Mencintai Qiana

Mencintai Qiana
Part 13 - Raka


__ADS_3

Detik demi detik berlalu. Qiana melirik pada jam yang tertempel di dinding. Kebebasan yang diberikan oleh Albert hampir usai. Sepuluh menit lagi, Albert pasti akan muncul dari balik pintu.


Tubuh Qiana semakin gemetar. Gadis itu memindai seluruh kamar. Pandangannya lantas tertuju pada jendela kaca yang ada di kamar itu.


Qiana berlari ke arah jendela. Gadis itu mengukur seberapa tinggi keberadaan dia dari atas tanah. Kamar yang ditempatinya itu berada di lantai dua.


Selamatkah dia, jika melompat dari ke bawah?


Qiana tak tau lagi harus berbuat apa. Kalaupun dia harus tewas ketika melompat dari jendela itu, Qiana sudah ikhlas. Daripada dia harus menuruti keinginan brengs3k Albert, Qiana lebih memilih untuk mengakhiri nyawanya.


Gadis itu dengan perlahan membuka jendela, lalu melongok ke bawah.


“Pasti sangat sakit kalau terbentur batu besar di bawah sana,” lirihnya.


Qiana menarik napas panjang. Gadis itu siap terjun dari sana.


Tapi, sesaat sebelum Qiana menaikkan kakinya ke atas jendela, gadis itu mendengar suara teriakan seorang pemuda memanggil namanya.


“Qia ...!”


Walaupun terdengar sedikit samar, tapi teriakan itu adalah suara yang sangat dia kenali. Qiana pun membatalkan rencananya untuk terjun dari jendela.


Dengan gegas Qiana berlari menuju pintu.


“Mas Raka ... Mas ... Qia di sini, Mas!” teriaknya sembari menggedor-gedor pintu kamar itu.


Qiana sangat yakin, jika teriakan itu adalah suara kakak sepupunya— Raka Pratama. Gadis itu pun berusaha memberitahukan pada Raka, di mana posisinya sekarang.


Qiana terus menggedor pintu kamar sembari memanggil nama Raka. Dan sekarang gadis itu ingin menekan handle pintu agar Raka bisa dengan cepat menemukan, di kamar mana dirinya terkurung.


Dengan sekuat tenaga Qiana menekan handle pintu kamar sembari berteriak-teriak memanggil nama Raka. Tapi, teriakan gadis itu mendadak berhenti kala pintu kamar itu terbuka.


“Ternyata dari tadi tidak terkunci,” ucapnya heran.


Qiana pikir, Albert akan mengunci dirinya dari luar agar dia tak dapat melarikan diri. Namun ternyata pintu itu dibiarkan begitu saja. Qiana pun menyesal karena tak mengecek pintu itu sedari tadi. Jika tidak, mungkin dia bisa mengendap-endap keluar dari kamar itu dan berusaha mencari jalan keluar dari villa itu.


Suara Raka masih menggema. Dan sepertinya, pria itu tengah berdebat dengan Albert. Dengan gegas Qiana mengayun langkah mencari keberadaan Raka. Dia ingin sekali memeluk erat pria itu dan menangis sesenggukan dalam dekapan Raka. Dia ingin mengadukan semua perbuatan Albert padanya.


Kaki Qiana berhenti melangkah saat dia mendapati Raka tengah mencengkeram erat kerah baju Albert.


“Mas Raka!” teriak Qiana.


Raka dan Albert sama-sama mengalihkan pandangan mereka. Kedua pria itu kini menatap Qiana.

__ADS_1


“Kok kamu keluar kamar, Baby. Sudah siap melayaniku? Kembalilah ke kamar, setelah mengusir lalat pengganggu ini, aku akan segera menyusul mu dan kita sama-sama menikmati surga dunia,” ucap Albert.


“Mas, Qia mau pulang,” rengek gadis itu.


Mendengar keinginan Qiana, Raka lantas menghempaskan tubuh Albert hingga pria itu tersungkur.


Raka pun menghampiri Qiana yang masih berdiri di tangga. Namun, saat Raka baru melangkah, teriakan Albert menghentikan langkah pria itu.


“Sep! Jok!”


Dua orang pria berbadan kekar muncul dari balik pintu masuk.


“Kalian kerjanya apa saja?! Kenapa cecunguk itu bisa masuk ke sini?!”


“Loh, dia bukannya teman yang sedang Boss tunggu? Namanya sama, Raka.”


“Hajar,” ucap Albert tanpa basa-basi.


Qiana terkejut mendengar perintah yang Albert ucapkan pada dua orang pria berbadan kekar itu. Kedua pria berbadan kekar itu akan menyerang Raka. Membayangkannya saja sudah membuat Qiana gemetar. Dia tak mau Raka terluka hanya demi menyelamatkan dirinya.


Qiana langsung berteriak histeris saat kedua pria berbadan kekar itu melancarkan serangan pada Raka. Sementara itu, Albert menghampiri Qiana dan mencengkeram lengan gadis itu.


Albert akan menyeret Qiana dan membawa gadis itu kembali ke dalam kamar yang ditempatinya tadi. Namun, sebelum menyeret Qiana, Albert melihat perkelahian yang imbang antara Raka dan kedua anak buahnya.


“Ternyata sepupu tercintamu itu jago berkelahi juga,” ucap Albert.


Qiana kembali histeris saat Raka tersungkur dan dikeroyok.


“Mas .... Mas Rakaaa!!” teriak Qiana.


“Buang dia ke sungai jika kalian sudah selesai bersenang-senang!” perintah Albert.


“Siap Boss!” jawab keempat pria berbadan kekar itu dengan lantang. Mereka bahkan semakin bersemangat melancarkan serangan ke tubuh Raka.


“Jangan Al. Jangan lakukan itu. Kasihan Mas Raka. Dia hanya mau menolongku. Aku akan lakukan apa saja asal kamu tidak menyelakai Mas Raka,” rengek Qiana.


“Yakin, kamu mau melakukan apa saja?” tanya Albert.


Sembari menangis sesenggukan, Qiana menganggukkan kepalanya. Gadis itu tak punya pilihan lain. Tak seharusnya Raka menanggung rasa sakit itu.


Dia sendiri yang melarikan diri dari rumah. Dia sendiri yang ingin pergi bersama Albert. Jadi, Raka tak boleh menanggung semua akibat dari perbuatan dirinya. Qiana aja. mempertanggungjawabkan perbuatannya sendiri.


Melihat Qiana menganggukkan kepala, senyum licik di wajah Albert terbit.

__ADS_1


“Stop!!” perintah Albert. Keempat pria berbadan kekar itu, langsung menghentikan aktivitas mereka.


“Pegang dia dengan erat!” perintah Albert. Pria berbadan kekar itu pun kembali menuruti perintah atasan mereka.


Setelah itu, Albert kembali menarik lengan Qiana. Dia membawa gadis itu ke hadapan Raka.


Air mata Qiana kembali tumpah saat menyaksikan lebam di wajah Raka. Bahkan, di pelipis pria itu mengalir darah segar.


“Maafkan Qia, Mas,” lirihnya tanpa suara.


“Kalau kamu ingin sepupu tersayang mu ini hidup. Kamu harus lakukan semua perintahku. Mengerti?!”


Qiana hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengeluarkan suara selain suara tangis.


“Jawab!” bentak Albert.


“Iya,” jawab Qiana.


“Iya apa?!”


“Aku menuruti semua keinginan kamu. Asal kamu bisa memastikan Mas Raka kembali ke rumah dengan selamat,” lirih Qiana.


“Tentu saja, Baby. Asal kamu menuruti semua keinginanku. Sepupu tercintamu ini akan selamat,” janji Albert.


“Aku akan menuruti semua perintah kamu.”


“Setelah ini, kamu kembali ke kamar tadi. Pakai kostum yang sudah aku siapkan di lemari. Dan kita akan bergumul, menghabiskan malam di ranjang itu,” ucap Albert.


“Baik, aku setuju!” ucap Qiana lantang.


Mendengar ucapan Qiana, mata Raka melebar. Pria itu seketika menaikkan kepalanya dan menatap tak percaya pada apa yang diucapkan oleh Qiana.


Bagaimana mungkin Qiana bisa dengan sukarela menyerahkan tubuhnya pada pria baji'ngan seperti Raka?


“Kalau begitu, lepaskan Mas Raka!”


Albert seketika tertawa terbahak-bahak.


“Tidak semudah itu, Baby. Dia akan aku kembalikan dengan selamat sampai di kediaman keluarga Bratajaya, setelah dia menjadi saksi, bagaimana aku mengambil kesucian mu.”


Mata Raka semakin menyala. Dia ingin sekali melemparkan batu besar ke atas kepala Albert, saat ini. Tapi, apa daya. Bergerak saja dirinya kesusahan karena kawalan keempat pria berbadan kekar itu.


Tidak seperti Raka yang langsung paham atas apa yang diucapkan oleh Albert, Qiana mengerutkan dahinya.

__ADS_1


“Maksud kamu bagaimana?”


“Sepupu tercintamu itu, akan menjadi penonton pertunjukan ranjang kita.”


__ADS_2