Mencintai Qiana

Mencintai Qiana
Part 11- Emosional


__ADS_3

“Kok bisa hilang, Pak?! Kan sudah saya katakan, kawal terus Qiana! Ikuti ke mana saja dia pergi!” bentak Qeiza.


“Sehabis makan siang, perut saya tiba-tiba melilit, Bu. Sewaktu saya ke toilet, makanan Neng Qia juga masih sangat banyak. Jadi, saya pikir setelah saya selesai dari toilet, Neng Qia pasti masih berada di sana,” jawab Pak Narto.


Qeiza tak memberikan tanggapan atas apa yang diucapkan oleh Pak Narto. Wanita paruh baya itu memutuskan panggilan telepon itu begitu saja. Qeiza pun menghubungi sang suami.


Sembari menangis histeris, Qeiza melaporkan jika Qiana menghilang. Tak lupa, Qeiza juga menyalahkan Ivander. Jika sang suami tak memaksanya untuk memberikan izin pada Qiana, tentu saja putri sulungnya itu masih berada di rumah bersamanya.


“Yasudah, kamu tenang saja. Jangan panik. Mas akan menghubungi Anggara dan Raka. Mereka pasti bisa menemukan Qia secepatnya,” ujar Ivander.


Pria itu pun gegas menghubungi calon besan yang tak lain adalah adik iparnya sendiri. Meminta bantuannya untuk mencari keberadaan Qiana.


“Qia menghilang,” ujar Anggara begitu dirinya selesai menjawab panggilan telepon dari Ivander.


“Menghilang, Pi? Kok bisa menghilang? Menghilang di rumah?” tanya Raka.


“Menghilang di mall. Katanya dia mau melakukan perawatan tubuh sebelum menikah. Dan saat makan siang bersama Pak Narto, Qia menghilang.”


Raka merogoh ponselnya, lalu terlihat memerhatikan ponsel itu dengan seksama.


“Raka pinjam mobil Papi. Raka mau menyusul Qia,” ucap pria berusia 27 tahun itu.


“Menyusul Qia? Memangnya kamu tau Qia ada di mana?”


“Dompet yang biasa dipakai Qia, serta ponsel milik Qia, sudah Raka sematkan alat pelacak,” jawabnya.


Mulut Anggara menganga saat mendengar penuturan Raka. Bisa-bisanya sang anak menyematkan alat pelacak pada benda milik Qiana. Apa Raka sudah memperkirakan, jika Qiana akan kabur sebelum pernikahan dilaksanakan?


“Sejak Qia secara tiba-tiba menyetujui pernikahan kami, Raka pikir ada yang aneh dengan Qiana. Karena beberapa jam sebelum itu, Qia menolak lamaran Raka. Jadi, sejak kejadian di Lembang, Raka memasang alat pelacak di dua benda yang sering Qia bawa.”


Anggara mengangguk-anggukkan kepalanya sembari menatap tak percaya pada sang anak. Putra sulungnya itu benar-benar jenius!


“Mana kunci mobil Papi?” tanya Raka.


Anggara menghubungi sopir pribadinya.


“Mobil sedang disiapkan Pak Darma. Dia akan menunggumu di lobby,” ucap Anggara. Raka menganggukkan kepalanya dan hendak berlalu dari ruang kerjanya.


“Raka,” panggil Anggara.

__ADS_1


Putra sulungnya pin menghentikan langkah kaki dan berbalik menatap sang ayahanda.


“Kamu harus membawa Qiana pulang hari ini juga. Tante Qei sedang menangis histeris di rumahnya.”


Raka pun mengangguk dan gegas mengayun langkah. Dia tak mau kehilangan Qiana. Hanya tinggal dua hari lagi. Dua hari lagi dirinya akan mempersunting Qiana. Dua hari lagi, gadis yang sejak lama dipujanya itu akan menjadi miliknya. Tentu saja dia tak boleh kehilangan gadis itu, saat impiannya sebentar lagi akan menjadi nyata.


Mengikuti GPS yang terpasang pada alat pelacak, Raka menekan pedal gas mobilnya dan melaju kencang. Rak tercengang saat melihat di mana posisi Qiana sekarang.


“Kamu mau ke mana, Dek?” lirih pria itu.


Raka semakin mempercepat laju kendaraannya. Beruntung kondisi jalanan sudah tak terlalu ramai, hingga Raka bisa melaju dengan cepat.


Dan beberapa saat setelahnya, ponsel Raka berdering.


“Video CCTV mall sudah Papi dapatkan. Coba kamu lihat, apa kamu mengenal pria yang bersama Qia?” tanya Anggara begitu sambungan telepon itu tersambung pada Raka.


“Pria?” tanya Raka.


“Iya ... Saat Pak Narto meninggalkan Qia, seorang pria datang menghampiri Qia dan beberapa saat kemudian mereka pergi berdua. Coba kamu cek. Papi juga sudah mengirimkan video itu pada Sean.”


Raka pun menepikan kendaraannya. Pria itu berfokus pada video yang baru saja dikirimkan oleh sang ayahanda. Mata Raka membulat. Dia kenal betul dengan pria yang ada di video tersebut.


Raka mengepalkan telapak tangannya lalu memukul setir mobil.


“Brengs3k!” umpatnya.


Berulangkali Raka memukuli setir mobil itu. Dia benar-benar kesal. Bukan hanya kepada Albert yang membawa pergi Qiana. Raka juga kesal pada gadis itu. Qiana berhasil mempermainkan dirinya. Bahkan seluruh anggota keluarga Bratajaya.


“Sebegitu tidak inginnya kamu menikah dengan Mas, Dek. Ternyata itu rencana kalian ya. Sengaja menerima lamaran Mas, lalu pergi begitu saja setelah semuanya dipersiapkan dengan sempurna. Tidakkah kamu memikirkan malu yang akan ditanggung keluarga kita kalau pernikahan ini gagal dilaksanakan?”


Raka benar-benar merasa emosional. Pria itu bahkan hingga meneteskan air mata. Tak pernah disangkanya jika Qiana akan berbuat sampai sejauh itu. Kabur dengan kekasihnya.


Ponsel Raka kembali berdering, tapi pria itu mengabaikannya. Ponsel itu tak henti berdering, hingga Raka terpaksa menjawabnya.


“Kamu mengenali pria yang bernama Qia?” tanya Anggara.


“Itu Albert, Pi. Kekasih Qiana. Pria yang sudah disukai Qia sejak dia masih menjadi mahasiswa.”


“Jadi, Qia kabur dengan kekasihnya?! Dia sudah merencanakan semua ini sejak awal?” pekik Anggara. Raka tak menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh sang ayahanda. Karena Raka tau, jika sang ayah sudah pasti tau jawabannya.

__ADS_1


“Albert itu adalah anak dari pemilik Soho group,” ujar Raka.


“Soho Group?! Mereka bukannya yang berulangkali mengajukan tender ke perusahaan Paman kamu?”


“Iya Pi. Dan sepertinya, dia hanya memanfaatkan Qia. Tapi, sayangnya, Qiana sangat mencintai dia,” lirih Raka.


“Kamu sudah menemukan keberadaan Qia?”


“Iya ... Mereka di daerah puncak. Mungkin di salah satu villa milik keluarga Albert,” jawab Raka.


“Yasudah, cepat susul Qia dan paksa dia untuk pulang.”


“Untuk apa Pi?! Untuk apa Raka bawa Qia pulang. Itu pilihan dia. Dia memilih untuk kabur bersama pria yang hanya ingin memanfaatkannya saja. Jadi, biar saja dia bersama dengan pria yang sangat dicintainya itu!”


Anggara menghela nafas panjang.


“Dan kamu tega membiarkan Qiana dimanfaatkan pria itu? Kamu tega melihat Qiana diperlakukan begitu? Kamu tega perusahaan yang dikembangkan oleh kakek kamu menjadi hancur karena Qiana buta akan cintanya?"


Raka masih diam. Hatinya tentu saja menjawab tidak pada setiap pertanyaan yang dilontarkan oleh sang ayah. Tapi, pria itu memilih untuk tetap diam dan tak berkomentar. Dalam hidup Raka, baru kali ini dia merasa begitu marah dan kecewa, hingga dia tak tau harus bersikap seperti apa?


“Kamu tenangkan diri lebih dulu. Setelah kamu tenang, pikirkan ucapan Papi. Kalaupun kamu tidak mau melanjutkan rencana pernikahan kamu dan Qia, setidaknya selamatkan Qia dari pria yang ingin memanfaatkan sepupu kamu itu.”


Anggara tak lagi menunggu tanggapan Raka. Pria paruh baya itu langsung memutuskan sambungan telepon itu secara sepihak.


...----------------...


Sementara itu, saat Raka bimbang akan keputusannya, Qiana yang baru saja tiba di sebuah villa, begitu menikmati detik-detik kebebasannya. Gadis itu langsung menghempaskan tubuhnya pada sofa yang berada di villa itu. Albert menyaksikan itu sembari tersenyum sinis.


Pria itu melangkah mendekati Qiana dan duduk di sisi gadis itu. Albert langsung melahap bibir Qiana dengan rakus hingga gadis gelagapan.


Albert mengusap bibir Qiana dengan jarinya, saat dia selesai menyantapnya. Qiana pun tersenyum sumringah setelahnya.


“Kamu tidak penasaran, apa rencanaku agar orang tuamu menyetujui hubungan kita, dan membiarkan kita menikah?”


Qiana menganggukkan kepalanya. Albert tak langsung memberikan penjelasan pada gadisnya, pria itu malah makin merapatkan tubuh pada Qiana hingga gadis itu tersudut di ujung sofa. Jemari pria itu juga telah membuka dua kancing baju milik Qiana.


“Apa yang kamu lakukan?!” pekik Qiana.


“Memberikan cucu kepada kedua orang tuamu.”

__ADS_1


__ADS_2