Mencintai Qiana

Mencintai Qiana
Part 23 - POV Raka


__ADS_3

POV Raka


Membawa Qiana berbulan madu ke Turkiye adalah impianku sejak remaja. Dan ketika hal itu menjadi nyata, aku sangat bahagia. Tapi, aku tidak mau kebahagiaanku menjadi beban yang terlalu berat untuk gadis itu.


Qiana ... gadis itu tak pernah mencintaiku. Dia tak pernah menganggap diriku lebih dari seorang kakak. Makanya, aku tidak langsung menuntutnya untuk melayaniku di atas ranjang.


Aku biarkan dia menikmati keindahan Turkiye selama satu minggu penuh. Aku turuti semua inginnya. Kami menjelajah negara dua benua itu selama tujuh hari.


Kami berwisata sekaligus mempelajari kebudayaan asli Turkiye. Tidak hanya menaiki balon udara di Cappadocia, kami juga menonton pertunjukan sufi, bahkan mengunjungi pabrik karpet terkemuka di Cappadocia. Ke manapun tempat yang ingin dikunjunginya, aku turuti. Dan, setelah 30 tempat kami datangi, aku manjakan tubuhnya. Sengaja aku memesan paket perawatan tubuh setelah kami menjelajah selama tujuh hari. Agar Qiana kembali bugar setelah berwisata selama satu minggu penuh.


Setelah aku turuti semua inginnya, kini giliran ku. Walau tak memaksa, tapi aku berharap dia tak menolak inginku.


Aku ungkapkan jika aku ingin melakukannya malam ini. Aku ingin memiliki gadis itu seutuhnya, malam ini. Walau wajah gadis itu mendadak beku, tapi Qiana menganggukkan kepalanya dengan kaku.


Inilah saatnya aku mempraktekkan apa yang sudah ku pelajari selama ini. Beberapa minggu sebelum menikah, aku banyak belajar dari video dan tulisan-tulisan yang tersebar di jagat maya. Aku berharap Qiana akan menyukai aksiku.


Aku berusaha menekan hasratku yang menggebu-gebu, demi menyenangkan Qiana.


Aku mulai menjulurkan lidah dan membelai bibirnya yang berwarna merah muda. Bagai menyantap es krim, ku nikmati setiap sudut bibir merah muda itu.


Saat aku melirik ke arahnya, aku dapat menyaksikan mata gadis itu mengerjap-ngerjap setiap lidahku membelai bibirnya.


Qiana memang sungguh menggemaskan.


Tak tahan melihat ekspresi menggemaskan gadis itu, langsung saja ku lahap dengan lembut bibir merah muda itu. Dan sepertinya, perlahan Qiana mulai menikmati. Gadis itu bahkan membalasnya dengan malu-malu.


Tapi, jiwaku kini menuntut lebih. Tanpa melepaskan bibir kami yang saling bertaut, aku berpindah posisi. Kini aku sudah berada di hadapan gadis itu. Ku buka lebar kaki Qiana agar tubuh kami saling menempel.


Ku buka satu per satu kancing piyamanya. Bahkan aku mengeluarkan dua benda kenyal miliknya. Sepertinya Qiana tidak menyadari hal itu.


Aku kembali menjulurkan lidah. Tapi kali ini, bukan bibir merah muda itu lagi yang menjadi targetnya. Dua buah ceri milik gadis itu lah yang menjadi santapanku selanjutnya.


Gadis itu mendesis saat aku menjepit dan menarik-narik gemas dua buah ceri miliknya. Panggul Qiana bahkan ikut meliukkan di bawah sana.

__ADS_1


Aku pun menjadi semakin tak sabar melihat secara langsung, panggul yang meliuk-liuk itu.


Langsung saja aku loloskan celananya. Aku pun menatap bagian itu dengan takjub. Ku benamkan kepalaku di sana. Dan aku kembali menikmati bagian tubuh gadis itu, bagai menikmati es krim.


Kali ini, Qiana tak hanya mendesis. Gadis itu kini mengerang. Bahkan, saat aku mulai mengulum daging kecil sensitif miliknya, Qiana meraung-raung. Kaki gadis itu semakin terbuka lebar.


Rambutku bahkan dicengkeramnya dengan erat. Kepalaku juga semakin dibenamkannya. Aku hampir kehabisan napas. Dan tiba-tiba aku merasakan cairan miliknya menyembur ke wajahku.


Qiana lemas.


Melihat itu, aku pun membuka seluruh pakaian yang menempel di tubuhku. Ku naiki gadis itu dan mulai melakukan pe ne tra si.


Saat Qiana kembali mendesis dan melingkarkan kakinya di pinggangku, ku masuki tubuhnya dengan lembut. Berharap gadis itu tak merasakan sakit. Tapi, nyatanya, walau aku sudah melakukannya dengan lembut, gadis itu tetap merengek.


“Aww ... Sakit Maass..,” rengeknya.


“Iya, Mas usahakan pelan-pelan,” lirihku. Aku benar-benar menekan hasratku agar Qiana tak terlalu merasakan sakit. Aku mulai bergerak dengan lembut. Gadis itu kembali meringis. Tapi, lambat laun, Qiana kembali mendesis. Sepertinya aku pun tak bisa menahannya lebih lama lagi. Tubuhnya yang menjepit kuat milikku, membuatku tak bisa bertahan lama.


Tanpa bisa dicegah, cairan milikku tersembur ke dalam tubuhnya. Aku memeluk erat gadis yang kini berada tepat di bawah tubuhku. Menyatakan cinta padanya. Tak lupa juga meminta maaf.


Sejujurnya aku merasa malu pada Qiana. Aku juga tak menyangka jika keluar secepat itu. Padahal, biasanya, saat aku bersolo karir, tidak keluar secepat itu.


“Kok rasanya hanya perih, Mas? Kata orang-orang rasanya enak?”


Pertanyaan Qiana membuatku mengangkat tubuh dan menatapnya. Seberapa jauh pergaulan gadis berusia 23 tahun ini? Mengapa dia sudah membicarakan hal yang harusnya dilakukan oleh sepasang suami istri? Apa dia membahasnya dengan mantan kekasihnya itu?


Ku tatap dalam matanya dan bertanya, “Siapa yang mengatakannya?”


“Karyawan di kantor, Mas. Kan banyak yang sudah menikah.”


“Kalian membicarakan hal seperti itu di kantor?”


“Qia hanya mencuri dengar saat mereka berbicara perihal itu. Katanya enak,” ucap gadis itu.

__ADS_1


Aku menegakkan tubuhku dan turun dari atas tubuhnya. Sebenarnya ada sedikit rasa malu karena aku tidak berhasil membuat Qiana menikmatinya di percobaan pertama.


Ku selipkan tanganku di punggung dan pahanya, lalu aku pindahkan gadis itu.


“Pindah ke sini ya, di situ basah,” ucapku saat mengangkat tubuh mungilnya. Gadis itu hanya mengangguk.


Kembali aku menaiki tubuhnya dan membenamkan wajahku di ceruk dadanya.


“Mas mau lagi ya,” lirihku.


“Masih sakit Mas,” rengeknya.


Ku tegakkan kepalaku dan menatapnya dengan dalam.


“Kali ini Mas janji akan enak,” ucapku dengan mantap. Entah mengapa kali ini kau yakin bisa membuat Qiana melayang. Pasalnya, begitu bagian tubuhku keluar dari tubuhnya, hasratku kembali menggebu-gebu.


Gadis itu hanya bisa menurut pasrah sembari mengingatkan agar aku melakukannya dengan pelan.


Aku tentu saja menurutinya. Aku tak mau gadis itu menjadi trauma dan tak lagi mau memenuhi kebutuhanku.


Aku bermanuver dengan penuh kelembutan di bawah sana. Sementara wajahku, aku benamkan di ceruk dadanya sambil sesekali menikmati buah ceri miliknya.


Aku benar-benar tidak menyangka jika Qiana bisa senikmat ini. Dan sepertinya, kali ini bukan hanya aku saja yang menikmatinya. Gadis itu mulai mendesis. Bahkan lambat laun Qiana mulai mengeram.


Di percobaan kedua ini, sepertinya aku dan Qiana saling menikmati. Panggul gadis itu bahkan begitu menyambutku. Kakinya mencengkeram erat pinggangku, seolah aku tak boleh melepaskan diri dari tubuhnya.


Erangan kami saling bersahutan. Aku bergerak semakin liar. Qiana pun demikian. Gadis itu meraung-raung dan bergerak semakin liar di bawah sana. Hingga akhirnya kami merasakan puncak itu di waktu yang hampir bersamaan.


Aku terkulai lemah di atas tubuhnya. Menghirup aroma harum yang tersembul dari lekuk leher gadis itu.


“Kali ini enak kan?” bisikku.


Tanpa malu-malu, Qiana menjawabnya sembari tertawa kecil.

__ADS_1


Gadis itu memang selalu membuatku gemas.


__ADS_2