bisa berubah pikiran. Dirinya sudah begitu bahagia mendengar Qiana menerima lamarannya.


“Ulang tahun kamu? Berarti satu bulan lagi?” tanya Qeiza.


Dahi Qiana berkerut. Kenapa ibunya bertanya seperti itu? Bukannya mereka yang sudah mengatur pernikahan antara dirinya dan Raka? Kenapa ibunya itu seolah tak tau rencana pernikahan itu? Apa itu hanya perjanjian antara ayah sambungnya dan Raka?


Banyak sekali pertanyaan di benak Qiana karena pertanyaan yang dilontarkan oleh Qeiza.

__ADS_1


“Apa itu tidak terlalu cepat? Mengatur pernikahan tidak semudah itu. Ada surat-surat yang harus kalian urus. Ada banyak hal yang harus kalian pesan,” ucap Ivander.


Dahi Qiana semakin berkerut. Jadi, ayah sambungnya itupun tak tahu menahu perihal pernikahan itu?


Tatapan Qiana kini beralih pada Raka. Apa pria itu yang mengatur semuanya?


“Tanggal pernikahan itu, Mas yang atur. Agar kita berdua gampang mengingatnya,” jelas Raka.


Anggara menatap tajam Raka yang berdiri di sampingnya. “Ingat percakapan kita di belakang tadi,” bisik Anggara.


Raka tentu saja tak mendengarkan nasihat ayahnya. Qiana sudah setuju untuk menikah dengannya. Jadi, untuk apa dia membatalkan rencana yang sudah disusunnya beberapa minggu belakangan?


Raka tak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Sebentar lagi Qiana akan jadi miliknya.


“Tapi itu apa tidak terlalu cepat? Banyak hal yang harus diurus loh,” tanya Ivander.


“Paman tenang saja. Semuanya sudah Raka atur sebelum Raka dan Qia keluar dari sel tahanan. Gedung, catering dan wedding organizer semua sudah siap. Raka jamin bulan depan semuanya akan berjalan lancar,” ucap pria itu dengan lantang.


Ivander hanya bisa menganggukkan kepalanya. Begitupun dengan Qeiza. Kedua orang tua Qiana itu hanya bisa memberikan restunya dan berharap kedua anak mereka bahagia.


Sementara Anggara, pria paruh baya itu menatap kecewa pada sang anak sulung.


“Ya ... Sudah seharusnya kalian bertanggung jawab atas perbuatan kalian sendiri,” ucap Qeiza. Qiana membuang wajahnya. Gadis itu tak mau menatap sang ibunda. Hati kecilnya masih tak terima dengan pernyataan itu. Karena Qiana yakin betul, jika tak terjadi apapun antara dirinya dan juga Raka.


“Dan kalian juga perlu bersiap akan gunjingan orang-orang atas pernikahan itu. Walau bagaimanapun, yang semua orang tahu, kalian berdua adalah bersaudara. Mama harap kalian berdua kuat menghadapinya.”


“Kalian harus saling menguatkan satu sama lain,” timpal Ivander.


Qiana masih membuang wajahnya. Sementara Raka menganggukkan kepalanya dengan mantap.


Raka sudah siap menghadapi apapun cobaan yang terbentang di hadapannya. Asal Qiana berada di sisinya, cobaan seberat apapun pasti akan dengan mudah dia lewati. Dia akan membawa Qiana dalam pernikahan yang bahagia. Itulah janji Raka pada dirinya sendiri.


“Apa kita perlu mengadakan acara pertunangan lebih dulu?” tanya Ivona yang sedari tadi diam.

__ADS_1


“Tidak perlu lah Von. Itu akan menyebabkan orang-orang lebih cepat tau dengan hubungan terlarang ini!”


__ADS_2