
Sepanjang perjalanan menuju kediamannya, Qiana hanya diam. Gadis itu bahkan tak mau menatap Raka. Pandangannya terus dia arahkan pada jendela kaca mobil.
Qiana benar-benar marah. Sikap yang Raka tunjukkan tadi, tak sesuai dengan janji pria itu padanya. Raka seolah menginginkan waktu lebih lama dengan Safira.
Mungkinkah pria itu baru menyadari perasaannya, jika selama ini, gadis yang dia cintai adalah Safira?
Qiana terus berprasangka terhadap sang suami.
Sementara itu, Raka menatap Qiana dengan penuh rasa penyesalan. Sebelum dia melajukan kendaraannya tadi, Qiana sudah meluapkan amarahnya. Mereka bahkan sempat berdebat kecil.
“Mulai besok, Qia tidak akan mengikuti Mas. Jadi, Mas bisa sepuasnya berduaan dengan perempuan itu tanpa menghiraukan Qia!”
“Bukan seperti itu, Dek. Mas tau kalau kamu cemburu. Tapi, menurut Mas, Fira sepertinya tidak ada niat lain selain menjalin kerjasama. Kamu dengar sendiri kan, kalau Fira bahkan sudah menganggap kamu sebagai adiknya,” jelas Raka.
“Jelas saja dia menganggap Qia seperti adik sendiri. Kan dulu Mba Fira itu calon kakak ipar Qia!” ketus gadis itu.
“Dek ... Maksud Mas bukan se—”
“Sudahlah Mas. Jangan membahas soal perempuan itu lagi. Qia lelah, mau istirahat di rumah!” ketus Qiana.
Dan sejak perdebatan kecil itu, Qiana membuang pandangannya dan tak sedikitpun melirik ke arah Raka. Gadis itu bahkan mengunci rapat mulutnya.
Hal ini terus berlangsung hingga waktu makan malam tiba. Qiana yang biasa makan sepiring berdua dengan sang suami, kali ini memutuskan mengambil piringnya dan makan sendiri.
Raka hanya bisa menghela napas panjang melihat hal itu. Sementara Ivander, Qeiza dan Sean seketika menatap Qiana tanpa berkedip. Mereka tau jika Qiana pasti sedang merasa marah. Gadis itu memang mudah sekali di tebak. Apa yang dirasakannya dapat langsung terbaca dari setiap gerak-gerik Qiana.
Qiana menyantap makanannya dengan lahap tanpa sekalipun melirik ke arah Raka. Qiana benar-benar berlaku cuek pada sang suami. Qiana bahkan secara terang-terangan menolak pemberian Raka.
Saat gadis itu tersedak, Raka secepat mungkin menyodorkan air putih pada sang istri. Tapi, Qiana malah memilih berjalan ke dapur dan mengambil gelas baru untuk minumannya. Setelahnya, Qiana pun memutuskan untuk menyudahi santap makan malamnya dan kembali ke kamar.
Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Qiana mengayun langkah menjauhi ruang makan keluarga. Bahkan gadis itu tak menoleh pada Raka sedikit pun.
Pundak Raka melorot. Pria itu menyesal telah membela Safira di hadapan Qiana. Walau dia berpikir jika Safira tak punya niat lain selain menjalin kerjasama, tak seharusnya dia mengungkapkan hal itu pada Qiana. Harusnya dia tetap diam dan menuruti keinginan Qiana seperti biasanya.
Harusnya dia tak perlu memulai kerang dingin dengan gadis yang tengah mengandung anaknya itu.
__ADS_1
Raka menghela napas berat.
“Dalam rumah tangga itu, bertengkar itu hal biasa,” ucap Ivander. Pria paruh baya itu berusaha memberi semangat pada keponakan yang kini sudah menjadi menantunya itu.
Raka menganggukkan kepalanya, “iya Pa,” jawab Raka.
“Kamu yang sabar ya, Ka. Kamu kan sudah tau wataknya Qia,” ucap Qeiza. Kembali Raka menganggukkan kepalanya, “iya Ma. Ini memang salah Raka, kok,” jawab Raka. Pria itu kembali terlihat mengembuskan napas berat.
“Memangnya, Mba Qia menginginkan apa Mas? Tumben Mas Raka tidak mengabulkannya?” tanya Sean. Adik kandung Qiana itu memang paling tau apa yang membuat kakaknya marah. Sejak dulu, Qiana selalu marah jika ada keinginannya yang tak terpenuhi.
“Mas melupakan sebuah janji,” lirih Raka.
“Wah ... Kalau masalah janji, pasti panjang ini ngambeknya,” ucap Sean.
“Biarkan saja Qia menyendiri dulu. Nanti, saat amarah dia reda, Qia pasti akan kembali seperti biasa,” ucap Qeiza.
Raka menganggukkan kepalanya. Pria itu berharap agar amarah gadis itu segera mereda. Dia tak sanggup jika Qiana mengabaikan dirinya. Sejak siang tadi, suasana di antara mereka sudah begitu dingin.
Raka berharap, sebelum mereka beranjak tidur, permasalahan itu sudah selesai.
Raka hanya bisa mengecup kening Qiana sembari membisikkan kata maaf. Malam itu, Raka tak bisa tertidur. Pikirannya masih terus dihantui akan amarah Qiana.
Ini kedua kalinya Qiana marah sejak mereka menikah. Dan terakhir kali gadis itu marah, Qiana menginginkan perpisahan. Raka tak mau hal itu kembali terjadi. Pikirannya benar-benar kalut sekarang.
Dan Raka bertambah kalut, ketika mendengarkan ucapan Qiana di pagi hari.
“Mulai hari ini dan seterusnya, Qia tidak akan lagi ikut dengan Mas ke kantor atau ke manapun itu.”
“Kenapa begitu, Dek? Kenapa tidak menunggu sampai mendekati waktu lahiran saja? Mas pasti merindukan kamu kalau kamu tidak ada,” lirih Raka.
Qiana tak menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh sang suami. Qiana malah berlalu begitu saja dari hadapan Raka.
“Dek, Mas minta maaf,” ucap Raka seraya menghalangi langkah kaki sang istri.
“Mas minta maaf, Dek. Mas tau Mas sudah melakukan kesalahan besar. Mas janji tidak akan mengulanginya lagi. Mas janji Mas tidak akan berbicara lembut ataupun membela Safira. Mas janji, Dek.”
__ADS_1
Kali ini Qiana memutuskan untuk menatap mata sang suami. Dia melihat begitu banyak kekhawatiran dan ketakutan pada manik mata sang suami.
“Qia ingin menjalani minggu-minggu terakhir kehamilan ini dengan tenang. Qia tidak mau mata Qia terganggu dengan sikap suami Qia. Jadi, Mas terserah mau melakukan apapun.”
Qiana pun berlaku begitu saja. Meninggalkan Raka yang masih mematung. Dan beberapa saat kemudian, Raka pun berlari menghampiri sang istri.
Saat itu Qiana hendak menuruni anak tangga. Ruang makan adalah tujuannya. Karena biasanya seluruh keluarga Bratajaya akan sarapan bersama sebelum sibuk dengan aktivitas masing-masing.
Raka seketika memeluk Qiana dari belakang.
“Mas harus apa, Dek. Mas harus apa agar kamu memaafkan Mas?” lirih pria itu.
“Mas tidak perlu melakukan apapun. Abaikan saja ucapan Qia seperti biasanya.”
“Maaf Dek,” lirih pria itu sekali lagi.
“Sudahlah Mas. Qia sudah lapar!”
Raka pun melepaskan pelukannya. Pria itu lantas berpindah posisi dan menggenggam jemari Qiana. Dia tak mau Qiana berjalan mendahuluinya. Dia ingin gadis itu selalu ada di sisinya. Bukan di depannya, bukan di belakangnya, tapi di sisinya.
“Makannya Mas suapi seperti biasa ya, Dek,” ucap Raka. Qiana tentu saja mengabaikan ucapan itu. Dia tak mau Raka berpikir jika dia sudah memaafkan pria itu.
“Mas ingin selalu bisa menyuapi Qiana. Kapan pun dan di mana pun, seperti biasanya. Mas suka melakukannya,” lanjut Raka. Qiana masih saja tak menanggapi ucapan pria itu.
“Mas akan terus melakukannya hingga kita tua. Hingga kita sudah punya anak. Bahkan sampai kita punya cucu.”
Kali ini Qiana menghentikan langkahnya. Gadis itu memutar tubuhnya ke samping hingga kini berhadapan dengan Raka. Raka pun memandangi gadis itu dengan mata mengembun.
“Kita akan terus bersama sampai tua kan, Dek? Qia tidak akan meninggalkan Mas, kan?” tanya pria itu dengan bibir bergetar.
Menatap sang suami yang hampir menangis, membuat amarah Qiana yang telah dirasanya sejak kemarin, perlahan memudar. Mata pria itu menunjukkan betapa dia takut kehilangan. Matanya menunjukkan cinta yang begitu besar.
Qiana pun tak bisa untuk tak memberikan anggukan. Tanda bahwa dia tidak akan meninggalkan sang suami. Tanda bahwa mereka akan terus bersama hingga tutup usia.
“Oke ... Acara tali kasih ini sampai di sini dulu ya. Kalau kalian mau melanjutkannya, silakan lanjutkan di tempat lain. Kebetulan adik kalian yang terlanjur tampan dan jenius ini sudah sangat lapar. Jadi, tolong menyingkir dan beri jalan,” ucap Sean yang sedari tadi menyaksikan drama bucin antara Raka dan Qiana.
__ADS_1