
“Sini kamu, kecup dahi Qia,” ucap Anggara.
Qiana dan Raka sama-sama melebarkan mata. Mereka terkejut dengan perintah Anggara.
“Ayo cepat, Ka. Kasihan Qia sudah mengantuk,” ucap Anggara.
Raka yang merasa canggung, meminta Qiana untuk segera beranjak dari sana. Tapi, Anggara terus menahan gadis itu.
“Harus dibiasakan. Seberapa hebat pun kalian bertengkar nantinya, sebelum tidur, kamu wajib mengecup dahi Qia. Ayo cepat!”
Melihat Raka tak beranjak, Qiana lantas menghampiri pria itu, hingga kini dia berdiri tepat di hadapan Raka.
“Ayo Mas. Qia sudah ngantuk,” lirih gadis itu.
Bagai sebuah robot. Raka mengangguk kaku. Sembari menutup matanya, Raka mengecup dahi Qiana. Begitupun dengan Qiana. Gadis itu menutup mata saat Raka mengecup mesra dahinya.
Qiana sejak kecil memang sering bergelayut manja pada Raka. Tapi, baru kali ini Raka mengecup dahinya. Terlebih beberapa jam lagi mereka akan menikah. Saat bibir Raka mendarat di dahinya, wajah Qiana bersemu.
Raka dan Qiana saling tatap beberapa detik, sebelum akhirnya Qiana berlalu begitu saja dari sana. Meninggalkan Raka dengan senyum malu-malunya.
Sementara Anggara hanya bisa menahan tawanya melihat reaksi sang anak kandung. Anggara melangkah mendekati Raka dan menepuk pundak anak sulungnya itu.
“Sudah ... Jangan dipandangi terus. Dua hari lagi, Qiana kan jadi istri kamu. Bisa kamu pandangi sepuasnya,” ucap Anggara. Raka hanya melirik sekilas pada sang ayah.
“Memangnya, sewaktu di kalian di kamar hotel, Qiana kamu anggurin begitu saja?” bisik Anggara
Kali ini Raka melirik tajam pada sang ayah. “Mana mungkin Raka berbuat hal seperti itu pada Qia!”
“Bicaranya santai saja. Nanti kalau ada yang dengar, bisa batal loh acaranya,” sindir Anggara.
“Sudahlah Pi. Raka tidak mau berdebat. Raka lelah. Apa Papi tidak melihat wajah Raka penuh memar? Papi tidak kasihan dengan Raka?” ucapnya malas.
“Papi hanya mau mengingatkan. Salah satu pondasi dalam berumahtangga adalah kejujuran. Dan kamu memulainya dengan sebuah kebohongan. Papi harap kamu bisa secepatnya mengaku pada Qia,” ucap Anggara sembari menepuk-nepuk pundak Raka.
“Ayo istirahat.”
Pria paruh baya itu pun meninggalkan sang anak seorang diri di sana. Sementara Raka tak serta merta menuruti ucapan sang ayah. Walau tubuhnya terasa lelah, bahkan ada beberapa anggota tubuhnya yang terasa sakit, tapi Raka masih belum bisa beristirahat.
Ucapan sang ayah begitu membekas. Pernikahannya dengan Qiana memang diawali dari sebuah kebohongan. Kebohongan yang sudah dia rangkai sedemikian rupa agar gadis itu menjadi miliknya.
__ADS_1
Bagaimana jika Qiana tau semuanya?
Akankah gadis itu memaafkan dirinya? Atau malah membencinya?
Kapan dia harus berterus terang pada Qiana?
Haruskah dia mengatakannya sebelum pernikahan itu terjadi? Tapi, Qiana pasti akan membatalkan pernikahan mereka jika dia memberitahukannya. Gadis itu baru saja menyetujui pernikahan ini. Raka tak mau jika dalam hitungan jam, Qiana kembali membatalkan pernikahan mereka.
“Aku harus bisa membuat Qia mencintaiku dengan cepat. Setelah itu akan aku katakan kebenarannya. Qia pasti akan memaafkan kesalahanku,” gumam Raka.
Waktu sudah menunjukkan pukul tiga dini hari. Raka masih setia duduk di teras sembari memandang pekatnya langit. Pria itu masih belum bisa memejamkan matanya. Dan saat semburat mentari pagi hampir menyapa, Raka baru saja terpejam.
Tak ada satupun anggota keluarga Bratajaya yang mengetahui sikap Raka tertidur di teras rumah mewah itu, sampai salah satu asisten rumah tangga memberitahukannya pada Qeiza.
“Ya ampun Raka. Kenapa kamu tidur di sini?” pekik Qeiza. Raka yang tertidur lelap tentu saja tak mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Qeiza. Wanita paruh baya itu akhirnya harus mengguncang-guncang pundak raja agar pria itu terbangun.
“Kamar buat kamu sudah disiapkan loh Ka. Kok malah tidur di teras?”
“Raka tidak sengaja tertidur di sini, Tan,” ucapnya.
“Yasudah, pindah ke kamar sana. Atau kamu mau sarapan dulu? Sebentar lagi waktu sarapan.”
“Sepertinya sudah,” jawab Qeiza.
Raka mengangguk-angguk kepalanya. “Kalau begitu Raka mandi dulu Tan. Setelah itu ikut sarapan bersama,” ucap pria itu. Raka pun berlalu dari sana. Dan pria itu benar-benar bergabung untuk sarapan pagi bersama dengan anggota keluarga Bratajaya lainnya.
“Hari ini kalian akan melakukan fitting terkahir ya,” ucap Qeiza pada Raka dan Qiana, saat mereka semua tengah sarapan.
“Fittingnya di sini, Ma?”
“Fitting langsung di butiknya. Dua jam lagi kita berangkat. Sekalian kita semua akan melakukan gladi resik untuk acara lusa,” jawab Qeiza. Qiana dan Raka pun menganggukkan kepala mereka.
Saat seluruh anggota keluarga Bratajaya berangkat menuju salah satu hotel bintang lima, hotel yang akan menjadi tempat resepsi pernikahan, Qeiza serta Qiana dan Raka, berangkat menuju ke sebuah butik yang tak terlalu jauh dari hotel itu.
Qiana mencoba gaun pengantinnya. Pin dengan Raka. Pria itu juga mencoba pakaian yang akan dia gunakan di acara pernikahannya.
Raka terperangah saat melihat Qiana begitu anggun dalam balutan gaun pengantin berwarna lilac. Netra pria itu tak lepas menatap Qiana.
“Calon suaminya sampai terkesima begitu, Mba,” ucap asisten desainer di butik itu.
__ADS_1
Qiana pun mengikuti arah tatapan wanita itu, hingga kini dia bisa menyaksikan Raka yang terus menatap tajam ke arahnya.
“Ayo Raka, kalian berdua berfoto dulu,” ucap Qeiza.
Raka pun menuruti ingin sang calon mertua. Pria itu melangkahkan kakinya mendekati Qiana dan berdiri di sisi gadis itu.
Raka terus menoleh ke samping. Pria itu tak lepas memandangi Qiana. Hingga Qeiza harus berulangkali memanggil nama calon menantunya itu.
“Mas, jangan lihat ke arah Qia terus. Mama dari tadi terus memanggil-manggil namanya Mas tuh.”
“Kamu cantik sekali, Dek,” ucap Raka. Pria itu benar-benar sudah tak lagi bisa menahan diri untuk memuji Qiana.
“Iya ... Qia sudah tau dari lahir kalau Qia tuh cantik! Ayo cepat lihat ke Mama. Atau tanduk di kepala Mama akan keluar sebentar lagi,” ucap Qiana sembari menyikut lengan pria itu.
“Raka ...Ayo cepat! Setelah ini kita harus melakukan Gradi resik!” perintah Qeiza.
“Maaf Tan. Raka hanya terksima melihat Qia.”
...****************...
Persiapan acara pernikahan Qiana dan Raka pun berjalan lancar. Satu hari sebelum hari pernikahan, Raka dan Qiana beristirahat di kediaman mereka masing-masing. Mereka baru bertemu kembali saat mereka harus mengucapkan janji suci pernikahan.
Raka mengecup dahi Qiana begitu janji suci pernikahan sudah diucapkannya dengan lantang. Qiana pun menutup matanya. Menikmati curahan rasa cinta dan kasih sayang yang Raka berikan lewat kecu pan mesra itu.
Acara pengucapan janji suci pernikahan itu pun bejalan lancar. Dan pada malam harinya, acara resepsi pernikahan Qiana dan Raka pun digelar dengan sangat mewah. Dua penerus klan Bratajaya menikah.
Bagaimana mungkin. itu tidak menjadi pesta yang sangat meriah?
Dan kemeriahan itu semakin bertambah meriah, saat sudah mencapai puncak acara. Sepasang pengantin baru itu diminta untuk berdansa, dan mengakhiri dansa itu dengan saling mengecup.
Raka dan Qiana sama-sama merasa tegang. Raka begitu tegang karena ini akan menjadi ciuman pertamanya. Sementara Qiana, gadis itu begitu tegang karena akan bertukar saliva dengan pria yang selama ini dianggapnya sebagai saudara.
Tapi, apapun itu, mau tidak mau, mereka berdua harus melakukannya di hadapan semua orang.
Raka sudah memeluk pinggang Qiana dengan begitu erat. Qiana pun sudah sedari tadi mengalungkan lengannya di leher Raka.
“Close your eyes,” lirih Raka saat wajahnya dan wajah Qiana sudah sangat dekat.
Qiana pun menuruti ucapan pria itu.
__ADS_1
Melihat Qiana yang sudah menutup matanya. Raka langsung membuka mulut dan meraup bibir kemerahan Qiana.