Mencintai Qiana

Mencintai Qiana
Part 70 - Kehidupan baru


__ADS_3

Setelah melihat Raka berjualan makanan di pinggir jalan, keesokan harinya, Safira kembali melewati tempat itu. Gerobak tempat Raka mengolah burger. Bahkan, sebuah meja dan beberapa kursi yang tersusun, tak lagi tampak.


Gadis itu terus memantau selama seharian. Dan ketika menjelang sore, barulah Safira dapat menyaksikan bagaimana area depan ruko itu menjelma menjadi sebuah kios makanan.


Setelah tau jika perusahaan konsultan yang Raka dirikan masih beroperasi, gadis itu pun kembali menghubungi orang suruhannya. Kali ini, Safira juga menyerahkan sejumlah uang kepada pria yang bernama David.


“Ini pembayaran yang pertama. Saya harap anda bekerja dengan benar!” tegas Safira. David pun menganggukkan kepalanya. Pria paruh baya itu pun mulai mengirimkan penawaran ke perusahaan milik Raka.


Betapa senangnya Raka saat menerima calon kliennya yang kedua. Pria itu pun langsung memelajari alur bisnis calon kliennya tersebut. Penandatanganan kontrak kerjasama pun dibuat. Raka bahkan kembali mendapatkan beberapa klien yang membutuhkan jasanya.


Dan setelah beberapa Minggu berlalu, kerjasama antara Raka dan David terlihat ada beberapa masalah. Raka pun menyadarinya. Safira tentu saja sudah memperkirakan hal itu. Gadis itu tersenyum sumringah saat mendapat laporan dari David.


Tak sia-sia dia bersabar menunggu hingga berminggu-minggu. Sebentar lagi Raka pasti kesulitan dan dia akan hadir untuk memberi bantuan bersyarat. Tentu saja masih dengan syarat yang berbeda. Kali ini Safira akan meminta pria itu untuk menjadikannya istri. Tak masalah bagi Safira untuk menjadi yang kedua. Yang terpenting baginya adalah bisa memiliki Raka.


Safira tau, jika dirinya tak bisa menyingkirkan Qiana dari hidup Raka. Maka, hidup berdampingan dengan Qiana pun tak masalah baginya asal dia juga bisa memiliki Raka.


Dia akan terus berupaya untuk menghancurkan setiap usaha yang dirintis oleh Raka hingga pria itu menyerah. Bahkan, usaha kuliner yang dirintis oleh Qiana pun, tak luput dari niat jahat Safira.


Gadis itu sudah memperkirakan segalanya. Bahkan, dia juga berencana untuk menghancurkan perusahaan raksasa milik ayah Qiana. Agar Raka tak lagi punya tempat bergantung jika pria itu kembali jatuh.


Sebuah rumor bahkan mulai beredar hingga mengakibatkan Raka tak lagi mendapatkan klien baru. Bahkan, usaha kuliner yang dirintis Qiana pun tak seramai biasanya.


Safira semakin bahagia dari hari ke hari. Wajah gadis itu selalu ceria, belakangan ini. Dia merasa jika tujuannya sebentar lagi akan tercapai.


Namun, suatu hari, saat Safira merasa kemenangan akan diperolehnya selangkah lagi, Safira ditampar oleh kenyataan.


Sang ayah murka padanya. Safira bukan hanya ditampar oleh kenyataan. Bahkan telapak tangan sang ayah ikut melayang ke wajahnya.


“Kamu berbuat apa di luar sana, hah?! Dasar anak tidak tau diri!” ucap Krzysztof.


Pria keturunan Polandia itu begitu geram dengan tingkah sang anak.


“Kamu tau berapa kerugian perusahaan akibat perbuatanmu, hah?!” teriak Krzysztof.

__ADS_1


“Kerugian apa, Dad? Daddy tau kan jika aku tak pernah membuat kesalahan. Aku selalu kerja dengan benar!” ucap Safira tak kalah kencang.


Krzysztof melempar beberapa berkas ke wajah Safira. Gadis itu pun memelajarinya. Mata Safira terbelalak. Gadis itu tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Beberapa klien menarik kerjasama mereka. Bahkan ada beberapa klien yang memasukkan nama perusahaan mereka ke dalam daftar hitam.


Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba banyak klien besar yang mundur dari kerjasama dengan perusahaan milik keluarganya?


Apa karena dia sedang bermain-main dengan Bratajaya Corp? Apa perusahaan milih ayah sambung Qiana itu sangat berpengaruh? Bukannya perusahaan milik keluarganya lebih besar dari Bratajaya Corp?


Laginya, dia juga belum mengeksekusi rencananya pada Bratajaya Corp. Apa rencananya sudah bocor sebelum terlaksana?


Banyak sekali pertanyaan di benak Safira. Gadis itu merasa sangat bingung. Dia tak merasa berbuat apapun.


“Hubungi Tommy. Dan jalankan apapun yang diucapkan pria Inggris itu! Berani-beraninya kamu mencari masalah dengan Tommy, dasar gadis bod*h!” umpat Krzysztof.


“Tommy,” lirih Safira.


Kenapa Tommy? Dia merasa tak pernah sekalipun menyinggung Tommy beberapa bulan ini. Gadis itu bahkan sudah lupa dengan pria itu. Beberapa bulan terakhir, dia justru sibuk dengan rencananya. Kapan dia menyinggung pria kaya raya itu?


“Dasar gadis bod*h. Daddy sudah katakan dekati Tommy. Kembali padanya. Kenapa kamu malah membuatnya murka?! Kenapa malah menyinggungnya?!”


“Pergi sana dan hubungi Tommy! Daddy tidak mau seluruh klien kita memutuskan kontrak kerjasama! Kerugian ini sudah terlalu banyak!”


Safira berlari sembari menangis. Gadis itu menuju ruang kerjanya. Ada apa dengan Tommy? Apa pria itu kembali menginginkan dirinya? Apa dia akan kembali menjadi tawanan pria itu?


Safira menggelengkan kepalanya. Dia tak mau kembali ke Inggris. Dia tak mau menjadi budak pria itu. Sebentar lagi keinginannya akan terwujud. Sebentar lagi dia dapat memiliki Raka.


Tapi, klien yang mendadak mengakhiri kerjasama, bahkan memasukkan nama perusahaan mereka ke dalam daftar hitam, membuatnya mau tak mau menghubungi Tommy.


Memang hanya pria itu yang bisa melakukan hal ini. Tapi kenapa?


“Akhirnya kamu menghubungiku juga *****.”


Suara Tommy membuat Safira bergidik. Bahkan hanya dari getaran suara pria itu, Safira tau jika Tommy tengah menahan amarah.

__ADS_1


“Bagaimana dengan kejutan dariku? Apa kamu menyukainya?” tanya Tommy.


“Kenapa? Kenapa kamu melakukan semua ini, Tom?”


Tommy tertawa terbahak-bahak. “Kamu benar-benar tidak tau jawabannya? Bukannya kamu ini cerdas, Safira Krzysztof? Harusnya kamu sudah tau dan sudah bisa memprediksi hal ini. Atau ... Kamu berpikir aku terlalu bodoh?!”


Kali ini suara Tommy menggelegar di telinganya. Bahkan Safira sampai menjauhkan ponsel itu dari telinganya.


“Aku sama sekali tidak mengerti, Tom? Aku sama sekali tidak pernah menyinggung kamu. Tapi kenapa kamu berbuat seperti ini? Apa kamu ingin aku kembali ke London? Kembali ke pelukanmu?” lirih Safira.


Tommy kembali terbahak-bahak mendengar ucapan Safira.


“Kamu lucu sekali, Safira Krzysztof. Tapi, aku sama sekali tak membutuhkan perempuan tak tau diri seperti kamu!” tegas Tommy.


“Jadi kenapa? Apa alasanmu membuat kerugian begitu besar di perusahaan milik keluargaku?!”


“Kamu benar-benar tidak mengetahuinya?” tanya Tommy. Pria itu bahkan tertawa setelah menanyakan hal itu pada Safira.


“Selama ini aku pikir kamu itu gadis yang cerdas, Safira. Ternyata tidak. Aku benar-benar sudah tertipu.”


Safira hanya diam tak tak mengatakan apapun. Dia takut kembali menyinggung pria itu. Dia justru sangat ingin tau kenapa Tommy berbuat begitu pada perusahaan keluarganya. Dia tak mau menambah masalah dengan terus mencecar pria itu.


“Bukankah kamu sudah pernah aku ingatkan, jangan mengganggu Raka. Dia berada di bawah pengawasanku!”


Tubuh Safira bergetar. Ternyata ancaman Tommy itu benar adanya. Pria itu bukan hanya berusaha menakut-nakuti dirinya.


“Apa kamu pikir ucapanku itu hanya sebuah candaan, Safira?”


Dengan sudah payah Safira menelan ludahnya.


“Aku tau semua perbuatanmu. Kamu bahkan mau menghancurkan perusahaan milik orang tua Qiana. Perempuan sebaik itu, jangan berani-berani kamu menyentuh keluarganya!” teriak Tommy.


“Aku bisa menghancurkan perusahaan keluargamu dalam hitungan detik. Ini hanya sebagai peringatan. Hentikan semua rencana gilamu atau kamu akan melihat keluargamu hancur hingga tak bersisa. Camkan itu.”

__ADS_1


Tommy memutuskan panggilan telepon itu begitu saja. Tubuh Safira pun luruh. Gadis itu merasa sendi-sendinya lemas. Safira tak dapat berdiri. Gadis itu terus duduk di lantai ruang kerjanya.


Harapannya musnah sudah. Selamanya dia tak dapat memiliki Raka.


__ADS_2