
“Aku tau, kalau kamu masih memiliki ayah tiri yang kaya raya. Tapi, apa kamu tidak malu jika suamimu bahkan tidak bisa memberikan nafkah?”
“Saya rasa itu bukan urusan Mba,” tegas Qiana.
“Raka masih punya satu kesempatan. Dan aku harap kamu jangan egois, Qi. Serahkan suami kamu selama satu bulan. Setelah itu, aku janji kehidupan kalian akan kembali baik-baik saja. Aku bahkan bisa menghandle Tommy agar tak lagi ingat akan dendamnya pada Raka.”
“Selama menikah dengan Mas Raka, tidak pernah kami merasa kehidupan kami tidak baik. Bahkan, hari ini pun kehidupan kami masih baik-baik saja. Tidak seperti kehidupan Mba yang pastinya tidak bahagia,” sindir Qiana.
Jemari Safira mengepal mendengar ucapan Qiana.
“Apa kamu tidak kasihan dengan para karyawan yang tidak bisa lagi mencari nafkah untuk keluarganya?! Kamu jangan hanya memikirkan dirimu sendiri Qi. Lihatlah para karyawan yang selama ini bekerja dengan loyal untuk perusahaan suami kamu! Mereka tidak lagi mempunyai pekerjaan karena keegoisan kamu!”
Senyuman yang sedari tadi diperlihatkan oleh Qiana mendadak menghilang. Gadis itu kini menatap Safira dengan tajam. Safira pikir, dia telah berhasil memprovokasi Qiana.
“Jangan playing victim, Mba. Mereka kehilangan pekerjaan bukan karena kegoisanku. Itu semua karena keegoisan kamu. Keegoisan kamu yang ingin memiliki suami orang! Dasar pelakor!” teriak Qiana.
Safira menatap Qiana dengan tak kalah tajam.
“Jangan meneriakiku dengan tuduhan pelakor. Bukankah ibumu dulu juga seorang pelakor.”
Byur!
Seketika wajah Safira basah kuyup karena Qiana menyiram gadis itu dengan segelas air berwarna merah yang belum sempat dicicipi oleh Safira.
Qiana pun mengusir gadis itu dari kediamannya.
Sebenarnya Qiana ingin merahasiakan kedatangan Safira pada Raka. Tapi, ada ucapan gadis itu yang mengganggu pikiran Qiana.
Jika Safira melakukan rekayasa kerjasama itu untuk memikat Raka. Dendam apa yang dimiliki Tommy pada suaminya itu?
Bukankah menurut sang suami, jika mereka bertiga adalah sahabat baik?
__ADS_1
Qiana pun menyeritakan semua ucapan Safira pada sang suami. Dahi Raka berkerut mendengarnya.
Benarkah Tommy menyimpan dendam padanya? Sejak kapan Tommy membenci dirinya?
Ah, Raka hampir terlupa. Kerjasama dengan Techno tidak hanya dia lakukan bersama Safira. Ada Tommy di sana. Tapi, nampaknya Tommy juga tak banyak andil dalam proyek itu.
Raka gegas menghubungi Tommy. Dia benar-benar penasaran mengenai dendam apa yang dimiliki pria itu padanya. Kenapa Tommy tega berbuat seperti itu padanya. Bukankah selama ini hubungan mereka sangat baik?
Jika Safira melakukan hal ini karena mencintai dirinya, lantas apa yang menjadi latar belakang Tommy melakukan semua ini?
“Karena Safira tidak pernah menoleh ke arahku walau hanya beberapa detik.”
Itulah jawaban yang diterima Raka. Dahi Raka berkerut mendengar ucapan Tommy. Jadi, selama ini Tommy mencintai Safira. Sementara Safira mencintai dirinya?
“Aku sudah menikah, Tom. Kenapa kamu tidak berusaha mendekati Safira setelahnya? Kenapa malah memilih balas dendam kepadaku? Aku bahkan tidak pernah tau jika Safira menaruh rasa padaku,” ucap Raka.
Tommy tertawa terbahak-bahak di ujung sana. Justru hal itulah yang membuat pria itu tambah membenci Raka. Raka tak perlu melakukan apapun dan mendapatkan cinta dari Safira. Berbeda sekali dengan dirinya.
“Kamu aneh, Tom,” lirih Raka.
Tommy kembali tertawa terbahak-bahak.
“Di mana letak keanehannya Ka? Apa karena aku membantu Fira menghancurkan perusahaan milik keluargamu?” tanya Tommy sembari terkekeh.
“Kenapa kamu mendukung Safira untuk menghancurkan rumah tanggaku? Kamu katakan kalau akhirnya kamu berhasil memiliki Safira. Tapi, kenapa kamu biarkan dia ingin memiliki ragaku selama satu bulan?”
“Memiliki ragamu? Apa maksudnya?!” pekik Tommy.
“Safira tidak akan menghancurkan perusahaanku jika dia bisa memiliki tubuhku selama satu bulan,” jelas Raka.
Tommy terperangah. Pria itu mengepalkan tangannya. Safira ternyata berusaha untuk membohonginya. Padahal dia sudah memberikan segalanya pada gadis itu. Safira telah berani bermain api dengannya.
__ADS_1
Tommy langsung memesan tiket perjalanan ke Indonesia saat itu juga. Dia akan menemui Safira dan menagih janji gadis itu. Membalas dendam pada Raka, lalu kembali padanya dan tinggal bersama dirinya di London.
...----------------...
Sementara itu, di hari terakhir batas waktu yang diberikan oleh Safira, gadis itu masih belum bisa untuk menghubungi Raka. Karena Raka memang menutup segala akses untuk bisa bertemu dengan Safira.
Bahkan, saat gadis itu ke kediaman Raka dan Qiana, pujaan hatinya itu sudah tak lagi berada di sana. Raka sudah memboyong anak dan istrinya untuk tinggal di kediaman sang mertua.
Tapi, Safira tak kehilangan akal. Gadis itu mendatangi kediaman orang tua Qiana. Dia berteriak-teriak memanggil nama Raka. Hingga terpaksa Raka keluar menghampiri mantan sahabatnya itu.
“Bagaimana Ka? Apa kamu tidak malu menjadi pengangguran dan menumpang hidup dengan mertua kamu? Aku bisa membantu semua masalah kamu, Ka. Hanya dengan tinggal selama satu bulan denganku, kamu bisa kembali mendapatkan kejayaan itu. Dan aku tidak akan lagi mengganggumu setelah itu,” ucap Safira lantang.
Raka tersenyum sinis.
“Bahkan, jika aku harus kehilangan nyawaku, aku tidak akan menyerahkan diriku ini kepada wanita sakit jiwa seperti kamu, Fir. Sekarang, pergi dari sini dan jangan pernah muncul lagi di hadapanku. Karena aku takut tidak bisa menahan diri untuk tidak melenyapkan kamu dari bumi ini.”
Raka meninggalkan Safira begitu saja. Tak peduli gadis itu terus berteriak memanggil namanya sembari mengumpat. Safira masih tidak mau beranjak dari sana sebelum akhirnya beberapa aparat kepolisian mengamankan gadis itu atas laporan Raka.
“Coba kalau Mas Raka dulu menikah dengan Mba Fira. Pasti kejadian seperti ini tidak akan terjadi. Harta Mas tidak akan habis. Mas tidak akan bangkrut seperti ini. Sepertinya, Mas salah pilih istri,” cebik Qiana.
“Apa kamu menyesal menikah dengan Mas, Dek?” tanya Raka.
Qiana tentu saja menggelengkan kepalanya. Dia justru merasa sangat bersyukur karena dinikahi oleh pria yang sangat mencintai dirinya seperti Raka.
“Itu artinya Mas tidak salah pilih istri. Coba kamu pikir, perempuan mana yang mau hidup bersama suami yang tidak punya penghasilan. Bahkan Mas tidak punya uang sepeser pun. Cuma kamu perempuan normal yang mau sama Mas. Kalau perempuan di luar sana, tidak perlu dihitung. Mas tidak mungkin mau menikahi wanita sakit jiwa seperti Safira,” ucap Raka.
Qiana terkekeh mendengar sang suami memanggil Safira dengan sebutan wanita sakit jiwa.
“Tapi, dulu Mas lebih percaya dengan wanita sakit jiwa itu dibandingkan dengan Qia,” cebik Qiana sekali lagi.
Raka menghela napas berat.
__ADS_1
“Ya, justru karena itu makanya Mas bangkrut. Karena Mas lebih percaya sama orang gila dibandingkan istri Mas sendiri. Mungkin, ini teguran buat Mas.”