Mencintai Qiana

Mencintai Qiana
Part 48 - Safira -3


__ADS_3

Raka mengajak Qiana duduk di tepi ranjang. Dengan lembut dia menuntun sang istri. Raka pun menggenggam kedua tangan Qiana. Pria itu menatap sang istri dengan lembut.


“Dek, Mas mau menanyakan sesuatu kepada kamu. Mungkin ini memang sedikit terlambat untuk Mas tanyakan.”


“Terlambat?” tanya Qiana bingung. “Memangnya Mas mau bertanya soal apa?”


“Mengenai proyek baru Mas,” jawab Raka.


Dahi Qiana kembali berkerut. “Proyek baru?” tanya gadis itu lagi.


Raka menganggukkan kepalanya. “Iya, proyek baru Mas dengan Safira dan Tommy. Qia kan sudah mendengar mengenai proyek itu. Sedikit banyak pasti Qia pasti tau kan isi kontrak dari proyek kerjasama itu?” tanya Raka. Pria itu sangat yakin, jika sang istri tau pasti mengenai proyek itu.


Namun, jawaban yang diberikan oleh sang istri tak seperti apa yang diharapkan Raka. Qiana menggelengkan kepalanya. Hal itu tentu saja membuat Raka terperangah. Pria itu tak percaya. Bagaimana mungkin Qiana tak mengetahui mengenai proyek itu? Padahal sang istri selalu berada di sisinya setiap saat.


“Qia sama sekali tidak tau?” tanya Raka heran.


“Qia hanya tau jika itu proyek kerjasama dengan sebuah perusahaan dari Inggris. Selebihnya Qia tidak tau pasti.”


Kembali Raka terperangah mendengar penuturan sang istri.


“Yang jelas, Qia hanya tau jika Mas Raka begitu bersemangat dan senang sekali saat Mba Fira menawarkan proyek itu. Entah karena Mas memang sangat ingin mendapatkan proyek dari perusahaan itu, atau karena sudah tak sabar ingin kerja bareng Mba Fira,” cebik Qiana.


Kembali mata Raka melebar mendengar penuturan gadis itu. Mulutnya bahkan menganga. Ternyata benar apa yang diucapkan oleh sang ayah. Qiana menyemburui Safira. Tapi, bukankah dia sudah menjelaskan pada gadis itu sebelum mereka menikah. Bahwa Safira tak lebih dari sahabat ataupun rekan kerjanya. Kenapa Qiana tak memercayai ucapannya?


“Mas dan Fira itu hanya bersahabat, Dek. Tidak lebih dari sahabat dan rekan kerja. That's it.”


Qiana hanya menganggukkan kepalanya. Gadis itu tak mau mendebat pernyataan sang suami. Wajah Raka mendadak lesu saat melihat ekspresi sang istri.


“Kamu tidak percaya dengan Mas, Dek?” lirih pria itu.


“Seandainya ... Seandainya Qia mengatakan jika Qia tidak percaya dengan persahabatan kalian, apakah Mas akan membatalkan proyek kerjasama itu?”

__ADS_1


Raka terdiam. Pria itu tak tau harus menjawab apa?


Haruskah dia membatalkan proyek itu agar sang istri tak lagi cemburu dan menaruh curiga padanya? Tapi, akibat dari membatalkan kontrak itu tak akan mudah dia tanggulangi. Raka akan kehilangan banyak sekali aset. Bahkan, salah satu unit usaha sang ayah akan gulung tikar saat itu juga.


Melihat sang suami hanya diam, Qiana menghela napas kasar. Mata Qiana mengembun. Gadis yang sedang mengandung itu merasa jika dirinya tak lebih penting dari sebuah proyek. Bahkan mungkin bagi sang suami, pendapatnya tak lebih penting dari ucapan Safira.


“Harusnya Mas tidak perlu bertanya. Toh, dari awal Mas memang tak pernah menganggap Qia ada di sana. Qia masih ingat betul ekspresi Mas saat itu. Mas begitu sumringah. Mas begitu antusias. Mas terus menatap Mba Fira dengan penuh semangat. Bahkan, Mas langsung memutuskan akan menjalin kerjasama itu.


“Saat itu Mas sama sekali tak memedulikan apa pendapat Qia. Seolah Mba Fira mengembalikan seluruh dunia Mas. Apa karena Mas sangat merindukan dia setelah tak bertemu selama berbulan-bulan?!”


Raka menggelengkan kepalanya dengan cepat. Pria itu lantas berlutut, jemarinya masih terus menggenggam jemari milik sang istri.


“Dek ... sumpah demi apapun. Mas tidak pernah ada hubungan apa-apa dengan Fira. Kami hanya berteman. Hanya partner dalam bekerja. Tidak lebih dari itu.”


Qiana hanya mengangguk dan tersenyum tipis. Raka menghela napas berat melihat reaksi Qiana.


“Percayalah Dek. Hanya Qia yang ada di hati Mas. Dari dulu hingga sekarang. Tidak pernah ada wanita lain,” lirih Raka.


“Tidak ada pembicaraan seperti itu di dalam pertemanan kami selama ini, Dek. Sama sekali tidak ada. Kami hanya membahas persoalan seputar perkuliahan, atau pekerjaan. Dari dulu seperti itu,” jelas Raka.


“Percayalah Dek,” lirih pria itu.


“Iya Mas,” jawab Qiana singkat. Gadis itu bahkan tidak menunjukkan perubahan mimik wajah. Qiana masih tersenyum tipis seperti tadi.


“Dek, tolong percaya,” lirih Raka.


“Bukannya Qia sudah menjawab, iya?”


“Tapi ekspresi kamu menunjukkan kalau kamu tidak memercayai Mas, Dek” ucap Raka. Qiana mengembuskan napas berat.


“Qia percaya ataupun tidak, bukannya itu tidak akan merubah apapun? Mas tetap akan meneruskan proyek itu. Iya kan Mas? Jadi buat apa Mas bertanya?”

__ADS_1


Raka meninggalkan Qiana begitu saja. Pria itu berjalan dengan gegas, diikuti tatapan Qiana, menuju ke sebuah lemari yang terdapat di kamar itu. Lemari yang berisi beberapa berkas pekerjaan milik perusahaan yang dikelola Raka.


Raka pun membawakan beberapa berkas itu pada Qiana. Kali ini raka tak lagi berlutut. Pria itu duduk di sisi sang istri.


“Sebelumnya Mas minta maaf. Mas tidak tau kalau kamu merasa cemburu pada Fira. Andai Mas tau itu dari awal. Mas tidak akan mengambil proyek itu walau Mas benar-benar menginginkan bekerja sama dengan Techno. Tapi, karena ini sudah terlanjur. Mas ingin kamu melihat ini,” ucap Raka seraya menunjukkan beberapa lembar berkas pada sang istri.


“Perusahaan kita bisa pailit, Dek. Jadi, Mas minta maaf belum bisa menuruti keinginan kamu. Mas benar-benar minta maaf.”


Qiana mengembuskan napas panjang setelah membaca isi kontrak kerjasama itu. Nasi sudah menjadi bubur. Dan sang suami mau tidak mau harus terus bertemu dengan Safira. Bahkan di hari libur pun, mereka masih tetap harus bertemu dengan Safira.


“Yasudahlah Mas. Qia tidak mau membahas masalah ini lagi. Beberapa hari ini Qia juga tak pernah mempermasalahkannya. Bahkan, saat akhir pekan Mas tetap bekerja pun, Qia tidak protes kan? Jadi, jalani saja seperti hari-hari kemarin. Jangan membahas hal ini lagi. Karena Qia akan kembali teringat wajah sumringah Mas setiap kali bertemu Mba Fira.”


“Mas begitu karena bersemangat mengerjakan proyek itu, Dek. Sama sekali bukan karena Fira,” lirih Raka.


“Iya Mas,” jawab Qiana singkat.


Raka kembali berlutut sembari menggenggam jemari Qiana.


“Maafkan Mas karena sudah membuat kamu kembali kecewa dan sedih. Kalau ada yang bisa Mas lakukan untuk membuat rasa kecewa kamu berkurang, Mas akan lakukan,” janji pria itu.


“Dek...,” panggil Raka karena Qiana masih tak menanggapinya.


“Sebenarnya Qia tidak suka kalau Mas melanjutkan proyek itu,” jawab Qiana. Raka pun menundukkan kepalanya. Dia tak mungkin membatalkan proyek itu. Karena keberlangsungan perusahaan sang ayah akan jadi taruhannya.


“Tapi karena itu tidak mungkin, Qia tidak akan meminta hal itu. Qia juga tidak mau karena Qia perusahaan Papi pailit,” lanjutnya.


Raka pun menegakkan kepalanya. Pria itu akhirnya bisa bernapas lega karena Qiana tidak memintanya membatalkan kerjasama itu.


“Qia tidak suka jika Mas berbicara lembut kepada Mba Fira. Qia ingin Mas bersikap biasa dingin dan tegas padanya. Apa Mas bisa?”


Raka tentu saja menganggukkan kepalanya. Tak ada yang lebih penting baginya selain kebahagiaan sang istri. Andai konsekuensi dari membatalkan kerjasama itu tidak begitu besar, sudah pasti Raka akan langsung membatalkannya.

__ADS_1


Karena bagi Raka, permintaan Qiana adalah mutlak. Dia akan melakukan apa saja yang diminta oleh istrinya itu.


__ADS_2