Mencintai Qiana

Mencintai Qiana
Part 20 - Malam pengantin


__ADS_3

Resepsi pernikahan Qiana dan Raka begitu mewah. Ratusan konglomerat Indonesia hadir di sana. Namun, betapa pun mewahnya acara pernikahan itu, tetap saja tidak bisa membungkam mulut para konglomerat itu, untuk tak membicarakan pernikahan terlarang itu.


“Kenapa jadi begini ya, Se?” tanya Mika pada Sean.


“Kita benar-benar salah nih, sudah turut andil dalam rencana Mas Raka,” bisik Mika sekali lagi.


“Sudahlah, jangan dibahas lagi. Nasi sudah menjadi bubur. Lagian, Mas Raka itu pria yang paling cocok dengan Mba Qia. Kalau hanya gunjingan seperti ini, keluarga kita tidak perlu menanggapi. Toh mereka hanya berani membicarakan semuanya di belakang kita. Kalau di depan kita, mereka semua hanya bisa menjilat, agar bisa mendapatkan proyek dari Bratajaya Corporation.”


Mika pun menganggukkan kepalanya. “Kamu benar, Se. Harusnya, yang menggunjing Mba Qia dan Mas Raka, kita tandai. Nanti, kalau perusahaan mereka mengajukan kerjasama, langsung kita blacklist!”


“Kita harus profesional. Masalah pribadi jangan dicampur aduk dengan perusahaan,” jawab Sean.


“Dasar kakek-kakek! Kamu itu tidak pantas berusia 18 tahun, Se. Pikiranmu itu sudah seperti pria paruh baya! Persis Mas Raka!” cebik Mika.


“Sedangkan kamu, persis Mba Qia. Kekanakan. Melakukan sesuatu tanpa pikir panjang. Entah apa masalah para gadis di keluarga Bratajaya ini? Pikirannya dangkal!”


Netra Mika membulat mendengar umpatan Raka. Gadis berusia 21 tahun itu pun melayangkan telapak tangannya ke wajah Sean.


“Kurang ajar. Nanti aku lapor ke Mba Qia loh! Habis kamu nanti dijambak Mba Qia!”


“Nah, itu buktinya. Pikiran kalian dangkal! Coba Mba cermati ini. Aku dan Mas Raka bahkan sudah mendapatkan gelar sarjana di usia 18 tahun. Kami sudah bisa berkontribusi di perusahaan keluarga. Sementara Mba Qia dan Mba Mika, diusia yang sama, kalian masih menjadi mahasiswa baru,” oceh Sean.


“Entah apa masalah para gadis di keluarga Bratajaya ini? Mungkin waktu pembagian gen kecerdasan, kalian tidak hadir ya?”


Tanpa mendengar umpatan Mika selanjutnya, Sean sudah berlalu dari sana. Terlebih seorang pria berkebangsaan asing, yang tak lain adalah kekasih Mika terlihat menghampiri kakak sepupunya itu.


Sean terus berkeliling ruangan dengan dekorasi super mewah itu. Pria yang beranjak dewasa itu sesekali bahkan menyapa para kolega bisnis sang ayah. Tapi, kemana pun kaki Sean melangkah, inderanya selalu mendengar gunjingan-gunjingan untuk pernikahan kedua kakaknya.


Seperti Qeiza, Sean memang sudah memperkirakan hal ini akan terjadi. Gunjingan-gunjingan itu pasti akan dilayangkan kepada keluarga mereka. Tapi, Sean tidak menyangka jika gunjingan itu bisa mengalir sederas ini.


Sadar jika pernikahan ini akan menjadi gunjingan banyak orang, seluruh anggota keluarga Bratajaya hanya bisa menutup telinga mereka dari gunjingan para tamu undangan.

__ADS_1


“Kita tidak bisa membungkam mulut orang lain dari negative word. Tapi, kita bisa menutup telinga kita untuk tak mendengarkannya. Dan itu lebih baik.”


Sean terus mengingat pesan dari sang ibunda. Karena mustahil untuk membungkam mulut semua orang. Kini, Sean hanya berfokus pada kelancaran acara resepsi pernikahan Qiana dan Raka.


Dan tentu saja semuanya berjalan dengan sangat baik. Qiana juga terlihat begitu cantik. Bibir gadis itu selalu tersenyum manis. Seolah Qiana tak pernah merasa lelah melayani ratusan tamu undangan yang terus menyapa dan memberikan ucapan selamat atas pernikahannya.


Acara itu pun semakin meriah, karena ditutup olah ciuman fantastis oleh sepasang pengantin baru itu. Raka yang baru pertama kali merasakan lembutnya bibir seorang gadis, seolah tak mau melepaskan bibirnya dari bibir Qiana. Bahkan salah satu lengannya dia pindahkan dari pinggang Qiana ke belakang kepala gadis itu karena dia ingin memperdalam ciumannya.


Walau Raka masih amatir dalam praktek, tapi secara teori, pria itu sudah ahli. Raka sudah mempelajari seluruh teknik berciuman sejak satu bulan lalu, sesaat setelah Qiana menerima lamarannya.


Anggara yang sangat tau hasrat menggebu sang anak pada Qiana, tampaknya harus menghentikan aksi putra sulungnya itu. Anggara pun menghampiri Raka yang masih menikmati santapannya, dan menepuk dengan keras pundak sang anak.


Raka yang sangat terkejut, seketika menoleh.


“Nanti, lanjutkan di hotel. Kamu mau lanjut sampai pagi pun tidak apa-apa.”


Ucapan Anggara putra pun membuat Raka tersadar. Pria itu kini menatap sang istri yang masih berada dalam dekapannya.


Bibir gadis itu masih sedikit terbuka. Sebenarnya Raka masih sangat ingin menyusupkan lidahnya ke dalam sana. Terlebih saat melihat Qiana yang terengah-engah dengan wajahnya yang memerah. Raka bertambah gemas pada gadis itu.


Raka akhirnya melepaskan pelukannya. Dan acara resepsi pernikahan itu pun diakhiri.


Aksi Raka dan Qiana tadi, bahkan menjadi bahan gunjingan baru bagi keluarga itu.


“Jangan-jangan selama ini, sejak kecil mereka sering berciuman seperti itu. Lihat saja tadi, mereka tidak malu-malu menunjukkannya di depan umum. Ciuman selama itu. Mereka pasti sudah terbiasa melakukannya.”


“Mungkin saja mereka sudah melakukannya lebih dari itu.”


“Acara pernikahan ini kan sangat mendadak. Apa jangan-jangan Qiana sudah hamil anaknya Raka?”


Dan seperti biasa, keluarga Bratajaya memutuskan untuk tak mendengarkan ucapan-ucapan buruk itu. Mereka hanya berfokus pada kebahagiaan keluarga mereka.

__ADS_1


...----------------...


Setelah acara resepsi pernikahan itu selesai, Raka mengajak Qiana menginap di sebuah hotel. Bukan sebuah hotel mewah. Hotel tersebut bahkan berjarak cukup jauh dari gedung resepsi pernikahan mereka.


“Kenapa jauh sekali hotelnya Mas?” tanya Qiana. Padahal banyak hotel mewah yang berada di sekitar gedung tempat resepsi pernikahan mereka. Qiana pikir mereka akan menginap di salah satu hotel mewah itu.


Tapi, nyatanya, Raka tak membawanya ke sana. Sudah lebih dari tiga puluh menit mereka berkendara, tapi hotel yang dimaksud Raka belum juga terlihat.


“Kok ke arah bandara, Mas? Kita mau menginap di hotel mana Mas? Di Bali ya? Kita mau ke Bali?”


Raka tersenyum sembari menatap sekilas wajah sang istri.


“Kita hanya menginap di hotel kok. Hotel bandara. Qia belum pernah kan menginap di hotel bandara?”


“Hah? Hotel bandara?”


“Iya ... Biar bisa sekalian melihat pesawat dari dekat. Bukannya dari kecil Qia suka melihat pesawat?”


Ucapan Raka membuat dahi Qiana berkerut. Apa yang bisa dia harapkan dari seorang pria yang sama sekali tak pernah merasakan indahnya memadu kasih?


Bisa-bisanya pria itu mencampur aduk kesukaan masa kecilnya dengan acara bulan madu mereka. Qiana hanya bisa mengembuskan napas kasar dan kembali duduk dengan tenang.


Tapi, dahi Qiana kembali berkerut. Wajah wanita itu bahkan terlihat bertambah lesu saat melihat kamar tempatnya menginap.


Padahal gadis itu sudah membayangkan akan menghabiskan malam pertamanya di sebuah kamar hotel mewah. Dengan lantai yang bertabur kelopak mawar merah. Ranjang yang dihiasi dengan handuk berbentuk angsa yang saling berciuman hingga membentuk simbol hati.


Saat Qiana memasuki kamar itu. Tidak ada hiasan berlebihan di sana. Bahkan tidak ada kartu penyambutan hanya untuk sekadar mengucapkan selamat atas pernikahan mereka hari ini.


Qiana melirik ke arah pria yang kini sudah sah menjadi suaminya itu. Raka bahkan hanya sibuk mengurusi koper mereka.


“Maaf ya, Dek. Mas lupa mengatakan kepada pihak hotel, kalau kita memesan kamar khusus untuk berbulan madu.”

__ADS_1


Qiana Larasati hanya bisa mengangguk lemas.


Apa yang bisa dia harapkan dari pria kaku dan tak romantis ini?


__ADS_2