
Tak pernah ku sangka jika Mas Raka akan membawaku berbulan madu ke Turkiye. Walau tak tepat rasanya jika dikatakan sebagai perjalanan bulan madu. Karena nyatanya kami hanya seperti berlibur bersama. Mas Raka memang selalu menggenggam jemari ku di setiap kesempatan. Tapi, hal itu memang sudah biasa kami lakukan sejak kecil.
Tujuh hari Mas Raka membawaku berkeliling di negara dua benua itu. Ke manapun tempat yang ingin aku kunjungi di negara itu, Mas Raka pasti mengabulkannya.
Ini adalah liburan paling membahagiakan buatku. Mengeksplorasi negeri dua benua selama tujuh hari. Walau terasa sangat lelah, tapi aku merasa sangat bahagia. Mas Raka bahkan memesan layanan perawatan tubuh untuk kami. Di massage dari ujung kepala hingga kaki, membuat tubuhku yang lelah kembali bugar dan harum. Benar-benar liburan yang sangat menyenangkan.
Seharian aku dan mas Raka melakukan perawatan tubuh. Setelah menikmati makan malam kami di restoran hotel, kami pun kembali ke kamar tempat kami menginap.
Aku pikir malam ini akan seperti malam-malam sebelumnya. Kami tiba di kamar, lalu bersiap tidur. Maka dari itu, begitu tiba di kamar, aku langsung masuk ke kamar dan menyikat gigi. Aku pun mengganti pakaianku dengan piyama yang biasa aku kenakan ketika hendak tidur.
Mas Raka meminta aku untuk duduk di sampingnya saat aku baru saja menaiki ranjang. Sepertinya ada yang hendak dia bicarakan. Mungkin, Mas Raka akan membicarakan perihal jadwal kepulangan kami ke Indonesia. Karena sejak berangkat hingga malam ini, Mas Raka tak pernah memberitahukan kepada ku kapan jadwal kepulangan kami ke Indonesia.
Tapi, apa yang diucapkan mas Raka selanjutnya tak sesuai dugaan ku. Bahkan, apa yang pria itu ucapkan di luar bayanganku. Mas Raka ingin kami melakukannya malam ini.
Entah kenapa tubuhku mendadak kaku mendengar permintaan Raka. Padahal aku sudah mempersiapkan diri untuk datangnya hari ini. Hari di mana Mas Raka mengunboxing tubuhku.
Tapi, saat menjalani liburan selama tujuh hari ini, aku pikir Mas Raka tidak akan mungkin meminta hal itu. Mas Raka bahkan tiba-tiba mengecup bibirku.
“Qia mau kan?” tanyanya.
Sebenarnya aku tak tau harus menjawab apa? Liburan yang kami jalani selama tujuh hari ini, membuatku melupakan jika kami sebenarnya adalah pasangan suami istri. Selama tujuh hari ini, aku bahkan berpikir jika aku tengah berlibur dengan kakak sepupu kebanggaanku.
Tapi, aku sudah menjadi seorang istri. Dan Mama sudah berpesan agar aku menjadi istri yang patuh pada suami.
Dengan rasa berdebar, aku menganggukkan kepalaku. Mas Raka pun mulai mendekatkan wajahnya ke wajahku. Refleks aku menutup mata karena sepertinya pria itu akan kembali meraup bibirku.
Tapi, apa yang dilakukan mas Raka membuat aku terheran sampai harus mengintip apa yang dilakukannya. Pria itu membelai bibirku dengan lidahnya. Dan setiap lidahnya yang basah menyapu bibirku, entah mengapa mata ini mengerjap-ngerjap.
Tak lama pria itu melakukannya, karena beberapa detik kemudian, Mas Raka mulai melahap bibirku dengan lembut. Walau tanpa rasa, aku mulai membalasnya dengan kecupan-kecupan kecil. Tapi, aku akui, ciuman Mas Raka membuatku terbuai hingga aku tak sadar jika pria itu sudah duduk tepat di hadapanku. Bahkan tubuh kami menempel erat.
Aku baru tersadar, saat pria itu melepaskan pagutannya dan berpindah ke dadaku. Bagai anak kecil yang tengah menyantap es krim, Mas Raka terlihat sangat menikmati kedua bukitku.
__ADS_1
Entah mengapa hal itu membuat ku malu. Wajahku terasa panas. Aku bahkan memalingkan wajah.
Tapi, aku kembali menatapnya saat aku merasakan jika ada benda keras yang mengganjal di bagian bawah sana. Benda keras itu bahkan bergerak dan menekan area sensitifku.
Saat aku subuh memperhatikan tubuh bawah kami yang saling beradu, dia mulai menjepit dan menarik-narik puncak dadaku.
Ada rasa aneh menggelanyar dalam tubuhku. Aku tak tahan untuk tak mendesis. Panggulku bahkan ikut menggeliat mengimbangi gerakan maju-mundur panggul pria itu.
Aku terus mendesis, hingga tanpa sadar, pria itu sudah menarik paksa celanaku, hingga kini aku tak berbusana sehelai pun.
Aku malu sekali saat Mas Raka melihat secara langsung area sensitifku. Tapi, aku tak sempat menutup kakiku yang sedari tadi sudah terbuka lebar karena Mas Raka langsung membenamkan wajahnya di bawah sana.
Lagi-lagi pria itu kembali beraksi dengan lidahnya. Tubuhku sampai meremang karena sapuan lidahnya di bawah sana. Terlebih saat pria itu terlihat seperti tengah mengulum sesuatu di bawah sana.
Aku sampai meraung-raung dibuatnya. Entah apa saja yang diperbuat pria itu di bawah sana? Yang aku tau, ada sesuatu yang ingin menerobos keluar dari tubuhku. Dan di detik berikutnya, kakiku mendadak lemas.
Mas Raka mulai membuka pakaiannya. Aku dapat menyaksikan miliknya yang menjulang. Tubuhku seketika memanas menyaksikannya.
“Iya, Mas usahakan pelan-pelan,” ucapnya saat aku merengek karena kesakitan. Pria itu menepati janjinya. Dia bergerak perlahan hingga kembali membuatku mendesis. Tapi, beberapa saat kemudian dia menyudahi permainan itu.
“Maaf ya, Mas tidak bisa lama. Mungkin karena baru pertama,” lirihnya
“Kok rasanya hanya perih, Mas? Kata orang-orang rasanya enak?”
“Siapa yang mengatakannya?” tanyanya lagi. Sepertinya dia mengira aku sering membicarakan perihal itu dengan mantan kekasihku.
“Karyawan di kantor, Mas. Kan banyak yang sudah menikah.”
“Kalian membicarakan hal seperti itu di kantor?”
Aku pun mengaku jika aku hanya mencuri dengar saat mereka berbicara perihal itu.
__ADS_1
Tak lama, dia turun dari atas tubuhku, lalu aku pindahkan.
“Pindah ke sini ya, di situ basah,” ucapnya.
Kembali dia menaiki tubuhku dan membenamkan wajahnya di ceruk dadaku.
“Mas mau lagi ya,” lirihnya.
Aku yang masih merasa nyeri karena perbuatannya tadi, menolaknya untuk melakukan hal itu lagi.
“Kali ini Mas janji akan enak,” ucapnya dengan mantap.
Terpaksa aku menurutinya. Aku harap ucapannya benar. Aku pun berpesan agar dia melakukannya dengan perlahan.
Mas Raka menepati janjinya, dia bermanuver dengan penuh kelembutan di bawah sana sambil membenamkan wajahnya di ceruk dadaku.
Aku pun mulai mendesis. Bahkan lambat laun mulai mengeram. Panggul juga ikut menyambutnya di bawah sana.
Hujaman demi hujaman yang dilancarkan Mas Raka di bawah sana, membuatku meraung-raung dan bergerak semakin liar. Hingga akhirnya aku berteriak melampiaskan rasa nikmat itu.
“Kali ini enak kan?” bisiknya.
Aku hanya menjawabnya dengan tertawa kecil. Jika rasanya senikmat ini, aku pun mau melakukannya lagi.
Kami masih berpelukan setelah pertempuran panas itu.
Aku pikir, pertempuran itu menjadi penutup acara bulan madu kami. Semua tempat yang ingin aku kunjungi di negara itu, telah kami kunjungi. Kami pun sudah melakukan hal yang biasanya dilakukan oleh pasangan suami istri yang tengah berbulan madu.
Tadinya aku pikir, besok kami akan kembali ke Indonesia. Mas Raka memang tak pernah menyampaikan kepadaku, berapa lama kami akan tinggal di negara itu.
“Kita masih menginap lima malam lagi di sini. Tapi, kita hanya akan di kamar saja. Karena lima hari ke depan, Mas ingin menyantap habis istri kesayangan Mas ini. Pagi, siang, sore dan malam begitu terus selama lima hari.”
__ADS_1
Tubuhku meremang mendengar ucapannya.