
Malam itu, Qiana begitu terhanyut dengan permainan Raka. Sentuhan lembut pria itu di setiap jengkal tubuhnya, membuat Qiana menggila. Walau awalnya Qiana merasakan nyeri di pangkal pahanya, tapi rasa nyeri itu tak lagi dirasanya. Hanya erangan nikmat yang terus keluar dari bibir gadis itu.
Qiana memang belum jatuh cinta sepenuhnya pada pria yang telah mengambil kegadisannya itu. Tapi, tidak bisa disangkalnya, jika dia tergila-gila pada permainan Raka.
Lima malam Raka menggempurnya. Bukannya merasa lelah, gadis itu malah terus menantikan saat-saat Raka memasuki tubuhnya.
Dan, malam ini adalah malam terakhir dari perjalanan bulan madu Raka dan Qiana. Besok pagi, mereka harus segera berangkat ke bandara dan kembali ke tanah kelahiran mereka, Indonesia.
Raka dan Qiana baru saja menyudahi permainan panas mereka. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh waktu Turkiye. Sepasang suami istri itu sudah sepakat jika permainan tadi adalah permainan terakhir mereka, karena mereka harus beristirahat untuk perjalanan panjang, esok. Namun, Qiana yang masih ingin bermanja-manja pada Raka, terus menempel pada pria itu. Raka tentu saja menyukainya.
Walau dia sadar jika Qiana tak mencintai dirinya, tapi Raka tau, gadis itu merasa nyaman dan senang saat bersamanya.
Dan setelah hampir tiga puluh menit mereka saling berpelukan tanpa busana, Qiana pun menegakkan tubuhnya, lalu duduk bersandar di ranjang, sembari menutup tubuhnya dengan selimut.
“Mas, Qia mau bertanya sesuatu. Tapi ...”
“Tapi apa?” tanya Raka penasaran. Pria itu bahkan ikut menegakkan tubuhnya dan menatap Qiana.
“Tapi, Mas Raka berjanji tidak akan marah,” ucap gadis itu seraya menyodorkan jari kelingkingnya pada Raka. Raka pun menautkan kelingkingnya. “Iya, Mas janji.”
“Sewaktu kuliah di Inggris, Mas Raka sering begitu-begitu ya?”
“Begitu-begitu?” tanya Raka bingung. Pria itu bahkan mengerutkan dahinya karena bingung dengan apa yang dimaksudkan oleh sang istri.
“Iya ... Mas Raka jago sekali begituan. Dulu, sering begitu ya dengan bule-bule?! Di sana kan bebas.”
Raka tertawa kecil mendengar ucapan Qiana. “Oh itu,” ucap Raka.
“Iya, itu. Dulu, Mas Raka sering begitu ya? Jadi sekarang sudah jago!”
Raka menggeser posisinya hingga menjadi semakin dekat pada Qiana. Dia pun mendekatkan wajahnya ke telinga gadis itu.
“Memangnya, Mas jago?” bisik Raka seraya mengecup daun telinga gadis itu. Qiana menjawabnya dengan menganggukkan kepala. Tubuh gadis itu bahkan meremang, karena jemari Raka mulai menarik selimut yang menutupi tubuh mereka.
“Masa sih jago?” tanya pria itu dengan suara bergetar. Pujian yang Qiana lontarkan, membuat Raka kembali berhasrat pada gadis itu. Raka malah semakin ingin kembali menunjukkan kemampuannya yang dinilai 'jago' oleh Qiana.
__ADS_1
Dan selanjutnya, tanpa mendengar jawaban dari Qiana, tubuh sepasang suami istri itu sudah menempel erat. Lidah mereka bahkan sudah saling bertautan.
Malam itu, sekali lagi Raka menunjukkan kelihaiannya. Dan Qiana kembali dibuat melayang oleh permainan pria itu. Kamar hotel itu kembali menjadi saksi bagaimana Qiana meraung-raung karena permainan Raka. Kamar itu juga menjadi saksi, bagaimana seorang Raka Pratama menumpahkan seluruh hasratnya yang menggebu-gebu ke dalam tubuh wanita itu.
“Mas tidak pernah melakukannya dengan siapapun. Qiana yang pertama. Selamanya hanya Qiana,” lirih pria itu setelah dirinya terkulai di atas tubuh Qiana. Mendengar ucapan Raka, bibir Qiana tertarik ke atas. Mendengar bahwa dialah gadis pertama bagi Raka, Qiana tersenyum sumringah.
Malam itu, sepasang suami istri itu akhirnya tertidur pulas. Dan keesokan paginya, mereka langsung bersiap untuk kembali di tanah air.
...----------------...
Tidak ada yang menanti kedatangan sepasang suami istri itu di bandara, karena keluarga besar Bratajaya telah berkumpul di kediaman Raka.
Akhirnya pria itu memutuskan untuk tinggal di rumah warisan sang kakek yang telah berpulang belasan tahun lalu.
“Welcome pengantin baruuu...!” teriak Mika saat Raka dan Qiana memasuki rumah megah itu. Qiana pun menghambur ke pelukan adik sepupunya itu.
“Bagaimana rasanya jadi istri Mas Raka? Pasti menyebalkan kan, Mba?” tanya Mika sembari melirik pada Raka. Sementara Raka, tak mengindahkan ucapan adik kandungnya itu. Baginya, pertanyaan yang dilontarkan oleh Mika, sama sekali tak penting. Karena dia tau jawaban apa yang akan dikatakan oleh Qiana. Bukankah Qiana sudah memujinya dengan sebutan 'jago' malam itu? Sudah pasti gadis itu akan memuji dirinya di hadapan keluarga mereka.
Raka pun kembali mengayun langkah, menjauhi kedua gadis di keluarga Bratajaya itu.
“Sangat menyebalkan, Mik!” pekik Qiana. Sengaja gadis meninggikan suaranya agar Raka dapat mendengarnya.
Sementara Raka, pria itu seketika berhenti melangkah kala mendengar ucapan Qiana.
Kenapa gadis itu mengatakan jika dirinya menyebalkan? Padahal, mereka melewati malam-malam yang sangat membara di Turkiye.
“Ah ... Mika sudah bisa menebaknya! Pria kaku seperti Mas Raka itu, sudah pasti menyebalkan. Selama 21 tahun Mika hidup bersama Mas Raka, tidak ada hari yang tidak menyebalkan kalau Mas Raka ada di rumah,” ucap Mika.
Qiana menghela napas, “Yaa ... begitulah Mik,” ucap Qiana.
Raka sampai berbalik badan dan menatap Qiana karena ucapan gadis itu. Raka benar-benar heran dengan tindakan Qiana. Padahal gadis itu masih bermanja-manja padanya selama perjalanan menuju kediaman mereka. Tapi, kenapa Qiana mengatakan hal berbeda pada Mika?
Kenapa gadis itu mengatakan jika dirinya menyebalkan?
“Mas menyebalkan kenapa, Dek?” tanya Raka. Pria itu benar-benar penasaran dengan pernyataan Qiana. Raka berharap Qiana memberitahukan padanya, apa yang membuat gadis itu merasa kesal?
__ADS_1
Tapi, Qiana tak menjawab pertanyaan sang suami. Gadis itu mengabaikannya. Qiana menggandeng lengan Mika dan mengajak adik sepupunya itu menghampiri anggota keluarga Bratajaya lainnya.
“Katanya Mama masak gado-gado ya? Mba kangen sekali makanan Indonesia!” ucap Qiana. Bersama Mika, gadis itu melangkah menuju ruang makan. Tapi, Raka menahan langkahnya. Pria itu mencengkeram lengan sang istri.
“Mas menyebalkan kenapa, Dek?” tanyanya sekali lagi.
Qiana melepaskan cengkraman tangan Raka, lalu menatap tajam pria itu.
“Mas gak romantis. Gak asik!” pekik gadis itu. Raka terperangah mendengar ucapan Qiana.
“Sudah pasti gak romantis lah, Mba. Mas Raka ketus dan cuek begitu!” ucap Mika sambil menatap sinis sang kakak lelaki, seolah gadis itu merasa kesal pada Raka karena tak bisa membahagiakan Qiana.
“Udah ah, Qia lapar,” ucap gadis itu. Qiana dan Mika pun kembali mengayun langkah menuju ruang makan.
Ada Qeiza, Ivander dan Ivona yang menyambut kedatangan Qiana dengan memeluk erat gadis itu. Sementara Sean sibuk menyantap hidangan yang ada di hadapannya.
“Kok lama sekali sampainya. Bukannya kalian sudah tiba pukul sembilan di Soetta?” tanya Qeiza.
“Ada masalah bagasi tadi, Ma. Makanya telat sampai sini. Qia sudah lapar nih,” ucap gadis itu. Mendengar itu, Ivona gegas memberikan satu piring penuh gado-gado.
“Nih Sayang, ayo makan,” ucap Ivona.
“Terima kasih Tante.”
“Hush! Kamu ini kan menantu Mami, kok masih panggil Tante. Ayo panggil Mami seperti Mas Raka dan Mika,” ucap Ivona.
Qiana menampilkan deretan gigi putihnya, “hehehe ... Iya Mi,” jawab gadis itu.
“Raka mana?” tanya Qeiza yang tak melihat kedatangan keponakan yang kini sudah menjadi menantunya itu.
“Masih di depan, Ma,” jawab Qiana yang sudah menyantap makanan yang ada di hadapannya.
Sementara itu, Raka masih tetap berada di posisinya. Pria itu masih memikirkan apa yang diucapkan oleh Qiana padanya tadi.
Gadis itu mengatakan jika dirinya tak romantis. Dirinya tak asik.
__ADS_1
“Makanya, kamu harusnya cari pengalaman dulu dengan beberapa wanita sebelum menikah. Jadi mengerti apa yang diinginkan istri kamu,” ucap Anggara sembari terkekeh melihat wajah lesu sang anak lelaki.