Mencintai Qiana

Mencintai Qiana
Part 68 - Pertemuan tak terduga


__ADS_3

“Dan mulai sekarang, Raka, keluarganya dan perusahaannya, berada dalam pengawasanku. Tidak akan aku biarkan siapapun menghancurkan sahabatku. Aku akan menghancurkan siapa saja yang menyentuh Raka dan keluarganya. Cam kan itu!”


Ucapan Tommy di pertemuan terakhir mereka, membuat Safira tak tau harus bertindak apa. Haruskah dia mengabaikannya? Bukankah pria itu akan kembali ke London? Harusnya tak jadi soal jika dia meneruskan rencananya untuk bisa mendapatkan Raka.


Justru ini adalah kesempatan besar baginya untuk bisa memiliki Raka selamanya. Dia tak perlu lagi kembali pada Tommy. Jadi, dia punya waktu seumur hidup untuk bisa bersama Raka.


Tapi, Safira masih merasa ragu. Benarkah peringatan yang diucapkan oleh Tommy? Benarkah pria itu akan terus mengawasi Raka dan keluarganya?


Banyak sekali pertanyaan di benak Safira.


“Tommy sejak dulu membenci Raka. Bagaimana mungkin dalam sekejap dia menganggap Raka sebagai sahabatnya? Itu pasti hanya gertakan dia saja agar aku tak bisa memiliki Raka.”


Begitulah pikir Safira.


Dan setelah satu bulan Tommy kembali ke London, Safira pun kembali pada rencana awalnya. Gadis itu kembali menghubungi rekan yang akan membantunya untuk menghancurkan perusahaan Raka.


“Bayarannya tidak sesuai dengan kesepakatan awal kita. Kalau seperti ini, jika terjadi apa-apa dengan perusahaan saya, saya bisa rugi besar!”


Safira menghela napas kasar. Kondisi keuangannya sangat berbeda sekarang. Beberapa minggu lalu, dia mudah saja mengeluarkan uang untuk membayar orang suruhan. Karena Tommy memberikan kartu kredit tanpa limit yang dia bisa pergunakan sesuka hati. Tapi kini, dia tidak bisa melakukannya. Uang yang ada di rekening miliknya terbatas.


“Baiklah, beri saya waktu beberapa hari, saya akan transfer kekurangannya. Tapi, tolong lakukan pekerjaan itu besok. Saya sudah menyia-nyiakan waktu selama satu bulan!” paksa Safira. Tapi, pria itu menolak permintaan Safira.


“Saya akan melakukan pekerjaan itu, setelah saya menerima pembayarannya secara penuh,” ucapnya.


“Anda tidak memercayai saya? Saya pasti melunasinya. Tapi, saya minta waktu beberapa hari saja untuk mencari uang sisanya.”


“Bagaimana saya bisa percaya dengan Bu Safira? ini baru pelunasan pembayaran pertama. Dan anda sudah menjanjikan saya pembayaran sebanyak tiga kali. Bagaimana saya yakin anda bisa membayar di term berikutnya, jika term pertama saja anda tidak mampu melunasinya?”


Safira menatap kesal pada pria bernama David. Tampaknya dia membutuhkan bantuan dari sang ayah untuk membayar orang suruhannya itu.


Safira pun menghubungi ayahnya, meminta sejumlah dana pada pria itu. Namun, bukan uang yang didapatkannya dari sang ayah. Safira malah mendapatkan banyak sekali ocehan dari ayahnya itu.

__ADS_1


“Bekerjalah di perusahaan. Kamu sudah cukup banyak bermain dan membuang-buang waktu. Harusnya kamu kembali mendekati Tommy.”


Begitulah pesan sang ayah. Ayahnya itu bahkan memintanya untuk kembali ke pelukan Tommy.


“Jika nanti kamu menikah dengan Tommy, bayangkan apa yang terjadi pada perusahaan keluarga kita! Perusahaan kita bisa mendapatkan proyek dengan mudah. Bahkan, perusahaan kita akan menjadi perusahaan nomor satu di Indonesia!”


Safira memutuskan panggilan telepon itu begitu saja. Nasihat sang ayah sama sekali tidak dia sukai. Dia tak mau kembali bersama Tommy. Lagian, bukankah Tommy sendiri yang mengatakan jika pria itu tak lagi menginginkannya?


“Dari mana lagi aku bisa mendapatkan uang sebanyak itu?” ucap Safira pada dirinya sendiri. Gadis itu terus berpikir sepanjang malam. Dia kira itu akan berjalan dengan mudah. Andai saja ayahnya mau membantunya, itu pasti akan menjadi sangat mudah. Tapi, ayahnya itu malah menentang inginnya.


Safira tak dapat terlelap malam itu. Hingga akhirnya gadis itu mendapatkan sebuah jalan keluar.


Safira menjual kavling apartemen mewah miliknya. Bahkan mobil mewahnya. Dengan alasan merasa kesepian, gadis itu pun kembali tinggal di rumah orang tuanya. Dan Safira pun dengan mudahnya menjalankan rencananya untuk memiliki Raka.


Peringatan yang diberikan oleh Tommy tak dihiraukan olehnya. Bagi Safira, Tommy hanya sekadar mengancam karena pria itu tak ingin dia memiliki Raka.


...----------------...


“Kenapa kamu membawa bayi bekerja?” tanya Tommy pada Raka.


Raka yang masih tak percaya jika Tommy mengunjunginya, tak menjawab pertanyaan pria itu. Raka bahkan terlupa memersilakan Tommy untuk duduk. Jika bukan Qiana yang meminta pria keturunan Inggris itu untuk duduk, Tommy mungkin masih berdiri sampai sekarang.


“Aku tau, kamu pasti membenciku. Tapi, asal kamu tau, Ka. Aku lebih dulu membencimu,” ucap Tommy sembari tertawa. Raka masih melihat mantan sahabatnya itu dengan tatapan datar. Pria itu masih belum tau harus bersikap bagaimana pada orang yang diam-diam membencinya, bahkan hingga membuat perusahaan ayahnya lebur begitu saja.


“Aku tidak akan meminta maaf atas apa yang terjadi dengan perusahaan milik orang tuamu. Kamu tau kan, bisnis itu kejam. Dan bangkrutnya perusahaan milik orang tuamu itu adalah karena keteledoran kamu sendiri.”


Qiana dan Mika menatap tajam ke arah Tommy saat mendengar ucapan pria itu. Tommy hanya membalas tatapan tajam kedua gadis itu dengan tersenyum sinis.


“Benarkan kalau itu murni kesalahan kamu karena tidak teliti dan terlalu memercayai orang lain?”


Raka terus diam. Dia masih belum tau bagaimana menanggapi ucapan demi ucapan yang dilontarkan oleh Tommy. Raka bahkan tidak tau ke mana arah pembicaraan pria itu?

__ADS_1


“Aku harap, untuk ke depannya, kamu lebih berhati-hati terhadap siapapun. Walaupun kamu sangat kenal dekat dengannya. Tapi, kamu jangan khawatir. Aku tidak lagi ada niat untuk menghancurkan perusahaan milik kamu, Ka,” ucap Tommy.


“Dan suami saya tidak akan mungkin mengulangi kesalahan yang sama. Saya pun tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Jadi, kalau anda mau mencoba kembali untuk menghancurkan bisnis suami saya. Silakan saja. Saya pastikan itu tidak akan berhasil,” tegas Qiana.


Pandangan Tommy kini beralih pada Qiana. Ah, Qiana. Gadis itu sempat mencuri perhatian Tommy, kala itu. Tommy pun tersenyum lembut pada istri sahabatnya.


“Setelah menikah dan mempunyai anak, kamu terlihat lebih cantik. Andai aku mengenal kamu lebih dulu dibandingkan Safira,” ucap Tommy dengan senyum manisnya.


Mata Raka seketika membulat. Pria yang sedari tadi diam, kini menegakkan tubuhnya dan mencengkeram erat kerah baju yang dikenakan oleh Tommy.


“Jangan libatkan istriku dalam dendammu, Tom!”


Tommy tertawa terbahak-bahak. Dendam. Kata itu telah hilang dari hati Tommy. Dia tak lagi menyimpan dendam pada pria yang kini mencengkeram erat kerah bajunya.


“Bersyukurlah karena kamu tergila-gila pada gadis yang benar. Tidak seperti aku. Aku telah jatuh cinta pada gadis yang salah,” lirih Tommy.


Ucapan Tommy tak serta merta membuat Raka melepaskan cengkeramannya.


“Tak ada lagi dendam dalam diriku, Ka. Aku tak lagi dendam padamu. Tapi mungkin, kamu lah yang dendam padaku sekarang. Mungkin aku bukan lagi sahabat bagi kamu, Ka. Tapi, aku harap kita masih bisa berteman dan berbisnis bersama,” ucap Tommy.


Raka melepaskan cengkeramannya. Pria itu kembali duduk di tempatnya.


“Aku tidak mau merusak hatiku dengan memelihara dendam. Tapi, aku tidak bisa lagi percaya dengan orang yang pernah berpura-pura menjadi sahabatku,” tegas Raka. Tommy hanya tersenyum. Pria itu sudah mengatakan apa yang harus dia katakan.


Tommy pun menegakkan badannya dan berpamitan pada Raka.


“Kamu tenang saja Ka. Sama seperti istrimu. Aku tidak akan membiarkan satu orang pun menghancurkan bisnismu kembali,” ucap Tommy.


“Istri cantikmu itu benar-benar telah memenangkan hatiku dan meluruhkan rasa dendam itu.”


Raka hendak menyerang Tommy kembali, tapi Qiana menahannya. Tommy pun meninggalkan ruko kecil itu sembari tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


“Apa maksud dia terus-terusan mengatakan kalau kamu ini cantik?!” ketus Raka.


__ADS_2