
Qiana menatap heran pada sang suami yang terlihat lesu, sore itu. Tak pernah Raka muncul di hadapannya dengan wajah semuram itu. Pria itu biasanya selalu muncul dengan senyum cerahnya. Senyum yang membuat Qiana selalu bersemangat menjalani hari.
Tapi, sore itu Raka tampak jauh berbeda. Wajahnya kusut. Tak ada senyuman menghiasi wajahnya. Raka bahkan tak menyapanya.
Seusai memberikan ASI pada Damar, Qiana menanti sang suami di balik pintu kamar mandi.
“Mas ... Ada apa?” tanya Qiana begitu Raka keluar dari kamar mandi. Raka menoleh. Menatap sang istri yang sepertinya dilanda kebingungan.
“Ada masalah besar, ya?” tanyanya lagi.
Raka masih diam. Pria itu bingung mau memulai cerita itu darai mana. Haruskah dia langsung kepada intinya. Mengatakan jika Safira menginginkan tubuhnya selama satu bulan? Atau dia harus mengatakan pada Qiana jika dirinya telah bangkrut dan jatuh miskin?
Akankah Qiana meninggalkannya karena hal itu? Atau ... Qiana akan menyuruhnya mengabdi pada Safira? Persis seperti apa yang Safira katakan.
“Mas ... Jawab dong! Jangan diam saja. Cerita dengan Qia, Mas. Apa Mas tidak memercayai Qia? Apa Mas tidak bisa berbagi cerita dengan Qia?”
Raka menghela napas berat. Pria itu berjalan ke arah Qiana dan memeluk erat gadis itu.
“Semuanya hancur, Dek. Hancur tak bersisa,” lirih Raka. Pria itu bahkan menangis tersedu-sedu setelahnya.
Qiana tak berkomentar. Walau banyak sekali pertanyaan di dalam benaknya. Tapi, gadis itu membiarkan Raka menumpahkan rasa kecewanya. Dia membiarkan Raka menangis hingga merasa lega.
Qiana hanya terus mengelus punggung pria itu. Berharap Raka segera tenang dan bisa berbagi cerita dengannya.
Ada apa dengan sang suami? Mengapa dia menangis tersedu-sedu seperti ini?
Cukup lama Raka menangis. Hingga akhirnya pria itu membawa Qiana ke ranjang untuk memulai sebuah pembicaraan. Pembicaraan yang Raka sendiri tidak tau akan berakhir seperti apa.
Raka pun menyeritakan semuanya dari awal. Dari awal dia bertemu Safira, pagi ini. Raka juga menjelaskan apa yang terjadi jika Safira benar-benar melancarkan aksinya itu.
Qiana merasakan tubuhnya sangat lemas dan tak bertenaga. Permintaan Safira benar-benar tak masuk diakal. Bagaimana mungkin gadis itu meminta suaminya selama satu bulan? Qiana tentu saja tak akan mengizinkannya.
Tapi, bagaimana dengan keberlangsungan perusahaan sang ayah mertua?
Jika dia tak menyetujuinya, bisa saja mertuanya itu meminta Raka untuk menyetujui permintaan Safira. Ayah mertuanya tentu akan memikirkan nasib dari perusahaan yang telah dia rintis dengan susah payah. Begitu juga dengan sang suami. Bisa saja sebenarnya sang suami menyetujui permintaan Safira.
__ADS_1
Toh, gadis itu adalah satu-satunya gadis yang dekat dengan sang suami sejak dulu. Raka tentu tidak merasakan kerugian apapun jika dia menuruti permintaan gadis itu. Bahkan, Raka justru mendapatkan banyak keuntungan dari hal itu.
Apakah sang suami hanya butuh persetujuan darinya, saat ini?
Raka mengembuskan napas berat saat melihat Qiana terus terdiam.
“Apa yang kamu pikirkan, Dek? Apa kamu akan meninggalkan Mas karena sebentar lagi Mas akan jatuh miskin?” tanya Raka.
“Jatuh miskin?” tanya Qiana. Raka menganggukkan kepalanya.
“Mas tadi langsung menolak permintaan Fira. Kamu tau apa artinya itu kan? Mas jatuh miskin,” jelas Raka.
Qiana terperangah. Mulut gadis itu menganga saat mengetahui jika sang suami ternyata langsung menolak permintaan Safira. Padahal Qiana pikir suaminya itu menyetujui keinginan Safira.
“Kenapa Mas menolak permintaan perempuan itu?” tanya Qiana penasaran.
“Jadi, kamu lebih menginginkan Mas menerima permintaan konyol Safira?!”
Raka tak habis pikir dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Qiana. Apakah istrinya itu rela menyerahkan suaminya agar tak jatuh miskin?
“Mas tidak akan menukarkan kesetiaan cinta Mas demi apapun, Dek!” tegas Raka.
Bibir Qiana seketika merekah.
“Maka, Qia juga tidak akan meninggalkan suami Qia yang setia ini. Apapun kondisinya,” ucap Qiana.
Kini sepasang suami istri itu saling tatap dan melemparkan senyum merekah. Raka pun menarik Qiana dalam pelukannya dan mengucapkan terima kasih pada gadis itu.
“Mas benar-benar sudah tidak punya apapun lagi, Dek. Bahkan rumah ini sudah Mas gadaikan. Mas juga akan menjual saham milik Mas di Bratajaya Corp. Apa kamu tidak masalah dengan hal itu? Mas bahkan belum tau bagaimana cara Mas menafkahi kamu dan Damar, setelah ini,” keluh Raka.
“Qia masih ada tabungan Mas. Qia juga masih ada saham di Bratajaya. Mas bisa gunakan itu. Untuk modal usaha kecil-kecilan ataupun untuk lainnya. Qia percaya Mas Raka bisa membawa keluarga kita melewati semua masalah ini. Yang penting kita selalu bersama,” jelas Qiana.
Raka menganggukkan kepalanya, “ya ... Kita harus selalu bersama. Mas janji akan membuat segala membaik secara perlahan. Maafkan Mas ya, Dek. Ini semua karena sejak awal Mas tidak meminta pendapat kamu. Andai semua bisa diulang. Mas pasti akan meminta pendapat kamu lebih dulu sebelum memulai bisnis apapun,” ucap Raka menyesal.
Dan setelah malam itu, Raka benar-benar kehilangan seluruh harta dan aset miliknya. Berulangkali Safira menghubunginya. Tapi, Raka selalu mengabaikan panggilan telepon dari gadis itu. Raka benar-benar tak mau lagi berurusan dengan Safira.
__ADS_1
Pria itu sibuk menghitung pesangon untuk ratusan karyawannya. Anggara meneteskan air mata melihat perusahaan yang dia bangun dengan susah payah, kini hancur di tangan anaknya yang jenius.
Mungkin inilah harga yang harus dia bayar untuk mengajari anaknya agar mendengarkan pendapat orang lain. Selama ini, Raka tak pernah menerima pendapat orang lain. Raka selalu merasa jumawa karena memiliki tingkat intelegensi yang tinggi.
Mungkin inilah harga yang harus Anggara bayar karena lupa mengajarkan anaknya untuk bersikap rendah hati dan menghargai pendapat orang lain.
“Maafkan Raka, Pi. Raka janji akan mengembalikan perusahaan Papi secepatnya.”
Anggara mengusap tetes air yang mengalir di pipinya. Pria lanjut usia itu mengembuskan napas berat, lalu menepuk pundak Raka.
“Masa Papi susah habis, Nak. Sekarang giliran kamu. Coba rintislah usahamu sendiri. Papi akan merasa sangat bahagia jika masih sempat melihat perusahaan milikmu sendiri, berdiri,” ucap Anggara.
Di hari kedua setelah Safira memberikan penawaran, Anggara, Raka dan Mika mengumpulkan seluruh karyawan dan berpamitan.
Sementara Safira berulangkali gagal menghubungi Raka. Gadis itu bahkan ditolak ketika hendak masuk ke dalam perusahaan. Raka memang sama sekali tak mau melihat ataupun mendengar suara Safira.
Namun, gadis itu tak kehilangan akal. Safira bertolak ke kediaman Raka dan Qiana.
“Ada perlu apa sampai Mba mau menginjakkan kaki di sini?”
Itulah pertanyaan yang langsung terlontar dari bibir Qiana begitu melihat Safira.
“Kenapa kamu masih bisa begitu sombong? Apa kamu tidak tau kalau suami kamu akan bangkrut?”
Qiana hanya menjawab pertanyaan Safira dengan tersenyum tipis.
“Aku tau, kalau kamu masih memiliki ayah tiri yang kaya raya. Tapi, apa kamu tidak malu jika suamimu bahkan tidak bisa memberikan nafkah?”
“Saya rasa itu bukan urusan Mba,” tegas Qiana.
“Raka masih punya satu kesempatan. Dan aku harap kamu jangan egois, Qi. Serahkan suami kamu selama satu bulan. Setelah itu, aku janji kehidupan kalian akan kembali baik-baik saja.”
“Selama menikah dengan Mas Raka, tidak pernah kami merasa kehidupan kami tidak baik. Bahkan, hari ini pun kehidupan kami masih baik-baik saja. Tidak seperti kehidupan Mba yang pastinya tidak bahagia,” sindir Qiana.
Jemari Safira mengepal mendengar ucapan Qiana.
__ADS_1
“Apa kamu tidak kasihan dengan para karyawan yang tidak bisa lagi mencari nafkah untuk keluarganya?! Kamu jangan hanya memikirkan dirimu sendiri Qi. Lihatlah para karyawan yang selama ini bekerja dengan loyal untuk perusahaan suami kamu! Mereka tidak lagi mempunyai pekerjaan karena keegoisan kamu!”