
“Apa kita benar-benar harus menikah, Mas?”
Pertanyaan yang dilontarkan Qiana, membuat Raka kembali kesal pada gadis itu. Raka langsung mengambil obat yang dipegang olah Qiana dan meletakkannya kembali obat itu ke dalam kotak P3K. Pria itu lantas menginjak pedal gas, dan melajukan kendaraannya.
“Mas, Qia ingin menikah satu kali dalam seumur hidup. Pernikahan itu bukan permainan, Mas.”
Raka kembali menepikan kendaraannya.
“Mas terserah kamu, Qi. Andai kamu tidak mau melanjutkan rencana pernikahan ini, tidak apa-apa,” ucap Raka.
“Asal, kamu jangan kembali pada pria itu. Dia bukan pria yang baik. Dia punya maksud tertentu untuk mendekati kamu. Maaf, Mas terlambat mengumpulkan bukti.”
“Bukti? Bukti apa, Mas?” tanya Qiana.
“Bukti jika Albert mendekati kamu dengan maksud tertentu. Dia hanya menginginkan saham Bratajaya Corporation. Mas akan menunjukkannya pada kamu. ”
Qiana menundukkan kepalanya. “Mas tidak perlu menunjukkan bukti itu. Qia tidak akan pernah kembali pada Albert. Qia sangat membencinya. Dia sudah bersikap kurang ajar pada Qia.” lirih gadis itu.
“Baguslah,” ucap Raka.
Raka bersiap untuk melajukan kembali kendaraannya. Namun, pertanyaan Qiana. menahannya.
“Kalau Mas Raka sendiri bagaimana? Apa Mas mau melanjutkan rencana pernikahan ini?”
Raka mengembuskan napas panjang. Sembari menggenggam erat setir mobil, Raka menatap lurus ke depan.
“Sejak dulu, hanya Qia yang Mas inginkan untuk menjadi pendamping hidup Mas.”
Qiana terperangah mendengar ucapan Raka. Tubuh gadis itu bahkan kaku sejenak.
“Ucapan Mas jangan terlalu kamu pikirkan. Andai kamu tidak mau melanjutkan pernikahan ini pun, tidak apa-apa, Dek. Apapun yang membuat kamu bahagia, lakukanlah,” ucap Raka.
Pria itu menoleh, menatap Qiana yang mematung. Dielusnya puncak kepala Qiana.
“Sekarang, kita kembali ke rumah ya. Kamu tidur saja kalau mengantuk,” ucap Raka.
__ADS_1
Qiana tak meresponnya. Gadis itu masih mematung sembari menatap Raka. Bahkan, setelah Raka melajukan kendaraannya, Qiana masih tetap pada posisinya.
Perjalanan selama hampir tiga jam itu, hanya diisi oleh kebisuan. Baik Raka maupun Qiana, mengunci rapat-rapat mulut mereka. Bahkan, Raka pun seolah enggan menyetel musik di mobil itu, walau hanya sekadar untuk memecah keheningan.
Ketika mereka tiba di depan sebuah rumah mewah, Raka menekan klakson, lalu gerbang rumah mewah itupun terbuka lebar.
“Qia takut, Mas,” ucap Qiana, ketika mobil yang dikendarai oleh Raka memasuki gerbang mewah itu.
“Tidak apa-apa, Qi. Semuanya sangat mengkhawatirkan kamu,” ucap Raka.
“Ayo, kita turun.”
Dengan berat, Qiana melangkahkan kakinya keluar dari kendaraan itu. Raka sudah berdiri tepat di samping Qiana, saat gadis itu baru saja keluar dari mobil.
“Tidak apa-apa. Ini sudah tengah malam. Bisa saja Paman Ivan dan Tante Qei sudah istirahat di kamar mereka,” ucap Raka saat melihat wajah Qiana yang tegang.
Qiana mengembuskan napas berat. Gadis itu tau bahwa itu tak mungkin. Kedua orang tuanya tidak akan pernah bisa tidur jika salah satu anak mereka belum pulang ke rumah.
Qiana tau, Qeiza pasti akan mengamuk padanya. Bagaimana tidak? Dia sudah membohongi sang ibu. Bahkan membohongi seluruh keluarganya untuk kabur dengan sang kekasih.
Andai dulu dia mendengarkan apa yang diucapkan Sean, mungkin dia tidak akan melakukan hal konyol ini. Rencana pernikahannya dengan Raka, pasti tidak akan ternoda dengan aksi melarikan diri ini.
Qiana terus melangkahkan kakinya. Gadis itu berusaha menyejajarkan langkah bersama Raka. Qiana tak tau harus bereaksi seperti apa, jika sang ibunda mengamuk padanya. Tak seperti saat Qeiza menuduhnya menggoda Raka, kali ini dia benar-benar bersalah. Tak ada alasan baginya untuk melawan sang ibunda.
Belum sempat Raka menekan bel, pintu rumah mewah itu terbuka. Qeiza dan Ivander pun muncul di baliknya.
“Qia!” pekik Qeiza.
Mendengar suara menggelegar sang ibu kandung, Qiana menyingkir. Gadis itu menyembunyikan dirinya di balik tubuh Raka. Melihat hal itu, Raka pun tersenyum tipis.
“Mama dan Papa tidak marah kok, Sayang,” ucap Ivander.
Walau Ivander bertutur sangat lembut, Qiana masih belum berani menunjukkan dirinya. Gadis itu terus bersembunyi di balik tubuh Raka.
“Sayang, ayo bicara pada Qia. Dia pasti takut kamu marahi,” perintah Ivander. Qeiza terdiam sejenak.
__ADS_1
“Dia hanya merasa bersalah. Dia sadar kalau tindakannya salah. Tebakan Mama benar kan?”
Walau tak terlihat oleh Qeiza dan Ivander karena dirinya berdiri persis di belakang tubuh Raka, Qiana tetap menganggukkan kepalanya.
Raka melirik ke belakang. Anggukan kepala Qiana terasa di punggungnya. Pria itu kembali tersenyum tipis. Qiana, gadis itu memang selalu menggemaskan. Begitulah benak Raka.
Melihat Qiana berlindung di balik tubuhnya, Raka pun berjanji pada dirinya sendiri, bahwa dia akan menjadi pelindung bagi gadis itu, selamanya.
“Qia mengangguk, Tan,” ucap Raka dengan suara sedikit berbisik. Qeiza hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Yasudah, masuk. Sudah lewat tengah malam. Kalian beristirahatlah,” ucap Qeiza.
Wanita paruh baya itu menggandeng lengan sang suami dan berjalan meninggalkan Raka dan Qiana yang masih berdiri di ambang pintu.
“Mama dan Papa kamu sudah pergi. Kamu bisa keluar dari persembunyian,” lirih Raka.
Tapi, Qiana masih tak beranjak dari sana. Gadis itu malah melingkarkan tangannya di pinggang Raka.
Tindakan Qiana itu tentu saja membuat Raka terperanjat. Jantung pria itu pun berdetak kencang.
“Mas ... Soal rencana pernikahan itu....”
“Sudahlah Dek, Mas tau kalau cintamu bukan untuk Mas. Tidak apa-apa. Walau kecewa, tapi Mas tidak marah. Mas sadar kalau cinta tak bisa dipaksakan. Kamu berhak memilih pilihan yang membuat kamu bahagia.”
“Selama ini, Mas selalu membuat Qia bahagia. Mas selalu ada kapanpun Qia butuhkan. Mas selalu bisa melindungi Qia,” ucap Qiana.
Jantung Raka semakin berdebar bahkan hampir melompat keluar mendengar ucapan gadis itu. Angin malam bahkan tak mampu mengeringkan keringat yang muncul di dahi Raka. Dari ucapan Qiana, sepertinya gadis itu akan menerima dirinya sebagai calon suami. Raka sudah begitu percaya diri. Qiana pasti tidak akan membatalkan pernikahan itu. Qiana pasti bersedia menjadi istrinya. Dua hari lagi, janji suci pernikahan itu pasti dia ucapkan dengan lantang di sisi Qiana.
Tapi, ucapan Qiana selanjutnya meruntuhkan kepercayaan diri Raka.
“Maaf kalau Qia tidak bisa membalas cinta Mas Raka. Padahal selama ini— sejak Qia kecil hingga sekarang— hanya Mas Raka lah yang selalu ada buat Qia. Hanya Mas Raka lah pria yang menjaga Qia. Tapi ... Entah kenapa hati ini masih belum bisa terbuka untuk Mas. Maaf Mas.”
Raka tercekat. Jantung yang tadinya hampir melompat keluar, kini hampir berhenti berdetak.
“Qia mau, Mas. Qia bersedia menjadi istri Mas Raka.”
__ADS_1