
Dua bulan berlalu sejak kelahiran Damar Pratama. Setelah pesta meriah menyambut kelahiran bayi mereka, dua Minggu lalu. Kini, Raka harus bertolak ke London bersama Safira.
Qiana sebenarnya tak mau melepaskan Raka seorang diri ke sana. Terlebih itu bersama safira. Gadis yang sejak dulu mencintai suaminya.
Tapi, tentu saja Qiana tak mengatakannya. Qiana hanya bisa memendam perasaan takutnya itu seorang diri, sekaligus memperbanyak berdoa agar sang suami tak terkena jerat Safira.
“Mas janji akan jaga diri, Dek. Mas masih ingat kok semua syarat yang kamu berikan. Mas tetap akan jaga jarak dengan Fira. Walau kita terpisah jauh selama beberapa hari, tapi, Mas akan menepati janji. Kamu bisa percaya Mas, kan?” tanya Raka di malam terakhir sebelum kepergian pria itu.
Dengan berat, Qiana menganggukkan kepalanya.
“Produksi akan langsung dimulai begitu Mas tiba di sana dan menandatangani beberapa berkas. Pasar juga sudah ada. Setelah dari London, Mas tidak perlu sering bertemu Fira. Paling kami hanya bertemu jika sesekali ada masalah produksi,” jelas Raka.
Penjelasan dari Raka, membuat Qiana sedikit tenang. Setidaknya dia hanya perlu menahan diri selama sepuluh hari. Karena setelah dari London, sang suami tak perlu lagi berurusan dengan wanita ular seperti Safira.
Malam itu, sepasang suami istri itu tidur berpelukan hingga pagi. Bahkan, Damar pun tertidur lelap hingga hampir subuh. Bayi berusia dua bulan itu seolah hendak membiarkan kedua orang tuanya untuk saling melepaskan rindu sebelum berpisah selama sepuluh hari.
......................
Qiana dan Damar turut serta mengantarkan kepergian Raka ke bandara. Qiana terus bergelayut manja pada Raka. Dan tak lama setelah mereka tiba di bandara, Safira pun tiba.
Qiana sudah melihat gadis itu dari kejauhan. Dan saat melihat Safira dengan langkah gemulai menghampiri mereka, Qiana pun mengeratkan pelukannya pada sang suami.
Raka yang masih belum mengetahui kehadiran Safira, saat melihat sang istri memeluknya erat, Raka pun lebih mengeratkan pelukannya. Pria itu bahkan menghujani dahi Qiana dengan banyak kecupan. Qiana pun tersenyum sembari sesekali melirik sinis pada seseorang yang sudah semakin dekat dengan mereka.
Tentu saja pemandangan itu membuat Safira merasa muak. Namun gadis itu bersikap seolah tak terjadi apapun. Karena dia tau, untuk beberapa hari ke depan, dia yang akan memiliki Raka.
__ADS_1
“Halo semuanya!” sapa Safira dengan sangat antusias. Ivander dan Raka membalas gadis itu dengan tersenyum kecil. Sementara yang lainnya memilih untuk mengabaikan Safira.
Namun Safira seolah tak peduli jika seluruh keluarga Raka tak menyukainya. Safira menyalami Anggara dan Ivona serta Mika. Mereka pernah akrab, dulu. Safira tak mau hubungannya dengan keluarga Raka menjadi canggung hanya karena Raka menikahi Qiana. Harusnya dia yang menjadi bagian dari keluarga itu.
“Hai Mika, apa kabar? Sudah lama ya kita tidak makan siang bersama. Nanti, setelah urusan di London selesai, kita atur jadwal, ya,” ucapnya tak tau malu. Mika tak menjawabnya. Gadis itu justru terlihat kesal melihat Safira. Gadis itu seolah ingin menunjukkan keakraban mereka di hadapan Qiana dan keluarganya.
“Eh ... Ini anaknya Raka ya?! Ya ampun tampan sekali. Persis kamu, Ka!” serunya.
“Ini bukan hanya anak Raka. Tapi, anak Raka dan Qiana,” jelas Qeiza yang saat itu menggendong Damar. Safira hanya menanggapinya dengan tersenyum kecil.
“Bahkan gaya tidurnya mirip sekali dengan kamu, Ka,” lanjut Safira.
Semua orang kini menatap Safira dengan mata melebar. Bagaimana mungkin gadis itu bisa membandingkan gaya tidur antara Damar dan Raka? Walau semua orang yang berada di sana tau, jika Damar tertidur tanpa menutup mata dengan sempurna persis Raka. Tapi, tak seharusnya ada seorang gadis menyatakan hal itu. Terlebih ada istri Raka di sana.
“Maksud Mba berbicara seperti itu apa?! Mba mau menyatakan kalau Mba pernah tidur dengan Mas Raka?!” ketus Qiana.
“Qia ... Kamu kan tau kalau aku sudah bersahabat dengan Raka cukup lama. Kami belajar bersama, diskusi bersama. Terkadang kami lelah dan tertidur. Wajarkan kalau saya tau gaya tidur Raka? Bukan hanya saya, Tommy juga tau hal itu. Kami bahkan memiliki fotonya!” jelas Safira santai.
“Fir, mungkin kamu bisa check-in lebih dulu,” ujar Raka. Pria itu tak mau terjadi adu mulut antara istri dan sahabatnya itu. Raka juga tak habis pikir dengan ucapan Safira yang bisa menimbulkan kesalahpahaman di keluarganya.
Raka mengembuskan napas panjang saat Safira menuruti ucapannya. Kini dia pun bisa berfokus pada Qiana.
“Heran deh lihat tuh perempuan. Memangnya tidak ada keluarga yang mengantar kepergiannya? Kenapa nimbrung di keluarga orang lain!” ketus Mika.
“Pokoknya Mas jangan ingkar janji, ya! Qia tidak mau Mas dekat-dekat dengan perempuan itu selain urusan pekerjaan!” ketus Qiana. Raka pun kembali membawa sang istri dalam dekapannya.
__ADS_1
“Mas janji, Sayang,” jawab Raka.
Setelah saling berpelukan cukup lama, Raka pun terpaksa melepaskan pelukannya itu. Sudah tiba waktunya bagi Raka untuk melakukan perjalanan ke London. Setelah puas menciumi wajah istri dan anaknya, Raka pun melangkah masuk ke ruang check-in.
Sudah ada Safira yang menunggunya di sana. Mereka melewati beberapa pemeriksaan bersama sebelum akhirnya duduk berdampingan di pesawat. Safira begitu senang. Dia akan menghabiskan waktu selama hampir 17 jam bersama Raka.
Namun, Raka yang sudah berjanji pada sang istri, berusaha menghindar Safira yang berulang kali mengajaknya bercerita.
Raka lebih memilih memakai sleep mask. Dengan alasan tak bisa tidur malam tadi, Raka pun memejamkan mata selama perjalanan.
Tak hanya selama perjalanan Jakarta - London. Selama berada di London pun, Raka benar-benar menjaga jarak dengan Safira. Hal itu tentu saja membuat Safira berang. Gadis itu tak sabar ingin segera memulai permainannya. Dia tak mau Raka terus menerus menghindarinya. Dia mau secepatnya memiliki pria itu.
Safira sudah muak setiap hari melihat Raka sibuk bercengkrama dengan Qiana melalui panggilan video.
...----------------...
Dan ... Delapan hari telah berlalu. Besok, Raka akan kembali ke Indonesia. Malam itu, sebelum beristirahat, Raka pun menghubungi sang ayahanda.
“Sesuai dengan perkiraan Papi. Ada yang aneh dengan proyek ini. Nama Raka sama sekali tak disebutkan dalam proyek kerjasama itu. Hanya ada nama Safira sebagai penanggung jawab. Raka juga sudah konfirmasi dengan Safira. Katanya sih, karena dua bulan lalu Raka terlanjur mengatakan akan membatalkan kerjasama itu.”
“Tapi, Raka sudah buat perjanjian baru dengan Safira. Apapun yang tertulis dalam proyek ini, keuntungan produksi tetap untuk kita sebesar 75% karena memang sebagian besar modal dari kita,” jelas Raka.
“Yah ... Setidaknya kita tidak buntung. Penjualan perdana katanya laku keras?” tanya Anggara.
“Iya Pi, selama tiga hari berturut-turut, Techno melakukan promosi besar-besaran. Jadi, penjualan benar-benar laku keras. Tapi, nama perusahaan kita tidak tercantum. Rasanya Raka menyesal sekali.”
__ADS_1
“Sudahlah Ka. Yang penting semuanya berjalan lancar. Kita hanya tinggal menunggu penjualan. Kontrak kerja dengan Techno masih empat tahun. Papi harap, kita secepatnya bisa mengembalikan pinjaman modal,” ujar Anggara.