
“Qia di mana, Ka?” tanya Safira ketika gadis itu baru saja menemui Raka di ruang meeting yang ada di salah satu hotel bintang lima di Ibu Kota. Safira pikir, dirinya akan kembali bertemu Qiana. Safira pikir, Raka akan mengatakan jika Qiana menunggunya di restoran yang ada di hotel itu. Pertanyaan yang dia lontarkan siang ini hanyalah sekadar basa-basi untuk memulai pembicaraan pada Raka.
Namun, jawaban yang diberikan oleh pria itu membuat bola mata Safira membesar.
“Qia sepertinya kelelahan menungguiku meeting hampir setiap hari. Makanya, mulai hari ini, Qia tidak ikut. Dia beristirahat saja di rumah,” jelas Raka.
Safira yang begitu senang mendengar jawaban Raka, terdiam sejenak.
“Iya sih, kasihan Qia kalau mengikuti kamu terus. Kandungannya juga sudah sangat besar. Memang sudah seharusnya dia beristirahat di rumah saja.”
“Bahkan, kalau bisa beristirahat selamanya dari dunia ini.” Ucap Safira dalam benaknya.
Raka hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Safira. Ah, andai ada Qiana di sana. Dia pasti tidak bisa menunjukkan senyuman pada Safira.
Mungkin memang sudah seharusnya Qia di rumah saja,” benak Raka.
Safira tidak terlalu memperhatikan meeting siang itu. Pikiran sibuk merencanakan banyak hal. Qiana tak akan lagi mengganggu waktunya bersama Raka..Mungkin sudah seharusnya Mark kembali ke Inggris. Dia akan meneruskan pengerjaan proyek itu bersama Raka. Hanya berdua saja.
Dia harus bisa menghabiskan banyak waktu berdua saja bersama Raka. Raka harus lebih banyak menghabiskan waktu dengannya dibandingkan dengan Qiana. Agar Raka kembali teringat masa-masa di mana mereka sangat dekat. Masa-masa di mana mereka sering menghabiskan waktu berdua.
Safira yakin, jika hal itu terjadi, lambat laun, Raka pasti akan bertekuk lutut padanya.
Apa kelebihan Qiana?
Dia punya banyak hal yang tidak dipunyai oleh Qiana. Wajah yang lebih cantik, otak yang jauh lebih pintar, tubuh yang jauh lebih seksi, bahkan kekayaan pun lebih unggul.
Safira begitu antusias. Sudah cukup satu tahun perjuangannya untuk mencapai ini semua. Dia hanya ingin menghancurkan rumah tangga Raka. Dia ingin Raka menyadari, jika dirinya jauh lebih baik dari Qiana.
Pengalamannya selama satu tahun tinggal bersama Tommy, membuat Safira selalu membayangkan jika suatu saat dirinya berada di bawah kungkungan Raka.
Tubuh Safira tiba-tiba meremang membayangkannya. Semuanya harus dimulai dari hari ini. Begitulah pikir Safira.
__ADS_1
Di saat Raka dan Mark tengah sibuk membahas proyek mereka, Safira meminta izin untuk pergi ke toilet. Di sana dia terlibat menghubungi seseorang.
“Saya sudah titipkan kunci mobil kepada petugas vallet. Nanti kamu tinggal sebut nama saya dan plat nomer mobilnya. Setelah itu bawa pergi mobil itu ke mana saja selama tiga hari.”
Safira tersenyum seusai memutuskan panggilan telepon itu. Dia tidak akan memulainya dengan gegabah. Dia akan perlahan-lahan mendekati Raka. Dia harus menarik simpati Raka terlebih dahulu.
Setelah urusan mobil selesai dia tangani. Safira pun menghubungi Tommy. Gadis itu meminta agar Mark ditarik kembali ke Inggris. Tommy tentu saja menyetujuinya. Mereka sudah membicarakan semuanya. Dia akan membiarkan Safira bermain-main sedikit dengan Raka. Sebelum akhirnya gadis itu kembali ke atas ranjangnya.
Senyum Safira bertambah besar. Dia sudah mengatur semuanya dengan sangat baik. Dia harus secepatnya memanfaatkan situasi.
“Kamu bisa mengantarkan aku ke apartemen kan, Ka? Soalnya hari ini aku tidak bawa mobil. Mobilku sedang di bengkel,” ucap Safira, saat meeting mereka telah usai dan Mark telah meninggalkan hotel itu.
Ada rasa sungkan saat Raka mau menolak permintaan Safira. Sebenarnya Raka merasa bersalah karena tuduhan Qiana pada Safira. Tapi, peringatan dari sang istri juga membuatnya takut. Dia tak mau Qiana kembali merajuk padanya.
Haruskah dia berbohong pada Qiana?
Raka hampir saja menganggukkan kepalanya jika ponselnya tak berdering. Tertera nama sang pujaan hati di sana. Qiana seolah tau jika sang suami hendak berbohong padanya.
“Mas, meetingnya sudah selesai kan?” tanya Qiana yang berada di kediamannya.
“Mas langsung pulang atau ke kantor lagi?”
“Ini mau langsung pulang kok,” jawab Raka.
Sementara Raka tengah asik berbicara memalui ponselnya. Safira yang ada di sisi pria itu berusaha mencuri dengar perbincangan itu. Safira tau jika Qiana lah yang menghubungi Raka.
Safira tentu saja merasa kesal. Raka bisa saja tak jadi mengantarkan dirinya ke apartemen karena takut pada sang istri. Qiana seolah menunjukkan jika dirinyalah yang punya kuasa atas diri Raka.
Safira mengepalkan jemari tangannya dengan erat. Dia benar-benar harus secepatnya memberi perhitungan pada Qiana.
“Maaf ya Fir. Saat ini aku belum bisa membantu kamu. Apa kamu mau aku bantu mencari taksi?”
__ADS_1
“Apa tidak bisa mengantar aku sebentar saja, Ka? Kamu tau kan kalau aku tidak terlalu nyaman berkendara dengan orang asing,” bujuk Safira.
“Qia membutuhkan aku. Dia memintaku untuk cepat kembali ke rumah,” balas Raka.
Safira mengembuskan napas panjang. Gadis itu menjadi sedikit muram. Raka pun semakin tidak enak hati padanya.
“Yasudah, tidak apa-apa, Ka. Aku akan mencoba menghubungi teman lain yang bisa membantuku,” lirih Safira.
“Sekali lagi aku minta maaf ya, Fir,” pinta Raka.
Seperti biasa, Safira dengan senyumnya yang menawan, mengangguk pelan.
“Tidak apa-apa, Ka. Aku paham kok. Qia sedang hamil besar. Wajar kalau kamu ingin secepatnya bertemu dia. Dia pasti kesusahan tanpa kamu di sisinya,” jelas Safira.
Raka tersenyum lembut pada gadis yang dianggap sebagai sahabatnya itu. Raka pun berpamitan pada gadis itu.
Sementara itu, sepeninggalnya Raka. Safira kembali menghubungi pesuruhnya. Dan meminta pria itu membawa kembali mobilnya ke hotel di mana dia berada.
Sambil terus menahan rasa kesal. Safira kembali merencanakan hal lain. Saat jadwal meeting selanjutnya, dengan alasan yang sama, Safira meminta Raka untuk menjemputnya dan pergi bersama ke tempat yang sudah mereka sepakati bersama Mark.
Dan Raka, tanpa sepengetahuan Qiana, pria itu memenuhi keinginan Safira.
Safira meloncat-loncat kegirangan saat Raka mengatakan akan menjemputnya. Siang itu, Safira berdandan lebih dari biasanya. Bahkan Safira memakai pakaian yang lebih terbuka.
Raka pun merasa tidak nyaman saat duduk berdampingan bersama Safira. Dress pendek yang dikenakan gadis itu, bahkan langsung tersingkap begitu dia duduk di sisi Raka.
“Tumben kamu pakai sopir, Ka,” ucap Safira.
“Iya, tiba-tiba Qia memintaku melakukannya,” jawab Raka.
Safira hampir saja mengumpat di hadapan Raka. Gadis itu kembali merasa kesal. Qiana selalu saja mengacaukan rencananya. Padahal dia sudah sangat senang bisa berduaan bersama Raka selama perjalanan. Tapi, kini, ada sopir yang mengganggu ruang geraknya bersama Raka.
__ADS_1
Dia yakin, jika Qiana melakukannya hanya untuk memata-matai Raka.
Dasar gadis bodoh. Kamu pikir aku tidak tau rencana murahanmu itu. Aku punya 1001 cara untuk bisa menghabiskan waktu berdua bersama Raka. Kita lihat saja nanti. Cara bodohmu ini tidak akan bisa menghalangiku.