
“Aku memberikan waktu sampai perusahaan Raka mengalami kebangkrutan. Dan aku sudah mempercepat hal itu. Seluruh aset milik perusahaan orang tua Raka, sudah jatuh ke tanganku. Dan kini, saatnya kamu yang jatuh ke tanganku.”
Ucapan Tommy membuat Safira terdiam sejenak. Gadis itu memikirkan cara yang harus dia tempuh untuk kembali mengelabui Tommy. Gadis itu memang berbohong pada Tommy. Safira mengatakan pada pria itu jika dirinya ingin membalas dendam dengan membuat Raka mengalami kebangkrutan. Tapi, niat Safira sebenarnya adalah untuk memiliki Raka. Walau hanya satu bulan, dia pasti sudah sangat bahagia karena sempat memiliki Raka di sisinya.
Namun, ucapan yang baru saja dilontarkan oleh Tommy, membuat Safira bingung. Dia harus memikirkan rencana lain, untuk bisa menghindari Tommy beberapa bulan lagi.
“Bukannya aku tidak mau untuk kembali bersama kamu ke London. Tapi, aku punya beberapa pekerjaan penting yang harus aku selesaikan,” ucap Safira.
“Pekerjaan penting apa? Bukannya bisnis papi kamu semuanya berjalan lancar tanpa kamu perlu campur tangan?”
“Ini tidak ada urusannya dengan perusahaan Papi. Ini urusan pekerjaanku sendiri. Usaha yang baru saja ingin aku rintis. Biar nanti selama aku tinggal di London, aku memiliki tambahan income,” jawab Safira. Gadis itu terus memutar otak cerdasnya untuk bisa mengelabui Tommy. Sayangnya, Safira tak mengetahui jika Tommy sudah tau segala-galanya. Bahkan rencana yang baru saja dirancang oleh gadis itu.
“Kamu akan menjadi istri seorang Tommy. Kamu tidak perlu tambahan pemasukan. Aku akan memberikan berapapun yang kamu butuhkan. Bahkan, jika kamu menginginkan seluruh aset perusahaan keluarga besarmu, aku bisa memberikannya. Aku akan membeli perusahaan keluarga kamu. Jadi, kamu memiliki income yang banyak seperti yang kamu inginkan. Kamu tidak perlu merintis sebuah usaha yang belum tentu menghasilkan,” terang Tommy.
Dengan susah payah Safira menelan ludahnya. Entah alasan apalagi yang harus dia utarakan akan pria itu membiarkannya bebas beberapa bulan lagi. Dia hanya butuh satu atau dua bulan untuk membuat Raka jatuh dalam pelukannya.
“Aku hanya ingin merintis usaha dengan kemampuanku sendiri, Tom. Itu merupakan suatu kebanggaan tersendiri jika aku berhasil mewujudkannya. Jadi, ini semata bukan karena uang,” elak Safira.
“Bukan karena uang?” tanya Tommy. Dengan cepat Safira menganggukkan kepalanya. Matanya mulai berbinar. Sepertinya Tommy mulai masuk dalam tipu dayanya.
Sembari bergelayut manja di dada Tommy, Safira kembali menekankan jika itu salah keinginannya sejak dulu.
“Iya Tom. Ini semua bukan tentang uang. Kalau uang, tentu saja aku bisa mendapatkannya dari kamu. Kamu mengerti kan?”
Tommy tersenyum sinis.
“Ini semua bukan tentang uang ya?”
Lagi, Safira menganggukkan kepalanya di atas dada bidang Tommy.
“Ini tentang pencapaian diri kamu? Pencapaian yang membuat kamu bangga jika berhasil mendapatkannya?”
“Ya ... Kira-kira seperti itu,” jawab Safira.
__ADS_1
“Apa kamu segitu bangganya jika bisa tidur dengan Raka?”
Tubuh Safira tiba-tiba membeku. Safira tak mengira jika Tommy mengetahui tentang rencana yang sudah dia rancang.
Dari mana Tommy mengetahui semuanya?
Apa pria itu selama ini memata-matai dirinya?
Sejauh mana pria itu tau tentang rencananya?
“Kenapa? Kamu bingung aku tau hal itu dari mana?” tanya Tommy. Safira tentu saja tak menjawab pertanyaan itu. Gadis itu bahkan tak sanggup untuk bergerak.
Tommy tertawa terbahak-bahak melihat Safira yang hanya terdiam.
“Raka sendiri yang memberitahukan padaku.”
“Ra-Raka,” lirih Safira gugup.
“Bahkan aku juga tau rencanamu untuk menghancurkan perusahaan yang baru saja didirikan oleh Raka.”
Mata Safira membulat sempurna. Bahkan Tommy sudah mengetahui tentang rencana yang baru saja dia susun. Dari mana pria itu mengetahuinya?
Tidak mungkin Raka juga yang memberitahukan perihal penjebakan itu pada Tommy. Raka tak mungkin tau mengenai rencana barunya itu.
“Kenapa? Kamu bingung lagi, aku tau dari mana mengenai hal itu? Tebakanmu benar. Bukan dari Raka. Pria polos itu mana mungkin terpikirkan jika kamu akan kembali menghancurkan perusahaan yang baru dia bangun.”
Tommy kembali tertawa terbahak-bahak melihat reaksi Safira. Wajah gadis itu terlihat bertambah pucat. Tubuhnya pun sedikit bergetar.
Dan tubuh gadis itu semakin gemetar, saat Tommy mencengkeram dagunya dengan kencang.
“Kamu mau bermain-main denganku, Safira?” ucap Tommy. Mata pria itu bahkan membesar dan memerah saat mengatakannya. Safira pun dapat merasakan amarah luar biasa dari diri Tommy. Tak pernah pria itu terlihat menakutkan seperti saat ini.
“Baiklah kalau kamu ingin bermain-main denganku. Aku akan mengabulkan keinginanmu,” bisik Tommy.
__ADS_1
Pria itu menghempaskan wajah Safira yang baru saja dicengkeramnya. Sekali lagi dia melampiaskan hasratnya pada Safira.
Tommy melucuti celananya sendiri, lalu menarik rambut Safira hingga membuat gadis itu berlutut di hadapannya yang tengah duduk di pinggir ranjang. Dia memuaskan dirinya dengan bantuan mulut Safira. Mencengkeram dengan erat rambut gadis itu dan membuat kepala Safira bergerak maju-mundur. Hingga akhirnya Tommy menyemburkan cairan miliknya ke wajah Safira.
Tubuh Safira semakin bergetar. Untuk pertama kalinya gadis itu merasa dilec*hkan oleh Tommy. Safira merasa semakin ketakutan. Dia tau seberapa banyak aset Tommy. Dia tau seberapa berkuasanya Tommy di dunia bisnis. Safira bahkan takut jika perusahaan keluarganya terkena imbas dari perbuatannya yang mengkhianati Tommy.
Tommy tertawa puas saat melihat wajah Safira basah oleh cairan yang baru saja dia semburkan.
“Mulai saat ini, kamu akan melihat rumah tangga Raka dan istrinya semakin harmonis dari hari ke hari. Aku juga akan pastikan kamu selalu menyaksikan bagaimana Raka hidup penuh kebahagiaan dan bergelimang harta bersama istri dan anak-anaknya,” ucap Tommy.
Safira terperangah mendengar ucapan Tommy. Gadis itu tak mengerti apa maksud dari perkataan Tommy.
Dia akan melihat keharmonisan rumah tangga Raka bersama Qiana? Bahkan selalu menyaksikan hidup Raka akan bahagia dan bergelimang harta?
Apa itu artinya Tommy akan tinggal di Indonesia? Apa dia akan menjadi tawanan Tommy di negara ini?
Apa itu artinya dia harus mengubur mimpinya untuk memiliki Raka?
“Kamu tenang saja, aku tidak akan menawanmu di sini. Kamu bebas. Perjanjian kita batal. Aku tidak akan membawamu ke London. Lagian, siapa yang membutuhkan gadis pengkhianat dan tak tau diri seperti kamu?”
Safira semakin terperangah. Gadis itu bahkan mengerutkan dahinya. Dia benar-benar tak mengerti maksud ucapan Tommy.
Apa benar perjanjian mereka dibatalkan? Apa benar dia akan terbebas dari Tommy? Benarkah dia bisa semudah itu terbebas dari Tommy?
“Ya ... Kamu bebas Safira. Aku tidak akan menawanmu. Baik di sini, maupun di London. Aku akan kembali ke London, besok. Tentu saja aku tak akan membawa seorang gadis pengkhianat bersamaku. Lagi pula, aku sudaha bosan denganmu.”
Mata Safira melebar mendengarnya. Akhirnya dia bisa terbebas dari Tommy. Tidak mengapa dia mengalami pelec*han seperti tadi. Toh itu sebanding dengan kebebasannya.
Besok, Tommy akan kembali ke London. Pria itu juga telah bosan dengannya. Dia bisa kembali menjalankan rencananya. Memiliki Raka bukan lagi sekadar angan. Sebentar lagi Raka akan bertekuk lutut dengannya.
Wajah Safira terlihat begitu sumringah. Tommy pun menyunggingkan sebuah senyuman sinis.
“Dan mulai sekarang, Raka, keluarganya dan perusahaannya, berada dalam pengawasanku. Tidak akan aku biarkan siapapun menghancurkan sahabatku. Aku akan menghancurkan siapa saja yang menyentuh Raka dan keluarganya. Cam kan itu!”
__ADS_1