Mencintai Qiana

Mencintai Qiana
Part 14 - Balasan Raka.


__ADS_3

“Sepupu tercintamu itu, akan menjadi penonton pertunjukan ranjang kita.”


Mata Qiana terbelalak. Gadis itu tak menyangka jika permintaan Albert begitu tak masuk akal. Qiana pikir, Albert hanya meminta tubuhnya sebagai balasan untuk menyelamatkan Raka. Tak pernah dia sangka jika Albert juga membawa Raka ikut serta untuk menyaksikan aksi mereka di ranjang.


Bagaimana mungkin dia bisa melakukannya? Tidak mungkin dia melakukan perbuatan terlarang di depan pria yang begitu dihormatinya.


“Jangan pernah lakukan hal konyol seperti itu, Qi,” ucap Raka.


Albert hanya menanggapi ucapan Raka dengan tersenyum sinis.


“Kalau kamu tidak mau, juga tidak apa-apa. Tapi, kamu tau sendiri akibatnya kan?”


Qiana terdiam sejenak, sebelum akhirnya menganggukkan kepala, tanda setuju.


“Dek!” bentak Raka.


Pria itu benar-benar tak rela jika Qiana menyerahkan kesuciannya pada laki-laki baji'ngan seperti Albert. Albert tak pantas untuk memiliki Qiana.


“Maaf Mas,” lirih Qiana sembari menunduk. Gadis itu juga menangis sesenggukan di hadapan Raka, tanda bahwa Qiana juga tak menginginkannya.


“Sudah ... Sudah ... Jangan drama! Ayo sana, pergi ke kamar yang tadi dan bersiap-siaplah. Aku akan menyusul bersama sepupu tercintamu itu,” perintah Albert.


Qiana menganggukkan kepalanya sembari menangis. Gadis itu pun mengayun langkah dengan berat menuju tangga. Qiana terus melangkah sembari menangis.


“Saya tau, kalau anda menyukai Qiana. Benarkan, Bapak Raka Pratama yang terhormat?” ucap Albert. Raka hanya merespon pria itu dengan menatap tajam pada Albert. Albert pun mendekatkan wajahnya pada wajah Raka.


“Pasti anda juga menunggu kan, menunggu Qiana tanpa balutan busana? Sebentar lagi kita akan menyaksikannya,” bisik Albert.


Raka semakin berang. Mata pria itu berubah merah. Dengan sekuat tenaga, Raka menyundul wajah Albert yang masih sangat dekat dengannya. Albert bahkan hampir tersungkur karena terkena sundulan Raka.


“Brengs3k!” umpat Albert. Pria itu lantas melayangkan sebuah kepalan tangan pada Raka. Raka yang dipegangi oleh kedua pria berotot, harusnya tak bisa lagi membalas serangan yang dilancarkan oleh Albert.


Tapi, melihat Qiana begitu terhina, membuat Raka benar-benar geram. Dengan kakinya, Raka menendang aset kebanggaan milik Albert. Pria itu pun mengaduh kesakitan.


Mendengar keributan itu, Qiana yang baru saja menaiki tangga, membalik tubuhnya. Gadis itu terperangah saat melihat Albert berlutut kesakitan. Dua orang pria berbadan kekar menolong Albert, sedangkan dua lainnya kembali mengeroyok Raka.


Hampir saja Raka kembali tertangkap oleh dua pria itu.


Jika sepuluh orang bodyguard Anggara tak masuk ke villa itu, Raka sudah pasti Raka akan kembali babak belur.

__ADS_1


Albert dan keempat anak buahnya diringkus begitu saja, tanpa perlawanan berarti. Albert dan keempat pria berbadan kekar itu bertekuk lutut.


Dengan angkuh, Raka berjalan menghampiri Albert, mencengkeram kerah baju pria itu dan melayangkan sebuah kepalan tangan ke wajah Albert.


“Jangan pernah ganggu Qia lagi. Jika tidak, kamu dan dan Soho Group yang menanggung akibatnya,” ancam Raka.


“Kembalikan mereka semua ke rumah besar pemilik Soho Group. Saya yakin, jika Pak Raza tak tau menahu mengenai kelakuan cucunya ini. Pastikan jika Pak Reza mengetahui secara detail apa yang dilakukan oleh cucunya, terhadap cucu pendiri Bratajaya Corporation.”


Kali ini tubuh Albert yang gemetar. Albert adalah cucu yang tak diharapkan oleh Reza Suryo. Pria itu adalah anak dari hasil hubungan gelap putri kandung Reza dengan salah seorang pelayan di kediaman Reza.


sejak kecil, Albert selalu mendapatkan perlakuan berbeda dari sepupunya yang lain. Maka dari itu, menjadikan Qiana sebagai istri, adalah jalan satu-satunya agar dia bisa mendapatkan perhatian dan warisan dari sang kakek— Reza Suryo. Terlebih Qiana adalah putri sulung dari CEO Bratajaya Corporation. Dia pasti akan hidup dengan bergelimang harta jika Qiana yang sangat mencintai dirinya itu, menjadi istrinya.


“Bawa mereka sekarang!” ucap Raka.


Seluruh bodyguard yang berjumlah sepuluh orang, membawa Albert dan keempat anak buah pria itu. Mereka akan langsung menjalankan perintah Raka.


Setelah tak ada satu pun orang di ruangan itu, Raka pun menghampiri Qiana yang masih berdiri mematung di tangga.


“Ayo pulang,” ajak Raka. Qiana menganggukkan kepalanya. Gegas gadis itu mengayun langkah menghampiri Raka. Qiana bahkan langsung memeluk erat tubuh pria itu.


“Maafkan Qia, Mas. Gara-gara Qia, Mas jadi terluka seperti ini. Qia menyesal. Qia tidak akan kabur dari rumah lagi,” ucap gadis itu sembari menangis sesenggukan.


Qiana merasakan ada hal yang berbeda dari pria yang dipeluknya itu. Raka berbicara sangat dingin padanya. Sejak mereka kecil, pria itu tak pernah sekali bersikap dingin padanya.


Raka pasti tengah marah besar.


begitulah pikir Qiana. Tanpa melepaskan pelukannya, Qiana mendongak dan menatap Raka.


“Mas marah kepada Qia ya?” tanyanya.


Raja mengembuskan napas panjang.


“Menurut kamu?”


“Mas pasti sangat marah,” jawab Qiana.


“Tentu saja. Siapa yang tidak marah, jika calon pengantinnya kabur bersama pria lain, di saat hari pernikahan mereka tinggal menghitung jam.”


“Maaf Mas,” rengek Qiana.

__ADS_1


Sejak dulu, Raka tak pernah bisa menghadapi rengekan Qiana. Setiap kali gadis itu merengek, Raka selalu menuruti keinginan Qiana. Tapi tidak untuk kali ini.


Perbuatan Qiana benar-benar membuatnya patah hati. Qiana bersekongkol dengan kekasihnya untuk mempermainkan dirinya dan juga keluarga besar Bratajaya. Raka sangat kecewa.


“Mas ...,” rengek Qiana sembari mengguncang-guncang tubuh Raka. Meminta agar pria itu memaafkan dirinya.


“Sudahlah ... Ayo kita pulang,” ajak Raka.


“Qia tidak mau pulang!”


Raka yang kesal, kini membalas tatapan Qiana.


“Yasudah kalau kamu tidak mau pulang. Tapi, Mas mau pulang saat ini juga. Kalau kamu mau tinggal di sini sendirian silakan. Atau... kamu masih berharap kekasihmu itu kembali ke sini?”


Sikap ketus Raka, membuat Qiana tambah bersedih. Tak pernah dia merasa sesedih ini. Karena biasanya, Raka tak pernah membiarkan gadis itu bersedih.


Qiana pun melepaskan pelukannya. Gadis itu bahkan menundukkan pandangannya.


“Qia hanya mau mengobati luka Mas Raka lebih dulu sebelum pulang,” lirih Qiana.


Lagi, Raka mengembuskan napas panjang.


“Di sini pasti ada kotak P3K.”


“Obati di mobil saja,” ucap Raka. Pria itu bahkan berbalik badan dan melangkah meninggalkan Qiana.


Sementara Qiana hanya bisa menatap punggung pria itu dengan menahan tangisnya.


Dengan langkah gontai, Qiana mengikuti langkah Raka. Gadis itu berjalan di belakang Raka.


Raka langsung menyerahkan kotak P3K begitu dirinya dan Qiana berada dalam mobil.


Dengan telaten, Qiana membersihkan wajah Raka, dan mengoleskan alkohol di wajah Raka yang terluka. Dengan telaten Qiana mengobati Raka. Hati kesal pria itu pun mulai mencair. Melihat wajah Qiana yang tengah serius mengobati luka di wajahnya, membuat jantung Raka berdetak kencang.


Pria itu pun kembali melunak pada Qiana. Bibir Raka bahkan terus tersenyum sembari menatap Qiana.


Namun, senyum Raka seketika luntur saat mendengar pertanyaan Qiana.


“Apa kita benar-benar harus menikah, Mas?”

__ADS_1


__ADS_2