
Tujuh bulan sudah usia kandungan Qiana. Berat badan gadis itu naik dengan pesat. Tak hanya Qiana, berat badan Raka pun turut naik. Namun tak mengurangi ketampanan Raka. Justru pria itu semakin terlihat gagah.
Qiana masih setia menemani Raka ke mana pun pria itu pergi. Termasuk saat Raka melakukan perjalanan dinas. Perutnya yang semakin lama semakin membuncit, tubuhnya yang semakin lama semakin melebar, tak menyulut semangat gadis itu untuk selalu setia menemani Raka.
Raka pun demikian. Pria itu selalu ingin ditemani oleh Qiana ke mana pun. Selalu bersama dengan Qiana membuatnya merasa nyaman dan tenang. Terlebih gadis itu semakin lama semakin penuh gairah.
Bahkan saat ulang tahun pernikahan mereka yang pertama, Qiana menghadiahkan tubuhnya untuk Raka. Raka tentu saja tak menyia-nyiakan hal itu. Kehidupan ranjang mereka pun semakin membara dari Minggu ke Minggu.
Raka merasa keputusannya menjebak Qiana tiga belas bulan lalu, merupakan keputusan yang tepat. Melalui penjebakan itu, dia bisa memiliki Qiana seutuhnya. Dan hanya tinggal persoalan waktu sebelum akhirnya gadis itu jatuh cinta padanya.
Raka pikir, setelah Qiana jatuh cinta padanya, pernikahan mereka akan terus berjalan lancar tanpa ada kendala.
Raka pikir, ujian pernikahan mereka hanya pada keberaniannya untuk mengungkapkan kisah penjebakan itu pada Qiana.
Raka pikir, setelah dia jujur mengenai drama penjebakan di kamar hotel, setelah Qiana jatuh cinta padanya, tidak akan ada masalah sama sekali dalam pernikahannya.
Raka terlupa, bahwa hidup itu adalah ujian. Selama kita hidup, ujian itu akan selalu menyertai.
Sama halnya dengan pernikahan. Tidak akan ada sebuah pernikahan yang selalu berjalan mulus. Pasti ada kerikil-kerikil kecil yang menghiasi pernikahan itu.
Dan mungkin, kerikil-kerikil kecil itu baru muncul di saat usia pernikahan mereka menginjak satu tahun.
Saat itu Qiana tengah menemani Raka di kantor, dan gadis itu bermanja di atas pangkuan sang suami. Qiana tengah membelai mesra dagu Raka yang kini ditumbuhi oleh bulu-bulu halus.
“Jangan dicukur ya Mas, Qia suka janggut tipis Mas,” lirih gadis itu.
Raka yang bertambah gemas melihat tingkah sang istri langsung mendekatkan wajahnya pada wajah sang istri.
__ADS_1
“As you wish, Baby,” ucap pria itu. Raka pun hendak melahap bibir Qiana. Namun, suara ketukan pintu kantornya menghentikan aksi pria itu.
Dan tak lama seorang wanita cantik dengan tubuh bak model profesional tengah berdiri di pintu ruang kerja Raka.
“Safira,” gumam Raka.
Mendengar Raka menyebutkan nama Safira, Qiana pun menoleh hingga bisa menatap seorang wanita yang begitu anggun dengan senyumnya yang menawan.
Safira Krzysztof.
Dia adalah gadis yang selalu ada di sekeliling Raka. Mempunyai tingkat intelegensi yang hampir sama dengan Raka. Mereka adalah sepasang manusia jenius yang digadang-gadang akan menjadi pasangan paling sempurna.
Mereka sekolah di sekolah yang sama sejak SMP. Mereka juga ikut kelas akselerasi hingga hanya melewati masa SMP selama dua tahun saja. Namun tidak di masa SMA. Karena Safira tidak berhasil mengikuti tes untuk kelas akselerasi. Hingga gadis itu harus lulus SMA satu tahun setelah Raka. Namun, mereka berkuliah di universitas yang sama hingga mendapatkan gelar Magister.
Di mana ada Raka, di situ ada Safira. Mereka bak sepasang kekasih bagi orang-orang sekitar.
Beberapakali perusahaan yang sekarang dipimpin oleh Raka, bekerja sama dengan perusahan keluarga Safira. Anggara— ayah kandung Raka— bahkan sudah sangat akrab dengan Marcos Krzysztof— ayah kandung Safira yang berkebangsaan Polandia.
Safira adalah gadis cerdas dengan tutur kata yang lembut. Gaya hidupnya, gaya bicaranya, bahkan gayanya berjalan, persis bangsawan. Gadis itu sempurna. Tak ada seorang pria yang bisa menolak pesona seorang Safira Krzysztof. Jangankan pria, semua wanita di dunia ini pun mengakui kecantikan paripurna Safira Krzysztof.
Berbanding terbalik dengan Qiana Larasati yang selalu berisik. Kata anggun sungguh jauh sekali dari kepribadian gadis itu.
Qiana menatap Safira dengan nanar. Wanita anggun itu sudah lama tak terlihat. Lalu, kenapa dia muncul di hadapan mereka sekarang? Safira bahkan tak hadir di pernikahan Qiana dan Raka.
“Kamu ke mana saja, Fir?”
Pertanyaan yang begitu saja terlontar dari bibir Raka saat melihat Safira, membuat hati Qiana sakit. Raka seolah menunjukkan jika dia begitu merindukan Safira. Pria itu seolah mengatakan jika dia begitu kehilangan Safira.
__ADS_1
Qiana pun turun dari pangkuan Raka. Terlebih Safira berjalan menghampiri mereka.
Qiana tau, jika Safira begitu mencintai Raka. Bukan hanya Qiana. Mungkin, seluruh dunia tau jika gadis anggun itu mencintai Raka. Safira adalah satu-satunya gadis yang berada di sisi Raka. Sejak mereka masih duduk di bangku SMP hingga ke perguruan tinggi.
“Aku belum memberikan selamat untuk pernikahan kalian,” ucap Safira dengan senyuman manis yang tak pernah lepas dari bibirnya.
Sejak dulu, Qiana selalu suka senyum itu. Gadis itu begitu memimpikan jika Safira kelak akan menjadi kakaknya karena menikah dengan Raka. Tapi, siapa yang mengira jika dirinyalah yang menjadi istri dari seorang Raka Pratama? Bukan Safira. Bukan gadis anggun dan sempurna itu yang kini bersanding dengan Raka. Melainkan dirinya. Qiana Larasati yang berisik dan ceroboh.
Jika mereka berdiri dan saling berhadapan seperti ini, Qiana sama sekali tak sepadan dengan gadis anggun itu.
Safira mengulurkan sebuah hadiah pada Raka, dan pria itu menerimanya dengan bibir penuh senyuman. Qiana begitu kecewa melihatnya. Qiana tak suka jika sang suami memberikan senyum lembutnya pada gadis selain dirinya.
Bukankah sejak dulu Raka tak pernah tersenyum pada gadis manapun kecuali dirinya? Untuk apa pria itu kini tersenyum pada Safira?
Ah, Qiana tampaknya terlupa satu hal.
Sejak dulu, Raka selalu tersenyum pada satu gadis selain dirinya. Gadis itu adalah Safira Krzysztof.
“Kenapa kamu tidak datang ke pernikahanku dengan Qia?! Kamu selalu mengatakan kepada semua orang jika kita adalah sahabat. Dan kamu sudah sangat kenal dengan Qia. Sahabat apa yang tidak datang di pesta pernikahan sahabatnya sendiri?!”
Raka yang selalu dingin dan kaku pada setiap wanita, kini bertanya panjang lebar pada Safira. Qiana dapat melihat bagaimana gembiranya wajah Raka saat bertemu dengan Safira setelah mereka tak bertemu satu tahun lamanya.
Hati Qiana semakin sakit melihatnya. Terlebih saat melihat penampilan Safira yang begitu sempurna. Berbeda sekali dengan dirinya yang kini bertubuh sintal.
“Maaf karena aku tidak bisa hadir di pernikahan kalian. Ada urusan yang sangat penting. Makanya aku tidak bisa hadir, bahkan tidak bisa bertemu kamu selama satu tahun. Aku sangat merindukanmu. Apa kamu tidak merindukanku, Raka?”
Apalah kehadiran Safira adalah hadiah dari Tuhan di hari ulang tahun pertama pernikahan Raka dan Qiana?
__ADS_1